Sedari taman kanak-kanak, Keysha memang selalu dijauhi teman-teman karena tak menyukai gadis yang memiliki tahi lalat didagu itu. Anne masih ingat satu kenangan menghebohkan di masa sekolah taman kanak-kanak yang membuat seluruh teman kelas menjauhi Keysha. Gadis itu pernah buang hajat di kotak pasir, tepat saat kelas sedang melakuan kegiatan bermain bersama di luar.
Saat ditanya alasan melakukan hal konyol itu, dengan bodohnya Keysha mengaku mengikuti kucing yang saat itu kebetulan juga sedang buang hajat. Setelahnya Keysha resmi menyandang gelar kembang pasir, yang terus menjadi ejekan hingga Sekolah Dasar. Itu adalah satu dari sekian banyak kegilaan seorang Keysha yang membuat orang geleng kepala.
Gadis itu memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, dengan pemikiran terbuka dan mencintai kebebasan. Hanya saja, Keysha memiliki pola pikirnya sendiri, dengan jalan yang sama sekali tidak mudah dipahai semua orang. Contohnya, saat pertama kali Keysha memiliki pacar, gadis itu pernah menghubungi Anne melalui panggilan video saat tengah malam, Anne masih ingat jika dulu mereka sama-sama duduk di kelas 11.
Diluar nalar, Keysha menghubunginya dengan posisi setengah telanjang dan muka hebohnya. Setelah Anne usut, ternyata saat itu Keysha sedang berada disebuah hotel bersama sang kekasih, dan dengan gilanya mencaritakan jika dirinya baru saja melakukan hubungan badan untuk yang pertama kalinya. Tidak sampai disitu, Keysha bahkan dengan sengaja mengarahkan kamera kepada sang kekasih yang terbaring diranjang tanpa sehelai benang yang menutupi. Jelas saja Anne menjadi heboh dan mengamuk, berakhir ia dipukuli Carel dengan guling karena teriak-teriak tengah malam.
Keysha adalah wanita yang berpikiran bebas, walau sudah memiliki kekasih—yang setiap bulannya selalu ganti—namun Keysha tak pernah membatasi diri dari lelaki yang mendekati. Setelah sekali mengenal dunia s*ks, dia pun seperti kegandrungan dan santai saja mengulangi untuk kesekian kali. Setidaknya, dari kegilaan sifatnya, Keysha bukanlah sosok menyebalkan yang suka menghakimi kesalaham manusia lain. Itulah mengapa Anne masih betah berkawan dengan wanita i***t itu.
Setelah memikirkan kegilaan Keysha yang jelas semuanya diluar nalar, maka untuk kali ini pun Anne memilih maklum. Pertama, Keysha adalah sepupunya. Kedua karena Keysha tidak memiliki teman lain selain dirinya, maka Anne diam saja saat Keysha dengan bahagia mengajak Jovan untuk ikut serta makan malam di restoran langganan mereka, soto Pak Mansur.
"Gimana mas? Enak kan?" Girang Keysha seraya memandangi Jovan yang lahap menyantap soto ayam dihadapannya.
Jovan berulang kali mengangguk, sedang Anne hanya menegguk liur sembari menyibukkan diri dengan ponsel pintar digenggamannya. Protesnya sedari tadi, sama sekali tidak diindahkan oleh Keysha, walau ia sempat menentang keikutsertaan Jovan dan mengancam tidak mau makan, Keysha tidak sedikitpun terpengaruh.
Dia malah menanggapi dengan santai, "ya sudah kalau enggak mau makan, kamu kan sudah biasa makan di sini. Beda halnya sama mas Jovan."
Padahal Anne berharap untuk dibela, atau setidaknya Keysha akan merayunya untuk makan. Namun, Keysha dan jalan pikirannya seperti rumus wanita yang sangat sulit dipecahkan oleh kaum adam.
"Minggu lalu aku sama Anne masing-masing menghabiskan 3 mangkok di sini, terus pulangnya kita diare serempak, karena kebanyakan sambal." Gelak Keysha yang terkesan menyombongkan diri.
Kontan Anne melotot kesal, terlebih karena respon Jovan yang kini tersedak tawa dan menatapnya dengan geli.
"Serius? Dulu kita biasa makan pedas loh, kok dia baik-baik saja?"
Anne kembali melotot, kali ini ia arahkan pada Jovan yang tampak terkejut pada ucapannya sendiri. Kali ini, Anne kembali berharap jika Keysha akan berada dalam mode linglung. Namun, melihat senyuman dan alis yang di naik-turunkan dengan tengil itu, membuat Anne menghela nafas kesal.
Kenapa enggak d***o terus aja sih, ini manusia!
"Cie, kalian dulu dekat banget ya? Sampai sering makan bareng." Goda Keysha. "Tapi, sebenarnya ada hubungan apa sih antara kalian berdua?"
Anne sudah siap membuka mulut untuk mengumpat, sebelum ia menyadari kehadiran seseorang yang membuat matanya berbinar bahagia. Lalu menyenggol lengan Keysha dan berbisik.
"Arah jam 10."
Keysha menoleh dengan penasaran, dan melebarkan senyumannya hingga mentok.
"Eh, mbak Key dan mbak Ann. Lama tidak kelihatan."
Dalam hati Anne merutuk, memang ia dan Keysha kurang besar? Sampai tiap pagi selalu absen sarapan di sini tanpa bosan, tapi dikata lama tidak kelihatan? Namun, kedatangan Pak Mansur selaku pemilik warung soto legendaris itu, membuat keduanya bahagia.
Berkat keakraban yang keduanya bangun, mereka sering mendapat porsi gratisan yang membuat mereka selalu berdoa agar Pak Mansur selalu ada di warung. Sayangnya, pengusaha sukses dengan 10 cabang soto itu, sangat jarang mengunjungi warung.
"Kita selalu sarapan di sini loh pak, pak Mansur aja yang jarang survey warung. Orang sibuk." Balas Keysha, yang selalu saja jago menjilat.
"Wah, beneran selalu mampir buat sarapan? Kalau begini sih saya siap kasih diskon khusus buat mbak Key sama mbak Ann."
Ucapan Pak Mansur dihadiahi sorakan bahagia dari Anna dan Keysha. Dan respon ceria itu membuat bahu pak Mansur naik hingga langit, pipinya bahkan memerah dan matanya berbinar haru. Ia jadi mengingat dua anak gadisnya dirumah, yang belakangan ia curigai sudah tidak gadis lagi. Itu yang sering dia keluhkan.
"Saya jadi ingat anak gadis dirumah mbak, kalau lihat kalian berdua menyenangkan begini." Kalimat itu, tak pernah absen dari mulut pak Mansur tiap kali mereka mengobrol.
Pak Mansur melirik kearah Jovan yang ikut menyengir kuda merespon obrolan mereka. "Wah, ini sih bukan punya mbak Key ya? Karena saya hafal betul wajah pacarnya mbak Key, Turki punya kan mbak?" Pak Mansur mengerling kerah Keysha, dan keduanya beradu telapak tangan dengan bangga.
"Jadi, mbak Ann udah move on nih?" Goda pak Mansur.
Berbeda dengan Keysha yang tergelak puas, Anne mendengus kesal. Terlebih karena Jovan yang mengangguk dan malah menyalami pak Mansur seolah mengakrabkan diri.
"Pak, dia buk—"
"Oh iya mbak, mas Jepri masih sering kesini loh. Kadang sama istrinya, kadang sama rekan kerjanya." Potong pak Mansur.
"Jefry pak," ralat Keysha, membuat pak Mansur menyengir seraya menggaruk kepalanya.
"Iya lah itu,"
Mendengar nama Jefry, membuat suasana mendadak canggung. Anne melayangkan senyuman terpaksa, yang membuatnya mendadak murung sekaligus kesal. Murung karena menyadari kenyataan di mana Jefry kini mendatangi warung bersama wanita lain. Kesal karena, hey! Kenapa Jefry mengajak wanita lain ketempat kencan mereka, dulu?!
Selama sebulan berpacaran, Anne memang sering menghabiskan waktu untuk kulineran bersama Jefry. Dan lokasi favorit andalan mereka adalah soto ayam pak Mansur dan tahu campur bu Sri. Itu pun atas usul dari Anne si penggila makan. Mereka berjanji akan terus makan di sana bersama, tapi Jefry malah datang bersama Vina.
Pengkhianat!
"Aduh, maaf ya mbak Ann, kenapa saya malah ngomongin masa lalu ya? Udah, yang penting sekarang mbak Ann sudah ada penggantinya, tidak kalah ganteng begini."
Pak Mansur menepuk pundak Jovan, lelaki itu tersenyum bangga menerima pujian itu. Anne yang terlanjur bad mood, hanya menanggapi obrolan dengan melahap soto dihadapannya. Ketika kesal, ia akan memilih untuk makan. Ketika sedih, ia akan memilih untuk makan, semua akan membaik jika ada makanan.
Ia bahkan lupa, jika seharusnya ia sedang menolak makan karena kehadiran Jovan. Alih-alih dilarang, Jovan malah meletakkan dua tusuk sate telur puyuh di mangkuk Anne, dan tersenyum lebar.
"Makan." Ucapnya tanpa suara.
Cih, lelaki menyebalkan.
Anna terus menyuapi mulutnya dengan soto ayam yang tidak pernah gagal, selalu enak dan berhasil menyihir mulutnya. Terlalu fokus pada soto dan kekesalannya pada Jefry, dia bahkan tidak menyadari suasana sekitar, dan saat menyudahi makannya, sosok Jovan yang tadi duduk dihadapannya, sudah lenyap. Akhirnya hilang juga.
"Gimana kerjaanmu, beb. Enak?"
Dengan tusuk gigi yang digigit layaknya preman terminal, Keysha akhirnya memulai obrolan pekerjaan yang sebenarnya sangat ingin Anne bagikan. Tujuan dari mengundang Keysha ke unitnya adalah untuk menemani, sehingga Anne tak perlu terlalu banyak mengobrol berduaan bersama Jovan. Kedua, karena Anne ingin berbagi keluh kesah tentang hari pertamanya bekerja.
"Hancur, lingkungan kerjaku toxic. Perbedaan kasta pa*tatmu! Mereka sangat mengaggungkan siapapun yang bekerja di lantai 7. Sialnya, aku di sana." Decak Anne kesal. "Dan perlu kamu tahu Key, aku bertemu Bian." Heboh Anne, tanpa memedulikan lingkungan sekitar yang terganggu akan suara berisiknya.
"Bian?!" Mendengar nama familier itu, Keysha melotot terkejut, dia memang paham betul perihal Bian dan kegilaannya. "Bian mantannya Vina? Ngapain lagi dia?"
"Dia, adik bossku Key." Anne mulai menggeram kesal, seraya meremas rambutnya frustasi. "Aku sudah muak berurusan dengan dia. Terakhir kali pun, aku kehilangan sahabat."
Usapan lembut dipunggung Anne membuatnya kembali diajak bernostalgia. Dia, Vina, pun Miranda, dulunya adalah sahabat lekat bagai ketupat dan opor. Namun, selain karena perbedaan pendapat, mereka juga berpisah karena Bian. Tanpa mengetahui sebab yang pasti, Vina melabelinya sebagai teman makan teman. Kebencian itulah yang membuat Anne merasa janggal akan pernikahan Vina dan Jefry.
Banyak tanya tak terucap, tentang alasan pasti mengapa keduanya menikah. Selain kalimat klise saling mencintai. Karena Anne yakin betul, Jefry masih sangat amat mencintainya. Ya, Anne cukup percaya diri untuk itu.
Namun, kala kembali mengingat jika sudah ada ikatan pernikahan yang resmi antara kedua manusia itu, Anne jelas memilih mundur. Permasalahan dikehidupannya sudah sangat pelik, maka tepat setelah Jefry meminta izin menikah dengan Vina, Anne memilih angkat tangan. Baik pada segala sikap buruk Vina yang tidak mungkin ia paparkan, atau pada permasalahan rumah tangga keduanya.
"Udahlah, Vina bukan sahabatmu beb. Sahabat mana yang lebih mementingkan cowok di atas segalanya?" Kesal Keysha dengan dengusan. "Dia tahu kalau Bian adalah lelaki bere*gsek, tapi dia tetap memilih Bian daripada mempercayai penjelasanmu!"
Anne menghela nafas panjang, tanda jika dirinya menyetujui pemikiran Keysha—yang tumben sekali normal. Anne sudah sempat menjelaskan saat Vina mengetahui jika Bian sering merayu Anne. Namun, Vina tidak pernah mempercayainya, bahkan memaki Anne dengan kasar, berujung pada menjauhi.
Jika memikirkan Bian dan kegilaannya, serta bagaimana Vina amat membenci Anne yang di sebutnya sebagai pengkhianat. Bukankah besar kemungkinannya, jika Vina yang tiba-tiba memacari Jefry adalah sebuah bentuk balas dendam?
Lagi-lagi, Anne memikirkan Jefry.
"Udah habis sotonya?"
Jovan yang tiba-tiba duduk dihadapan Anne dengan senyum merekah, tak luput dari pandangan frustasi Anne. Obrolannya dan Keysha mendadak tamat saat Jovan menaikkan kedua alisnya dengan wajah ingin tahu.
Anne segera mengangguk dengan raut masam, lalu bangkit berdiri dan berkemas.
"Kamu ngaku sebagai owner perusahaan arsitek ternama di Indonesia kan?" Jovan mengernyit menanggapi pertanyaan random Anne. "Jadi kamu yang bayar semuanya. Aku tambah sate telur 4 btw." Setelah mengatakan itu Anne memilih pergi tanpa malu.
Sedang Keysha, meringis dengan empat jari kanan dan kiri yang terjulur. "Aku sate telur 4, sama gorengan 4 ya mas."
Walau sebenarnya malu, namun Keysha tetap cinta gratisan, maka ia memilih menjadi makmum Anne untuk hari ini.