16. Penolakan Terkonyol

1551 Kata
Selama dua minggu belakangan, Jovan dengan sengaja memperlambat pengerjaan unit milik Anne dengan alasan tidak mau menjauh. Pikirknya, jika urusan kerjasama ini selesai, maka mereka tidak dapat lagi berteman bahkan pendekatan. Meski mereka mulai berkawan akrab, pun terus melakukan kuliner bersama, namun Anne terasa terus menutup diri, dan Jovan cukup sadar diri. Namun, meski terus memperlambat, akhirnya hari ini tiba juga. Saat di mana unit Anne selesai pengerjaan, dan hari berikutnya tidak akan ada lagi alasan untuk bertemu di unit pemersatu ini. Bagi Jovan, yang sempat dibenci dengan sangat oleh Anne, unit ini adalah penolong yang tepat. Dan dengan wajah sedih yang coba ia tutupi, Jovan mulai tersenyum lebar saat melihat Anne menghampirinya dengan ringisan. Wanita itu baru saja selesai berkeliling, melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memuaskan diri. Dua ibu jari Anne terangkat puas, yang membuat Jovan tersenyum kian lebar. "Aku puas banget sama hasilnya. Biaya pengerjaan dan sedikit bonus, sudah aku transfer full, dan buktinya sudah aku kirimkan pada Alex. Terima kasih ya, Jov. Akhirnya aku pindah juga." Kalimat terakhir yang Anne ucapkan, semakin membuat Jovan dilanda dilema hati. Jika di rumah mama Eliza, Jovan jelas masih memiliki alasan untuk berkunjung, setidaknya tak terlalu terlihat jika dia ingin menemui Anne. Tapi, jika Anne sudah pindah, alasan apa yang akan dia gunakan untuk bertemu Anne? Anne kembali berjalan meninggalkan Jovan, kali ini tujuannya adalah ruang baca sekaligus meja kerja, di mana terdapat kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari atas lantai 8. Spot itu sengaja Anne request, agar dirinya semakin banyak mendapat inspirasi saat mendapat pemandangan yang cukup baik. "Kita tetap berteman kan, setelah ini?" Walau yang Jovan harapkan bukanlah sebuah pertemanan, namun dia tak memiliki keberanian untuk menggoda Anne lebih dalam. Dulu, ia sering usil dan tengil, karena belum merasakan debaran aneh yang menganggu. Namun, saat sadar, jika dia mulai memiliki rasa yang lebih, Jovan seperti terbungkam pada keadaan. "Iya lah," Anne menoleh kearah Jovan, tersenyum dengan lebar. "Lagian, cuma kamu aja yang mau mendengar keluh kesahku. Kalau Keysha, jangan ditanya! Dia enggak asik diajak berbagi masalah." Setelah banyak mengenal Anne lebih dalam, Jovan pun mulai mengenal sosok Keysha yang tak lain adalah sepupu Anne. Wanita itu memang unik, memiliki pemikiran terbuka yang hanya cocok diajak bersenang-senang. Keysha tak bisa berfikir kritis, atau bahkan hidup dengan serius. Visinya adalah happy, misinya happy, sehingga visi misinya adalah happy happy, dan tak pernah ada kata yang bersangkutan dengan kesedihan pada kamusnya. "Seperti ucapanku sebelumnya, aku enggak akan kemana-mana." Jovan mengikuti berdiri di samping Anne, menatap jalan utama yang terhampar tak jauh dari gedung apartemen Anne. "Jadi kapan kamu mau pindah?" Anne tampak berfikir, namun segera mengangguk mantap. "Hari ini! Mumpung masih sore, aku mau mencicil angkut barang." "Sebesar itu ya keinginanmu pergi dari rumah?" Pertanyaan itu hanya Jovan lontarkan di dalam hatinya. Merasa tak enak hati jika menghancurkan senyum bahagia Anne. "Oke, kalau begitu aku bantu pindahan. Mobilmu belum normal kan?" Tuhan memang beberapa kali mendengar doa Jovan, bahkan mengabulkan keinginan jahatnya yang mendoakan mobil Anne kembali rusak. Nyatanya memang benar terjadi, sudah lebih dari 2 minggu, Anne terus mengendarai motor untuk pergi bekerja. "Aku cuma bawa pakaian dan peralatan kecil dulu aja kok. Barang lain aku pakai jasa angkut." Namun Jovan tetaplah Jovan, lelaki pemaksa yang konsisten. Jika dia ingin melakukan tindakan A, maka dia harus fokus untuk menyelesaikannya. "Ya sudah iya." Putus Anne, saat melihat wajah tak terima dari Jovan. Satu yang terus dia panjatkan pada Tuhan, semoga si lele tak akan pernah mengacau ataupun menjadi pihak ketiga, dengan tiba-tiba datang. Setelah hilang beberapa hari sejak seminggu lalu, Jovan merasa puas. Harapannya adalah Vale sudah ketahuan playboy, dan memilih mundur pelahan. *** Rencana awal adalah mengangkut barang terpenting, karena Anne berniat untuk tidur di apartmenen malam ini. Namun pada akhirnya, mereka harus dua kali bolak-balik karena semua barang terasa penting untuk wanita. Sedang mobil Jovan sangatlah minimalis dan tak muat banyak. Langit sudah gelap saat mereka selesai membereskan perlengkapan penting milik Anne. Dan melihat Jovan yang terlelap di sofa setelah banyak bekerja, membuat Anne merasa bersalah. Kompor pesanannya bahka baru datang besok, sedangkan mereka sama-sama belum mengisi perut sejak siang tadi. Tujuan Anne adalah membeli makanan untuk makan malam sebelum membangunkan Jovan. Sialnya, kaki Anne tersadung kaki sofa, yang membuatnya terjatuh dan membuat Jovan terbangun. "Kamu ngapain?" Gumam Jovan seraya mengucak matanya. Anne yang meringis kesakitan, pun bangkit untuk duduk, seraya mengusap kelingking kakinya yang berdenyut-denyut ngilu. Percuma ada mata kaki, jika sama sekali tidak bisa melihat dan menyelamatkan kelingkingnya dari benturan. "Mau keluar, tapi kesandung sofa." Ringis Anne. Jovan pun tergelak, wajahnya mendadak segar meski baru bangun tidur. Dan wajah tengil menyebalkan itu, lagi-lagi membuat Anne kesal bukan main. "Mau kemana sih? Yuk keluar bareng aja, sekalian cari makan." Jovan bangkit berdiri, tak lupa membantu Anne untuk bangkit. "Aku cuci muka dulu. Eh," langkahnya yang hendak menuju kamar mandi pun terhenti. "Kamu punya berapa helm?" "Dua, yang satu hadiah dari motor." Anne jelas enggan memakainya karena tak suka seragaman dengan orang lain. Oleh karena itu, dia membeli helm baru yang dipesan dengan warna dan gambar khusus. "Bagus, kita naik motor aja, kayaknya seru." Benar kata Jovan, membonceng dan berkendara malam adalah sesuatu yang menyenangkan. Anne bahkan sengaja melawan angin, dengan bernyanyi semangat disepanjang jalan. Jovan pun beberapa kali mengikuti, terbawa arus dan ikut bersenang-senang. Dulu Anne sangat membenci motor, karena kenangan yang dapat dia ingat dari kendaraan roda dua itu, hanya saat berkendara bersama Jovan. Lelaki yang dulu sangat dia benci. Namun, walau kini dia kembali berkendara dengan lelaki yang sama, mengapa kali ini Anne merasa bahagia? Beruntung jalanan sudah mulai lenggang, Anne dengan leluasa merentangkan lengannya, melepas segala penat pekerjaan yang mengekangnya. Lalu, Anne berteriak. "Dinda sialan! Enak banget kamu tinggal mengakui pekerjaan orang lain? Aaaaaa." Jovan menolehkan kepalanya saat mendengar Anne berteriak, lelaki itu menyumbang tawa, dan mengimbuhi teriakan Anne. "Iya! Enak banget!" "Dasar enggak tahu diri!" Teriakan Anne berangsur melirih saat motor yang Jovan kendarai mulai menepi. Tujuan mereka adalah warung tenda, Anne mendadak ingin makan rica-rica langganan Jovan. Saat motor terhenti dan menurunkan diri, Anne tersenyum puas. Hari libur adalah hari terbaik, karena hari ini Anne tak perlu bertemu dengan Dinda, ataupun perundung lain, yang tidak Anne ketahui sebabnya. "Senang banget ya?" Anne mengangguk semangat, meski suaranya mendadak serak karena terus berteriak, namun Anne senang karena dapat meluapkan amarahnya. Dan itu berkat Jovan yang menemani. Usakan lembut di puncuk kepala Anne, membuatnya menahan senyuman dan menatap Jovan dengan canggung. Semua terjadi, karena Jovan yang kini sedang menatap Anne dengan dalam, dia bahkan tak berkedip dengan pandangan terpukau. Anne lah yang pertama disadarkan oleh otaknya yang masih waras, dia memukul lembut puncuk kepala Jovan dan berbalik pergi. "Ayo buruan pesan, sebelum makin panjang antreannya." Jika Anne nampak biasa saja, lain halnya Jovan, yang terus berdebar dengan tidak normal. Sepertinya, dia mamang benar-benar menyukai Anne, dan sepertinya dia harus mengucapkan selamat datang untuk kecanggungan. Akibat dari saling tatap yang mendebarkan itu. Kecanggungan sirna saat makanan mereka datang, Jovan sempat lupa jika Anne sangatlah menggandrungi makanan. Maka saat mereka semua tertata rapi di hadapan keduanya, Anne segera membaca doa dan melahap makanan miliknya. "Aku boleh tanya?" Anne menyelesaikan aksi makannya, dan meremas daun kemangi yang ada di antara lalapan. "Apa?" "Dulu kamu nangis nggak pas putus sana Jefry?" Nama Jefry, hingga beberapa bulan berlalu, masih terus mengusik Anne. Entah karena rasa cinta Anne yang masih dalam dan tak mungkin bisa terbalas, pun karena Anne tak memiliki lelaki lain di sekitarnya? "Enggak lah, sorry aja. Aku yang memutuskan dia, dan dia yang nangis." Sombong Anne, seraya berlagak dengan wajah jenakanya. "Kalau aku dan Jefry, kamu lebih dulu pacaran sama yang mana?" Kali ini Anne berfikir keras, pertanyaan demi pertanyaan yang muncul, bukan seperti pertanyaan yang jelas dan teratur, membuatnya tak sanggup mengulurkan perasaannya tanpa batas. "Jefry dulu, kami saling tahu sejak sejak aku SMP, tapi mulai dekat pas aku kelas 10." "Kalau gitu, biarkan aku yang jadi terakhir ya?" Anne menyengir geli, lalu menepuk kening Jovan dengan gemas. "Iyain aja." Cibir Anne. "Anne!" Jovan mengenggam tangan Anne yang berniat bangkit. "Kalau aku menyukaimu, apa kau bisa membalasnya?" Keduanya mendadak diam, suara tawa dari pelanggan lain yang tertawa bahkan terdengar begitu jelas. Mere dikelilingi keramaian, namun Anne merasakan kekosongan pada pikirannya. Hingga, akhirnya dia mulai berangsur tertawa, seraya melepas genggaman tangan Jovan. "Jangan konyol! kamu enggak pernah suka sama aku Jov, nggak mungkin suka. Daripada kamu berfikir yang aneh-aneh, lebih baik pikirkan untuk pertemanan kita kedepannya." Raut wajah Jovan mendadak muram, namun dia dengan cepat menutupinya, bergantikan dengan senyuman jenaka. Tetapi, ucapan lanjutan yang Anne katakan, membuatnya diam termenung. "Lagipula, aku belum bisa membuka hati untuk lelaki lain. Aku ... masih menyukai Jefry." "Walau dia sudah menikah?!" Heran Jovan, yang bahkan tak menyangka jika Anne akan mengatakan kalimat itu. "Aku hanya masih menyukainya, Jovan. Bukan berarti berharap kembali berhubungan dengannya!" Semakin mendengar ucapan Anne, rasanya Jovan kian kecewa, maka dia memilih bangkit dengan kesal. "Apa yang aku ucapkan tadi hanyalah candaan, Anne! Jadi berhenti melakukan penolakan dengan alasan konyol seperti itu! Masih menyukai Jefry katamu?" Jovan terkekeh geli. "Menggelikan!" Setelahnya Jovan memilih pergi, dengan sebelumnya melempar kunci motor ke atas meja, lalu memberikan beberapa lembar uang untuk membayar makanan mereka. Rasanya Jovan sangat kesal dan enggan untuk terus bersitatap dengan Anne. "Sebenci itukah dia padaku? Sampai, menolakku dengan alasan sekolonyol itu!" Geram Jovan, dengan terus berjalan kian menjauh dari warung tenda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN