Kali ini kepala Anne dapat terangkat dengan bangga saat memasuki gedung kantor. Walau kulitnya harus terbakar teriknya matahari, namun kembali tanpa harus membawa karton berisi minuman, membuat lengkah Anne terasa sangat ringan. Orang yang pertama dia sapa adalah security, yang sepertinya akan menjadi kandidat terkuat sebagai teman mengobrol yang baik dalam gedung bak neraka ini.
Pria berusia awal 40-an itu membalas sapaan Anne dengan ramah, tidak hanya karena dirinya diwajibkan tersenyum pada tamu serta pegawai, namun karena pak Bejo adalah pria yang baik. Berbanding terbalik dengan resepsionis yang hanya menyapa Santi, Anne hanya dianggap seperti angin kencang yang mengacaukan tatanan rambut yang rapi.
Senyuman Anne kian merekah saat keduanya sudah sampai di lantai tujuh, neraka sesungguhnya yang sialnya malah Anne tempati. Entah apa salah dan dosanya, hingga harus mendapat tempat kerja aneh dan rekan yang lebih aneh.
"Pak, Shawn!"
Sapaan Santi membuat Anne semakin berdebar. Dia jelas sudah menghabiskan semua produknya, bahkan saat melonggok melalui kaca transparan yang menampilkan meje kerja, tidak ada sosok Dinda yang mengiri kursi putarnya. Anne sedikit menyimpulkan, jika dirinya mungkin lebih unggul dari Dinda.
Walau sebenarnya dirinya tidak berambisi untuk mendapatkan kesempatan menjadi marketing manager, namun Anne berambisi berkat sikap Santi. Merasa seperti diremehkan, bahkan dipersulit, membuat Anne ingin menunjukkan jika dirinya sangat mampu dan dapat melewati rintangan yang sengaja wanita itu ciptakan dengan mengada-ada.
"Oh, kalian sudah kembali?" Shawn meneliti penampilan Anne yang sudah dapat dipastikan sangat kucel.
Setelah seharian bermandikan cahaya matahari, mana mungkin Anne bisa berharap jika make up di wajahnya masih oke? Tentu tidak mungkin. Anne bahkan belasan kali mengusap wajahnya yang bekeringat, yang pasti melunturkan pula partikel make up yang menutupi kulitnya.
"Melihat bagaimana penampilanmu, sepertinya-"
"Dinda lebih dulu menjual semua produknya." Potong Santi seraya menyodorkan ponsel kearah Shawn. "Dia menyelesaikan sebelum jam makan siang berakhir, sedang Anne, dia menyelesaikan tantangan jauh setelah jam makan siang habis."
Terdengar dengungan kencang yang mendadak memekakan telinga Anne. Dia diam mematung dengan jantung yang berdegup cepat, pelupuk matanya terasa panas dan gatal, yang menjalar membuat wajahnya terasa panas. Singkatnya, Anne malu pada kesombongan dirinya. Dan kini seperti baru saja mendapat hantaman uppercut yang mematikan, Anne termenung dengan kedua tangan terkepal erat.
"Wow, ternyata Dinda cukup kompeten." Shawn mengangguk dengan puas. "Sayang sekali Anne, perjanjian tetaplah perjanjian."
Saat ini, Anne ingin lenyap saja sebagai buih. Atau udara yang kini terasa panas hingga seperti akan memabakar habis tubuhnya. Meski mencoba tersenyum dengan tulis saat menerima tepukan lembut di pundaknya, namun Anne tidak bisa menutupi, jika dia kecewa pada dirinya sendiri.
Kesadaran Anne seakan ditarik paksa untuk kembali ke dalam raganya yang masih membeku, saat Santi menjentikkan jari dihadapan wajah Anne. "Semua akan lebih mudah kalau kau menyerah dari awal, nona Anne." Santi memindai Anne hingga ujung kaki, lalu kembali menatapnya dengan sinis. "Andai sejak awal kau tidak bermain licik, hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Kembali ke mejamu, dan renungkanlah metode apa yang harusnya kau ambil untuk melancarkan pemasaran bulan depan. Jangan hanya mengandalkan wajahmu saja!"
Sindiran Santi seperti belati yang kini menancap di d**a kiri Anne. Dia masih terus memandang kepergian Santi hingga wanita itu menghilang ditelan lift. Mungkin benar kata Santi, semua akan mudah jika sedari awal dia tidak berambisi pada pangkat itu. Anne hanyalah pendatang baru, yang bahkan hingga kini tidak memiliki rekan yang layak. Namun dengan gegabah, memilih jalan yang bisa menjerumuskannya.
Saat memasuki ruang kerja, suara kasak-kusuk dan tatapan mengejek kearahnya tak terelakan. Anne mendadak seperti menjadi samsak yang sedang dijadikan bulan-bulanan oleh penghuni lantai tujuh. Tepat setelah mendudukkan diri di kursinya, Anne terlonjak terkejut saat kursinya yang mendadak berguncang akibat tendangan.
"Beraninya kau coba melawan Dinda! Dasar w************n!"
Anne bangkit berdiri dengan wajah mengeras tak terima, dia hendak meminta penjelasan dari wanita asing yang menendang kursinya, namun dua orang lain menghalangi dan mendorong pundaknya secara bergantian.
"Mau apa? Mau ajak ribut?"
Badan Anne terus terdorong hingga menekan meja, suara barang berjatuhan mulai terdengar. Dan saat dirasa tidak mampu menahan kesabarannya, Anne pun balas mendorong salah seorang dari dua wanita yang sedang menindasnya.
"Bisakah kalian berhenti?!" Teriaknya dengan putus asa. "Sebenarnya apa salahku? Mengapa kalian memperlakukanku seperti seorang kriminal?!"
Tawa mengejek mulai terdengar, berangsur kian banyak suara yang saling balas. Anne mengedarkan pandangannya dengan miris, hampir seluruh penghuni ruang kerja lantai tujuh, kini sedang menertawakannya.
"Dia sok polos dan mempertanyakan kesalahannya?" Ucap salah seorang wanita yang berulang kali mendorong Anne. "Sepertinya pela*ur memang tidak memiliki cermin di rumahnya."
Plak!
Selayang tamparan Anne daratkan pada pipi wanita yang terang-terangan merendahkannya. Anne menatap wanita itu dengan nyalang, sebelum wanita bertubuh gempal itu berteriak marah dan menarik rambut Anne dengan keras.
"Wanita sialan!"
"Aaaakhh, lepaskan aku, sialan!" Teriak Anne tak kalah keras.
***
Waktu pulang bekerja, sebenarnya bukan sesuatu yang selalu Jovan tunggu-tunggu. Dia termasuk kaum workaholic yang bahkan kerap kali bermalam di ruangannya hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ia tinggalkan. Selain karena amat mencintai pekerjaannya, Jovan pun sering malas pulang kerumah, semua karena sang mama yang terus saja menganggunya dengan pertanyaan yang tidak pernah jauh dari pernikahan.
Dirinya masih 26 tahun, namun mama memperlakukanya seolah dia bujang lapuk yang akan segera habis dimakan rayap. Padahal putranya adalah lelaki mapan dengan tampang yang boleh dibanggakan bahkan diadu dengan aktor tanah air, tetapi kekhawatiran tentang pernikahan, membuat mama bertindak seperti memiliki anak buruk rupa.
Udara sore ini tergolong sejuk, langit jingga yang terlihat cantik serta suara bising kendaraan yang bertarung saling rebut jalanan, tak lagi membuat Jovan merasa stres. Karena sore ini dia tidak akan ikut berebut di jalanan, melainkan pulang dengan fasilitas umum, bersama wanita yang belakangan selalu mencuri perhatiannya.
Itulah dia, Anne. Yang berjalan keluar dari gedung kantornya dengan wajah merengut dan rambut yang berantakan. Jovan dengan sengaja menyebrang jalan, untuk menjemput Anne yang dia rindukan omelan serta wajah judesnya. Senyumannya semakin merekah, dan tangannya melambai tinggi saat Anne menatap lurus kearahnya.
Lambaian tangan Jovan perlahan melambat, keningnya mengernyit bersamaan dengan langkah kakinya yang mendekat kearah Anne yang berjalan gontai seakan tak bertenaga. Bahkan, Anne menabrak badan Jovan, saat wanita itu mengangkat wajahnya, Anne melirih seakan tidak sadar.
"Sorry." Lalu mengambil dua langkah miring seperti kepiting, dan melanjutkan berjalannya yang sempat tertunda.
Keanehan Anne jelas membuat Jovan penasaran, matanya membelalak dan segera mengejar Anne untuk menarik lengannya. Suara klakson mobil yang kencang, sepertinya sedikit membawa kembali kesadaran Anne, dia nampak terkejut dan menatap Jovan yang kini memeluknya.
"Ada apa denganmu? Kau mau menabrakkan diri?" Omel Jovan, lalu memicing menatap mobil yang hampir saja menabrak Anne, kalau saja Jovan telat beberapa detik saja untuk menarik wanita itu.
Anne menghela nafas panjang, lalu menjauhkan diri dari Jovan. "Enggak semenyeramkan itu juga." Cicitnya. "Anyway, thanks." Lalu Anne segera menyebrang saat lampu berubah merah.
Sementara Jovan, mematung dengan perasaan takjub yang tidak membahagiakan. Bukannya Jovan tidak menyukai sosok Anne yang tidak terdengar mengomel bahkan ajaibnya mengucapkan terima kasih. Namun, kali ini Anne terlihat berbeda, dan itu cukup menganggunya. Jovan memilih untuk membuntuti dalam diam, bukannya menuju tempat pembelian tiket KRL, Anne malah melangkah menuju keramaian, dan berhenti dihadapan sebuah swalayan yang ramai.
Rasa penasaran Jovan semakin memuncak saat melihat Anne menatap anak-anak yang keluar dari swalayan dengan ice cream di tangannya. Lalu, Anne kembali melangkah, dan mendudukkan diri di sebuah kursi panjang yang berada di taman. Menatap punggungnya saja, Jovan dapat menyimpulkan jika Anne sedang dirundung masalah, namun karena apa?
Merasa tak ingin menganggu, Jovan pun memilih untuk terus berada dalam jarak teraman. Duduk di kursi lain, dengan terus mengamati Anne yang melamun menatap kerumunan anak-anak yang berlarian.
"Apa dia sedang frustasi karena ingin segera punya anak?" Seakan baru menemukan jawaban dari rasa penasarannya, Jovan menutup mulutnya lalu kembali menatap Anne degan mata memicing. "Jadi dia sedang memikirkan Jefry?"
Melalui perantara Eliza, Jovan mendapat banyak informasi penting dan seluk beluk dari seorang Anne. Wanita sok kuat namun berhati lembek itu ternyata masih menyimpan rasa pada Jefry, namun sialnya Jefry malah menikah dengan wanita lain. Penjelasan itu seperti sebuah obat penguat rasa, yang membuat Jovan kian berambisi untuk kembali menaklukkan Anne. Namun, jika perasaan Anne pada Jefry sedalam itu, hingga membuat wanita itu terlihat frustasi, Jovan pun tak kuat hati untuk membuatnya semakin hancur.
Mata Jovan membelalak saat melihat Anne mengusap pipinya, dengan panik Jovan menatap kepenjuru arah. Saat ini mereka sedang duduk di taman kota, yang dipenuhi oleh pengunjung yang sedang menghabiskan sore luang dengan berwisata. Saat melihat seorang anak penjual kembang gula, Jovan bangkit berdiri dan menghampirinya.
"Beru aku dua." Cegahnya, seraya mengambil dua tangkai permen gula, dan menyodorkan dua lembar uang pecahan sertus ribu. "Ambil kembaliannya." Lalu dengan berlari, Justin menghampiri Anne, menyodorkan dua tangkai permen kapas warna-warni yang mengembang besar dengan bentuk kartun.
Tidak segera meraih, Anne malah sibuk menghapus air matanya, lalu menatap Jovan dengan sinis. "Apa?"
Dalam otaknya, Jovan sibuk merangkai kalimat hiburan yang manis dan dapat memikat hati Anne dikala gundah. Cukup lama ia memilih diam, memilah kata demi kata terbaik untuk situasi yang sedang Anne hadapi. "Sepertinya gigi kamu terlalu sehat, makan ini! Biar dokter memiliki pasien orang berada!" Setelah mengatakan itu, Jovan menggigit lidahnya seolah menyalahkan.
Alih-alih kalimat berupa hiburan, mengapa malah ucapan aneh yang bahkan sama sekali tidak memberikan kenyamanan batin untuk Anne?
Kepalang basah, Justin mendorong permen kapas itu semakin rapat pada wajah Anne. Memberikan paksa pada Anne dan duduk tepat di sampingnya. "Habiskan, katanya obat kesedihan adalah sesuatu yang manis-manis." Gumamnya, seraya merentangkan kedua lengannya di atas punggung kursi taman, dan mendongak menatap langit sore.
Senyuman Jovan terkembang lebar, meski sebelumnya sempat berantakan, namun ucapannya kali ini sedikit terdengar keren. Lalu dia kembali menatap Anne, berniat melayangkan rayuan lain yang mungkin saja akan terdengar lebih baik. Namun, bukannya merayu, Jovan malah berubah panik dan membelalakkan matanya.
Pasalnya, kini Anne sedang menangis. Wajahnya merah padam karena tangisan tanpa suara yang wanita itu lakukan. "Hey, Anne. Kau kenapa?"
"Jahat! Kenapa kalian semua jahat padaku!" Tangisan Anne pecah, dia mulai berteriak kencang nan nyaring.
Bersamaan dengan itu, Jovan mengedarkan pandangan dengan panik, kedua matanya beberapa kali bersitatap dengan pandangan orang yang tampak menghakiminya. "Tenanglah, Anne. Mereka akan mengira jika aku yang nyakitin kamu." Lirih Jovan, dengan tangan yang reflek berniat menutup mulut Anne.
Tetapi, tak terlaksana, karena dia juga tidak tega melakukannya. Tangannya mengambang di udara tanpa berani menutup mulut Anne yang terbuka karena merengek. Jalan terbaik, Jovan mengenggam tangan Anne, mendorong permen kapas digenggaman Anne kearah mulut wanita itu.
"Makan, makan ini aja ya!"
Seusai perkiraan, tangisan Anne teredam, berganti dengan rengekan kecil dan mulut Anne yang perlahan mulai mengunyah permen kapas secara berulang. Meski tak sepenuhnya berhenti, Anne tetap memakan permen kapasnya dengan sisa tangisannya.
"Anak pintar, jangan nangis lagi ya?" Dengan gemas Jovan mengusap puncuk kepala Anne.
Yang sebenarnya, terasa cukup mengejutkan karena Anne yang tidak mengamuk atau menepis tangannya. Merasa jika Anne sedang jinak, Jovan memuaskan diri menatap wajah berantakan Anne dengan seksama. Perlahan, dia pun merapikan rambut berantakan Anne, dan memuji wanita tercantik yang kini duduk menangis dihadapannya.
"Andai dulu aku enggak nyakitin kamu. Apa tangisan dari wanita berharga sepertimu, tidak akan ditujukan untuk pria lain?" Batin Jovan dengan senyuman getirnya.