7. Terlampau Membenci

2840 Kata
Lantai tujuh sepertinya merupakan representasi dari sebuah uji nyali yang sangat mencekik. Padahal ini adalah hari pertama Anne bekerja. Di dalam imajinasinya, ia akan mulai mengakrabkan diri dan mencari rekan kerja yang bisa diajak pergi makan siang dan nongkrong cantik hanya sekadar untuk bergosip. Tidakkah begitu penghuni negara ini? Mencintai serta mengagung gosip yang menyegarkan dan panas. Bahkan stasuin televisi berbondong-bondong mencitpatakan acara khusus untuk sesi penambah dosa dan pundi uang. Dengan satu berita yang sama, tiga hingga lima program televisi memberitakan secara berulang. Konyolnya, penonton masih setia mendengarkan gosip yang jelas memiliki kesamaan yang identik, sangat menggelikan namun digandrungi. Setidaknya, di sini ia akan mulai belajar beragam jurus mengakrabkan diri yang jelas sangat berbeda dari London. Untuk wanita pemalas—mengakrabkan diri—sepertinya, yang lebih memilih tidur siang dibanding nongrong dengan teman di mall, kegiatan menyebalkan ini akan membuatnya sedikit lebih manusiawi. Paling tidak, hingga ia pantas disebut sebagai senior. Namun, hingga jam makan siang tiba, Anne masih duduk di tempat kerjanya dengan tumpukan berkas masa lalu yang harus ia pelajari. Halo, walau ia masih junior, namun bukan berarti ia tidak memiliki pengalaman apapun bukan? Di London, ia pernah menerima penghargaan employee of the month, yang hingga kini piagamnya masih ia simpan sebagai kenang-kenangan. Yang mama bingkai dan pamerkan, di mana dinding ruang tamulah yang menjadi saksi bisu mama sering dengan sengaja menunjukkannya pada tamu. Namun, di sini ia malah dipaksa menahan diri dan dikubur hanya dengan beberapa tumpuk kenangan. Satu demi satu kelompok kecil mulai meninggalkan ruang kerja bersama itu dengan keakraban yang entah mengapa membuat Anne iri. Salah seorang yang duduk disamping mejanya, sempat coba diajak berkenalan. Namun tatapan dan ucapan sinisnya memundurkan langkah Anne dengan teratur. Apa-apaan suasana menggilakan ini? Jika sebuah drama, mungkin saat ini Anne sedang dikucilkan? Lalu apakah ini yang dinamakan perundungan? Merasa frustasi, Anne menenggelamkan wajahnya di atas lengan yang dilipat. Sebenarnya ia bisa pergi makan seorang diri, namun Anne sudah terbiasa dikelilingi oleh rekan kerja yang menganggapnya berharga, dulu. Hingga perasaan itu membuatnya merasa amat kesepian dan terbuang. "Kau tidak makan siang, Anne?" Sedikit terlonjak, Anne menaikkan pandangan saat mendengar ketukan di mejanya, dan suara lelaki yang cukup mulai akrab di telinganya, membuat Anne tersenyum kaku begitu melihat sosok itu. Shawn tanpa Mendes. "Semuanya sudah pergi makan siang, tapi kamu ..." Shawn menepuk keningnya. "Ah, kau belum mengetahui tempat makan yang enak disekitar sini? Baiklah, biar aku tunjukkan. Ayo." Jika diibaratkan sebuah serial perundungan, Shawn adalah tokoh protagonis yang menarik Anne dari kubangan kesedihan. Walau ia tak pandai membaca situasi, atau mengakrabkan diri dengan cara yang lebih menyenangkan di kantor ini, setidaknya ada satu manusia yang bisa ia dekati sebagai teman. Walau, sepertinya Shawn tidak cocok disebut teman, melainkan manusia yang dengan anehnya menerapkan sistem pangkat gila berupa lantai yang dipijak adalah statusmu, pada gedung ini. Anne melupakan, jika hari kerja pertamanya berantakan atas campur tangan Shawn dan sistem kasta lantai gilanya. Tapi, Anne memilih bangkit dengan membawa ponsel dan wallet yang hanya berisi kartu dan beberapa lembar uang, lalu mengikuti langkah Shawn yang sudah mendahului. Walau bagaimanapun, ia perlu bertahan diri di lantai persaingan yang ketat dan panas ini. Jika berteman dengan rekan kerjanya adalah sebuah kesulitan, maka ia bisa berteman dengan CEO dari perusahaan ini, yang jelas lebih ramah lingkungan. Jangan lupakan senyuman menyegarkan dan syarat akan perdamaian itu. Senyumnya memang menyegarkan, namun Shawn adalah lelaki misterius yang jika ditelaah lebih dalam, memiliki sesuatu yang agaknya akan menarik. Namun, karena Anne adalah wanita pemalas yang lebih mencintai tidur dibandingkan bersenang-senang dan bersosialisasi, maka ia memilih mengubur pikirannya. Beralih meneliti setiap sudut lantai yang memiliki kasta tertinggi di gedung ini. Saat pertama kali menginjakkan diri di lantai tujuh, Anne sempat bertanya-tanya, mengapa ada dua lift, namun salah satunya tidak memiliki tombol. Dan sekaranglah, semuanya terjawab. Lift itu adalah hak kuasa milik Shawn, dengan kartu akses yang dapat membukanya. Pantas saja tidak ada tombol diluar lift itu. "Silakan, Anne." "Maaf Pak, apa aku—" "Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak membuatku merasa tua dengan memanggil Pak?" Potong Shawn dengan nada bicaranya yang kilat bak seorang raper. "Ayolah, Shawn saja." Anne hanya meringis lalu melesak masuk kedalam lift mewah itu dengan canggung, bisa dikatakan jika ini adalah salah satu benefit berteman dengan CEO perusahaan ternama. Ia bebas melakukan tindakan tak sopan sekalipun, entah karena Shawn yang terlalu bersahabat, atau dia sangat menyukai senyuman. Karena, lagi-lagi lelaki itu menanggapi tindakan kurang ajar Anne dengan tersenyum. Terkurung di ruangan kedap suara ini, Anne bahkan tidak menyadari jika mereka sudah turun ke lantai satu. Berkat betapa halusnya suara yang bahkan tak terdengar, sedikit guncagan pun tak terasa. Sepanjang lobi, beberapa pasang mata terang-terangan menatap keduanya. Memang dapat disimpulkan jika Shawn adalah boss yang ramah, buktinya ia membalas sapaan dari para karyawan. Hanya saja, tatapan tajam yang sangat menganggu itu, ditujukan kepada Anne dengan jelas. Apakah mereka sedang menunjukkan kebenciannya pada Anne? Anehnya, ini adalah hari pertama ia bekerja, dan Shawn bukanlah seorang sahabat yang memberikannya pekerjaan dengan jalur orang dalam. Namun, alih-alih menghindari permusuhan dan menjauhi Shawn, Anne malah merasa biasa saja, seakan ia dan Shawn memanglah sepasang sahabat yang biasa bersama. Langkah kaki mereka menuju kafe yang berada disebrang gedung pun melambat, antrian sudah menjalar panjang di hadapan meja kasir. Anne mendadak pesimis, namun penasaran di saat yang sama. Pesimis mendapat meja, serta penasaran dengan rasa dari makanan yang membuat banyak manusia rela mengantre dengan sabar dan rapi. "Sepertinya kita harus cari tempat lain, lihat antriannya. Menyeramkan." Anne mengusap kedua lengannya guna meredakan bulunya yang meremang. "Tenang saja, aku akan memesankan makanan terfavorit, kau cari tempat duduk saja." Shawn terkekeh seraya mendorong punggung Anne untuk masuk ke dalam gedung. Dalam hati, Anne merutuk kesal. Melihat seberapa panjang antirean, apakah mungkin jika mereka masih bisa mendapatkan tempat duduk di kafe dengan dua lantai ini? Tujuan Anne adalah lantai dua, memeriksa kemungkinan terbesar jika ada dua kursi kosong yang bisa saja tidak terjamah oleh manusia dilantai satu. Nahasnya, lantai dua bahkan sangat bising, dipenuhi dengan lautan manusia yang memenuhi kursi dan memenuhi ruangan dengan asap rokok. Anne segera turun memantau lantai satu yang belum ia periksa. Sebuah lambaian membuat Anne terfokus padanya, dan detik setelahnya Anne menghela nafas kesal. Mengapa dunia ini sempit sekali? "Kemari, kemari!" Teriak Jovan dengan senyum semringahnya. Anne berbalik, ia lebih memilih memakan makanannya di kantor, daripada harus semeja dengan Jovan, apalagi bersama dengan bossnya. Bagaimana jika mulut toa Jovan akan membeberkan dan mempermalukannya lagi? "Loh, Anne. Mau kemana? Tidak ada tempat duduk?" Seperti sulap, Shawn sudah berdiri dengan sebuah nampan di tangannya, ia celingukan kesana kemari hingga tatapannya terhenti pada satu titik. Yang membuat nafas Anne mendadak berat. "Lebih baik kita makan di kantor!" Cegah Anne. Ia bahkan melupakan pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya, tentang bagaimana bisa dalam waktu kurang dari 20 menit, Shawn sudah mendapat dua porsi makanan ditangannya. "Anne, di sini kosong!" Teriak Jovan, lagi-lagi dengan suara konyolnya yang menyebalkan bagi Anne. Rasanya menyesal, pulang dari London hanya dengan tangan kosong seperti ini. Jika mengetahui ada manusia super menyebalkan yang akan terus menganggu hidupnya, Anne akan memutuskan mampir ke salah satu dokter bedah dan mengubah wajahnya. Akan lebih baik, ketimbang terjerat dengan wajah ini, bersama dengan lelaki sinting seperti Jovan. "Kau mengenal Jovan?" Teguran Shawn membuat Anne mau tak mau menanggapi, ia memilih menggeleng, daripada mengaku mengenal Jovan. "Ayo, aku mengenalnya, dia pria baik, walau hingga detik ini kami belum sempat akur," renges Shawn seraya meninggalkan Anne. "Hai tetangga!" Sapa Shawn. Anne memejamkan mata dengan kesal, skenario terbaik yang kini sedang ia rancang adalah makan burger yang Shawn bawa hanya dengan dua kali lahap. Tidak perlu mengunyah, atau melakukan ritual makan nikmat yang sering ia lakukan saat sedang bersama Keysha. Tapi, skenario terburuknya, ia akan dilarikan ke IGD karena tersedak makanan. Dan itu, akan menjadi hal paling memalukan selama hidupnya. "Astaga!" Pekiknya terkejut, saat membuka mata, senyuman lebar Jovan lah yang pertama kali ia lihat. "i***t!" Umpatnya tanpa sadar. "Aw, Anne dan mulut pedasnya." Goda Jovan. Anne segera menutup mulut, dan berlari menuju meja di mana Shawn kini sudah duduk dengan senyuman lebarnya. Ia bisa saja memilih untuk pergi, namun perut dan mulutnya yang kini sudah dipenuhi liur, karena tergoda akan aroma kentang goreng yang akan ia tekankan jika Anne rela beradu pedang untuk mendapatkannya. Sesuai dengan bayangannya, hal pertama yang ia ambil adalah air, membasahi sedikit tenggorokannya, sebelum membiarkannya bekerja keras untuk berkontribusi besar pada pemrosesan burger menuju perutnya. "Sepertinya kita akan sering bertemu Anne, kita bahkan memiliki selera makanan yang sama." Sapa Jovan dengan suara yang terdengar menggebu. Sebenarnya, Anne ingin memaki, meneriaki jika ia bahkan sama sekali tidak memiliki selera makan setelah melihat kehadiran Jovan. Lalu, bagaimana bisa mereka memiliki selera yang sama? "Sekedar informasi, aku yang mengajaknya kemari. Bukankah artinya, kita yang memiliki selera sama ya?" Sela Shawn. Raut wajah Jovan mendadak tak bersahabat, berbanding terbalik dengan Shawn yang sangat ceria. Ditengah reaksi bertolak antara keduanya, Anne masih sibuk mengolah burger di tangannya. Ternyata, dua kali suapan adalah hal yang mustahil, maka ia memfokuskan seluruh perhatiannya pada burger. Setidaknya, tujuannya adalah menghabiskan makanannya, dan segera menjauh dari Jovan. "Ha! Sangat tidak sudi harus memiliki kesamaan denganmu!" Kesal Jovan. Lagi-lagi, terdapat perbedaan raut yang sangat jelas. Seakan keduanya memiliki peperangan yang membuat mereka tidak akur. Namun, jika dilihat dari kaca mata umum, sepertinya Jovan lah yang suka mencari gara-gara dan terlihat tak bersahabat dengan Shawn. Seperti biasa, lelaki itu memang biangnya onar, dan gemar mencari keributan besar. Namun Anne jelas tak mau berfikir terlalu jauh, ia lebih mencintai makanannya. "Hey, ayolah. Bukankah kita tetangga? Seharusnya kita sibuk mengakrabkan diri, dan menjalin kerjasama. Itu akan lebih baik." "Anne, lebih baik kau masuk ke kantorku. Aku akan membayar penuh pinalti untuk kontrakmu!" Mengabaikan ajuan kerja sama konyol yang Shawn ajukan, Jovan lebih memilih memusatkan perhatiannya pada Anne. Lagipula, kerja sama apa yang akan mereka jalin? Kantor Jovan bekerja pada bidang arsitektur bangunan, sedang Shawn menekuni bisnis pangan instan. Apakah mereka harus membuat makanan instan yang terbuat dari bahan bangunan? Luar biasa gila. "Aku selesai, terima kasih makanannya!" Anne segera bangkit berdiri. Sedang dua lelaki yang duduk di meja bundar itu, melonggo menatap Anne yang sibuk menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Di mana wanita yang tadi sesumbar tak lagi memiliki selera makan setelah kehadiran Jovan? Sedangkan seluruh makanannya kini sudah bersih tak tersisa. Tak memedulikan respon dari kedua lelaki itu, Anne melangkah pergi. Kali ini, ia harus memuji konsistensinya yang luar biasa. Melakukan tujuannya hingga tercapi, dan itu karena Jovan. "Wow, sangat keren." Lirih Shawn dengan senyuman takjub. "Bukankah biasanya wanita akan jaim jika makan bersama lelaki?" Dengan respon tak suka, Jovan menoleh kearah Shawn dengan tatapan tajam. Radar persaingan tiba-tiba berdering, dan melihat bagaimana Shawn yang terperangah memandang kepergian Anne. Bukannya menyusul, Shawn malah melahap burgernya dan kembali melayangkan rengesan t***l yang selalu membuat Jovan naik pitam. "Bisa berhenti merenges seperti itu, nggak?! Kesel liatnya, si*lan!" Gerutunya, namun sama sekali tak beranjak. Sedang Anne, terus berjalan seraya mendengus laksana banteng yang siap menabrakkan diri pada targetnya. Sepertinya, memilih kembali ke kampung halaman adalah kesalahan yang besar, karena kini ia jadi sering marah tak jelas. Dan tentu akan menimbulkan banyak keriput di kulitnya yang kini tak belia lagi. 25 tahun jelas bukanlah usia wanita untuk santai dan mengabaikan perawatan kulit. Jika kembali mengingat kenyataan, Anne kembali terpukul, lalu senang dan terus berulang hingga ia merasa frustasi. Tidak hanya dilingkungan kerja, karena sore nanti ia bahkan masih harus menahan kesal sebab harus kembali bertemu dengan Jovan. "Kenapa lelaki sialan itu terus ada disekelilingku sih!" Rutuknya kesal seraya mendenang kerikil yang menghadang jalannya kembali ke kantor. Entah berapa kali alam bawah sadarnya sering memeringati, agar ia berhenti terlalu membenci. Benar adanya, jika bertindak terlalu berlebihan akan memiliki dampak untuk diri sendiri. Tapi hingga kini, rasa benci Anne kepada Jovan, laksana langit luas yang ia tatap dengan kesal. Tak bertepi. Ia bahkan tak tahu pasti, apakah mereka masih bisa untuk berdamai? Dampak dari cinta monyet dan kesalahan Jovan, benar-benar berpengaruh besar untuk kehidupannya. *** Kening berkerut Anne yang terlihat seperti gulungan ombak, adalah respon terkejut dari Anne yang Jovan terima begitu pintu unit terbuka. Seperti biasa, Anne selalu memesona dengan sikap dingin dan tatapan tajamnya. Jika diberi waktu untuk menyebutkan rangkaian perumpamaan untuk memuji sosok Anne, mungkin ia membutuhkan waktu 24 jam penuh. Tanpa sadar, Jovan pun tersenyum. Anne seperti putri es, terlihat dingin namun begitu membara ketika marah, dan Jovan sangat menyukainya, saat Anne bersunggut-sunggut karena amarahnya. Ia sangat menyukai ketika mata Anne menyipit dengan awas, dan radar permusuhan seakan mengelilingi tubuhnya. Anne, adalah wanita yang berhasil membuat Jovan tak dapat tidur semalaman. Ya, setidaknya Anne adalah alasan kedua dari ia yang tak sanggup tidur. Alasan pertamanya karena ia khawatir jika mobilnya raib dicuri maling karena tergeletak tanpa pengawasan di depan rumah Anne. Tatapan Anne teralih pada kursi, dan sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah proyektor. Beralih pada papan putih yang berada ditengah ruang kosong—yang nantinya akan Anne jadikan sebagai ruang televisi—lalu menatap Jovan seakan meminta penjelasan. Dengan sigap, Jovan mendekat kearah Anne, senyuman geli meluncur tak sopan dari bibir Jovan, semua karena respon Anne yang terlampau terkejut dan menjaga jarak saat Jovan mendekat. "Silakan duduk, aku akan menunjukkan desain terbaru yang kau minta revisi semalam." Ucap Jovan dengan ramah. Walau terlihat enggan, namun Anne tetap duduk dengan kasar, bahkan terdengar deritan saat Anne menghempaskan pantatnya ke atas kursi. "Terus apa gunanya proyektor ini?" Dengan senyuman usil, Jovan menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi tanda pasti untuk Anne diam. Entah mengapa, hari ini Anne cukup bersahabat, karena bahkan belum ada perdebatan apapun setelah keduanya berada diruangan yang sama kurang lebih 10 menit. "Udah buruan presentasikan hasil revisi kamu! Aku sibuk!" Bentak Anne yang terlihat mulai kesal. Terasa sebuah de javu yang kini membuat Jovan mengingat dosen pembimbing killer yang doyan mengamuk. Jika diibaratkan, Anne sangat cocok dengan beliau, tak sabaran. Seperti petasan yang memiliki sumbu pendek, mudah meledak. Setelah mempresentasikan hasil revisi yang lagi-lagi mendapat revisi baru—Jovan berani bertaruh jika kini Anne sedang mengerjainya—ia benar-benar seperti kembali merasakan menyebalkannya bimbingan skripsi dengan dosen killer. Ia menghindari strata dua karena malas berhadapan dengan kemauan tak logis dari dosen, tapi malah kini mendapat klien yang rasanya lebih parah. Walau positifnya, wanita yang kini duduk dihadapannya sangatlah cantik dan sering membuatnya tersenyum tanpa sebab. "Udah kan? Aku balik." "Eitz!" Panik Jovan yang dengan reflek menahan pundak Anne dan membuatnya kembali terduduk. Namanya gerak reflek, tentu belum ia perkirakan sebelumnya. Maka, tangannya harus rela dihempas dengan panik—seperti ulat bulu yang tak sengaja terlihat—dan dengan tatapan tajam andalan Anne. Dalam hati Jovan menghitung mundur untuk sebuah ledakan, walau tahun baru masih lama. Namun ledakan kali ini adalah ledakan amarah dari Anne. Hingga hitungan ke lima, tak ada reaksi apapun. Jika petasan, Jovan akan menyimpulkan jika mungkin sumbunya melempem. Atau pembuatnya memanipulasi guna meraup keuntungan. Namun ini adalah Anne, Anne Rosabelle yang menganggap Jovan seperti kotoran ayam di serambi rumah yang harus segera dienyahkan. Tapi, Anne benar-benar tenang, membuat Jovan sedikit khawatir, apakah Anne sedang tidak baik-baik saja? Setelah benar-benar memastikan jika Anne duduk diam dan tidak dalam mode galak, Jovan mendekati kaca besar, menarik gorden untuk memberi kesan bioskop-—walau murahan—lalu menyalakan proyektor yang menyorot langsung kearah tembok. Sebuah video terputar, dengan musik latar yang sangat jadul. Dengan senyuman lebar dan rasa penasaran tingkat tinggi terhadap respon Anne, intro video pun terlewat dan pemeran utama pun muncul. Anne sontak bangkit dengan mata membola, sebuah respon yang sangat Jovan harapkan. Ia sangat senang melihat bagaimana kini mereka akhirnya bisa menonton video dokumenter yang Papanya rekam dulu, saat acara arisan di rumah. Video itu tidak berfokus pada acara menggosip berkedok arisan, melainkan Jovan dan Anne yang bercengkraman dengan rukun. Jika diingat, itu adalah masa pendekatan dan sore harinya mereka resmi jadian. Tentu suasana diantara mereka masih sangat bagus. "Apa-apaan ini?!" Sunggut Anne. Mulut Jovan sudah bersiap untuk melantangkan kata nostalgia, yang akan ia imbuhi dengan embel-embel lain sebagai pelengkap sesi mengenang masa lalu mereka. Namun kata yang sudah ia siapkan tertelan paksa saat mendengar pekikan Anne. Wanita itu melompat dengan wajah ketakutan, dan tanpa sadar menabrak badan Jovan. Tentu itu adalah kesempatan baik untuk Jovan, sekonyong-konyong ia mendekap badan Anne dengan senyuman bahagia. "Keysha! Jangan tiba-tiba berbisik ditelingaku dong!" Protes Anne, kepada Keysha yang kini mengamati tembok dengan wajah mode serius. Anne sontak menjauhkan diri, yang artinya ia sudah sadar akan keadaan yang siap membuatnya mengamuk. Namun, sepertinya bintang hari ini adalah Keysha, karena lagi-lagi wanita itu berhasil menarik perhatian, bahkan membuat Anne mengurungkan niatnya untuk mengamuk. "Setelah foto, sekarang mas Jovan bisa edit video ya?" Celetuk Keysha polos. "Itu, ada Anne di sana." Jovan bahkan tersedak angin, dan terbatuk dengan keheranan, apalagi ini? Mengapa wanita yang bahkan belum terlalu ia kenal itu memiliki pola pikir unik dan konyol? Berbanding dengan Anne yang menepuk kening, namun bergegas mematikan proyektor. Jovan berganti tawa lantang, yang semakin membuat Keysha mengernyitkan keningnya kian dalam. "Iya, iya Key. Dia editor emang, jadi bisa banyak hal." Pasrah Anne dengan wajah mirisnya. "Syukur punya sepupu telat mikir," gumam Anne kemudian. Yang semakin mengencangkkan suara gelak tawa Jovan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN