"Dek, ada cowok yang cariin kamu tuh, dibawah." Eliza mengetuk pintu kamar Anne sebanyak tiga kali, dan saat terdengar suara Anne yang mengiakan, Eliza pun berani membuka pintu.
Anne sibuk memutar tubuhnya di hadapan cermin saat Eliza masuk ke dalam kamarnya. Berulang kali, Anne memastikan penampilannya, bahkan rambut panjangnya terus dirapikan, padahal gelungannya sudah tergolong rapi.
"Tumben gelung rambut? Cantik di curly loh." Eliza mengamati penampilan rapi Anne, seraya mendudukkan diri di sudut ranjang. "Siapa sih cowok dibawah, dek? Kok mama enggak kenal?"
Mengetahui jika sang putri dijemput oleh lelaki asing dan tampan, Eliza tentu menjadi was-was. Baginya, kandidat pertama yang cocok untuk menjadi menantunya adalah Jovan, yang dia dukung penuh dengan info dan restu. Tapi, melihat Anne yang sibuk merapikan diri seolah tak ingin terlihat kurang sempurna, membuat Eliza menjadi khawatir.
Bagaimana jika anaknya sudah memiliki calon tambatan hati lain?
"Teman, kemarin ketemu di tempat kerja."
Mata Eliza memicing, dia mulai awas dan semakin penasaran. Berakhir mendekat kearah Anne yang kembali menyisir rambutnya untuk merapikan gelungan yang sudah rapi. "Kalian sekantor?"
Anne berbalik untuk menatap sang mama, lalu mendengus kesal. "Tumben mama penasaran? Biasanya juga terserah, aku mau dekat sama siapa aja."
Memang benar, selama ini Eliza dan Roman memang tidak ingin terlalu dalam mencampuri urusan asmara sang anak. Terakhir kali mencampuri percintaan Carel, malah berujung pada kegagalan. Carel yang menyukai perempuan berdarah Belanda yang dikenalnya melalui aplikasi kencan online, membuat keduanya khawatir.
Dengan ilmu mata-mata bawaan setelah menjadi ibu, Eliza membuntuti dan mencari info tentang perempuan itu. Nahasnya, saat mengetahui latar belakangnya dan perbedaan keyakinan, membuat pasangan suami istri itu kecewa. Bahkan perempuan itu memiliki masa lalu yang cukup buruk, sayangnya Carel yang kesal karena dicampuri, bukannya membuka mata malah marah pada kedua orang tuanya. Berakhirlah terjadi perang dingin untuk dua bulan selepas kejadian itu.
Perbuatan Eliza bukanlah tanpa sebab. Dia hanya trauma pada kelakuan Carel, yang pernah membuatnya panik karena saat masih duduk di bangku SMA, Carel malah menyukai seorang janda anak satu. Begitulah awal mula Eliza bertekat untuk mengawasi dua anaknya, namun karena insiden amukan Carel yang terakhir kali, pun mulai membuat Eliza sadar.
Jika perasaan tidak bisa dipaksa, dan kebahagiaan anaknya adalah nomor satu. Baik atau tidak, bukan hanya dari kaca mata orang tua, namun dari sang anak yang memiliki rasa pula.
"Ya nanya aja. Kan Jefry yang terakhir kali datang kerumah buat jemput, itupun pas masih zaman SMA ya? Setelah beberapa tahun berlalu, mama kaget aja karena ada cowok asing. Kalau ..."
"Apa? Jovan?" Sinis Anne, seraya berbalik menatap sang mama. "Udah deh ma, enggak usah bawa-bawa Jovan terus. Dia juga berhak hidup normal loh, jangan dijodoh-jodohin gitu deh." Anne menyambar sling bag, lalu mencium pipi sang mama untuk berpamitan berangkat bekerja.
"Kalau Jov mau, gimana?" Eliza menahan lengan Anne, mencoba peruntungan untuk menyatukan Anne dan Jovan.
"Ma, kita udah mulai berteman baik lagi loh, jangan sampai jadi canggung lagi karena mama memaksakan kehendak. Udah ah, aku mau berangkat, udah ditungguin juga. Bye ma!"
Anne berlarian keluar dari kamarnya, sementara Eliza, mulai mengetik pesan dengan tergesa, lalu ikut turun untuk kembali memantau Anne dan lelaki asing yang mengaku bernama Vale. Nama yang mirip dengan karakter dari game mobile yang Eliza mainkan karena diracuni oleh Carel, keduanya bahkan memiliki kulit yang tan. Bedanya Vale di dunia nyata ini, tidak secoklat vale di dalam game.
"Sorry, lama ya?" Anne meringis sungkan, menghampiri Val yang duduk di kap mobil sportnya.
Tidak hanya Jovan yang memiliki mobil mewah, Val pun mempunyai mobil keren dan mahal. Yang semakin membuat jiwa miskin Anne meronta-ronta, padahal dia tidak semiskin itu. Namun karena terbiasa hidup dengan mendongak saat berteman akrab dengan Vina dan Miranda, membuat Anne belum bisa melepas kebiasannya. Padahal dia sudah resmi melepas persahabatannya.
"No problem, yuk berangkat. Udah sarapan kan?"
Anne mengangguk seraya mengikuti langkah Val yang membukakan pintu penumpang untuknya. Hatinya memekik riang, akhirnya dia bisa duduk di mobil dua pintu yang mewah ini.
Setelah hampir semalaman mengobrol dengan Val melalui panggilan telepon, keduanya semakin akrab karena memiliki humor yang sama. Selain berbagi cerita lucu, Val pun banyak menceritakan tentang dunia bisbol yang Anne tidak ketahui. Tidak hanya satu arah, Val pun menanyakan kehidupan Anne dan pekerjaannya.
Tapi, Anne jelas hanya menceritakan kebahagiaan saja, tidak dengan adegan pertengkaran yang Anne hadapi saat dia baru saja mulai bekerja.
Sepanjang perjalanan pun mereka terus berbagi obrolan. Val adalah lelaki yang ramah dan mudah mencairkan suasana, Anne bahkan sama sekali tidak canggung, meski keduanya tergolong baru saja saling mengenal. Bahkan, dia cukup terkejut saat mobil Val sudah berhenti di depan gedung kantornya.
"Yah, kok cepat banget ya sampainya? Gimana kalau kita ambil satu putaran lagi?"
Anne terkikik, seraya melepas sabuk pengamannya. "Dan berakhir kehilangan pekerjaan? Aku ingatkan, ini adalah hari ketiga aku bekerja."
"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Tapi, bolehkan aku kembali menjemput saat kau pulang?"
"Kurasa tidak." Anne mencebik menyesal, lalu mengecek ponselnya. "Aku harus pergi sore nanti," Dia memang memiliki janji temu dengan Jovan, yang tidak lain untuk memeriksa lantai apartemennya.
Setidaknya Anne harus bergegas, dan menyelesaikan dengan secepatnya. Mengalah, Anne bahkan tak lagi mengerjai Jovan tentang revisi, karena sebenarnya desain yang Jovan berikan padanya sangat cantik. Namun karena tidak mau Jovan besar kepala dan terlalu congkak, Anne sengaja mengerjai dengan banyak revisi.
Mata Anne memicing saat mendapati sosok Jovan yang berdiri tak jauh dari pintu masuk gedung kantor Anne. Karenanya, Anne pun penasaran dan bergegas keluar. "Aku akan menghubungimu nanti. Terima kasih tumpangannya."
Tanpa menunggu jawaban dari Val, bahkan abai saat lelaki itu membuka kaca mobil untuk meneriakinya. Anne terus berlarian kecil menuju gedung kantornya, membuat Jovan yang merengut karena lelah menunggu, pun tersenyum cerah.
Jovan melonggok ke sana kemari, mencari sesuatu dan kemudian memicing menatap mobil sport yang melintas menjauh. "Kau bersama dia?"
"Tidak penting, ngapain kamu di sini?"
Jovan mengangkat ponselnya, "mengingatkanmu, kalau nanti sore kita harus pergi ke apartemen. Kau tidak membalas pesanku."
Anne mendecak kesal, tidak membalas pesan Jovan adalah sesuatu yang normal, dia bahkan sering melakukannya dan membalas saat terpaksa saja. Namun, pertanyaan Jovan seakan menunjukkan jika mereka sadahs seakrab itu. Walau kenyataannya, mereka memang semakin lebih akrab setelah bermain sepatu roda berasama.
"Ya, ya, aku akan datang. Sekarang kau kembali ke kantormu."
Anne hendak melangkah masuk ke dalam gedung kantornya, namun tetahan karena Jovan menahan lengannya. "Lowongan di kantorku masih terbuka, khusus untukmu."
"Kau sedang menawarkan nepotisme?"
Jovan menggeleng dengan panik, karenanya Anne segera melepas lengannya dan memicing menatap Jovan. "Makanya, jangan menawarkan pekerjaan untukku. Karena aku sudah memiliki pekerjaan."
Setelahnya Anne meninggalkan Jovan. Meski terasa berat untuk masuk ke dalam gedung bak neraka ini, namun apa mau dikata?
Anne bahkan memerlukan dua kali menarik hembus nafas dengan perlahan, hanya untuk memastikan jika dirinya sudah baik-baik saja. Ajaibnya, resepsionis yang biasanya terkesan cuek dan tak peduli, kini tersenyum lebar untuk menyapanya.
"Selamat pagi, bu Anne."
"Selamat pagi." Ringis Anne kebinggungan.
Tapi, itu cukup menguntungkan, setidaknya dia tidak harus menerima hujatan atau tatapan kebencian. Sialnya, saat mengejar pintu lift yang akan tertutup, Anne malah dipertemukan dengan Dinda dan gerombolan temannya yang kemarin mencari gara-gara pada Anne.
"Oh, hai Anne. Selamat pagi." Sapa Dinda dengan ramah. "Maafkan aku untuk kejadian kemarin, Anne."
"Tidak apa Din, kita semua yang di gedung ini, bahkan diluar sana adalah petarung. Yang mau tidak mau harus bertindak, meskipun mengorbankan temannya. Betul kan?" Sarkas Anne dengan halus.
Pintu lift terbuka, barulah Anne berani untuk bernafas bebas. "Aku duluan, ya?"
Terdengar kasak-kusuk saat Anne resmi keluar dari lift. Namun ia memilih tak peduli, toh dia bahkan binggung dengan kesalahan apa yang dia perbuat. Kejadian kemarin, hanya akan Anne anggap sebagai ketidakmujuran yang membuatnya kalah dalam persaingan sehat. Perihal kebencian penghuni lantai tujuh ini padanya, Anne tidak akan ambil pusing, ia masih memiliki cicilan yang lumayan banyak.
"Selamat pagi, Anne."
Shawn yang baru keluar dari ruangannya, melambai dan menyapa Anne dengan ramah. Sebagai satu-satunya orang yang memang mau berbaik hati pada Anne di lantai ini. Namun, suara cibiran mulai terdengar, yang membuat Anne mengernyit penasaran.
"Lihatlah, dia pasti sudah banyak menggoda pak Shawn."
***
Wajah Anne kembali kusut saat ada mobil, akhirnya dia setuju untuk menerima tumpangan Jovan ke apartemen. Sapaan Jovan bahkan dia abaikan, dan menghempas tumbuh di jok penumpang dengan helaan nafas lelah.
Hari ini adalah pertama kalinya Dinda menjabat sebagai marketing manager, dan entah disengaja atu tidak, Anne mendapat banyak pekerjaan yang membuatnya tidak sempat makan siang dengan benar. Anne bahkan harus membawa pekerjaannya pulang, karena tak kunjung selesai. Bahkan Dinda memberinya target penjualan yang tergolong cukup besar, melampaui capaian bulan-bulan sebelumnya.
Meski Anne memang selalu berambisi dan suka melampaui diri sendiri, namun tetap saja membuatnya kesal. Karena, lingkungan kerjanya sama sekali tidak mendukung, dan malah membuatnya seperti dirundung. Istilah kasarnya, Anne tidak bisa hidup nyaman untuk memperluas pikirannya untuk lebih kreatif.
"Kenapa sih, muka kamu selalu kusut tiap keluar dari kentor? Tersiksa banget di sana?"
Anne melirik malas-malasan kearah Jovan, ingin membenarkan dengan lantang, namun harga diri dan gengsinya jelas lebih besar. "Namanya juga kerja, wajar kan kalau kusut karena kelelahan."
Jovan mengangguk setuju, dan saat lampu lalu lintas berubah merah, lelaki itu menoleh antusias kearah Anne. "Mau kulineran dulu nggak, sebelum ke apartemen?"
Anne si pecinta makanan dan dewi kuliner, tentu tertarik dengan tawaran Jovan, Terakhir kali mereka makan di tenda pecel lele, dan Anne sangat menyukainya. Sepertinya dia memang belum terlalu dalam menyusuri kuliner Indonesia, sekelas pecel lele saja baru mencoba.
"Aku traktir makanan enak ya? Gimana kalau soto mang Mansur aja?"
Anne memang mencintai cita rasa soto legendaris milik pak Mansur, namun jika datang ke sana hanya berdua dengan Jovan, rasanya Anne enggan. Kesalahpahaman yang terakhir saja belum diluruskan, Anne tidak mau timbul gosip lain yang menyebalkan. "Yang lain dong, pengen yang pedes-pedes."
Akhirnya Jovan mengangguk, meyakinkan Anne jika dia akan membawa Anne ke tempat yang nantinya pasti akan Anne sukai. Dan di sinilah mereka, sebuah kedai rica-rica ayam yang lagi-lagi berada di tenda pinggir jalan. Anne menuruni mobil dengan penuh tanya, Jovan adalah lelaki yang sukses dan kaya, namun lelaki itu sama sekali tidak malu untuk makan di pinggir jalan.
"Kamu enggak malu makan di sini?" Tanya Anne dengan penasaran.
Jovan menggeleng, "untuk apa malu? Makanan di sini enak, aku juga bayar, enggak minta gratisan, kan?"
Anne meringis setuju, namun juga salut pada rendah hatinya seorang Jovan. Jika semakin didalami, Jovan memanglah baik. Bahkan, saat tenda mereka didatangi oleh pengamen, bukannya mengusir dan menolak memberi. Jovan malah sengaja melambai, dan berakhir dirinya ikut serta membantu bertepuk tangan menyemangati beberapa pengamen yang bernyanyi dan bermain alat musik.
Melihat aksi Jovan, yang bahkan ikut menari dengan salah satu pengamen, membuat Anne tergelak puas. Jovan tanpa malu berbaur, lelaki itu sangat tahu bagaimana caranya untuk bersenang-senang, seakan tidak pernah ada beban berat di hidupnya.
"Ayo, ikut."
Anne menggeleng enggan, namun Jovan terus menarik tangannya untuk bangkit berdiri. Meski malu-malu kucing, Anne mengikuti tuntunan Jovan dan ikut menari dengan wajah menunduk malu. Namun, karena tindakan Jovan, Anne bahkan jadi melupakan masalah dan lelah yang mendera tubuh serta batinnya.
Malam itu, dia tertawa puas bersama Jovan, menari bersama para pengamen, dan melupakan sejenak masalah yang terus mendatanginya. Bersalam Jovan, setidaknya Anne selalu dibuat bahagia, dengan cara-caranya yang seringkali unik. Entah sejak kapan, Anne bahkan semakin nyaman bersama dengan lelaki yang dulunya sangat Anne benci.