12. Mengenang Masa Lalu

1830 Kata
Suara pukulan dua telapak tangan membuat Anne menoleh dengan tatapan kesal. Di sampingnya Jovan terus menggaruk lengan kemejanya, dan menepukkan tangannya di udara hingga terdengar desisan puas. Saat ini, lelaki itu menjelma menjadi monyet yang terus menggaruk diri sendiri, bedanya Jovan sedang bertarung dengan nyamuk liar. "Hah! Mati kamu nyamuk nakal!" Dengan santai, Jovan beralih menatap Anne, lalu mengibaskan tangannya di atas kepala Anne dan kembali menepuk udara hingga membuat Anne berjengkit terkejut. Helaan nafas kesal pun terhembus, Anne mengalihkan pandangan dengan perasaan dongkol. Mengapa harus Jovan yang menyaksikannya berada pada titik lemah dan tangisan? Dan lagi, mengapa Jovan masih duduk di sampingnya hingga kedudukan matahari sudah dilengserkan oleh bulan. Menyebalkannya, Anne bahkan menghabiskan dua buah permen kapas, yang sesuai ucapan Jovan. Sesuatu yang manis memang berhasil membuat perasaan Anne menjadi lebih baik. "Sampai kapan kamu akan terus di sini?" Pertanyaan Anne membuat Jovan menoleh, lelaki itu mengernyit dengan heran lalu berucap. "Harusnya aku yang bertanya, sampai kapan kamu akan terus di sini, Anne? Kita kan harus memeriksa apartemenmu." Anne bahkan lupa, jika hari ini dia seharusnya pergi ke apartemen dan memeriksa meterial lantai baru yang seharusnya dapat dipasang hari ini juga, hanya menunggu persetujuan saja. Namun, karena terlampau frustasi, pada pekerjaan yang ingin dia lepas dengan keren, namun terasa berat karena dia masih memiliki tanggungan di bank. Akhirnya membuat Anne putus asa dan meluapkan kekesalannya dengan tangisan yang tidak keren. "Mau makan jagung bakar Bintaro?" Jovan meringis semangat saat Anne menoleh dengan raut tertarik. "Kamu masih ingat jagung bakar legendaris yang pernah kita temukan karena tidak sengaja itu kan? Aku masih sering kesana." Dulu, sebelum mereka bermusuhan karena tindakan kurangajar Jovan, keduanya tergolong cukup dekat, walau karena paksaan. Anne lah yang lebih terpaksa, karena mama yang sering memintanya mengantar arisan, Anne jadi terpaksa berkenalan dengan Jovan. Jika keduanya bosan dengan kegiatan arisan yang lebih didominasi dengan rumpi, mereka akan pergi menyibukkan diri masing-masing. Terhitung, keduanya sudah pernah mendatangi penjual jagung bakar super enak itu sebanyak dua kali. Pertama, saat mereka pertama kali berkenalan dan teman arisan mama Eliza ada yang ngidam jagung bakar, keduanya yang diminta untuk mencari. Kedua, saat mereka bosan dan sedikit mencoba mengakrabkan diri, yang berakhir mendarat pada bangku kayu panjang dihadapan lapak jagung bakar. Mengingat masa itu, Anne tersenyum tipis. Dulu obrolannya dengan Jovan tergolong cukup nyambung. Jovan si kapten basket SMA, dan Anne yang mendadak suka basket karena melihat kelincahan Stephen Curry, pun cukup mulai terbiasa mengobrol melalui perantara si karet bundar. "Masih buka ya?" Wajah Jovan semakin semringah, dia bahkan membalikkan arah duduknya untuk berhadapan langsung dengan Anne. Lelaki itu mengangguk dengan ceria. "Masih, si mamangnya bahkan sering nanyain kamu. Ingat yang pas kita enggak punya uang pecahan, begitupun dengan mamangya yang belum punya kembalian karena dagangannya sepi? Mamangnya jadi hafal sama aku, gara-gara kita menyerahkan semua kembaliannya." Anne ikut tersenyum saat mengingat masa itu. Dia memang cukup kagum pada Jovan, lelaki itu sangat ramah dan mudah berbaur. Jovan bahkan baik hati dan suka menolong sesama, yang sebenarnya cukup memeberikan Anne kenyamanan. Namun, hanya karena satu perbuatannya yang cukup kelewatan, membuat Anne benar-benar anti dengan sosok Jovan yang baginya kian berubah setelah malam itu. Saat di mana Jovan, hanyalah mempermainkan perasaan dan pernyataan cintanya. Anne masih ingat betul, saat Jovan menyatakan cintanya di tempat arisan para mama. Tidak hanya Anne dan Jovan, banyak anak lain yang ikut. Jovan mengutarakan perasaanya dihadapan banyak orang, meski ragu namun Anne menyetujuinya, atas dasar kebaikan dan kekaguman pada Jovan. Tapi siapa sangka? Pagi harinya Anne mendapat sebuah pesan berisi video, di mana Jovan yang terekam sedang bersenda gurau dengan lelaki yang turut hadir dalam acara arisan itu. Salah seorang berceletuk, jika Jovan beruntung mendapatkan Anne, karena Anne adalah gadis lugu dan polos. Karenanya, pasti akan mudah dibodohi dan ditiduri. Anne yang murka, detik itu juga memutuskan Jovan melalui pesan singkat. Menghapus, bahkan memblokir kontak dan pendekatan Jovan kembali. Keduanya sempat beradu argumen, dan sudah jelas terbaca jika Jovan tidak akan mungkin mengakui kebusukannya. Karenanya, Anne benar-benar semakin benci dan menjaga jarak sejauh mungkin dari Jovan. Beruntungnya, Anne diterima di salah satu Universitas di London, sehingga dia benar-benar bisa menjauh dari lelaki c***l seperti Jovan. "Aku nggak mau makan jagung bakar!" Decak Anne, setelah kembali mengingat masa lalu dan membuat perasaannya memburuk. Namun suara gemuruh yang terdengar cukup keras, yang berasal dari arah perutnya, membuat keduanya pun mematung bersama. Jovan lah yang pertama tergelak, lalu bangkit berdiri dari kursi yang diduduki. "Oh, ternyata kamu lapar, dan mau makan yang lain?" Setelahnya Jovan tampak berfikir keras, pandangannya mengedar ke penjuru arah. Keduanya sama-sama tidak membawa mobil, sedang mereka duduk di taman kota yang kebanyakan hanya dipenuhi oleh pedagang tenda dan kaki lima saja. "Aku enggak yakin kalau kamu bakalan doyan. Tapi, mau makan pecel lele?" Anne mengernyit dengan geli, di dalam otaknya pun mulai terbayang bentuk lele yang menggeliat dan mulai dikucuri dengan bumbu pecel. Memang enak, ya? "Aku enggak doyan lele," gidiknya ngeri. Jovan kembali terbahak, kali ini bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Jemarinya bahkan sampai menyapu sudut matanya yang terasa berair. "Namanya aja pecel lele, tapi mereka juga jual makanan lainnya kok. Seperti ayam goreng atau bakar, ikan, tahu tempe, bebek, dan masih banyak lainnya. Yang utama adalah sambalnya." Jovan mengacungkan kedua ibu jarinya. "Kayaknya semua sambal di tenda pecel lele selalu enak. Ayoklah," Jovan menarik lengan Anne. Walau sedikit enggan, namun Anne mengikuti arah langkah membelah taman kota untuk menuju pedagang tenda yang berada di ujung sebrang dari tempat mereka duduk selama beberapa jam. "Awas!" Suara teriakan yang terdengar dekat, membuat keduanya menoleh dengan panik. Dari jarak satu meter, terdapat seorang anak laki-laki yang sedang mengendari skyter. Dengan gesit, Jovan mendorong lengan Anne untuk menghindar, sedang dirinya kini memeluk tubuh anak laki-laki yang kehilangan kendali dari sekuternya. Suara skuter yang menabrak tong sampah membuat Anne berjingkat terkejut, namun dia dapat bernafas lega karena anak itu sudah terlebih dahulu diciduk oleh Jovan. Sehingga tidak terjadi kecelakaan yang dapat menyakiti anak itu. "Kamu nggak apa?" Jovan segera menurunkan anak itu, membolak-balik badannya untuk memeriksa keadaan. "Aku nggak pa-pa om. Untung om selamatin aku." Senyuman Jovan yang terlihat tulus, membuat Anne pun ikut tertular. Lelaki itu mengusap puncuk kepala anak kecil itu, lalu mengangguk dengan mata memicing. "Lain kali harus hati-hati. Sekarang minta maaf sama tante, itu." Kali ini Jovan menunjuk kearah Anne, dan anak kecil itu pun segera menghampirinya. "Maafkan aku tante, tadi tidak apa-apa?" Rose menyempatkan diri untuk memeriksa respon Jovan, lelaki itu tampak tersenyum dengan tengil, lalu Anne merendahkan tubuhnya untuk mensejajari tinggi anak itu. Mengulang tindakan Jovan, Anne pun membalik badan anak itu dan matanya menelisik ke segala sudut kulit dari anak itu. Setelah dipastikan tidak ada luka, Anne pun mengangguk dengan ramah. "Tante tidak apa-apa kok. Syukurlah kau juga tidak kenapa-napa, lain kali harus berhati-hati, ya?" Bocah itu mengangguk, lalu berbalik untuk kembali menghampiri Jovan. Setelah menerima usakan rambut, anak itu berlari menuju sekuternya, bersamaan dengan Jovan yang mendekati Anne. "Bagaimana kalau main sepatu roda setelah mengisi perut?" Walau agak berfikir dan berkompromi dengan hati kecilnya, namun Anne tetap mengangguk, lalu melangkah dengan ringan menuju salah satu tenda makanan yang Jovan pilih secara acak. Seperti kata Jovan, tempat itu memang tidak hanya menjual lele saja, begitupun dengan masakan lain yang sempat Jovan sebutkan. Ikan bakar dan sayur kubis segar, adalah menu yang Anne pilih untuk menemani makan siang sekaligus malanya. Karena sibuk menjual produknya, Anne bahkan tidak sempat makan siang, dan terpaksa mengosongkan lambungnya untuk beberapa jam. "Kalau mau nambah, minta bapaknya saja ya? Aku yang bayar semuanya." Setidaknya, berkat Jovan, Anne akan makan puas dan membalas makan siangnya yang entah kemana. *** Seperti ajakan awal Jovan, mereka benar-benar pergi menaiki sepatu roda dan berlomba mengitari taman kecil. Anne kira Jovan cukup jago, karena rasa percaya diri yang terlihat dari antusiasnya. Tapi, siapa sangka jika Jovan bahkan tidak bisa melangkah lebih dari dua kali, lalu ambruk karena tidak bisa menyeimbangkan diri. Setelah beberapa belas menit berlatih, barulah Jovan dapat diajak beradu. Anne lah yang menang, maka dia terus merengek agar Jovan mau memberikannya hadiah. Setidaknya Anne ingin Jovan mau mengabulkan apapun keinginannya. Beruntung karena—walau terlihat sombong dan angkuh—Jovan mau mencobanya. Senyuman tipis kembali terbit dari wajah Anne, dia melangkahkan kakinya seraya melirik kearah Jovan yang sudah berantakan. Lelaki itu bahkan melupakan jas miliknya yang dia sampirkan pada pot bunga di taman kota. Kini, hanya menyisakan kemeja putih penuh keringat milik Jovan. "Thanks mau antar aku sampai depan rumah." Walau dia sering kesal dan benci sama Jovan, namun Anne tetap mengulurkan tangannya untuk menunjuk bangunan yang tidak lain adalah rumahnya. "Mau mampir?" Jovan melirik jam dipergelangan tangannya, lalu menggeleng. "Aku tidak bisa pulang terlalu malam, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucapan Anne jelas hanyalah basa-basi. Dia bahkan bersorak lega karena Jovan tidak bisa mampir. Selain kurang nyaman, Anne juga malu jika Jovan yang bertamu, akan diberi minum dan makanan ringan. Sayangnya, makanan ringan yang sering mama suguhkan untuk tamu, adalah cookies buatan Anne, yang kebanyakan terlalu gosong. Jelas aja Anne malu dan enggan mendorong Jovan untuk menghadap pada karya Anne secara langsung. langkah kaki Anne semakin mundur, dia dapat merasakan jika punggungnya sudah menempel pada gerbang besi dibelakangnya. Jovan yang mendekat, pun menghentikan langkahnya dengan senyuman gemas, lalu mengusap puncuk kepala Anne. "Jangan memendam perasaan dan masalah seorang diri. Katakanlah agar lega, dan saat itu tiba, aku siap untuk mendengarkan. Tanpa menjadi pendukung tertetntu ataupun menghakimi." Setelah mengatakan wejangan itu, Jovan memundurkan langkahnya. "Aku pulang dulu ya?" Namun baru beberapa langkah menjauh, Jovan kembali menoleh. "Aku sudah memilihkan lantai terbaik untuk unitmu, dan aku sudah meminta mereka untuk mengerjakannya. Semoga kau suka, kalau kurang suka, aku siap mengganti ulang tanpa dikenai biaya tambahan." Anne menaikkan dua alisnya dengan terkejut, meski tidak ada raut puas dari wajahnya, namun Anne akan mengakui kebaikan dan tanggung jawab Jovan. "Oke, terima kasih. Hati-hati di jalan." Jovan tersenyum dan melambaikan lengannya dengan langkah mundur. Sebelum benar-benar jauh, Jovan berteriak dengan lantang. "Aku harap kamu akan selalu bahagia Anne, dan akulah yang akan memastikan kebahagiaan terbaik untukmu!" Anne memilih membisu, hatinya menghangat meski tak dapat lagi melihat raut wajah Jovan yang ceria. Setelah lelaki itu benar-benar lenyap, suara derap kaki membuat Anne menoleh dengan penasaran. "Loh, dek. Jov mana?" Penasaran mama, seraya melongok ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Jovan yang tak terdeteksi dari mata elangnya. "Oh, kehadiran Jovan yang tiba-tiba ada di KRL adalah ulah dari mama?" Mama tampak terkejut, wajahnya berubah pilon seraya menggeleng. "E-enggak, itu ..." Anne mendengus sebal, lalu berjalan melewati mama yang mulai mengejar dan merengek. Karena sudah mengetahui kelemahan mama, tentu ancaman Anne selalu sama dan tidak akan terlalu jauh dari radar normalitas. "Akan aku balas, nanti. Lihat aja!" Gerutu Anne, yang diiringi oleh rayuan dari mama yang sangat jago berakting. Seharusnya mama ikut casting menjadi salah satu pemain azab saja. Seperti contohnya. 'Azab seorang ibu yang suka menjodohkan anaknya dengan paksa.' Lalu ponsel Anne berdenting, sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor asing. Namun, Anne mengangguk paham saat membaca nama yang tertera pada akhir pesan tersebut. Valentino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN