Langit pagi ini cukup cerah, sangat biru seperti tidak ada awan yang menghias kecantikan ciptaan Tuhan. Tetapi di ruang kerja milik Jovan, Alex berulang kali bergidik ngeri, seperti sedang berada di rumah hantu yang memacu adrenalin.
Pukul tujuh tadi Jovan berangkat dengan wajah muram, di atas kepalanya terdapat awan mendung dengan kilat yang menjilat udara. Itulah yang Alex lihat dengan mata penuh imajinasinya, sedikit menggambarkan keadaan Jovan yang uring-uringan tidak jelas.
Sikap senggol bacok Jovan sudah terjadi sejak beberapa minggu lalu, entah apa penyebabnya, Alex bahkan tidak berani bertanya. Karena tidak mau jika papan nama akrilik di atas meja Jovan akan terbang dan mengenai keningnya. Sangat mengerikan.
"Ini jelek, ini jelek, dan ini luar biasa busuk!"
Jovan terus melempar lembar demi lembar kertas sketsa yang sudah dirancang susah payah oleh divisi perancangan. Untung saja Alex sempat menukar ipad yang seharusnya menjadi alat untuk melaporkan progres, menjadi dalam bentuk kertas. Dia jelas sudah paham, jika Jovan akan melakukan hal tersebut.
Minggu lalu Alex harus melakukan sedikit atraksi dengan berseluncur di atas lantai dengan sepatu derby barunya. Menguji kegesitan lengannya untuk menangkap ipad yang Jovan lemparkan dengan kesal. Sayangnya, benda seharga sebulan gajinya bahkan lebih itu terlempar dengan nahas dan tidak tertolong.
Seperti hari-hari kemarin, Jovan mulai berceramah panjang lebar dan terus menyalah-nyalahkan Alex yang tidak kompeten mengurus divisi perancangan. Walau bagi Alex, sketsa yang divisi perancangan buat, sudah cukup bagus dan sesuai dengan keinginan klien.
Setelah menghabiskan waktu 20 menit untuk mendengar Jovan melayangkan amarah demi amarah yang tak pernah habis walau tiap hari dilontarkan. Akhirnya Alex menjawab dengan kalimat paling aman, dan bisa membuat Jovan diam tak berkutik.
"Maaf, ini salahku. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk segera mencari koordinator proyek, alih-alih menjadikanku sebagai sekretaris."
Ancaman itu selalu berhasil membuat Jovan diam dan menghentikan omelannya, kali ini Jovan bangkit dari kursi putarnya dan berjalan menuju jendela besar yang di tepi kanannya terdapat teropong besar. Alex lah yang diminta untuk memsankan teropong bintang itu 10 hari lalu, dan saat benda itu tiba 4 hari lalu, Alex masih tidak paham apa kegunaannya di dalam ruang kerja Jovan.
Mungkin Jovan ingin melihat bintang untuk merefresh otaknya bila terpaksa kerja lembur. Meski hingga kemarin, Jovan enggan kerja lembur dan selalu pulang sesaui jam kerja untuk pergi berpesta. Cukup aneh, karena biasanya Jovan selalu menolak saat Alex mengajak untuk bersenang-senang di kelab.
"Jadi, bisakah kau menceritakannya, sekarang?"
Alex yang geram pada sikap menyebalkan Jovan yang tak kunjung sadar dan berubah, pun akhirnya kesal. Pertanyaan itu benar-benar terlontar setelah Alex terus menahan dirinya untuk tidak kelewatan batas. Meski bagaimanapun, Jovan masihlah atasannya, dan sangat tidak sopan jika dia mengulik urusan sang atasan.
"Apalagi kalau bukan karena si nyonya Mia yang terus membuat perasaanku memburuk setiap pagi!"
Dengan beberapa hint, serta Mia yang belakangan terus mengeluhkan sang anak yang tak kunjung membawa wanita pulang, membuat Alex dapat menarik garis merah yang saling berhubungan. Pasti, hubungan Jovan dengan Anne, yang belum pernah Alex lihat parasnya, pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Dia hanya khawatir Jov. Sudah berapa tahun kau menutup diri untuk wanita? Wajar jika ibumu khawatir."
Jovan memicing curiga, mulai menyadari keanehan yang berulang setiap kali membagikan kehidupannya dengan Alex. Lelaki itu cenderung sangat penasaran dan mengulik cerita dengan detil. Dan satu tindakan yang selalu sama secara berulang, adalah saat Alex terus mebela Mia, apapun permasalahannya.
"Lagi-lagi kau membela mama? Dibayar berapa?"
Mendengar tuduhan yang tepat sasaran itu, membuat Alex terbelalak terkejut. Dia mulai berkeringat dengan cepat, meciptakan bulir-bulir besar seperti biji jagung.
"Bayar apa? Aku hanya berpendapat dengan netral." Kilah Alex.
Jovan mendecak geli, lalu mulai mendekat kearah teropong baru miliknya. Melihat keseriusan Jovan, Alex pun semakin penasaran pada masalah yang sedang menghantui Jovan si lelaki kocak.
"Sebenarnya, apa yang kau lihat dengan terpong itu?"
Jovan menjauhkan matanya, menoleh kearah Alex dengan senyuman miring, lalu menarik ujung lengan baju Alex untuk dihadapkan pada teropong. "Seorang bidadari cantik. Tapi awas! Dia hanya milikku!"
Kalau saja Jovan bukan atasannya, Alex pasti akan mencibir lelaki itu dengan remeh dan berulang. Namun karena masih cinta pada pekerjaan yang memakmurkannya, Alex pun hanya menuruti instruksi Jovan dan mulai menginti dari celah teropong.
Tidak lebih dari 3 menit, Alex segera manjauhkan matanya. "Kamu ngintip perusaan Shawn?"
Jovan mengangguk. "Salah satu bidadari di dalam saja, yang belakangan terus membuatku ferustasi dan uring-uringan."
Akhirnya Alex menghela nafas lega, merasa seperti baru saja mengelurkan tinja besar yang menghalangi dalam proses pembuangan. Benar jika Jovan sedang galau karena seorang wanita, yang artinya Jovan masihlah lelaki normal dan stright.
Tapi, saat menyadari situasi, Alex kembali mengintip dari lubang teropong, dan menadapati sosok wanita cantik di gedung sebelah, sedang sibuk melamun dengan terus menggigit pen ditangannya. Parasnya memang sangat cantik, dengan wajah jutek dan tatapan matanya yang tajam.
"Jadi dia Anne." Gumam Alex. "Lalu apa masalahnya?"
"Aku ditolak." Jelas Jovan gesit, terasa jelas jika dirinya sedang mengambarkan perasaannya yang tertolak. "Dia masih mencintai mantan pacarnya yang kini sudah menikah. Dan perjuanganku mendekati, sia-sia belaka. Anne bahkan hanya menganggapku sebagai teman.
Setelah memastikan Jovan sudah menceritakan semua cerita dan keresahannya. Dalam hati, Alex menyetujui langkah luar biasa dari Tuhan. Jovan memang memiliki paras yang rupawan, kaya raya dan sukses. Tanpa berusaha, dan hanya menjentikkan jari, Jovan pasti bisa mendapatkan wanita dengan spesifikasi sendiri, sekalipun.
"Dengar bother, anggap saja wanita adalah sebuah layang-layang. Jika terlalu emengendurkan atau membebaskan, mereka akan terbang jauh hanya dengan bantuan angin. Bagian terburuknya, bisa saja layang-layangmu terjun bebas di sawah, jika tidak diawasi. Tapi, jika kau pandai melakukan tarik ulur, semua pasti akan lebih mudah. Begitupun dengan asmara yang sedang kau jalani, tetapi jangan pernah lakukan kegagalan yang sama." Alex mulai berlagak totalitas seolah menjadi penasehat percintaan. "Dan jika kau menyerah semudah ini, pasti hingga kedepannya dia tidak akan mempercayaimu. Kejarlah lagi, dan yakinkan dia jika kau memang menginginkannya!"
Mendengar motivator dadakan yang kini menjelasakan dengan panjang, seraya memberikan tepukan dipundaknya, Jovan pun tergugah. Benar kata Alex, dia harus menunjukkan pada Anne, dan membuat wanita itu terpikat dan terbiasa pada kejarannya.
"Kalau begitu, bisa pesankan sebuah buket bunga? pilih kartu ucapan yang cantik."
Wajah Alex berubah semringah saat melihat tekat kuat dan mata berbinar Jovan. Benar adanya jika Jovan sangatlah mudah dikelabuhi, meski tidak untuk semua hal. Karena pada dasarnya, Jovan mudah dibodohi, hanya tetang asamara saja.
"Siap laksanakan, boss!" Alex melanyangkan hormat dan melayangkan senyuman puas.
"Mawar, beri dia banyak farian mawar yan cantik. Satu lagi, siapkan satu tanaman yang mengambarkan penyesalan dan permintaan maaf. Kirim ke gedung Shawn hari ini juga, dan berikan langsung pada Anne. Mengerti?"
"Siap, mengerti!" Jovan mengangguk sekilas untuk membalas seruan semangat Alex.
Lalu, kembali menatap gedung kantor Shawn yang terus menyebalkan, bahkan hingga berganti tahun sekalipun.
***
Anne terus menggigit pensil digenggamannya, hingga meninggalkan jejak gigi yang cukup dalam. Bagian terpentingnya, Anne melamun dengan kening mengernyit dalam, seolah sedang berfikir keras di dalam otaknya, sedang kesadarannya harus terus menetap di raga.
Berkali-kali dipikirkan pun, Anne masih tidak menyangka jika Shawn akan memiliki perasaan pada Jovan. Keduanya sama-sama keren, tampan, berbadan bagus, serta kaya raya, tapi mengapa harus memiliki garis percintaan yang belok dari kodrat yang Tuhan ciptakan?
Seperti mendadak menjadi seorang detektif, Anne mulai menyimpulkan segala kemungkinan-kemungkinan aneh yang belakangan terus Anne alami. Tentang super baiknya Shawn, dan kejudesan Jovan pada tetangga gedung.
"Mungkinkah Jovan membencinya karena masalah ini?" Gumamnya tak yakin.
"Kerja malas-mlasan, tapi selalu didukung boss. Apa sebabnya, kalau bukan jual diri?" Lirih seorang wanita yang duduk di samping bilik kerja milik Anne.
Anne mengernyit terkejut, dia menatap wanita itu dengan nyalang. Bukannya membuang pandang dan menghindar, wanita bernama Ayla itu malah menatap Anne dengan terang-terangan dan menantang.
"Oh, jadi kalian semua membenciku karena iri?" Balas Anne tak mau kalah.
Selama ini dia terus mengalah, bahkan diam meski dirinya selalu dirundung. Namun kali ini Anne tak terima, pada kalimat menjual diri yang membuat harga dirinya seperti di injak-injak.
"Punya kaca nggak?" Decih Anne dengan senyuman sinis. "Ngaca dulu sebelum menghujat orang. Bukankah penampilanmu yang lebih layak dicibir dengan kalimat itu?" Balas Anne tak kalah telak. "Ke kantor pakai gaun ketat, seketat celana latek. Memamerkan paha dan d**a, apa tujuannya, selain untuk memikat lelaki seperti Shawn dan menjual diri?"
Wajar bukan, jika Anne kesal pada cibiran yang berhubungan dengan harga diri? Karena, saat Anne membalas ejekan itu, sama persis hanya ditambah improviasai, membuat Ayla marah bukan main. Tangan Ayla diangkat hendak memberikan pukulan, namun dapat Anne tangkis dengan mudah.
"Begitu-begitu, kau marah saat aku mengejekmu? Tapi kenapa kau terus melakukannya padaku?"
Ayla mendecih kesal, menjauhkan tangannya dengan tatapan syarat akan kebencian dan menyempatkan mengumpat sebelum pergi menjauh dari bilik kerja Anne.
"b***h!" Umpat Ayla.
Tidak lama setelah kepergian Ayla, pak Bejo masuk ke dalam ruang kerja mereka, dan celingukan mencari sesuatu. Saat tatapan Anne dan pak Bejo bertemu, pria itu menghela nafas lega dan mendekat pada Anne, dengan sebuah buket bunga besar yang lengkap dengan keranjang bunganya.
"Mbak Anne, ada titipan paket untuk mbak Anne."
Anne mengernyit, menatap uluran tangan pak Bejo dengan binggung, namun tetap menerimanya, karena tak mau membuat pak Bejo kelelahan menopang buket bunga besar dan berat itu. Setelah memeluk buket itu, Anne memutar keranjang untuk menemukan tulisan yang dapat dibaca. Meski mulutnya tetap menanyakan pemberi paket.
"Siapa yang kirim, pak?"
"Pak Jovan, dari gedung sebelah."
Penjelasan pak Bejo, bersamaan dengan terhentinya Anne dalam membaca secarik kertas yang tertanam di sela-sela bunga. Kiriman itu memang benar berasal dari Jovan, dengan sebuah pesan permintaan maaf dan mengajak Anne untuk kembali berteman dengan baik.
Jujur saja, Anne pun merindukan Jovan. Mereka sudah terbiasa mulai dekat dan saling mengenal dengan baik. Karena tak mau terjebak dalam ikatan dan peran dramatis dan asmara, Anne memilih menjauhi Jovan, begitupun sebaliknya. Begitulah yang Anne pikrikan.
"Terima kasih paketnya ya pak. Jadi repot, musti antarin sampai lantai tujuh."
Setelah melihat senyuman ramah pak Bejo, dan anggukan bersemangatnya, Anne mulai menyesap aroma harum dari bunga mawar berbagai warna yang masih sangat fresh itu. Jovan sangat tahu, jika Anne sangat menyukai bunga, padahal Anne belum pernah menceritakannya.
"Mama!" Gumam Anne, seraya melotot kesal.
Setelahnya ponsel Anne berdenting, dan saat diperiksa, pesan dari Jovan lah yang masuk.
'Mau memaafkanku kan? Kalau iya, aku akan mentraktirmu makan lagi, dan mari bersenang-senang untuk ke depannya. Damai?'.
Tanpa sadar, Anne terus tersenyum gemas sepanjang dirinya membaca pesan dari Jovan, dia bahkan tidak memedulikan pada bisik-bisik gosip tidak masuk akal yang rasanya akan semakin membuat musuh semakin benci padanya.
Masa bodoh, Anne bahkan sudah kebal dengan perundungan itu. Karena tujuan utamanya bekerja diperusahaan maju ini, adalah untuk menutup hutang yang Anne keluarkan untuk membeli unit apartemen beserta renovasi dan rombakan total pada interior unitnya.
Setelah mengirim pesan kesepakatan damai, Anne menyembunyikan bunga miliknya di bawah kursi, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. Si muka dua Dinda, pasti akan menegur jika melihat Anne sibuk bukan karena pekerjaan.
Lagipula, sejak kapan Anne terkesan malas-malasan seperti ini? Dulu, saat di London, Anne adalah pekerja paling produktif dan kritis. Inovasi pemasaran baru selalu dia ajukan dan memperlancar penjualan. Namun di sini, pikiran Anne terus-terusan dipaksa berhenti berfikir dan tak usah ikut campur. Anne bahkan lupa, bagaimana rasanya rapat dan mengajukan rencana pemasarannya.