Hari kedua bekerja di kantor yang aneh dengan penghuninya yang menyebalkan. Meski enggan, namun pekerjaan dan perusahaan ini, adalah yang sangat Anne inginkan. Maka, pagi ini ia kembali bersiap dengan pakaiannya yang sudah rapi dan modis seperti biasa.
"Loh, mobil adek kenapa pa?!" Heboh Anne saat melihat sang papa yang sedang menyusup di bawah mobil yang terparkir dihalaman rumah.
Papa mengintip dari balik celah bawah mobil, wajahnya sedikit terkena noda oli. "Mogok Nak, tadi papa mau panasin enggak nyala. Kamu naik taxi online saja ya?"
Mobil sedan warisan yang Anne dapatkan dari papa memang tergolong kuno dan antik. Dulu papa mengendarainya saat masih zaman Carel masih bayi, yang artinya sudah puluhan tahun berselang. Sebenarnya adalah sebuah keajaiban, karena mobil itu masih bisa menemani masa SMA Anne walau sering bermasalah.
Bagi papa, yang cinta barang antik dan sayang menjualnya, jelas sedan itu tidak akan pernah keluar garasi dan pindah tangan. Menyebalkannya, papa sama sekali tidak ada niatan membelikan Anne mobil terbaru zaman sekarang. Bulan lalu, papa malah menawarkan untuk membelikan sebuah sedan antik, lagi. Jelas Anne menolak, dan bertekad untuk membeli mobil impiannya sendiri. Namun, jelas yang sesuai kantongnya saja.
"Enggak mau! Aku takut naik taxi." Cembrut Anne, namun papa sama sekali tak menggubris.
Kata orang, hadiah terindah untuk seorang Ayah adalah anak perempuan. Seberapa keras hati mereka, pasti akan luluh pada putrinya sendiri. Memang papa Anne pun dulu begitu, namun setelah keputusan besar dengan dirinya pergi berkuliah di London, papa tak lagi sehangat dulu. Masih berada di zona 'ngambek' yang berkepanjangan.
"Ya sudah terserah, naik ojek kalau takut taxi."
Anne mendecak kesal, Carel memang memiliki mobil, begitupun dengan papa. Namun, jelas semuanya akan digunakan untuk kesubukan masing-masing. Maka, tidak ada pilihan lain, bukan?
"Mau mama panggilin Jovan?" Kali ini, mama yang berbaring di kursi jemur dengan kaca mata hitamnya pun bersuara.
Dari senyumannya yang bersemangat, semakin membuat Anne kesal saat mendengar nama itu turut dibawa dalam obrolan rumah tangga ini. Sepertinya, Jovan sudah memikat hati mama, mungkin dengan jampi-jampi, hingga mama terus saja mengaitkannya dengan lelaki menyebalkan itu. Mengabaikan mama, Anne memilih untuk berpamitan saja.
"Ya sudah, adek berangkat."
Lebih baik, Anne memutuskan untuk berjalan keluar dari area kompleks, dan menaiki KRL saja. Beruntung rumah dan tempat kerjanya terhubung dengan jalur KRL.
"Loh, dek! Mau naik apa?" Kini mama bangkit dari rebahan, bahkan melepas kaca matanya, sangking penasaran.
"KRL!" Teriak Anne dengan malas-malasan.
Mengenai ketakutan akan taxi, dulu sebelum perusahaan transportasi ub*r dicabut lisensinya, Anne pernah hampir dirampok ketika menaiki taxi online itu. Dengan drama berlebihan dan super konyol, dia berhasil ditolong pihak berwajib. Namun setelah itu, Anne benar-benar benci dan menghindari moda transportasi itu. Tidak hanya taxi online, taxi bisa pun ia enggan.
Bagi Anne, menaiki transportasi umum yang banyak mengangkut manusia, jelas lebih aman dibanding sendirian. Setidaknya ia bisa berteriak sekencang-kencangnya saat merasa terancam, walau negatifnya, masih banyak tangan dan tatapan jahil yang terkesan menganggu. Itulah yang Anne rasakan saat menggunakan kereta bawah tanah ketika masih di London.
Sepanjang perjalanan, Anne menyibukkan diri dengan membuka sosial media. Sebagai seorang yang bekerja dalam bidang pemasaran, tentu dia harus up to date mengenai pola pasar yang sedang in. Namun, perhatian Anne teralihkan pada sosok lelaki yang duduk disebrangnya. Lelaki itu dengan diam-diam, mengarahkan ponselnya kearah tempat duduknya. Tidak, bukannya Anne merasa terlalu percaya diri dan menganggap dia memiliki penggemar rahasia. Namun, kini Anne duduk disamping seorang wanita yang mengenakan mini skirt, dan hal itu membuat Anne merasa risih.
"Apa yang kamu lakukan? Bisa kau pindahkan arah kameramu, Mas?" Anne menatap sinis lelaki yang kini terlihat mulai gelagapan.
"Apa maksudmu?"
"Kamu mengarahkan kameramu kepada wanita ini kan?" Dengus Anne, seraya melepas blazernya dan menyelimutkannya pada paha terbuka wanita disampingnya.
Wanita itu mendadak panik, segera menekan blazer yang Anne berikan, begitupun dengan lelaki asing itu yang menunjukkan raut yang sama. Bedanya, lelaki itu terlihat kesal, wajar saja karena dirinya sudah dipergoki dan cukup dipermalukan di depan umum oleh Anne.
"Wanita sialan! Jangan asal tuduh ya kamu!" Kesal lelaki itu, seraya bangkit berdiri. "Untuk apa aku mengarahkan kameraku pada wanita buruk rupa sepertinya!"
Anne mendengus lucu, menodongkan tangannya dengan santai. "Maka buktikan, biar aku lihat ponselmu. Akan aku pastikan jika kamu memang tidak mengarahkan kameramu pada paha wanita ini." Tidak ada sahutan, lelaki itu melirik sekeliling dengan was-was dan wajah yang memerah kesal. "Hal seperti ini bisa dipidanakan ya Mas! Pasal 378 KUHP dengan masa kurungan paling sedikit 5 tahun. Masih berani melecehkan wanita seperti ini?!"
Lelaki itu mendekat, mencengkeram kerah baju Anne dan memaksanya untuk bangkit berdiri. "Dan kamu juga bisa aku pidanakan karena pencemaran nama baik! Wanita sialan!"
Mata Anne terpejam saat tangan kanan lelaki itu menjauh dan hendak melayangkan pukulan pada wajah Anne. Sedetik, dua detik, tidak terasa sakit maupun panas, melainkan terdengar seruan dari penumpang lain, begitupun wanita yang duduk disamping Anne, dialah yang berteriak paling kencang. Namun, kerah baju Anne dilepas dengan kasar, dan saat Anne membuka mata, sosok Jovan kini berdiri dihadapannya, dengan tangan mencengkram lengan lelaki asing itu dengan erat.
"Anda berani melakukan kekerasan pada wanita?" Jovan melirik kearah celana kain yang lelaki itu kenakan, tangannya terulur hendak menyentuh s**********n lelaki itu, namun dengan sigap Anne tahan.
Gila, dia mau melecehkan orang atau bagaimana?!
"Kamu ngapain sih?!" Kesal Anne.
Jelas Anne kesal, dia sedang memperjuangkan tentang pelecehan yang lelaki hidung belang itu lakukan, namun Jovan malah berniat turut serta melecehkan lelaki itu.
"Aku cuma mau cek kok, dia punya burung atau enggak di sana." Celetuk Jovan dengan muka polosnya. "Lelaki yang punya burung enggak akan berani main kasar sama wanita." Pandangan Jovan beralih pada lelaki itu, menatapnya dengan tajam dan bengis.
"Lepas! Siapa sih kamu, enggak usah sok ikut campur, sialan!" Berontak lelaki itu, dengan terus mencekal Jovan.
"Aku bukan siapa-siapa, hanya manusia yang punya hati nurani dan tidak bisa melihat wanita dikasari."
Mendengar jawaban Jovan, Anne terpaku memandangnya, bibirnya berkedut ingin tersenyum. Namun karena lelaki yang mengatakan itu adalah Jovan, Anne lebih memilih untuk menahan senyumannya. Dan mlirik sinis saat Jovan memandangnya dengan senyuman ramah.
"Saya juga lihat, saat kamu merekam wanita itu, karena saya duduk di sana." Jovan menunjuk salah satu kursi dengan dagunya.
Yang membuat Anne mengernyit heran. Kursi lelaki itu berhadapan dengan kursinya, walau tidak tepat dihadapan Anne, namun dirinya sama sekali tidak menyadari kehadiran lelaki itu. Padahal, biasanya Anne dapat merasakan hawa negatif yang keluar dari tubuh Jovan, sebab kebencian yang mendarah daging. Namun, untuk kali ini, sepertinya sebuah pengecualian.
Lagipula, mengapa Jovan selalu ada di mana-mana? Seharusnya, KRL adalah salah satu tempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh Jovan. Lelaki pemilik mobil mewah impaian Anne itu, mana mungkin mau mengesampingkan mobil mewahnya hanya untuk menaiki KRL?
Mama. Batin Anne dengan helaan nafas kesal.
"Jadi, sabelum saya panggil keamanan, dan kamu akan diseret dan dipermalukan, lebih baik minta maaf pada mereka dan hapus fotonya sekarang!" Tegas Jovan, seraya menarik kerah baju lelaki itu semakin tinggi.
Perawakan lelaki itu cukup tambun, dengan berat yang sepertinya hampir mendekati obesitas. Tetapi, Jovan tampak santai melawannya, bahkan menggertak dengan ancaman yang membuat lelaki itu beringsut ketakutan. Sesuai permintaan Jovan, lelaki itu pun meminta maaf, menghapus beberapa bukti foto dan video di ponselnya, lalu menunduk menjauh dari tempat duduknya. Pasti dia malu berat.
Sedang Anne, kini menatap sinis kearah Jovan yang tersenyum manis kearahnya, ia kembali duduk, diikuti oleh Jovan yang kini mengambil alih tempat duduk lelaki hidung belang tadi. Lambaian tangan lelaki itu jelas Anne abaikan, dan saat sudah sampai pada tujuannya, Anne bangkit berdiri, diikuti oleh Jovan yang mengekori.
Walau tidak menoleh, Anne tahu betul jika Jovan kini mengikutinya, dengan sengaja Anne mengambil jalan yang berdesakan dan berkelok-kelok, Jovan pun masih tetap mengikutinya.
Anne berbalik, menatap Jovan dengan kesal. "Jangan ngikutin aku!"
Lelaki itu terkikik, "yang benar tuh, jangan tinggalin aku! Kayak yang di tik*ok."
Anne menghala nafas kesal, lalu kembali melangkah dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
"Lagian, kita kan satu tujuan kantornya. Tinggal nunggu satu tujuan hidup aja." Cengenges lelaki itu.
Anne melonggo dengan geli, mengusap kedua lengannya karena merinding akan gombalan yang menggelikan itu. "Tahu suara sepeda kayak apa nggak? Cringe, cringe, cringe!" Gidik Anne, lalu melangkah cepat meninggalkan Jovan.
"Kring kalik, bukan cringe." Kekeh Jovan yang kini sudah mensejajari langkah Anne. "Btw, tadi pasal yang kamu sebut itu tentang penipuan loh, bukan pelecehan." Ejek Jovan dengan senyuman konyolnya.
Setelah mengatakan itu, Jovan lah yang mendahului langkah Anne, dengan sengaja berjalan mundur dengan terus menatap reaksi Anne. Anne jelas terpaku, ia memang salah menyebut pasal karena bukan anak hukum yang khatam pada pasal yang begitu banyaknya. Anne menyebut pasal itu dengan lantang pun karena mengadaptasi dari pengacara yang dulu pernah menanggani kasus mama. Tapi, jika katahuan seperti ini, tentu saja memalukan. Apalagi Jovan lah yang menyadarinya.
Tengsin!
Anne berdahem kikuk, mempercepat langkahnya dan dengan sengaja menabrak lengan Jovan hingga membuat lelaki itu oleng.
"Enggak apa, Anne. Kayaknya juga hanya aku yang tahu kok."
Jovan terus mengekori langkah Anne, dengan kedua tangan yang dikaitkan dibelakang badannya, dia melompat-lompat dengan riang, sepeti anak taman kanak-kanak yang hendak pergi ke sekolah. Sangat menggelikan.
"Thanks." Cicit Anne kemudian.
Langkah kaki Jovan terhenti, lelaki itu terpaku menatap Anne, lalu menutup mulutnya dengan takjub. "Kamu bilang apa, Anne?"
"Ayo katakan lagi, ayo katakan lagi!" Semangat Jovan, seraya mengelendoti lengan Anne.
"Ah, lepas. pergi lo setan!" Berontak Anne, lalu berlari cepat menuju gedung kantornya dengan wajah merah padam.
"Baiklah, sampai bertemu di unitmu nanti sore! Aku akan menyiapkan kejutan lain!" Teriak Jovan dengan terus melambaikan kedua lengannya.
Anne menoleh dengan tatapan bengis, lalu melayangkan dua jari tengahnya ke udara. Kemudian kembali berlari masuk kedalam gedung kantornya. Walau dia membenci Jovan, namun lelaki itu ternyata memiliki hati nurani, maka untuk kali ini Anne akan mengalah.