"Kamu lagi dekat lagi sama Belle ya?"
Perhatian Jovan yang semula difokuskan pada ipad di atas meja yang dibarengi dengan sarapan dan jemari yang sesekali menggulir layar berpenampilan sketsa itu, pun teralihkan. Jovan menatap Mia dengan satu alas terangkat, merasa heran karena sang mama tiba-tiba membawa nama wanita yang sedang ia sukai, ke dalam acara makan yang biasanya diwajibkan tenang.
"Semalam mama lihat kamu makan di rica biasa, dia Belle kan?" Imbuh Mia, seolah paham jika sang anak sebentar lagi akan mulai mengintrogasinya lebih dalam.
Beruntung, semalam dia memang memergoki sang anak yang sedang asik menari di dalam tenda. Luar biasanya, sang anak tidak gila seorang diri, melainkan ada sosok gadis cantik yang tidak lain adalah anak dari teman arisan Mia. Melihat itu, Mia jelas bahagia, dari lama dua sahabat itu coba mencomblangkan keduanya, dengan tujuan agar bisa berbesanan. Saat kejadian yang diharapkan sejak beberapa tahun lalu itu sempat gugur, tiba-tiba Mia diberi sentilan yang menyadarkannya untuk berjuang kembali.
"Iya. Aku lagi kerjain unit apartemen Anne."
Sebagai orang tua yang sangat menginginkan putra satu-satunya segera memina biduk rumah tangga, tentu Mia tidak bisa menutupi raut bahagia. Namun, ekspresinya malah terbaca oleh sang anak perempuan yang mulai melemparkan kalimat usil yang membuat Mia urung mengompori Jovan.
"Cie, senang banget ya ma, dapat lampu kuning buat besanan sama tante El." Vana yang sedari tadi asik menjadi pendengar, pun gemas melihat raut mamanya yang terlihat sangat bahagia. Maka, dia pun ingin ikut memeriahkan.
Bagi Mia, semakin usia Jovan bertambah, tingkat sensitif lelaki berusia 26 tahun itu kian tinggi. Jovan sering merajuk jika Mia mengajak anak dari teman arisannya pulang ke rumah dan mengenalkannya pada Jovan. Jovan bahkan sering mengancam akan membeli rumah dan tinggal seorang diri. Mentang-mentang sudah sukses, ancamannya semakin membuat Mia mati kutu saja.
Memikirkan sifat sang putra, Mia sudah bersiap melancarkan rayuan maut, dan mencari alasan terkuat agar sang anak tidak akan merajuk. Tetapi, kening Mia perlahan terkerut saat Jovan tersenyum, bahkan menyingkirkan ipad di hadapannya untuk mencondongkan diri.
"Jadi mama juga setuju, kalau aku dekat sama Anne?"
"Sebenarnya yang dibahas kalian itu siapa sih? Anne atau Belle?" Celetuk Vana, yang mulai tidak paham pada situasi.
"Namanya Anne Rosabelle. Bawel!" Decak Jovan, seraya manatap sang adik dengan tajam.
Jovana adalah sosok remaja yang menjengkelkan, dan memiliki kepala dan mulut yang serempak. Kepalanya dipenuhi oleh banyak rasa penasaran, dan mulutnya sibuk mengutarakan apapun yang otaknya pikirkan. Jovana, tidak akan berhenti mengoceh sebelum rasa penasarannya terjawab.
"Oh ..."
"Jadi mama setuju?" Ulang Jovan, dan kali ini Mia mengangguk dengan antusias.
Jovan tentu kegirangan, dia jelas sudah mengantongi dua restu mama yang jelas akan mendukungnya. Memiliki Eliza dibelakangnya saja, Jovan sudah mulai merasakan kemudahan dan dampaknya, apalagi jika didukung penuh oleh Mia? Jovan kian bersemangat.
"Tapi ingat, pacaran dengan gaya timur, karena kalian sedang di negara timur." Peringat Mia.
Mia adalah keturunan asli Indonesia, walau mempunyai darah campuran dari kakek dan buyut. Adat Jawa memang lebih kental dengan makna yang menarik. Namun, karena memiliki suami pria berkewarganegaraan Australia, Mia yang juga pernah berkuliah di negara kanguru itu, jelas memiliki pemikiran terbuka dan tidak mengekang pergaulan. Hanya saja, tinggal bersama warga yang menjunjung adat ketimuran, tentu membuat Mia kembali rewel, khawatir jika menuai malu dan mendapat cemoohan.
Pada dasarnya, ketakutan terbesar dari Mia adalah omongan tetangga. Padahal mia tergolong jarang berbaur dengan warga komplek perumahan, yang kebanyakan tidak saling peduli satu sama lain.
"Tenang ma, mama tahu kan kalau Jov enggak pernah mainin cewek."
"Iya, kan biasanya mainin cowok." Celetuk Vana dengan wajah polosnya.
"Vana, mulut kamu!" Berbeda dengan Vana yang santai semi bodoh, Mia malah berteriak histeris.
Sesuai kebiasaan yang sudah dibawa sejak kecil, Mia mulai merapalkan kata 'amit-amit' secara berulang. "Kakak masih normal, Vana. Ngapain mainin cowok?"
"Ye, kan kakak emang main sama cowok, di kantornya juga ada karyawan cowok kan? Terus-"
"Udah stop!" Potong Jovan, seraya menyuapkan roti isi ke dalam mulut adiknya.
Sesuai perkataan Jovan, Vana adalah gadis yang menjengkelkan dengan mulut cerewetnya. Namun, teriakan Jovan jelas tidak sebanding dengan obrolan heboh dari wanita, dia bahkan mulai terabaikan, padahal dialah tokoh utamanya. Dari pada pusing mendengarkan pedebatan yang akan panjang, Jovan memilih merapikan ipad miliknya dan bergegas pergi ke kantor.
Niat awalnya adalah menjemput Anne, mencoba memikat Anne dengan langkah yang lebih cepat, karena mulai terdeteksi keberadaan penikung yang ikut masuk dalam jalur balapnya. Tapi, aksi pepetnya terpakas gagal, karena Anne yang menegaskan jika dia akan berangkat sendiri dengan mobilnya. Pagi tadi, Jovan menyempatkan diri untuk berdoa pada Tuhan, semoga mobil Anne mogok lagi, atau bahkan rusak total. Hanya agar supaya Jovan bisa antar-menjemput Anne dengan leluasa.
Berbeda dari kebiasaan yang selalu memarkir mobil di basement, kali ini Jovan memarkir mobilnya di halaman depan kantornya yang jelas lebih rawan. Pertama, karena cahaya matahari yang terik, maka mobilnya bisa saja rawan pudar, itu jika kualitas catnya buruk. Kedua, rawan tergores ataupun dicuri. Meski kantornya memiliki pengamanan yang terbilang oke, tapi Jovan tetap saja khawatir.
Tapi, hanya karena satu perempuan yang bekerja di gedung sebelah, Jovan mulai melakukan kebiasaan baru. Bahkan, sejak tiga hari lalu dan saat ini, Jovan sengaja berdiri di pinggir jalan pemisah antara kantornya dan Anne. Menatap jalanan dan kerumunan, berharap jika pujaan hatinya akan muncul.
Namun, tepukan di pundaknya membuat fokus Jovan buyar, dan sosok Alex lah yang kini berdiri di sampingnya. "Ini berkas yang kamu mau." Renges Alex seraya menyerahkan ipad ditangannya pada Jovan.
"Namanya Valentino Fredikson, dia atlet nasional bisbol, karirnya cukup bagus dan gemilang. Ayahnya adalah seorang hakim, ibunya mantan pelatih bisbol." Terang Alex, merangkum isi dari informasi yang Jovan minta. "Kalau segi tampang, kamu sedikit kalah boss, dia punya 2 juta penggemar di aplikasi sosial medianya. Tapi kalau segi kekayaan, kamu lebih unggul, hidup pak boss!"
Alex terlihat sangat gembira, yang membuat Jovan curiga. Kebahagiaan Alex adalah karena untuk menyemangati, atau untuk mengejek Jovan yang katanya kalah tampang?
"Lagian, kenapa enggak langsung tembak aja sih, boss?"
Pertanyaan penasaran Alex, pun membuat Jovan menatap gedung kantor milik Shawn dengan serius. Jika dijelaskan, memang mudah untuk Jovan menyatakan cintanya pada Anne, meski dia tidak yakin seratus persen jika perasaannya pada Anne adalah cinta. Namun, keduanya bisa saling memahami dan menjajaki dalam sebuah hubungan, bukan?
Tapi, jika mengingat masa lalu, dan kebencian Anne padanya yang teramat dalam, membuat Jovan berfikir keras. Tidak seharusnya dia kembali gegabah seperti dulu, melakukan dengan perhitungan matang adalah tujuan utamanya.
"Kenapa? Takut ditolak ya?" Celetuk Alex, dengan tawa mengejeknya.
"Si*lan lo!"
***
Menghadapi Valentino, sepertinya bukanlah perkara yang mudah, meski sering bertemu dengan Anne saat berada di unit apartemen, namun seperti tidak menumbuhkan perasaan lain yang lebih dari teman. Setelah tiga minggu berselang, Jovan sering melakukan aksi pendekatan yang lebih intens, setidaknya menyadarkan Anne jika lelaki didekatnya sedang berusaha meluluhkan.
Tetapi, Anne tetaplah Anne, meski mereka sudah berteman baik, namun Anne terus menganggap ucapan serius Jovan sebagai lelucon belaka. Bahkan, hari ini Anne datang ke apartemen bersama Vale, yang membuat pundak Jovan merosot karena kecewa.
"Wow, sudah hampir jadi ya ternyata."
Jovan masih terus mengawasi gerik Vale yang terus memeriksa ke sana kemari, sedang Anne yang sedari tadi mengajaknya berbincang, bahkan tanpa sadar terabaikan. Terbakar cemburu, membuat Jovan lupa, jika seharusnya dia memikat wanita yang menatapnya dengan kesal.
"Sorry, apa tadi?"
Wajah Anne terlihat kusut, bahkan pucat, yang tidak Jovan sadari sedari wanita itu masuk ke dalam apartemen. Melihat itu, Jovan mengangkat tangannya untuk memeriksa suhu kening Anne, berkat pertemanan keduanya yang mulai membaik, Jovan dan Anne pun sudah tidak asing dengan skinship yang masih dibatas wajar.
"Anne!" Teriak Jovan dengan panik.
Pasalnya, Anne yang berdiri dihadapannya dengan berkas rancangan, tiba-tiba merosot terjatuh dan tidak sadarkan diri. Namun, keterkejutan Jovan tidak hanya sampai di situ saja, kini dia mendongak dengan mata membola menatap Vale yang mendekat seraya berteriak tak kalah panik. Bukan kepanikan ataupun teriakannya yang membuat Jovan terkejut, melainkan kata yang Vale ucapkan.
"Sayang!"
Kata itu terus berdengung ditelinga Jovan, hingga badan Anne diambil alih oleh Vale yang terlihat sangat panik.
Sayang, bagi Jovan kata itu memiliki beberapa makna. Bisa sebagai ungkapan kasih sayang dari orang tua pada sang anak, bisa sebagai bahan candaan pada rekan kerja, seperti yang sering Jovan lakukan. Atau, bisa saja sebagai panggilan dari sepasang kekasih, dan dengan realistis, Jovan menelan kenyataan ketiga dengan rasa pahit ditenggorokannya.
Apakah kali ini Jovan telat berlari saat wasit meniup peluit perlombaan?
Saat kembali dijemput kesadaran, dan menatap Anne yang tergeletak di lantai, Jovan kembali melotot dan mendorong Vale dengan keras. "Mau apa, kamu?"
Vale pun terdorong menjauh, tatapan keduanya saling berbalas ketajaman, dan Vale yang hendak kembali mendekat pada Anne pun Jovan dorong kembali. Pasalnya, Vale kepergok akan melecehkan Anne, yaitu berniat mencium Anne yang sedang tidak sadarkan diri. Ini bukan soal rasa cemburu, melainkan pembelaan pada harga diri Anne yang hendak dicoreng.
"Jangan berdalih kalau kamu mau memberi nafas buatan! Dia pingsan, bukan tenggelam!" Hardik Jovan, yang melihat wajah mengeras Vale.
Vale bangkit berdiri, seraya tersenyum miring, "apa pedulimu? Dia pacarku, kau tidak memiliki hak!"
Kali ini Jovan lah yang tersenyum miring, karena kesal pada ucapan Vale yang jelas-jelas semakin mempertegas status Anne dan maksud panggilan sayang, Jovan pun mendengus dengan kesal.
"Masih pacar saja sudah belagu. Dengar ya!" Jovan ikut bangkit, mendorong d**a Vale dengan keras. "Anne adalah milik kedua orang tuanya, sejak kapan kamu memiliki hak untuk menyentuhnya tanpa izin?"
"Terus apa maumu? Bukankah kau Jovan? Lelaki yang dulu memacari Anne karena tubuhnya?" Sinis Vale.
Perseteruan keduanya tidak hanya antar mulut saja, Vale yang tidak terima pun ikut mendorong d**a Jovan dan mau tidak mau keduanya tersulut emosi. Lelaki, jelas lebih mementingkan otot mendahului otak, apalagi jika sudah mempelajari bela diri yang menaikkan rasa percaya diri.
Karena tersulut pada sindiran Vale, akhirnya Jovan yang pertama kali melayangkan pukulan, yang membuat beberapa pekerja yang ada di unit apartemen Rose, pun terpaksa datang merapat untuk melerai keduanya.
"Tahu apa kau, sialan!"
Jovan mengungkung Vale, dengan terus melayangkan pukulan meski dirinya ditahan oleh dua pekerja. Sedang Vale, dibantu berdiri dan tidak mau kalah, lelaki itu hendak ingin membalas, namun ditendang oleh kaki Jovan yang jelas lebih panjang. Amarah Jovan seperti tak terkendali, rasa kecewa karena Anne malah dimiliki lelaki lain karena kelambatannya. Melihat Anne yang hendak dilecehkan di depan matanya, membuat Jovan gelap mata.
Singkatnya, dia cemburu. Mengapa Vale yang mendapatkan Anne, mengapa bukan Jovan?
"Mas udah, itu mbak Anne kasihan, ditolong dulu." Ucap salah satu pekerja.
Mendengar nama Anne disebut, Jovan seakan disadarkan, dan menatap Anne yang terbaring pucat di lantai. Amarahnya mereda, nafasnya mulai terdengar normal dan dirinya dilepas dengan halus. Setelahnya Jovan merengkuh Anne, meski terdengar suara protes dari Vale, Jovan memilih cuek dan pergi meninggalkan apartemen Anne untuk menuju ke rumah sakit.
Walau sebenarnya, tidak hanya Anne yang butuh rumah sakit, Jovan pun membutuhkannya. Namun, Jovan bahkan tidak tahu, dokter spesialis apa yang bisa menyembuhkan hatinya yang kecewa dan sakit.