15. Badut Vs Nenek Sihir

1652 Kata
Rasa pening, membuat Anne merapatkan katupan matanya dengan keras. Dia baru saja mengintip keadaan dengan matanya yang terasa berat untuk di buka, namun segera kembali tertutup saat merasakan hantaman tak kasat mata yang menekan kepalanya. Suara bising mulai terdengar, dan aroma karbol serta obat-obatan, perlahan menusuk indera penciuman, yang memaksa Anne untuk membuka matanya dengan perlahan. Sentuhan di punggung tangannya, membuat Anne menatap mata lelaki yang membelalak dan menoleh dengan teriakan. "Dok, pasiennya sudah bangun, suster!" Heboh Jovan, seakan Anne baru saja bangkit dari mati suri. "Aku baik-baik aja, Jovan. Enggak perlu berlebihan begitu." Lirih Anne meyakinkan, seraya mendudukkan diri yang dibantu dengan sigap oleh Jovan. "Kalau begitu, jawab aku sekarang! Kamu pacaran sama si ikan lele?" Hardik Jovan, lalu mendudukkan diri di pinggiran brangkar. Anne terlebih dahulu mengedarkan pandangan, dia sedang berada di dalam ruang rawat umum yang terdapat banyak brangkar berisi pasien sementara yang tidak diharuskan menginap, namun terpaksa tinggal untuk beberapa saat. Sedang Anne, yang menyadari jika terdapat selang disampingnya, pasti tidak diperbolehkan pulang sebelum menghabiskan air infusnya. Setelah suster pergi untuk mengurus berkas kepulangan Anne, barulah Anne bersuara. "Siapa pula, ikan lele?" Jovan mendengus seakan sedang merajuk, namun karena suster menghampiri brangkar milik Anne, maka lelaki itu terpaksa bangkit untuk memberikan ruang. Hingga suster selesai melakukan pemeriksaan dan meminta Anne untuk tetap tinggal sampai air infusnya habis. Sesuai dengan pemikiran Anne. "Vale, kamu pacaran sama Vale si atlet playboy itu?" Dengus Jovan. Dia, kembali meminta Alex untuk mencari tahu tentang perangai Vale, bukan tanpa sebab. Saat Anne diambil alih oleh tenaga medis, Jovan yang masih panik dan khawatir pun dibuat kian emosi pada kehadiran Vale yang mengikutinya hingga rumah sakit. Namun, kehadiran Vale tidak hanya untuk memeriksa keadaan Anne, melainkan untuk mengajak Jovan kembali beradu. Kali ini, beradu pendapat. Ternyata sudah mengetahui jika Jovan mencaritahu tentang Vale, konyolnya dia ketahuan karena kecerobohan Alex yang meminta data diri Vale, langsung pada managernya. Alasannya memang cukup realistis, untuk memeriksa apakah sesuai dengan visi misi JK Arch, dan memungkinkan untuk menjalin kerjasama. Tetapi, dampak dari langkah Alex, malah membuat Vale mengetahui jika Jovan sedang mencaritahu tentangnya. Karena itulah Vale mengetahui tentang masalalunya bersama Anne, anehnya dan masih terus Jovan pikirkan hingga kini, mengapa Vale mengetahui tentang taruhan pribadi itu? Kalau saja Vale tidak menerima panggilan dari sang pelatih dan terpaksa harus segera pergi, mungkin Jovan akan kembali mengajak Vale adu urat. Pasalnya, aura diantara mereka terus saja panas, dan saling menyimpan amarah. Karena merasa kalah saing dalam informasi, akhirnya Jovan menghukum kegagalan Alex untuk mencaritahu tentang kehidupan asmara Vale. Dan ditemukanlah, jika lelaki itu memiliki banyak mantan, yang banyak diantaranya adalah seorang public figure. "Sok tahu, dia orang baik kok." Bela Anne, seakan tak terima pada ucapan Jovan. "Ya tapi, kalian benar pacaran apa enggak? Tadi dia panggil kamu, sayang!" Anne memicing curiga, menatap Jovan yang terus menekuk wajahnya dengan tatapan kesal. Lelaki itu kembali duduk dipinggiran ranjang, dan dengan pertanyaan menekan dan menuntut itu, malah membuat kepala Anne kian pening. "Lagian apa pedulimu sih, Jovan? Enggak penting kan, aku mau pacaran sama siapapun? Udah ah, pusing kepalaku!" Meski tak menerima jawaban yang jelas, serta melegakan untuk hatinya, namun Jovan tetap menurut dan memilih tak lagi mengungkit perihal ikan lele. Sebagai gantinya, dia mulai menatap wajah Anne yang masih pucat, dan otaknya mulai memproses pertanyaan utama yang belum tersampaikan. "Selama seminggu belakangan, kita jarang bertemu di apart kan? Karena kamu sibuk kerja? Dan sekarang pingsan karena kelelahan?" Selidik Jovan. Raut wajah Anne kembali muram, dia terus menghela nafas dengan kesal, dan berakhir kembali merebahkan diri untuk mencari tempat ternyaman untuk melenturkan tulangnya yang kaku. Selepas kepemimpinan Dinda dalam tim marketing, Anne benar-benar harus bekerja keras untuk mencapai, bahkan melampaui target pemasaran. Dia bahkan dipilih kusus untuk mengetuai acara promosi berkedok festival yang diadakan sejak tiga hari lalu. Karena terlalu fokus, bahkan mengambil alih banyak pekerjaan karena penanggung jawab yang mendadak tak hadir saat hari keberlangsungan, Anne pun kelelahan. Hari ini adalah puncaknya, setelah tiga hari berturut-turut kurang tidur karena pekerjaan yang tidak ada habisnya, Anne pun jatuh pingsan. Beruntung, setidaknya dia pingsan saat dijemput Vale, dan saat sudah berada di unitnya. Tidak saat di angkutan umum, ataupun dilokasi acara penutupan festival. Kesialan-kesialan yang terus mendekatinya, seakan seperti cerita fiktif yang rasanya tidak masuk akal jika terus berdatangan tanpa henti, saat berada di dunia nyata. Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Bahkan, Dinda lah yang menerima selamat untuk keberhsilan festival yang sama sekali tidak wanita itu sentuh langsung. Meski tiga harinya hanya berisi keburukan, setidaknya ada sisi positif yang cukup lumayan. Anne, sudah bisa berbaur dengan penghuni gedung tujuh lantai itu. Namanya Ellen, marketing yang berada di ruang lantai 6. "Lelah banget, asli." Keluh Anne. Merasa sudah terbiasa berbagi keceritaan bersama Jovan, Anne pun tak lagi segan dengan kehadiran dan mulut cerewetnya yang terus menanyakan banyak hal. "Pengen udah, tapi enggak bisa." Lebih tepatnya, tidak bisa karena banyak tanggungan di bank. "Kan aku sudah berulang kali menawarkan. Datang ke kantorku, di sana kau akan diperlakukan dengan lebih baik, Anne." Anne menggeleng malas. Meneruskan obrolan sensitif ini, malah membuatnya kian kesal. Dia tak mau terkerat dan di cap sebagai penikmat nepotisme, yang dikhawatirkan akan mulai mengenal kawannya yang lain. Yaitu korupsi dan kolusi. "Thanks untuk tawarannya. Dan thanks karena kamu selalu ada disampingku saat ada masalah aneh-aneh." Sesuai ucapan Anne, belakangan Jovan memang selalu ada di sekitar Anne saat sedih bahkan frustasi. "Tapi aku mau sukses dengan jalanku, tanpa campur tangan orang lain." Selain karena ingin berdiri dengan kakinya sendiri, Anne juga memiliki gengsi yang tergolong besar. Apa jadinya jika dia memiliki boss seorang Jovan, lelaki tengil dan menjengkelkan itu? "Aku akan tetap di sini kok, enggak kemana-mana." "Bagus," Lirih Anne, seraya melepas selang infusnya, dan menurunkan kakinya ke lantai. "Kamu terus di sini, dan aku akan urus administrasi," Anne segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Sementara Jovan bangkit untuk mengikuti. "Bukan begitu, maksudku. Aku sedang mengucapkan kiasan Anne!" Protes Jovan. Padahal, Anne tidaklah sebodoh itu, dan dia jelas tahu maksud dan arah dari ucapan Jovan. Hanya saja, Anne enggan untuk menanggapinya lagi. Meski ia tahu, jika Jovan adalah lelaki yang baik, namun rasa percayanya pada Jovan, jelas tidak utuh lagi. *** Biasanya, jam makan siang adalah waktu yang paling Anne tunggu-tunggu. Kantor Asianafood milik Shawn, memang menerapksan sistem jam istirahat wajib, yang bisa digunakan oleh karyawan dengan leluasa melakukan kegiatan di luar kantor dan pekerjaan. Karena belum juga didepak dari lantai tujuh, Anne lebih nyaman menghabiskan waktu dengan Ellen di kantin atau cafe sekitar kantor. Hanya saja, siang ini sepertinya adalah sebuah pengecualian. Karena, dengan nampan berisi burger dan cola di tangannya, langkah Anne terasa berat untuk menuju meja kursi kosong diujung pandangnya. Pasalnya, sosok Vina pun ada di kafe itu, bersama dengan Miranda. Mendadak, terjadi reuni persahabatan yang terasa menyesakkan.  "Oh, Anne!"  Miranda lah yang pertama membuka suara untuk beteriak, wanita itu melambai agar Anne mendekat, namun otak Anne dipenuhi banyak kemungkinan. Bukankah akan terasa canggung jika mereka kembali berkumpul? Fokus Anne mendadak buyar saat melihat penampilan Vina. Wanita itu memang cukup berpenampilan mewah dengan gaya sosialitanya yang kental. Namun, dengan gaun fit body itu, Anne menangkap titik yang membuatnya melangkahkan kaki mendekat dengan mantap. Dia dan Vina memang masih terus terjebak dalam perang dingin yang tidak kunjung meleleh. Selain perselisihan paham, atau rasa cemburu Vina pada Anne, mereka juga selalu bertarung kemewahan berupa tas branded yang Anne paksa miliki agar tidak kalah saing. Sayangnya, tas miliknya yang dia dapat dari sisa pembayaran desain unit apartemen, tidak dibawanya. Sehingga Anne tak bisa memamerkannya dengan sombong. Tak apa sombong, asal pada Vina saja. "Loh, kamu sudah isi, Vin? Berapa bulan?" Pancing Anne. Dia jelas sudah mengetahui kenyataan menghebohkan itu dari Jovan. Di mana Vina mengandung sebelum hari pernikahan terjalin. Namun, karena tali permusuhan di antara keduanya, membuat Anne tak mau menerima berita itu mentah-mentah dan tidak memanfaatkannya. Anne mulai menghitung jemarinya, dengan mata melirik ke atas untuk mengawang di udara. "Kayaknya belum 3 bulan sejak kamu nikah kan?" Anne kembali melirik perut membuncit Vina. "Kok sudah besar?" Imbuhnya dengan seringaian puas. Pasalnya Vina mulai terpancing umpan, dia mulai meremas gelas kertas hingga cola di dalamnya menyembul keluar. Miranda lah yang berteriak terkejut karena terkena tumpahan, dan membuat Vina tersadar dan panik meminta maaf. Namun, Vina kembali melirik Anne, dan melayangkan pembalasan. "Santai aja kali sist. Jangan kampungan gitu deh. Entar orang-orang ngiranya kamu enggak laku dan enggak pernah disentuh." Di dalam otak Anne, terdengar tiga kali letupan senjata api khayalan yang beruntun menegnai dadanya. Terasa perih, sindiran yang lagi-lagi menjelaskan jika Anne memanglah satu-satunya sosok paling lemah jika dihubungkan dengan asmara. Merasa tak mau kalah, Anne pun kembali melayangkan balasan. "Mending dikira nggak laku, daripada makan muntahan temen." Vina habis kesabaran, wanita itu bangkit berdiri dan berteriak dengan suara melengking tinggi. "Shut up, b***h!" Dulu, ketiganya sangat suka kekerasan. Bahkan saat berada di sekolah menengah akhir, ketiganya masih sering melakukan kebiasaan melabrak yang kerap dilakukan kakak kelas. Saat junior, mereka masuk dalam kategori melawan dan tak mau kalah. Sedang saat menjadi senior, mereka tak akan pernah mau kalah. Bahkan, masuk dalam kategori merundung. Maka, walau usia mereka sudah tergolong dewasa, serta Vina yang sedang mengandung. Sama sekali tidak menghentikan keduanya untuk melakukan kebiasaan masa lalu, beradu otot yang diiringi dengan teriakan dan diakhiri dengan jambakan. "Rasakan ini, nenek sihir si*lan!" "Menjauh kau, badut ancol!" Teriak Anne tak mau kalah. Keduanya terus saling serang, meski Miranda dan Ellen terus melerai. Hingga akhirnya, pihak keamanan kafe turun tangan, dan menyeret keempatnya keluar dengan tidak hormat. Suasana mendadak ramai, namun satu yang Anne khawatirkan. "Pak, burger aku belum kemakan!" Rengek Anne dengan lara, rambutnya acak-acakan, dan pakaiannya berubah kusut. "Rasakan itu, nenek sihir!" Timpal Vina dengan tawa mengejek. Kesedihan Anne kian berlipat ganda, saat Ellen mulai bersuara. "Burgernya jatuh mbak, gara-gara kena dorong pas kalian bertengkar." Vina tergelak puas, merasa jika pemenang dalam pertempuran ini adalah dirinya. Bahkan, wanita itu merapikan penampilannya dan melenggang pergi tanpa beban.  "Hey, badut sialan! Ganti rugi burgerku!" Teriak Anne menggebu-gebu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN