"Loh, tumben datangnya dari pintu utama?" Alex sang sekretaris menatap Jovan keheranan, lantas menyimpulkan kemungkinan terbesar. "Parkir diluar?"
Menggeleng sekenanya, Jovan melompat-lompat kecil menuju lift dengan senandung bahagia. Keceriaan Jovan tentu mencuri perhatian sang sekretaris, selama mengabdikan diri pada sang kakak tingkatnya itu, Alex tak pernah melihat Jovan sebahagia ini saat berangkat bekerja. Jika tidak mengomel karena deadline yang semakin dekat, biasanya Jovan akan usil dengan tingkah konyolnya, bukan senyuman bahagia seperti habis memenangkan lotre seperti ini.
Kekonyolan Jovan jelas sudah menjadi sifat mendarah daging yang membuat penghuni gedung 5 lantai ini hafal. Namun, jika senyuman bahagia seperti ini, bukan hanya Alex yang keheranan, bahkan OB yang sedang mengepel lantai pun mengernyit walau jarinya tetap memencetkan tombol lift untuk Jovan.
"Terima kasih. Wow, kau lebih tampan hari ini." Jovan menepuk bahu OB dan mengacungkan kepalan semangat.
"Menang togel ya, boss?"
Alex semakin merinding, dia memundurkan langkah guna menjaga jarak. Bagaimana tidak, kali ini Jovan tersenyum lebar dengan gelengan yang menggelikan. Karena panik, Alex segera merogoh ponselnya dan mencari kontak mama Jovan untuk sekadar memberi kabar, jika sang putra sedang terserang gangguan syaraf.
Sekadar informasi, Alex dan keluarga besar Jovan memang sudah sangat dekat. Baik dengan pasangan Regardio dan Mia, maupun Jovana adik kandung Jovan. Bahkan, beberapa bulan belakangan, Alex merangkap sebagai mata-mata yang terus memantau kehidupan asmara Jovan dan melaporkannya pada Mia.
Mia sering bercerita tentang keluh kesahnya tentang Jovan, wanita yang sudah hampir memasuki usia kepala 5 itu selalu memaksa Jovan untuk segera menikah. Namun, sang anak tetap saja cuek, bahkan mengancam akan tinggal sendiri jika terus dipaksa ataupun dicarikan jodoh. Merasa kalah, serta khawatir jika anak bujangnya tinggal tanpa pengawasan, akhirnya Mia mengalah, dan membiarkan Alex yang menjadi mata dan telinganya.
Mengirim pesan pada sang ibu, mengapa ponsel anaknya yang berdenting?
Alex meninggikan lehernya untuk mengintip, nama mama El tertera di layar ponsel Jovan, dan dengan kekuatan kuping gajah, Alex mendekat untuk menguping.
"Hallo, mama. Iya, ini Jov udah sampai kantor."
Alex yang tidak menyadari keadaan dan sibuk menguping, jelas tidak tahu jika pintu lift sudah terbuka, dan Jovan melangkah masuk ke dalamnya. Maka, setelah Jovan maju satu langkah, badan Alex limbung dan hampir menimpa punggung lelaki itu. Dan ketahuan sudah, Jovan melotot dengan menyeramkan, menggunamkan kalimat 'ngapain?' tanpa suara.
"Iya ma, nanti pulangnya Jov bareng sama Anne lagi."
Anne, mata Alex berbinar bahagia. "Ada tamu diruanganmu!" Setelah meneriakkan itu, dia segera berlari menjauh seraya menempelkan ponsel pada telinganya.
Ini adalah berita besar, Jovan tidak pernah terlibat hubungan dengan wanita manapun selama 4 tahun belakangan. Karena sebab itulah Mia selalu khawatir jika putranya tak lagi menyukai wanita, dan saat itulah Alex sang sekretaris bekerja merangkap sebagai mata-mata pribadi untuk Mia.
Sempat merasa curiga, pada tingkah aneh Alex yang tidak biasa, namun suara calon mertua. kembali membuat Jovan fokus dan segera menekan tombol lift untuk menuju ke ruangannya. Berkat Eliza calon mertuanya, Jovan mendapat informasi penting jika Anne pergi berangkat bekerja dengan menggunakan KRL. Demi Anne, Jovan bahkan menaiki taxi menuju pemberhentian KRL yang searah dengan tujuan Anne. Jika nanti perjuangannya terbongkar oleh Anne, Jovan akan membanggakannya dengan besar kepala.
"Iya, terima kasih ya ma, mama yang terbaik!" Seru Jovan, tanpa sungkan mengepalkan tanganya di udara.
Baginya, pertemuan kembali dengan Anne adalah sebuah keajaiban. Dirinya yang merasa bersalah, serta tak memiliki keberanian untuk menemui Anne, namun dipertemukan tanpa sengaja. Menumbuhkan benih keajaiban yang bisa saja Tuhan gariskan berjodoh untuknya. Maka, untuk kesempatan kali ini, Jelas Jovan tidak akan menyiakannya.
Langkah kakinya melambat saat hampir mendekati pintu ruangannya, dia mendadak teringat pada Shawn, yang sepertinya akan menjadi kandidat terkuat dalam mengusik kehidupannya dengan Anne. Mengetahui jika Anne bekerja di kantor lelaki menyebalkan itu saja, sudah membuat Jovan merasa kesal, apalagi jika Shawn memiliki niat lain?
Jovan menyempatkan diri membaca pesan sebelum masuk ke dalam ruangannya, dan pesan dari Alex membuat keningnya mengkerut dan segera membuka pintu. Sesuai pesan yang Alex kirim, ada teman yang menunggu kedatangan Jovan, dan sasok itu adalah Jefry.
"Ada perlu apa?" Semprotnya dengan nada suara yang tidak bersahabat.
Jefry tersenyum sekilas, mamandang langkah Jovan hingga dia terduduk di kursinya. "Ada urusan pekerjaan. Bisa kerjakan renovasi studio di rumahku? Enggak perlu terburu-buru kalau kamu sibuk, yang pasti aku mau hasilnya memuaskan, dan menurutku kamu adalah orang yang tepat."
"Aku sibuk!" Celetuk Jovan dengan enggan. Namun jemarinya terhenti saat hendak memencet tombol power pada monitor dihadapnnya. "Aku sibuk kerjain unit punya Anne, dan karena mau fokus sama dia, jadi kamu cari yang lain saja ya? Ah, atau biar bawahanku yang kerjakan?"
Reaksi Jefry benar-benar memuaskan jiwa usil Jovan, dirinya memang dengan sengaja ingin memanasi Jefry yang jelas masih menyimpan rasa pada Anne. Melihat Jefry yang tampak kesal, membuatnya kembali bersemangat, mereka masih bersaing tanpa peringkat untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Dan kali ini, dia akan mengakui jika dirinya kembali menang, karena selangkah lebih dekat dengan Anne.
"Aku rekomendasikan bawahanku yang terbaik, dan silakan lakukan rapat sama dia. Aku harus mengirim revisi punya Anne." Usirnya dengan halus, dengan menatap Jefry dan pintu secara bergantian. Jangan lupakan senyum lebar tak berekspresinya.
Jefry pun memilih bangkit, berjalan menuju pintu dan Jovan segera mengalihkan fokusnya pada layar monitor.
"Bukannya kita teman Jov?"
Teman? Jovan menaikkan pandangannya dan kembali menatap Jefry. Dulu Jovan dan Jefry memang berteman baik, berbagi hobi bersama, dan mulai meruntuh karena ambisi. Keduanya sama-sama tidak mau merasakan kekalahan, sedang keduanya selalu bertarung dalam bidang akademik maupun non akademik sedari di bangku sekolah pertama. Pertemanan mereka jelas saja palsu, yang terus membuat Jovan terpaksa larut dalam persahabatan bertopeng yang tidak menunjukkan wajah aslinya.
"Terus?"
Jefry kembali berbalik, berdiri tegap menatap Jovan yang bersandar pada punggung kursi kerjanya. "Tanpa diceritakan pun, kamu pasti tahu kalau Anne adalah mantan terindahku. Bisakah kamu berhenti mempermainkannya?"
Respon pertama setelah mendengar pernyataan Jefry adalah dengan menyeringai. Jovan mendengus geli saat kembali mengulang ucapan Jefry dalam apikirannya. "Kamu udah lepas dia sepenuhnya, dude. Jadi apa salahnya aku memerjuangkan cewek single? Toh aku kan belum beristri."
Jawabannya, jelas adalah sebuah sindiran telak untuk Jefry. Kehidupan Jovan memang tidak sempurna, dirinya menggilai dunia malam, pesta dan alkohol. Namun, Jovan sangat anti menduakan hati dan perasaan, terlebih Jefry bahkan sudah resmi menikah. Terasa menjijikkan jika lelaki itu masih mencintai wanita lain selain istrinya.
"Kamu berlagak seolah terpaksa nikah sama istrimu. Sebenarnya, kalian kecelakaan atau bagaimana sih?"
Bukannya membantah keras, Jefry tampak diam dan menurunkan pandangannya, yang membuat Jovan membelalak dan segera bangkit dari kursinya. Dia jelas terperangah, rekasinya sangat berlebihan seolah baru saja menemukan batu permata jatuh dari langit. "Jadi, kalian memang kecelakaan? Istri lo ..." Jovan membentuk gestur separuh lingkaran dihadapan perutnya, lalu menutup mulutnya dengan syok.
Seumur hidupnya, Jovan bahkan selalu bangga pada dirinya sendiri. Walau dalam bidang prestasi dia kerap kalah dari Jefry, namun perihal wanita dan merayu, dia adalah ahlinya. Namun, siapa sangka? Jovan yang banyak digilai wanita, malah belum pernah mencoba bagaimana rasanya making love. Sedangkan Jefry? Lelaki itu bahkan sudah berhasil membuahi.
"Luar biasa." Gumamnya dengan takjub.
Namun, menyadari sebab pernikahan Jefry, membuat Jovan diam termenung. Jika kasusnya seperti itu, maka tidak menutup kemungkinan jika Anne dan Jefry memang masih saling mencintai. Lalu apa peran Jovan di antara keduanya? Hanya sebagai pemandu sorak yang terus berlinang air mata karena kembali kalah?
"Aku tahu ini bukan hakku mengatakan ini. Tapi, kebersamaan kalian menyakitiku, Jov."
Rasa terkejut Jovan sirana, berganti dengan seringaian remeh bersama dengan langkah kakinya yang semakin dekat pada sosok Jefry yang berwajah kaku. Dulu, mereka sering berbagi tawa bersama, ketika memenangkan basket antar sekolah, atau saat berenang bersama yang berakhir saling melelapkan.
Jika dipikir, Jovan bahkan lupa kapan terkahir kali mereka berbagi tawa dengan akrab. Karena ambisi keduanya, serta Jovan yang mulai benci akibat sering dibanding-bandingkan oleh pengamat disekitar keduanya. Membuatnya jiwa juangnya tersulut, dia mulai menekuni hobinya, hingga kini dapat berdiri bangga diatas lantai marmer kualitas terbaik miliknya.
Iri dengki bisa membunuhmu, namun Jovan sudah tenggelam dalam rasa iri yang kini membuatnya melupakan asas persahabatan antara dia dan Jefry. Tidak hanya dia, Jefry pun tak berbeda jauh, lelaki itu pun terpancing pada persaingan yang mulai dia kuasai. Mereka, berakhir dengan perebutan gelar terbaik dan melupakan jika keduanya pernah saling berbagi kebusukan dalam tawa.
"Apa peduliku? Aku bukan keluarga yang memberi kamu makan, jadi untuk apa aku ikut campur?" Sarkasnya. "Ah, aku hampir lupa. Sekadar informasi, aku dan Anne memang pernah berpacaran sebelumnya, dan tidak menutup kemungkinan untuk kita kembali bersama. Jadi ... mending kamu fokus sama istri dan calon bayimu saja ya?"
Jovan memberikan tepukan mengusap pada pundak Jefry, lalu tersenyum lebar. "Kali ini, aku memang lagi, dude."
♡♡♡♡♡
Jika hari pertama bekerja, Anne disibukkan dengan kegiatan mengenang masa lalu berkat membaca berkas pendahulu dan mempelajari kegagalan dan keberhasilan pencapain target. Kali ini, Anne malah menjadi super duper sibuk, dengan terjun langsung menuju lapangan.
Kalimat itu bukanlah sebuah kiasan belaka, karena kini Anne benar-benar terjun menuju lapangan, di mana terdapat pertandingan bisbol yang sedang berlangsung. Tugasnya ini bukan tanpa sebab sebelumnya, dan kegiatan berpanas ria saat matahari sedang terik-teriknya ini, terpaksa dia lakukan karena marketing manager yang memerintahkannya langsung.
Pagi tadi, saat baru saja menempelkan pantatnya pada kursi, Shawn datang langsung menuju mejanya. Meminta Anne untuk ikut ke dalam ruang kerja Shawn, dan terjadi obrolan mengejutkan. Di mana Anne akan diangkat menjadi Marketing Manager sementara, menggantikan Santi yang akan mengambil cuti melahirkan.
Keputusan mendadak Shawn, tentu Anne terima degan semringah, namun dirinya juga merasa terkejut dan kurang pantas. Karena, dia bahkan belum genap bekerja samala sepekan, namun sudah menerima perlakuan istimewa.
Kebaikan Shawn tak pelak membuat rekan kerjanya berang, bahkan Santi menentang keras, dan menawarkan pembuktian untuk kinerja baik Anne. Jika Shawn memiliki kandidat untuk menggantikan Santi sementara, Santi pun memilikinya. Maka, Anne dan Dinda—kandidat yang Santi ajukan—dipaksa turun langsung menawarkan produk, dan yang terbanyaklah yang akan memenangkan battle ini.
Jam sudah menunjukkan pukul satu kurang beberapa menit, terhitung Anne sudah berada dilapangan ini selama 4 jam lebih. Selama itu pula dirinya sudah melancarkan segala aksi pemasaran yang dia miliki. Namun, Santi yang mengawasinya dari kursi penonton yang teduh, terlihat tidak mengizinkan Anne untuk sekadar duduk beristirahat. Saat pantatnya baru saja menempel pada rumput, Santi segera meneriakinya dengan kata-kata yang terdengar sengaja membuat Anne terpuruk.
"Jadi kamu mengalah dari Dinda? Kalau begitu, ayo kembali ke kantor." Begitu katanya.
Peluit istirahat berbunyi, para pemain yang berada ditengah lapangan pun mulai mencari tempat teduh untuk mengistirahatkan diri. Anne, sudah menjual hampir separuh dari produk minuman yang Santi targetkan, namun dari banyaknya penonton yang memenuhi kursi, tentu tidak semuanya ingin minuman isotonik. Padahal, dia sudah menjajakan jualannya dengan baik dan strategi penjualan yang dia dapatkan dari London, jelas sering melalui perantara sosial media. Anne bahkan tergolong jarang terjun langsung menuju lapangan, bahkan menjajakan langsung pada masyarakat umum.
Tapi, Santi dengan keras menolak strategi pemasaran dengan jalur sosial media, dan memaksa Anne untuk turun langsung tanpa bantuan ponsel. Anne, benar-benar frustasi.
Dengan kertas yang bersisi strategi terkuat yang Anne print jikalau dirinya lupa, Anne menutupi kepalanya yang terasa hampir mendidih. Namun, bayangan besar yang menutupi tubuhnya, membuat Anne menoleh dengan terkejut.
"Masih ada?"
Suara lelaki yang terdengar sangat laki itu merambat masuk ke dalam lubang telinga Anne. Dengan keringat yang mengucuri wajah, serta suara sorak sorai dari pemain lain yang duduk di bangku pemain, membuat Anne mengernyit heran. Namun, dia segera kembali fokus untuk melangkah mundur, dan mulai tersenyum dengan ramah.
"Berapa yang anda mau? Jika sepuluh karton, jelas tidak ada." Gurau Anne, seraya menunjuk minuman isotonik yang sudah berjajar rapi di atas meja stand di hadapannya.
Gurauan Anne disambut serius oleh lelaki berkulit tan dengan pakaian bisbol itu, dia mendekatkan payung digenggamannya untuk meutupi badan Anne dari terik matahari.
"Maaf, apa yang anda lakukan?" Anne beberapa kali memilih mundur, namun lelaki itu kembali mendekatkan payung kepadanya.
"Sedari tadi aku melihatmu mengusap keringat dan menutupi kepala dengan kertas ini. Kurasa, kau lebih membutuhkan payung hitam ini, nona?"
Anne melirik kearah Santi yang menatapnya dengan kening mengkerut, lalu kembali tersenyum canggung kearah lelaki dihadapannya. "Tidak perlu, ini adalah pekerjaan saya. Jadi, berapa yang akan anda beli?"
Lelaki itu tersenyum, menoleh kearah kursi pemain dan melambai. Para pemain dengan jersey bisbol berwarna sedada, mulai berlarian mendekat mengerubuni stand milik Anne, membuatnya panik seketika. Pasalnya, tubuh pemain bisbol itu cukup jangkung dan berisi, dan jumlah yang tergolong banyak, membuat Anne beringsut takut.
"Ambil berapapun yang kalian mau." Lelaki berkulit tan itu mengambil kertas ditangan Anne tanpa permisi, lalu meletakkannya di meja stand. "Lalu tulis berapa jumlah yang kalian ambil di sini." Ucapnya seraya meletakkan pena di atas kertas itu.
Suara sorak kembali terdengar, beberapa kalimat yang Anne dengar berisi ejekan untuk tindakan gentle lelaki itu. Anne pun mendengar candaan lain yang membuat lelaki berkulit tan itu merenges lebar. Namun, Anne lebih tertarik mengambil isotonik di dalam karton dan menyerahkannya pada para pemain yang mengerubuni standanya, alih-alih fokus pada obrolan di sampingnya.
Senyuman Anne kian lebar saat mendapati karton di sampingnya mulai kosong hampir tak bersisa, bersamaan dengan kerumunan pemain yang mulai sepi.
"Jadi, berapa yang harus kubayar?"
"Terima kasih banyak, pak. Akan saya hitung." Anne segera mengambil kertas dimeja, menjumlahnya dengan kilat, dengan telinga yang mencuri dengar gelak tawa dari lelaki di sampingnya.
"Dia memanggilku pak?" Lirih lelaki itu.
"Ini totalnya." Anne menyodorkan dengan sopan, rasa lelahnya seakan sirna, bergantikan dengan senyuman cerah pada penolongnya.
Lelaki itu tersenyum dengan wajah yang semakin memerah karena terik matahari, lalu tak lama setelahnya, seorang lelaki berpakaian rapi mendekat setelah mendapatkan lambaian dari lelaki penolong Anne. Suara peluit tanda babak kedua akan segera berlangsung, pun berbunyi, lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Anne.
"Karena aku harus bermain, Mike yang akan membayar semuanya. Tapi, sebelum aku kembali bermain, bolehkah aku mengetahui nama dan nomormu, nona?"
Mata Anne terbelalak, lalu melirik kearah pemain yang mulai kembali memasuki lapangan pertandingan. Namun, lelaki dihadapannya tak kunjung pergi, bahkan mengulurkan tangannya.
"Val, panggil saja Val. Aku menunggu."
"Udahah gombalannya, Val. Ayo!" Teriak salah satu pemain.
Suara seruan penonton wanita yang jelas-jelas ditujukan kepada keduanya, terdengar semakin riuh. Anne kembali menatap Valentino dengan khawatir, namun berakhir menjabat uluran tangannya.
"Anne." Jawabnya lirih.
"Anne," ulang Val dengan senyuman puas. "Minta nomornya, dan harus dapat. Kalau tidak, kau yang harus membeli seluruh dagangannya!" Tegas Val pada lelaki berkacamata di antara mereka.
Lalu Val kembali tersenyum pada Anne, "nama yang cantik, secantik wajahmu. Aku yakin timku akan menang, karena ada dewi isotonik yang memberkati kami." Setelah mengutarakan gombalan cringe itu, Val berlari menuju tengah lapangan, dengan menenggak habis satu botol isotonik di genggamannya.
Tindakan Val membuat penonton wanita berteriak histeris, Anne cukup maklum. Dengan parasnya yang rupawan, alih-alih menjadi atlet bisbol, Val lebih cocok menjadi model ataupun artis papan atas. Dan memiliki banyak penggemar wanita, jelas sudah pasti.
Sementara Anne, dia meringis menatap tindakan val. Dia hanya tidak menyangka, jika lelaki yang dia anggap sebagai penyelamat, ternyata sedang mencoba merayu dengan cara memborong dagangannya.
Tidak lama Val berdiri pada posisinya sebagai pitcher, gerombolan penonton wanita mulai berdatangan memenuhi stand milik Anne.
"Aku juga mau minuman yang sama seperti Vale!"
"Aku juga, aku juga!"
Dengan sigap, Anne mulai melayani pembeli yang membludak, bahkan lelaki berkaca mata bernama Mike yang seharusnya membayar tagihan milik Val, pun Anne tarik untuk membantunya. Walau kelelahan dan hampir putus asa, namun Anne tetap tersenyum bahagia karena produknya benar-benar habis tuntas. Mendapati karton terakhir yang dia pastikan sudah kosong, Anne pun menoleh kearah Mike, mengenggam tangannya dan melompat bahagia.
Mike hanya menuruti, walau kesusahan karena tubuh gempalnya, namun dia tetap ikut menyumbang senyuman bahagia memerihkan kebahagiaan Anne. "Jangan lupa tulis nomormu, nona. Atau Vale akan mengamuk padaku."