Siapa sangka? Jika perusahaan yang kini lantai marmernya sedang Anne tatap, memiliki CEO bernama Bian. Lelaki yang tidak lain adalah mantan kekasih Vina, yang dulu bahkan terus mengejar cinta Anne. Dunia memang sempit, adalah kata yang sepertinya akan terus Anne keluhkan untuk kedepannya.
Dengan senyuman cabulnya, Bian bangkit dan mendekat kearah Anne. Dengan ketakutan, Anne mundur secara perlahan. Kenangan masa lalu kembali terbayang dibenaknya. Bagaimana Bian menjelma menjadi penguntit yang terus mengikutinya. Baru ketika ia memutuskan untuk berkuliah di London lah, Bian berhenti mengusiknya. Sebab itulah yang menjadi salah satu dari seratus pemicu persahabatannya dan Vina terpecah.
Namun, kini Bian harus menjadi atasannya? Mengapa Tuhan begitu baik pada lelaki b*jat seperti Bian?
"Kau tidak akan duduk?" Bian yang sedari tadi duduk di kursi kebanggaannya, perlahan mendekat dan menghampiri Anne. "Baiklah, semoga kamu betah bekerja di sini. Aku menantikan kinerja luar biasamu ..." Bian menjeda ucapannya, hanya untuk mencondongkan tubuh saat punggung Anne sudah merapat pada pintu. "My Belle," lanjut Bian seraya mengendus rambut Anne.
Anne yang ketakutan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Setidaknya, Bian tidak akan berani berbuat macam-macam padanya saat ia menutupi wajah. Biasanya Anne adalah jenis gadis bar-bar yang tidak memiliki rasa takut pada lawan bicaranya, hanya saja tindakan Bian di masa lalu seperti memberinya sedikit trauma, dan seketika membuatnya menciut.
Dorongan pada pintu yang ia tekan, membuat badannya maju, bersama Bian yang kini memundurkan langkah. Anne bahkan belum menjauhkan tangannya, walau mendengar suara lain disekitarnya.
"Ngapain kamu di sini? Siapa dia?"
Mimik muka Anne mendadak sendu, matanya bahkan mulai berkaca-kaca saat menatap lelaki lain yang berada di ruangan itu. Ia siap memecahkan tangisnya dan berteriak sekencang-kencangnya jika saja lelaki itu tidak bisa membantunya. Namun, lengan lelaki itu mendorong Bian menjauh, dengan tatapan tajamnya, ia mencengkram kerah baju Bian.
"Kamu apakan dia, sialan?! Bisakah kamu berhenti mempermainkan wanita, Bian?"
Bian hanya tertawa, sedang tangis Anne tetap saja pecah walau kini ada yang membelanya. Ia berjongkok karena ketakutan, hal yang ia takuti di masa lalu, membuatnya khawatir jika akan terulang di masa kini.
"Kamu baik-baik saja? Maafkan adikku, dia memang selalu usil. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendiri di ruanganku." Tenang lelaki asing itu. "Sekarang kamu pergi, jangan main-main di kantor orang! Baru ditinggal lima menit saja sudah berulah!" Omelnya, seraya menarik kerah baju Bian.
"Tunggu Bang, aku belum selesai-"
"Akan kukirim uangnya ke rekengmu, sekarang pergi!"
Bian berseru bahagia, dan dengan takut-takut, Anne melirik lelaki yang kini sedang melambai kearahnya dengan tatapan menyeramkannya itu.
"Sampai bertemu lain kali Belle!" Ucapnya dengan suara mendayu. "Sepertinya aku bakal sering main ke sini." Alih Bian pada sang kakak.
"Dan sepertinya kamu akan sering diusir satpam mulai sekarang!" Peringat lelaki itu seraya mendorong Bian keluar dari ruangan.
Barulah setelah Bian benar-benar pergi, Anne dapat menghembuskan nafas lega. Ia sempat bersitatap dengan lelaki asing yang menolongnya itu, lalu dengan gestur ramahnya, lelaki itu meminta Rose untuk duduk di sofa.
"Kamu baik-baik saja? Maafkan adikku, dia memang kekanakan. Aku pun tidak kuat meladeninya." Jelas lelaki itu. "Oh sorry, perkenalkan aku Shawn, tanpa Mendes, haha. Kebetulan aku CEO yang meminta kamu langsung menghadap kemari." Dengan nada ramahnya, lelaki yang mengaku bernama Shawn tanpa Mendes itu memperkenalkan diri.
Shawn bangkit dari duduknya, melangkah ke sudut ruangan di mana ada mini pantry dengan coffee maker yang ternyata sedari tadi menyala. Lelaki itu menuangkan dua cangkir kopi ke dalam gelas, lalu memberikannya satu pada Anne. Dengan menaikkan alis dan sedikit mengangkat gelas digenggamannya, lelaki itu memberi gestur untuk Anne meminum kopi bagiannya, sedang Shawn menyesap kopinya dengan tatapan yang tidak putus dari Anne.
"Bisa minum kopi kan?" Tanya Shawn memastikan.
Dengan canggung Anne mengangguk, lalu meraih kopi miliknya, selain menenangkan diri akibat syok yang ditimbulkan oleh Bian, ia pun adalah seorang pecinta Kopi. Di mana tidak pernah berpaling walau rasa pahitlah yang selalu ia dapatkan. Anne sangat mencintai kopi dan beragam filosofi dibaliknya.
Anne menjauhkan cangkir berisi cairan hitam pekat di tangannya, rasa yang unik dan kaya, membuatnya berfikir keras tentang kopi jenis apa yang baru saja menari dan melesak sempurna kedalam tenggorokannya. Ia beralih menatap Shawn, yang sedikit terkejut melihat reaksi Anne.
"Arabica? Tapi ..." Anne kembali menyesap kopi miliknya, sedikit memantapkan rasa dengan mengecapkan lidahnya hati-hati. "Ini terasa lebih asam,"
"Ternyata kamu cukup memahami kopi Nona Rosabelle? Ini adalah kopi Arabica dari Kolombia."
Anne menanggapi penjelasan Shawn dengan senyum antusias, ia bahkan sudah mampu tersenyum tipis saat mendapat lawan bicara yang ternyata memiliki kegemaran yang sama dengannya. Kopi dari Kamboja memang sangat terkenal di dunia, namun penikmat kopi asam, cenderung lebih rendah dibanding kopi pahit pada umumnya kan? Itulah sebabnya kopi Brazil lah yang lebih populer, dengan rasa asam yang cenderung minim.
Kembali, Anne mengangguk dengan antusias, ia pun termasuk penikmat kopi yang cenderung ke rasa pahit yang membekas, dan bercampur dengan khasnya coklat yang beriringan. Itulah mengapa ia sangat mencintai kopi arabica dari Brazil. Namun, aroma coklat, karamel dengan sedikit kacang serta rasa asam yang pekat di lidah, terasa baru dan mengejutkan lidahnya. Ia bahkan tanpa sadar berulang kali menyesap kopinya dengan rasa antusias yang tinggi.
Barulah saat mendengar tawa lirih dari hadapannya, Anne menutup mulutnya dengan wajah memerah karena malu. "Maafkan saya Pak,"
Shawn kembali terkekeh dengan lebih kencang dari sebelumnya, lalu meletakkan kopi miliknya ke meja, untuk menumpukan kedua sikunya di lutut.
"Aku cukup terkejut karena melihat kamu terlihat tertarik dengan kopi itu," Shawn menunjuk kopi digenggaman Anne dengan dagunya. "Tapi bisakah jangan memanggilku Pak? Cukup Shawn saja. Aku menganggap semua karyawan yang bekerja satu lantai denganku adalah teman baik."
Anne mengernyit heran, seingatnya saat menaiki lift dari lobby tadi, jumlah lantai yang ia lewati ada tujuh, yang artinya gedung ini memiliki lebih dari satu lantai. Tapi, hanya karyawan satu lantai saja yang dianggap teman? Bagaimana dengan karyawan di lantai bawah lainnya?
"Aku cenderung menempatkan orang terpilih di lantai tujuh, dan kamu salah satunya."
Kernyitan Anne kian dalam, ia bahkan melupakan jika ia sangat membenci tindakan penyebab keriput yang amat ia benci itu. Pasalnya, di lift yang tadi ia naiki, lantai untuk marketing berada di nomor enam, yang artinya satu lantai dibawah pijakan kakinya. Lalu bagaimana bisa Anne adalah salah satu orang terpilih itu?
Tidak, keanehan itu seharusnya sudahlah Anne sadari dari awal, saat di mana Shawn sudah mengetahui namanya dengan baik, bahkan dia yang diminta langsung menghadap CEO alih-alih menuju meja kerjanya dan mulai memperkenalkan diri dengan rekan kerja. Sedari awal memang sudah aneh, hanya ia saja yang telat membaca situasi.
"Aku sudah mengawasimu sejak di London, dan saat menerima lamaran dari seorang Rosabelle, aku melarang HRD untuk mengobrol basa-basi denganmu."
Kali ini Anne menghela nafas panjang seolah merasakan kelegaan, akhirnya rasa penasarannya terjawab sudah. Ia memang mengirim lamaran online pada perusahaan yang bergerak dalam bidang produsen pengolah makanan instan itu.
Namun, bukan panggilan interview lah yang ia dapat, melainkan email di mana ia diterima dan langsung dapat bekerja beberapa hari setelahnya. Bukankah itu aneh? Seakan ia memiliki orang dalam yang membebaskannya dari interview kerja yang wajib dilakukan.
Melirik guna meneliti ruangan ini lebih dalam, Anne baru menyadari jika papan nama di atas meja bukanlah kombinasi nama dari Bian. Bodohnya dia langsung menganggap Bian adalah CEO yang dia cari, hanya karena lelaki itu duduk di kursi kebanggan itu.
"Jadi, mau melihat meja kerjamu?"
Alih-alih menanggapi, Anne masih sibuk bertanya pada dirinya sendiri. Sikap terbuka, keakraban, dan wajahnya yang terasa tidak asing, membuat Anne tak bisa berfikir logis.
Sebenarnya, siapa Shawn ini?
Suara dering telepon berbunyi, mengaggalkan niat Shawn yang hendak menggiring keluar Anne dari ruang kerjanya. "Permisi sebentar."
Shawn mendekat kearah meja kerjanya, mengangkat panggilan telepon dengan senyuman cerah. "Iya, dia baru pulang. Siapa? Jeff?" Shawn beralih menatap Anne, lalu mulai berbisik.
Lelaki itu memencet tombol dari telepon lain yang berada di atas meja. Tidak lama setelahnya, seorang wanita yang tadi sempat Anne temui sebelum masuk ke dalam ruangan Shawn, pun muncul.
"Tolong ajak dia melihat-lihat lantai ini. Dan tunjukkan meja kerjanya." Titah Shawn, seraya menutupi telepon di dadanya.
"Baik pak. Mari bu Anne." Sekretaris itu mengulurkan lengannya keluar.
Anne tidak sempat pamit undur diri, karena melihat Shawn yang sudah kembali fokus dengan telepon kabelnya. Namun, Anne sempat mengernyit saat mendengar Shawn menyebut nama Jeff, yang kini membuatnya bergedik dan keluar dari ruangan itu.
Rasa penasarannya pada Shawn jelas belum hilang, dirinya mulai menarik garis antara Bian dan lelaki itu. Anehnya, mengapa Anne diawasi?
Hingga ia keluar dari ruangan Shawn, Anne masih menanyakan kalimat itu di benaknya. Mengapa orang yg termasuk junior dalam bidang marketing sepertinya mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari orang lain?
Anne bukanlah lintah yang suka mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Terlebih saat dirinya ditunjukkan meja kerja yang akan ia tempati untuk kedepannya, serta tatapan sinis yang diam-diam karyawan lain tujukan untuknya, membuat Anne semakin tak enak hati. Ini salah, dan dia tidak bisa tinggal diam untuk itu.
"Perkenalkan, dia Anne Rosabelle, anggota dari tim Marketing yang baru. Mulai hari ini dan seterusnya, Anne akan menempati lantai yang sama dengan kita."
Dari perkenalan yang sekretaris Shawn umumkan saja, Anne merasa kurang nyaman. Apakah perbedaan kasta berupa lantai yang akan diinjak sehari-hari, sangat diaggungkan di kantor ini? Sepertinya, ini adalah awal yang kurang bagus.
Terlebih, suara kasak-kusuk yang menjengkelkan, alih-alih sambutan hangat, membut Anne kian mendidih. Tidak hanya Shawn, penghuni lantai ini pun sama saja mencurigakannya.