Tepat setelah menyelesaikan segala urusan pembayaran dan segela macamnya, Anne tak lagi berhubungan dengan Jovan. Sebenarnya, dia masih kesal pada tindakan Jovan malam itu, saat lelaki itu menyatakan cintanya yang ternyata hanya candaan belaka. Yang paling membuat Anne kesal, Jovan meremehkan kejujuran Anne yang menyatakan perasaannya pada Jefry.
Anne tahu jika Jefry sudah menempuh kehidupan dengan keluarga kecilnya, bahkan akan segera dikaruniai bayi, meski masih membutuhkan beberapa bulan kedepan. Namun, siapa yang bisa menawar cinta? Anne juga tak ingin mencintai lelaki yang salah, ataupun sudah dimilku orang lain. Tetapi, perasaannya pada Jefry memang belum hilang.
Sedari kecil, Anne terbiasa mengusahakan apapun yang dia sukai, hingga dapat dia miliki. Jika tak kunjung dimiliki, Anne akan terus mencoba mendapatkannya. Seperti dulu, saat pertama kali dia menyukai Jefry, Anne bahkan setia menyimpan rasa hingga bertahun-tahun, hingga akhirnya mereka bisa lebih dekat dan menjalin cinta.
Konyolnya, hubungan mereka hanya bertahan sebulan, dan Anne sudah merasakan kebosanan dan kepuasan karena dapat menaklukkan lelaki yang disukainya sejak lama. Namun, rasa cinta itu kembali tiba, sebelum Jefry menjadi milik Vina. Dengan modal perasaan itu, Anne meyakini jika cintanya memang hanya untuk Jefry, meski tak lagi terbalas.
"Kalau aku boleh milih, pun aku enggak mau cinta sama Jefry." Terang Anne, seraya memeluk guling dengan erat.
Dihadapannya, Key berbaring dan memerhatikan Anne yang terus menceritakan kekesalannya pada Jovan yang meninggalkannya pulang begitu saja. Lelaki itu memberhentikan taxi, dan pergi tanpa sekalipun menoleh, sedang Anne dibuat kesal karena merasa ditinggalkan.
"Kamu tahu kan Key, aku tipe yang enggak mudah cinta sama lawan jenis. Dan sekarang aku sukanya hanya sama Jefry!"
"Tapi sekalinya cintanya tergapai, kamu langsung bosan kan?" Sergah Keysha, lalu merebut ponsel yang sedari tadi Anne sandra agar Keysha fokus mendengar curahan hatinya. "Kurang-kurangin, Anne. Kamu sampai enggak bisa membedakan mana cinta, mana ambisi untuk menaklukkan. Perasaan kamu ke Jefry itu, bukan cinta." Tambah Keysha seraya memainkan ponselnya.
Mulut Anne sudah terbuka untuk melayangkan protes, namun Keysha lebih dahulu menodongkan layar ponselnya, yang menampilkan sebuah artikel yang berjudul 'perbedaan cinta dan obsesi'.
"Baca ini, dan resapi. Karena aku yakin seratus persen, kalau kamu enggak tulus cinta sama Jefry. Aku malah curiga, kalau Jefry hanyalah korban dari pertengkaran kamu dan Vina."
Anne mengambil alih ponsel milik Keysha, membaca beberapa poin yang hampir semuanya cocok dengan keadaan yang pernah dia alami dengan Jefry. "Tapi masa iya, aku mengalami seperti itu dua kali? Kalau ini hanya ambisiku saja, harusnya aku sudah puas dan mencari lelaki lain yang lebih menarik. Tapi aku cinta lagi sama Jef loh, Key."
Keysha mendecak kesal seraya merebut ponselnya. "Aku cuma memberi saran, di pakai silakan, enggak ya bodo amat! Udah ah sana, aku mau telponan sama ayang!"
"Keysha! Dengerin aku dulu!" Rengek Anne tak terima.
Pasalnya Keysha sudah mulai merapikan diri, bahkan memakai lipstik merah menyala, dan bersiap untuk melakukan skype dengan sang kekasih yang sedang berada di negara tetangga.
"Cerita sama sepupu sendiri aja dicuekin, padahal aku frustasi banget! Kalau aku lampiasin buat mabok-mabokan, nanti diomelin. Terus aku harus gimana?!" Dumel Anne dengan uring-uringan.
Dia mulai merebahkan diri, merasa galau karena keadaan yang mendadak menganggu perasaan dan ketenangannya. Harusnya dia cuek saja saat menolak lelucon Jovan, namun ucapan lelaki itu terus terngiang-ngiang.
"Oke, kamu mau cerita apa lagi?" Akhirnya Keysha mengalah, padahal biasanya dia selalu anti untuk ikut campur pada masalah orang lain, Anne sekalipun.
Bagi Keysha, tak pernah ada masalah dan kesusahan yang dia pikirkan mendalam. Jika memiliki masalah, dia cenderung akan lari untuk menghindar, dan galau. Sama sekali tak pernah ada di dalam kamus hidup Keyhsa yang bebas.
Anne ikut merebahkan diri di samping ranjang milik Keysha, memandang langit-langit kamar yang dilukis menyerupai tata surya. "Kamu pernah nggak sih, merasa bosan dan pengen menghindar dari semua orang?" Anne melirik kearah Keysha, yang dengan yakin menggeleng.
Pertanyaan yang sebenarnya sangat jelas jawabannya. Sejak kapan Keysha suka berjauhan dengan orang? Dia malah sangat mencintai saat di mana dirinya menjadi pusat perhatian.
"Rasanya malas memulai asmara, karena aku tahu kalau semuanya akan sia-sia saja. Tapi ada saatnya aku pengen punya pasangan, pengen kayak kamu dan wanita normal lainnya. Tapi aku sadar, aku mudah bosan, aku akui. Dan saat aku bosan, aku enggak mau diganggu oleh siapapun dan enggak mau direpoti apapun. Berharap semua orang pergi jauh-jauh dan biarkan aku hidup damai. Tapi, harus datang disaat aku butuh."
Keysha mengernyit heran, lalu menyentil kening Anne dengan keras. "Kamu waras kan? Bisa-bisanya ngomong begitu?"
Anne menghela nafas panjang, ia pun tidak paham dengan pemikiran egoisnya. Namun, karena itulah dia tak tega hati untuk menyakiti lelaki diluar sana, yang berniat mendekati. Tapi, selama ini Jefry selalu menerimanya dengan lengan terbuka, entah bagaimanapun sikap Anne.
"Aku tahu, aku egois. Tapi, selama ini Jefry selalu bisa menerima aku, dan paham bagaimana cara menangani sikap konyol aku." Anne menghela nafas dengan pilu. "Andai dia bukan milik wanita lain."
"Dan dia akan menjadi seorang ayah, by the way!" Sergah Keysha dengan gemas. "Dengar aku!" Keysha bangkit duduk, menatap Anne dengan serius, seserius dirinya yang selama ini tak bisa menguasai sikap itu untuk diri sendiri. "Jawaban untuk semua keresahan kamu hanya satu. Coba!"
Satu kata 'coba' yang Key ucapkan, sangat Anne ketahui artinya. Key tentu menginginkan Anne untuk mencoba lagi membuka hati untuk hal asmara yang sudah lama Anne lupakan dan hindari. Tapi, Anne bahkan sudah dilanda kebosanan sebelum berniat mencoba. Lalu, dia pun tak mau kembali mencoba bersama Jovan.
"Kamu ingat si seksi bisbol kan? Coba saja sama dia." Key mulai tersenyum dan mengawang ke udara. "He's hot, handsome and rich. So, what are you looking for, Anne?"
"He's playboy, Keysha!" Kesal Anne seraya menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
Membagi masalah yang terus meresahkannya pada Keysha, rasanya tak membantu apapun. Jalan pikirannya dan Key pun sering tak sejalan, namun karena tak memiliki siapapun di sampingnya, Anne tak memiliki opsi lain. Terbelih, saat melihat Key tertawa mengejek hingga berguling di sampingnya, semakin membuat Anne geram bukan main.
"Kamu sadar kalau mudah bosan dan mudah mengucap putus. Kamu punya banyak kekurangan dan keegoisan yang menyebalkan, Anne! Bisa-bisanya kamu enggak mau menerima kekurangan pasanganmu?" Terdengar decakan kesal, lalu suara lelaki yang terkesan jauh, pun mulai terdengar. "Udah ya, aku video call sama ayang dulu."
Anne membuka selimut yang menutupi wajahnya, menatap Keysha yang kini memunggunginya dengan menghadap layar laptop. Jujur saja Anne tertegun pada ucapan Key, benar adanya jika Anne sangatlah egois. Dia jelas memiliki banyak kekurangan, namun selalu menginginkan semua orang untuk memahaminya.
Bermodalkan wejangan yang bisa saja Key ucapkan tanpa sadar dan tanpa dipikir terlebih dahulu, akhirnya Anne menentukan keputusan akhir. Bahwa dia, akan mulai mencoba dan berusaha.
***
"Morning, Belle!"
Anne menoleh kearah Shawn yang melangkah mendekat menuju lift pribadi untuknya. Anne tentu membalas sapaan itu dengan senyuman ramah, meski terdengar suara kasak-kusuk di belakangnya, yang berasal dari para pegawai wanita. Namun, tidak hanya pada Anne, Shawn pun menyapa pegawai lain dengan ramah, yang jelas jika tindakan Shawn tidaklah pilih kasih.
"Bagaimana pekerjaanmu? Kau menyukainya?" Shawn kembali mendekat kearah Anne setelah menyapa pegawainya dengan lambaian heboh.
Sedang Anne, yang ditanya perihal sensitif yang selalu memperburuk perasaannya, pun terpaksa harus memasang wajah biasa saja, bahkan ramah, sedang hatinya berlainan. "Ya, cukup menyenangkan."
Pintu lift dihadapan Anne terbuka, namun dirinya mendapat dorongan dari pegawai lain yang masuk dengan terburu-buru. Beruntung Shawn menahannya, sehingga tidak harus terjadi atraksi memalukan di hadapan sang boss.
"Thanks." Setelah berterima kasih, Anne menghela nafas kesal, pasalnya pegawai yang masuk ke dalam lift, sama sekali tidak memberikan akses untuk Anne ikut serta menaiki ruangan berbahan logam itu. "Shit." Gumamnya lirih, karena tak ingin Shawn mendengarnya.
"Loh, mereka meninggalkanmu?" Heran Shawn, yang tergolong telat bereaksi, karena lift itu bahkan sudah tertutup dan melesak naik. "Ya sudah, ikut saja denganku."
Shawn menempelkan kartu akses, dan pintu terbuka. Meski merasa sungkan, dan tak mau kian dimusuhi akibat kedekatannya dengan Shawn, namun Anne memilih masa bodoh, dan ikut memasuki lift khusus milik Shawn.
"Jangan kecewa dengan keputusan Santi, aku yakin kau akan bisa mengamankan posisi itu lain kali." Shawn membuka obrolan begitu pintu lift tertutup.
Sedang Anne, terus menajamkan telinga hingga dapat mendengar lift yang mereka naiki, sudah mulai bergerak naik dengan lembut. Setelahnya dia menoleh kearah Shawn. "Sebenarnya, kau siapa? Mengapa kau sangat baik padaku, Shawn?"
"Aku bossmu." Terang Shawn dengan kekehan. "Dan aku ingin menjadi boss yang baik." Imbuhnya santai.
Lagi-lagi Anne mendecak kesal dengan sembunyi-sembunyi. Walau bagaimanapun dan sebaik apapun Shawn, namun Anne tetap menjunjung tinggi rasa hormat. Hingga detik ini lelaki menyebalkan dihadapannya adalah sang boss, maka Anne harus bertingkah dengan sopan, bukan?
Lagipula, bukankah Shawn adalah lelaki pintar dan cerdas? Tapi mengapa tak dapat mencerna pertanyaan Anne dengan benar dan sesuai?
"Lalu kenapa tidak menawarkan posisi itu pada orang lain? Shawn ..." Akhirnya Anne menghadap Shawn dengan berani. "Aku adalah pegawai baru, terhitung baru dua bulan bekerja di sini. Sangat aneh jika aku mendapat promosi secepat ini."
Shawn menggoyangkan telunjuknya di udara. "Mereka tidak memiliki pengalaman luas sepertimu, Anne."
Pintu lift terbuka, dan mau tidak mau Anne menghentikan niat memprotesnya dan keluar dari lift yang mencekik itu. Shawn sama sekali tidak bisa diajak mengobrol dengan serius.
"Eum, ngomong-ngomong ..." Shawn menggantung ucapannya, hingga Anne menoleh penasaran. "Kau dekat dengan Jovan?"
Anne mengernyitkan keningnya, dan kian penasaran saat Shawn berjalan semakin mendekat, seraya menyempatkan diri untuk menengok kanan kiri, memantau keadaan sekitar. "Dia sudah memiliki pacar?"
Meski sudah menunggu kalimat lanjutan, namun Shawn tetap diam, seakan sedang menunggu jawaban Anne. "Aku tidak tahu."
"Tapi kalian terlihat dekat!" Sergah Shawn, yang membuat Anne berjingkat terkejut.
Shawn meringis segan, lalu menari lengan Anne untuk berjalan cepat menuju ruang kerja Shawn. Tindakan itu tak lepas dari tatapan para penghuni lantai tujuh, yang sangat Anne yakini jika dirinya pasti akan kembali dijadikan bahan gunjingan dan dibenci.
Setelah pintu tertutup rapat, Shawn mendorong Anne untuk duduk di sofa. Lelaki itu bahkan menutup kaca besar di ruangannya, sehingga tidak dapat dilihat dari luar.
"Sebenarnya ada apa?"
Shawn menghembuskan nafas panjang, lalu mengedip dengan mantap. "Aku tahu kau pasti akan terkejut, tapi bisakah kau menjaga rahasia?" Lelaki itu menyodorkan kelingkingnya.
Sedang Anne mengernyit heran, apakah Shawn sedang mengajaknya untuk mengikat perjanjian dengan cara lama itu?
Namun tangan Anne ditarik, dan kelingkingnya dikait dengan paksa oleh kelingking milik Shawn. "Kau sudah berjanji, dan berdosa jika mengingkari!"
Enggan beralama-lama dan semakin rumit, akhirnya Anne mangangguk saja. Toh dia tidak tertarik untuk mengumbar obrolan dengan orang lain. Apapun rahasia yang Shawn akan ucapkan, sama sekali tidak menarik untuk Anne.
"Aku menyukai Jovan," lirih Shawn, yang membuat Anne sontak melotot. "Tapi itu dulu!" Sambungnya dengan terburu-buru.
"Ya, walaupun belum sepenuhnya merelakan, tapi setidaknya kau bisa berbagi sedikit kabar tentang kehidupan Jovan kan? Aku rasa, dia menganggapmu sebagai teman dekat, ataupun ingin didekati."
Mulut Anne seperti kaku, dan tak sanggup untuk terkatup. Saat Shawn melangkahkan kakinya mendekat, Anne bahkan memundurkan diri dengan terkejut. Bukannya berniat untuk bersikap rasis pada Shawn, namun kejujuran yang lelaki itu ucapkan, benar-benar membuat Anne syok.
"K-kamu ... menyukai Jovan? Maksudku, kau menyukai ..."
"Ya, aku menyukai sejenis." Jelas Shawn.
Yang membuat Anne menutup mulutnya dengan takjub. Dia tidak salah dengar, ataupun sedang bermimpi karena cerita novel yang bahkan belum pernah Anne baca. Ucapan Shawn sangat nyata, dan Anne benar-benar tak bisa berkata apapun selain berkedip seperti orang bodoh.