5. Mood Breaker

1776 Kata
"Nah, ini dia si beban keluarga turun juga." Anne menyentuh dadanya dengan tatapan binggung. Ia bahkan memeriksa penampilannya yang sangat luar bisa oke, karena akan pergi bekerja untuk pertama kalinya. Mengedarkan pandangannya, mencari sosok lain, wajahnya mendadak suram kala melihat lelaki berkolor macan—yang ia belikan akibat demam drama korea—sedang menggaruk perut dan rambutnya secara serempak. Benar, pasti bukan ia yang disindir sebagai beban keluarga oleh mama. Lagian, mana mungkin mama berani menyindirnya? Sedangkan Anne adalah satu-satunya anak kebanggaan yang selalu dipamerkan pada saudara, karena berhasil berkuliah dan bekerja di London. Tapi, sepertinya Anne harus segera mencari alibi dan menebalkan muka untuk bertemu para saudara tahun ini. Ia tidak lagi menjadi tameng untuk mama, karena sudah pulang ke tanah air. "Pagi cantik," sapa lelaki itu seraya memberikan kecupan basah di pipi Anne. Kecupan basah, dengan aroma khas mata air penghasil pulau bantal. "Set*n!!" Teriak Anne seraya menggosok pipinya dengan kekuatan penuh. Najis, ia selalu merapalkan kata itu kala sang kakak menciuminya. Perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, yaitu 3 tahun, membuat keduanya sering tidak akur. Tapi, jika disimpulkan, Anne lah yang selalu gampang mengamuk saat bersama sang kakak. Salah satu alasannya adalah ini, Carel adalah maniak ciuman—walau maniaknya hanya pada Anne—dan sedari kecil, Carel sangatlah menyayangi Anne. Bahkan, Anne masih ingat dengan cerita mama, katanya Carel mengusap pipi Anne dengan tisu basah hingga menghabiskan satu bungkus besar. Alasannya, karena ada tetangga yang menciumi pipi berisi Anne kala itu. Berakhirlah Anne mengalami iritasi kulit, yang ternyata alergi akibat efek samping berlebihan dari tisu basah. "Utututu, cantiknya adek Kakak," goda Carel seraya mencoba mencubit pipi Anne, namun dengan cepat disosornya tangan lelaki itu dengan jurus tangan patok ular. Anne segera berlarian turun, menjauh dari lelaki dekil yang tidak pantas disebut pengangguran, namun tidak pantas pula dianggap memiliki pekerjaan. Yang pasti, sesuai perkataan mama, Carel serumpun dengan kaum beban keluarga. Carel memiliki channel You*ube, yang pelanggannya sudah termasuk banyak. Kerjaan sehari-harinya live dan bermain game, tak lupa diimbangi dengan teriakan dan makian. Karena itulah dia sering disebut pengangguran. "Lo jadi pindah beneran?" Pertanyaan itu menjadi bumbu untuk roti bakar yang kini mulai masuk kedalam mulut Anne. Sayangnya, kali ini mama memanggangnya dengan sedikit terlalu lama, sehingga terasa pahit, dengan visual yang sama sekali tidak menguggah selera. Namun, mama adalah wanita paling dramatis di seluruh jagat raya. Jika penghuni rumah tidak menyantap masakan mama, maka ratu drama itu akan menangis dikamar, dan enggan menyapa hingga berhari-hari. Maka, papa memberikan peraturan tak tertulis, agar para manusia yang masih ingin tinggal dibawah atap rumah milik papa, harus menelan habis masakan mama, tanpa memberikan kritikan buruk. Anne mengangguk, dan raut kesal dengan kernyitan dalam menjadi respon spontan yang Carel tunjukkan. "Buset! Pait bener ini roti, pasti lo yang bikin kan, dek?" Kritik Carel. Gebrakan meja membuat Anne dan Carel berjingkat serempak. Mama disampingnya sudah menjelma menjadi kereta uap. Mengeluarkan asap panas dari hidung dan mata yang membara. "Apa kamu bilang Car?!" Peringat mama. "Carel ma, kenapa panggil aku Car terus sih?!" Ralat Carel seperti tanpa dosa, lelaki itu bahkan melahap rotinya hingga tandas. Barulah saat tatapannya dan Anne bertemu, lelaki itu menutup mulut dengan dramatis. Okay, sepertinya drama benar-benar akan terjadi. Mama mendorong mundur kursinya dan pergi meninggalkan meja makan. Menyisakan Anne yang mendekat pada Carel dan mulai memukulkan sendok kayu pada kepala lelaki tak berotak itu. "Cari mati lo?! Hah?! Mati sendiri ngapa? Jangan ajak-ajak gue!" Jelas yang akan terkena imbasnya bukan hanya Carel seorang. Melainkan seisi rumah yang bahkan tidak turut andil memeriahkan drama, akan mama musuhi juga. Anne memang tidak lama lagi akan angkat kaki dari rumah papa untuk hidup mandiri, namun ia tidak mau saat-saat terakhirnya malah menjadi hari yang buruk karena amarah mama. "Udah dek, udah! sakit! Iya gue dosa iya, lupa!" Lupa, adalah jurus murahan yang dapat Anne pastikan jika seluruh manusia di dunia ini, pasti pernah memilih kata itu sebagai alasan. Namun, walau kadang sering digunakan dengan tidak logis, namun mau bagaimana lagi? Harap maklum kan? "Lagian lo bikin mood gue jelek pagi-pagi!" Andai sendok kayu yang Anne bawa bisa berubah menjadi palu Thor. Akan Anne kubur Carel hidup-hidup, bahkan ia jadikan geprek. Bagaimana bisa namanya dibawa-bawa untuk kesalahan Carel? "Kenapa jadi gue?!" Sungutnya. "Baru juga pulang beberapa hari, udah mau pisah rumah! Gimana caranya gue bisa awasin lo? Pokoknya gue ikut lo tinggal di apartmen!" Sebenarnya Anne sudah hampir terharu pada ucapan Carel. Selama ini ia merasa menjadi orang paling apes dan bernasib buruk. Bahkan, penolakan pada lelaki baru yang dulu selalu ia lakukan, membuatnya sama sekali tidak memiliki gebetan yang harusnya menjadi alasan terkuat untuk ia mulai move on. Jangankan gebetan, teman pun ia tidak punya, karena selama ini tinggal di London. Namun, dengan harmonisnya Carel merasakan kesedihan saat Anne harus pergi. Menandakan jika keberadaannya memang masih dibutuhkan oleh orang lain. Sedari dulu, Carel memang selalu menyayanginya, walau seringnya berlebihan karena selalu memantau hidup Anne layaknya seorang polisi yang mengawasi tahanan kelas kakap. Tapi, saat menyadari roti selai coklat miliknya sudah lenyap, dan menyisakan jejak pencurian di sudut bibir Carel yang merlumuran selai. Membuat amarah Anne memuncak, digebraklah meja untuk kedua kalinya. Carel adalah alasan rerkuat yang membuat moodnya jelek saat dirumah, dengan tingkah konyol yang selalu membuat naik darah. "Roti gue set*n!" Teriak Anne. Carel dengan polosnya sok tidak menyadari jika tangan dan mulutnya sudah bekerjasama melenyapkan roti milik Anne. Sebelum pukulan melayang mengenai kulit cap badak lelaki itu, bunyi ponsel sudah terlebih dahulu mengintrupsinya. Nomor asing tertera dilayar ponsel milik Anne. Karena tidak mau berurusan dengan penawar hutang yang bisa saja menerornya untuk mengambil pinjaman, Anne memilih untuk mengabaikannya. Ia sudah siap melampiaskan kekesalan, dicengkeram kerah baju Carel, bahkan sang kakak yang lemah gemulai—di mata Anne—hanya pasrah pada tindakan kurang ajar sang adik. Namun, suara bel lah yang kini kembali menganggunya. Dengan geraman kesal dan dorongan pada sang kakak, Anne memilih menuju pintu utama. Melampiaskan kekesalan, tidak akan melegakan kalau terus mendapat gangguan. Maka Anne akan melenyapkan gangguan itu dulu, toh Carel adalah kakak yang suka disiksa oleh sang adik. Dengan alasan, itu adalah bentuk kasih sayang. Sepertinya Anne lupa menegaskan, jika Carel adalah lelaki sinting. Helaan nafas panjang Anne berbanding terbalik dengan senyuman cerah lelaki yang kini berdiri dibalik pintu rumahnya. Sekali lagi ia mensyukuri, jika dirinya akan segera pindah rumah dan menghapus jejak dari lelaki sialan ini, Jovan. Namun jika menyadari kenyataan terpahit di mana Jovan lah yang akan terus-terusan datang ke unit barunya untuk menyelesaikan renovasi apartmennya, sepertinya tidak ada sedikitpun masa untuk ia merasa bersyukur. "Apa?!" Bentaknya. "Seperti biasa, Anne yang judes. Hai, selamat pagi!" Sapanya layaknya kasir swalayan, dengan senyuman lebar khas iklan pasta gigi. Anne masih melipat kedua lengannya di depan d**a, tanpa sedikitpun ekspresi ramah pada seorang tamu. Ia hanya heran saja, mengapa hidupnya selalu dihantui oleh Jovan? Salah apa ia di masa lalu, hingga Jovan terus menggentayanginya. Dalam hati, Anne terus merapalkan mantra penolak bala. Ia tidak mau terlalu membenci Jovan, yang nantinya bisa menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Namun, bertindak ramah dan menyambut lelaki menjengkelkan itu, seketika membuat perut Anne bergejolak dan mual. Pada akhirnya, ia memang benar-benar membenci Jovan. Lelaki yang mempermalukannya dengan kejam. "Minggir! Aku mau pergi!" Anne mendorong d**a Jovan dengan dua telunjuknya, wajahnya menunjukkan raut jijik dan geli. Jujur saja ia malas berurusan dengan Jovan, terlebih lelaki itu terus saja menganggunya, menggoda dengan usil dan terus-terusan mengungkit masa lalu di mana mereka pernah berpacaran walau sekejap. Apa tujuannya? Selain membuat Anne cepat mati karena darah tinggi? Atau bahkan lelaki itu kini menyesal pernah mempermalukan Anne? Dan ingin kembali? Maaf saja, Anne sudah tidak bodoh lagi. "Aku datang mau minta kunci mobil!" Seakan mengetahui jalan pikiran Anne, Jovan menjawab prasangka yang sempat wanita itu tuduhkan. Mendengar ucapan itu, mata Anne otomatis melirik kearah mobil sport mewah yang kini terparkir didepan rumah papa. Bodohnya, ia sempat berfikir yang tidak-tidak, memalukan sekali! Beruntung Anne hanya membatinnya saja. Dengan wajah kesal, Anne berlari anggun ke dalam rumah, mengambil kunci mobil yang kemarin ia buang kearah tempat peristirahatan kucingnya. Harapannya agar sang kucing buang hajat diatas kunci mobil mewah itu. Sayangnya, bahkan sang kucing pun tidak tertarik pada benda itu. Tanpa mengatakan apapun, Anne melempar kunci itu pada Jovan, yang diterimanya dengan sigap. "Sekalian mau antar kamu berangkat kerja," cicit Jovan. Kening Anne membentuk lipatan yang sangat ia benci, karena bisa membuat kulitnya keriput. Dengan penuh tatapan ancaman, ia mempertanyakan dari mana Jovan tahu jika ia akan pergi bekerja. Lelaki itu hanya merenges seraya menggaruk kepalanya, lagaknya sudah seperti monyet terkena gangguan jiwa karena rengesan keringnya yang menyebalkan itu. Melihat reaksi itu, Anne sadar, jika Jovan pasti mendapat kabar itu dari mama. Sialnya, Jovan bahkan sudah memiliki orang dalam yang membantunya untuk terus menghantui kehidupan Anne. "Sekedar informasi, kita bekerja di lingkungan yang sama!" Teriak Jovan mengiringi Anne yang masuk kedalam mobil warisannya. Anne bahkan mengabaikan peringatan itu, hingga ia sampai didepan gedung perusahaannya dengan melongo terkejut. Bukankah Jovan sudah memberitahunya terlebih dahulu? Namun hingga kini, Anne masih terkejut mengalami kenyataan menyebalkan itu. Jika tempatnya bekerja, bahkan berhadapan dengan perusahaan milik Jovan. Tentu ia tahu nama perusahaan Jovan, karena mama bahkan terus mengatakan jika Jovan bekerja di perusahaan besar miliknya sendiri, JK Arch. Perusahaan yang sebenarnya Anne incar sejak di London, hanya saja saat ia berniat kembali ke Jakarta, perusahaan arsitek ternama itu sedang tidak membuka lowongan pekerjaan. Namun, jika mengetahui JK Arch adalah perusahaan milik Jovan, ia sangat bersyukur karena tidak harus bekerja untuk Jovan. Disebarang jalan, Jovan masih melambaikan lengannya, dengan satu tangan memegangi ponsel di pipi kirinya. Dan Anne berulang kali melirik ponselnya yang terus berdering karena panggilan masuk. Jadi, pemilik nomor asing yang ia kira orang iseng yang akan menawari peminjaman uang, adalah Jovan? Dunia ini sangat sempit. Dimatikan, berdering lagi. Kegiatan itu seperti de javu yang kenyataannya memang disengaja. Meski Anne terus menolak panggilan itu, Jovan terus menghubunginya, ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk sekedar memblokir nomor lelaki itu. Suara khas tawa Jovan menyapa pendengarannya begitu keduanya tersambung dalam panggilan telepon. "Kalau kau berencana untuk pindah kantor, akan kubuka satu lowongan untuk mempekerjakanmu di sini." Semangat Jovan, dengan suara khas SPG yang sedang menawarkan produknya. Apakah Anne harus bangga karena menerima undangan dari perusahaan besar? Yang bisa saja dimimpikan banyak pelamar untuk saat ini. "Sampai jumpa diunitmu nanti sore." Tambahnya. Kalimat itu terus diiringi rengesan yang terdengar. Anne bahkan tidak diberi kesempatan untuk meluapkan amarahnya, karena panggilan itu terputus sepihak oleh lelaki sinting itu. Kembali akan Anne tegaskan, Jovan sangat amat pintar membuatnya mati muda karena darah tinggi. Sepertinya, kehidupan kantornya tidak akan berjalan dengan normal. Terlebih, ada sosok lelaki yang masih terus melambai disebrang sana. Anne terus bertanya-tanya, sebenarnya kembalinya ia ke negara ini, apakah yang terbaik?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN