Terakhir saat sebelum tidur, seingatku aku masih di dalam kamar, di atas tempat tidurku yang empuk. Lalu ... Bagaimana aku bisa tiba-tiba berada di tengah hutan begini?
Kucubit pipiku sekali, sakit. Tidak mungkin! Bagaimana aku bisa berada di hutan tengah malam begini kalau bukan hanya sekedar mimpi?
“Dhea!” Suara jeritan mengerikan tiba-tiba terdengar.
“Dhea!” Lalu terdengar lagi.
Situasi ini benar-benar menyiksa detak jantungku. Aku terduduk di tanah, tanah yang entah ada di mana.
“Perempuan sialan!” Suara itu terdengar lagi.
“Kamu pikir kamu pantas untuk bersama Radit? Jangan harap!”
Tiba-tiba saja angin kencang datang, lalu gemericik air turun dari langit. Kupandangi noda hitam yang terlihat di telapak tanganku, itu bukan air hujan!
Kurafalkan doa, berusaha menyuarakan ayat-ayat yang pasti bisa membuatku pergi dari situasi ini, akan tetapi suaraku tak terdengar sama sekali. Aku seperti berada di dunia yang berbeda, lalu terlihat wujud menyeramkan dengan wajah tertutup borok keluar dari gelapnya hutan.
Aku berusaha berlari, akan tetapi tubuhku tak bisa bergerak. Lalu saat wujud itu makin mendekat, aku berteriak tanpa suara. Rasanya aku sudah ada di depan kematian.
“Dhea!”
“Dhea! Bangun Dhea!”
Nafasku terasa akan berhenti, ketika kutemukan wajah Radit di hadapanku. Aku telah berada di kamar, dan semuanya tampak normal. Air mata ketakutanku tak dapat tertahan, kupeluk Radit dengan se-erat-eratnya.
“Kamu kenapa? Tenang, ya, ada aku di sini,” ucap Radit, membalas pelukanku.
“Aku tadi Cuma mimpi kan, Dit?”
“Iya, aku sama Beno ke sini karena dengar kamu teriak-teriak kayak orang kesurupan, Dhea. Kamu pasti mimpi buruk, ya?”
“Itu adalah mimpi paling buruk yang pernah aku lihat selama aku hidup.”
“Sekarang kamu tenang dulu, ya.”
Beno membawakan segelas air putih, dan langsung tandas kuminum. Aku mulai merasa tenang duduk di atas tempat tidurku.
“Bentar lagi masuk waktu salat subuh, sekarang lebih baik kamu ambil wudhu, lalu salat tahajud biar hati kamu lebih tenang, Dhea,” ujar Radit.
Aku mengangguk, lalu mencoba untuk bangun, bangkit dari tempat tidur. Namun, anehnya kakiku mendadak mati rasa. Aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku.
“Radit, kaki aku! Kaki aku kenapa gak bisa gerak?”
“Dhea, coba tenang dulu. Jangan panik.”
Radit memperhatikan kakiku, tidak ada yang salah dalam penglihatan kami.
“Coba lagi, Dhea.”
Aku berusaha menggerakkan kakiku untuk turun dari tempat tidur, akan tetapi masih tidak bisa digerakkan. Bagaimana aku bisa tidak panik!
“Gak bisa, Radit!” air mataku mulai akan keluar lagi.
“Kok, bisa, ya. Jangan-jangan Kak Dhea dikerjain orang nih!” ucap Beno.
Radit lalu meminta Beno mengambilkan seember air bersih, lalu dengan itu Radit memintaku untuk berwudhu di atas tempat tidur.
Radit membacakan ayat-ayat yang entah bacaan apa. Berulang-ulang membacakannya di dekatku. Aku berdzikir di dalam hati, mencoba meresapi bacaan ayat-ayat itu dan mencoba menenangkan diriku. Luar biasa sekali saat kakiku yang tadi terasa mati rasa, mulai terasa nyeri dan sakit luar biasa. Aku terus berdzikir di dalam hati bersama air mata harapan dan ketakutan.
“Dhea, coba kamu gerakkan lagi kaki kamu,” ujar Radit setelah selesai membacakan ayat-ayat padaku.
Aku menggerakkan lagi kaki yang sudah tidak terasa sakit, rasanya sangat lega dan bersyukur ketika kedua kakiku bisa digerakkan lagi. Aku bisa berjalan dengan normal tanpa rasa sakit apa pun.
“Alhamdulillah. Sepertinya benar, ada jin yang mengganggu kamu, Dhea. Sekarang salat tahajud, lalu teruskan berdzikir sampai nanti masuk waktu subuh. Itu semua akan membentengi diri kamu dari gangguan apa saja,” ucap Radit.
“Makasih, Dit. Untung aja ada kamu,” lirihku dalam tangis.
“Semua berkat Allah, Dhea. Sekarang cepat salat, aku dan Beno akan berjaga di ruang tamu.”
“Iya, Dit.”
Radit masih dengan kakinya yang cidera, berjalan tertatih menuju ruang tamu. Kalau bukan karena jeritanku, mungkin dia tidak bisa mengetahui apa yang tengah terjadi padaku.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa hal mistis seperti ini terjadi padaku? Mimpi tadi terasa nyata dan mengerikan. Mungkin kah ada seseorang yang berniat menyakitiku?
Kucoba khusyuk dalam setiap sujudku, lalu kulanjutkan membaca dzikir hingga sayup adzan subuh terdengar. Setelah subuh, aku lanjut membaca Al-quran. Apa yang dikatakan Radit itu benar, hanya Allah yang akan bisa menolong. Dengan iman dan takwa, kita akan bisa melepas diri dari jerat bahaya gangguan setan mau pun gangguan jin dan manusia. Aku harus merutinkan ini, agar tidak terjadi lagi hal serupa yang menakutkan.
....
Kabar tentang aku yang sempat dikerjai orang pun akhirnya menyebar karena unggahan status Beno di media sosial. Beno merasa itu pengalaman mistis pertama yang disaksikannya sendiri, hingga ia merasa perlu untuk menyimpan cerita itu dan menceritakannya pada yang lain.
Tetangga paling dekat pun datang ke rumahku, terkecuali Kak Rina. Biasanya Kak Rina adalah orang yang paling peduli. Ini pun membuatku berspekulasi kalau Kak Rina ada hubungannya dengan kejadian semalam.
“Mama kamu mana?” tanyaku pada anak Kak Rina yang kebetulan melintas di depan rumah.
“Ada di rumah, Tante. Lagi sakit kakinya,” jawab anak itu dengan polos.
“Sakit kaki?” tanyaku.
“Iya. Bengkak sama gatel-gatel, jadi gak bisa jalan keluar.”
“Oh gitu.”
Jawaban dari anak Kak Rina membuatku semakin yakin pada kecurigaanku. Bisa saja, karena pengobatan Radit semalam. Mantra jahat yang Kak Rina kirimkan, kembali pada dirinya sendiri.
...
“Gimana kabar kamu, Dhea? Apa sudah lebih baik?” tanya Radit saat aku datang ke rumahnya usai kunjungan sore terakhir.
“Udah gak apa-apa kok, Dit,” jawabku.
“Alhamdulillah kalau gitu.”
“Kaki kamu sendiri gimana?”
“Udah agak enakan kok, belum bisa dibawa jalan cepat aja.”
“Kayaknya kamu gak bisa main bola lagi.”
“Eumm, semoga masih bisa.”
“Ngeyel banget.”
“Namanya juga olahraga, cidera bisa terjadi kapan saja, Dhea.”
“Tapi kamu bikin aku takut tau!”
“Takutan juga lihat kamu kayak semalam, untung gak bangunin orang sekampung.”
“Emangnya teriakan aku kenceng banget ya?”
“Iya, lah. Aku sama Beno aja panik nyari dari mana suaranya. Pintu rumah kamu juga gak dikunci, takut banget kamu teriak karena dimasukin orang.”
“Gak dikunci? Perasaan udah aku kunci, kan abis itu aku langsung nelpon kamu, Dit.”
“Bisa jadi kamu lupa.”
“Gak mungkin.”
“Ya, yang penting udah gak apa-apa sekarang.”
“Siapa coba yang mau ngerjain aku?”
“Mana aku tahu, Dhea. Yang penting tetap bentengi diri.”
“Aku jadi takut sendirian di rumah.”
“Kalau aku masih ada di sini, insya Allah gak apa-apa.”
“Kita harus cepetan nikah, Dit.”
Radit mengulum senyum mendengar pernyataanku.
“Kenapa?” tanya Radit.
“Biar aku gak sendirian lagi di rumah,” jawabku.
“Hemm.”
“Kenapa?”
“Lucu aja.”
“Dih.”
“Weka weka.”
Aku kembali ke rumah setelah banyak mengobrol dengan Radit. Aku pun mulai berpikir bagaimana caranya agar tidak sendirian dulu di rumah. Mana mungkin aku mengajak Kak Rina, bisa-bisa dia langsung berubah jadi hantuwen dan menggigit leherku seperti vampire di tengah malam.