"Kayaknya mas Jovan suka sama kamu deh beb,"
Hampir saja Anne menyemburkan kuah soto yang baru saja masuk ke mulutnya, beruntung ia lebih dahulu menelannya, sehingga tidak ada insiden memalukan atau bahkan dendam kesumat yang akan Keysha simpan hingga wafat. Anne segera menenggak minumannya hingga tandas, terbatuk dengan melirik kesekitar di mana para pengunjung warung soto langganan mereka sempat menoleh kaget kearahnya, atas insiden tersedak yang baru ia alami.
"Sinting ya lo Key!" Gumam Anne kesal, dengan masih terbatuk.
"Jiah, pakai lo gue, songong amat buk?" Kikik Keysha, yang mendapat lemparan tisu bekas mengelap lumeran kuah yang digulung-gulung oleh Anne. "Sumpah Anne, kamu harus tau, kalau Mas Jovan yang merekomendasikan apartmen itu buat kamu. Mas Jovan juga yang menawarkan diri buat ngerancang unit kamu."
Rasanya, suasana terik di luar sana, soto yang masih panas serta kekesalan setelah mendengar penjelasan Keysha tentang asal-muasal unit apartmen kece dan biaya murah perancangan hunian idamannya itu, membuat kepala Anne kian pening dan berasap. Pantas saja semuanya terkesan mudah dan menguntungkan baginya, ternyata semua sudah direncanakan sebelumnya?
"Jadi kalian sekongkol?"
Keysha melambaikan kedua tangannya menolak tuduhan Anne, "ngawur! Aku aja nggak kenal deket sama dia!"
"Terus! Kok kamu bilang gitu tadi?"
Tanpa peduli akan rasa penasaran dan amarah Anne, Keysha melanjutkan menyeruput kuah soto tanpa rasa bersalah. Bodohnya, wanita itu bahkan mendesah puas akan nikmatnya kuah soto yang tidak ada tandingannya itu. Karena melihat penampilan Keysha yang menikmati makanannya, Anne pun mengikuti. Gila, soto dikucuri jeruk nipis, dan sambal empat sendok besar, luar biasa mantap!
"Aku tau kalau kebutuhanmu banyak,"
Perhatian Anne kembali tertuju pada Keysha, mengungkit kebutuhan, ia mendadak tertarik.
"Jadi, saat mas Jovan datang menawarkan unit baru dan biaya murah, mana mungkin aku tolak, iya kan?"
Iya sih, bodoh namanya kalau menolak itu. Kalaupun orang baik itu bukan Jovan, Anne juga pasti akan sangat berterima kasih. Bahkan bila perlu, ia akan mendaftar jadi calon istri lelaki baik itu.
Harap maklum, ditinggal menikah oleh lelaki yang dicintai adalah patah hati terburuk yang menyakitkan. Seakan perjuangannya sudah usai tepat setelah hukum menetapkan mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Sayangnya, lelaki itu adalah Jovan, lelaki yang walau hanya sisa mereka berdua di dunia ini, Rose memilih hidup seorang diri daripada harus bersama Jovan.
"Udah, nggak usah di pikir, mending langsung check out tas incaran kamu."
Anne menggeram, bersamaan dengan soto yang kembali ia kunyah-entah sudah keberapa kali.
"Binggo!" Serunya bahagia.
Masa bodoh dengan Jovan, ia hanya tinggal menjauh saja, lalu meminta Keysha untuk menjadi perantara antara ia dan Jovan. Memikirkan untuk bertemu atau menghubungi lelaki itu saja, bulu kuduk Anne sudah meremang. Yang tandanya, Jovan adalah setan yang harus dijauhi.
"Ngomong-ngomong, kalian sedekat itu ya? Sampai-sampai mas Jovan ngasih hadiah pindah rumah dengan foto editan kalian?"
Untuk kedua kalinya, Anne tersedak karena ucapan Keysha yang luar biasa gila! Sebenarnya Anne ingin marah, karena dipaksa kembali mengingat foto berbingkai super besar yang dengan tanpa dosa, Jovan hadiahkan padanya. Namun, jika kembali memikirkan seberapa bodoh dan lugunya Keysha, Anne menunda amarahnya, dan tergelak.
Tanpa sadar, ia mengangguk dengan tawa geli. Namun saat menyadari jawaban anehnya, serta wajah Keysha yang terkejut, ia segera menggeleng.
"Nggak! Amit-amit deh deket sama dia!" Kesal Anne. "Udah ah, ayo balik! Ngomongin Jovan mulu! Nggak selera makan jadinya!"
Sepertinya, selain macam setan, Jovan juga seperti sampah. Karena, hanya memikirkannya saja, mendadak Anne hilang selera makan.
"Si bangke! Ngomong nggak selera makan, tapi soto sampai kuah-kuahnya kinclong gini?" Keysha meraih mangkuk lalu membaliknya, memastikan jika mangkuk itu benar-benar bersih tanpa setetespun kuah tersisa.
Anne meringis malu, "hehe, laper."
"Ini sih namanya lo cuciin mangkok sekalian, sangking bersihnya." Cibir Keysha.
Ya, bagaimana lagi? Anne selalu lari ke makanan saat sedang kesal, frustasi maupun bahagia. Ditambah, soto ayam ini luar biasa enak, mana mungkin ia menyia-nyiakannya?
***
Baru saja ia mengumbar senyuman ramah nan manis pada satpam penjaga gerbang komplek. Kini, kening Anne yang mulus bak p****t penggorengan baru, dipaksa mengernyit heran. Di hadapan rumahnya, terparkir mobil sport mewah dengan warna incarannya, dark blue metallic. Kapan pula ia bisa membeli satu unit saja Porsche dengan warna ini, dan melempar sedan buluk yang papa wariskan padanya. Bahkan mobilnya kini hanya pinjaman, karena ia belum bisa membeli sendiri mobil impiannya.
Anne adalah salah satu manusia yang berprinsip mementingkan kepentingan primer, baru tresier. Yang artinya ia lebih mendahulukan hunian mewah daripada kendaraan yang hanya bisa dipamerkan pada orang lain. Tidak lucu kan jika ia mengendarai mobil mewah tapi tinggalnya di kontrakan.
Begitu mobilnya terparkir di pinggir jalan pekarangan rumahnya, ia segera turun dan mengamati mobil mewah itu. Lagi-lagi ia merenung, kapan ia bisa membelinya, dengan uang sendiri, tanpa merengek pada papa dan berakhir dibelikan mobil mainan.
Samar-samar, terdengar tawa mama yang legendaris, di mana para tetangga pun hafal pada tawa membahana mama yang sering diumbar pada orang lain di sekitar.
"Akh!" Pekiknya saat merasakan sesuatu yang basah mengenai lengannya.
Matanya membelalak lebar, mendongak keatas langit untuk melihat pelaku buang kotoran yang kurang ajarnya mengenai dirinya.
"Burung sialan!"
Anne merengek-rengek dengan barlari menuju keran air yang tersedia di depan garasi. Kenapa nasibnya sial sekali? Daripada tahi burung, mengapa tidak segepok uang saja yang menimpanya. Setelah memastikan lengannya bersih dari kotoran burung, Anne mendecak kesal.
"Kok, perasaanku nggak enak ya," gumamnya seraya melangkah masuk menuju rumah.
Pasti perasaannya tidak enak karena takut ditanyai-kapan bawa pulang pacar-hal aneh oleh mama. Ya, pasti itu, karena pertanyaan itu seperti aksi uji nyali dan audisi menjadi aktris, sepandai apa berbohong atau mengelak. Sedang Anne, ia selalu kalah dan berakhir dengan kalimat perdamaian.
'Iya ma, besok cari cowok.'
"Cih! Ngeselih!" Gerutunya.
"Nah itu anaknya udah pulang!" Seru mama seraya berlari menghampirinya.
Anne memicingkan matanya saat digiring mama untuk mendekat kearah ruang tamu. Sosok tamu yang kini duduk memunggunginya, kini perlahan berdiri dan menoleh.
"J-jefry?" gagapnya.
Ya, lelaki yang kini berdiri dengan senyuman menawan dan wajah kinclong khas pengantin baru, itu adalah Jefry.
"Hai Anne, baru pulang?"
Anne memilih mengabaikan pertanyaan Jefry, menarik lengan mama dan menjauh dari jangkauan Jefry. "Ma! Apa-apaan ini?!" Bisiknya dengan suara yang lengkap dengan geraman kesalnya.
"Loh apa? Jefry cuma mampir main kan? Kenapa?"
Bahu Anne yang awalnya tegang, mengendur dan merosot dengan lemas. Memang mama tidak pernah tahu jika ia dan Jefry pernah berpacaran, selama mereka berpacaran di masa SMA, Jefry ia perkenalkan sebagai kakak kelas baik yang mengajarkannya melukis. Anehnya, mama bahkan tidak pernah usil menjodoh-jodohkannya dengan Jefry kala itu, padahal mama adalah mama paling usil di seluruh dunia. Berbeda dengan Jovan, pada lelaki menyebalkan itu, mama malah kerap dengan sengaja membuat mereka berduaan saat arisan mama sedang berlangsung. Bagi Anne, dulu ia mengira jika mama tidak terlalu suka dengan Jefry, karenanya Anne tidak pernah mengakui lelaki itu sebagai pacarnya.
Ya, ya, Anne memang tidak tahu diri dan kejam. Dulu tidak diakui, lalu setelah menikah dengan wanita lain, kini ia menangisi. Definisi bodoh sampai ke batang otak.
"Ma, Jefry kan udah nikah," lirih Anne dengan suara tak bertenaga.
Jujur saja, sampai detik ini ia masih tidak rela menyebut kata 'menikah' sebagai pelengkap dari nama Jefry. Karena, bukan dengannya lah Jefry menikah, melainkan dengan wanita yang tidak lain adalah mantan sahabatnya.
"Iya, terus kenapa? Kalian kan temenan dari SMA, terus istrinya Jefry dan Vina sahabat kamu. Jadi, keduanya seperti saudara kan buat kita?"
Mendengar kata saudara, raut wajah Anne mendadak suram. Ia kembali mengingat pada pesan izin menikah yang Jefry kirim malam itu. Lelaki itu berharap jika hubungan mereka tidak akan berubah walau Jefry sudah menikah, berteman baik layaknya saudara. Mana mungkin? Yang Anne harapkan adalah ia menjadi nyonya Giovinda, bukan hanya sekedar teman saja.
"Apa nih?!" Seru mama seraya meremas lengannya. Anne yang masih saja galau, menoleh dengan wajah bengong. "Jangan bilang kamu suka sama Jefry? Dan sekarang lagi menghindar karena dia nikah sama sahabat kamu?"
Binggo! Sepertinya mama cocok menjadi cenayang.
"Ma ..."
"Permisi!"
Suara ketukan pintu dan seruan itu memotong ucapan Anne, yang beruntungnya membuat Anne tidak perlu menjelaskan apapun pada mama. Mama yang terkejut, segera berlarian keluar, begitulah mama, selalu berlebihan. Anne menoleh, menghala nafas panjang dan melangkah mantap. Mau tidak mau, ia harus menemui Jefry, yang sudah jauh-jauh kemari hanya untuk main, itu kata mama. Apa Jefry kira mereka adalah anak SD yang masih harus bermain gundu bersama? Mana mungkin ada yang percaya, jika lelaki dewasa datang kerumah seorang wanita lajang, dengan tujuan hanya untuk main? Pasti tetangga yang melihat akan menggunjingkan jika pacar Anne sedang apel, begitulah cara kerjanya hidup bertetangga.
Senyuman cerah Jefry menyapanya begitu ia sampai di ruang tamu, bahkan sampai ia mendudukkan diri dan menatap segala arah dengan canggung, Jefry masih tersenyum kearahnya.
"D-diminum," kikuk Anne, seraya menunjuk gelas di atas meja.
"Canggung ya? Karena aku main tanpa mengabari?"
Anne hanya merenges canggung, berharap jika tingkahnya akan membuat Jefry paham. Mungkin tujuannya datang memang untuk bertamu ataupun menjalin persaudaraan, tapi apa Vina akan menganggap seperti itu? Jika sebelum menikah saja Vina masih sering cemburu, apa setelah menikah, rasa cemburunya hilang, jika mengetahui suaminya datang berkunjung ke rumah mantan?
"Sorry ya,"
Lagi-lagi, Anne hanya tersenyum, walau ia sendiri pun geli pada responnya. Anne bukanlah wanita lemah lembut yang gemar mengumbar senyuman, alih-alih tersenyum, ia lebih senang mencibir, dan Jefry sangat paham itu. Namun kali ini, Anne menyadari satu hal, walau ia masih mencintai Jefry, namun sudah tidak ada lagi rasa nyaman di antara keduanya.
"Jadi, kamu sama Jovan benar-benr pacaran?"
Dulu, hal paling menyenangkan saat ia berdua dengan Jefry adalah saat di mana mereka saling pandang. Jefry memiliki tatapan teduh dan mata yang jernih, sering membuatnya betah berlama-lama saling tatap, kecuali jika Jefry main sosor. Maka kegiatan saling tatap mereka akan hancur dan berubah menjadi ciuman panas. Memikirkan ciuman, selama mereka berpacaran selama satu bulan, hanya sekali saja mereka pernah berciuman, itu pun karena kegiatan saling tatap yang intens. Membuat suasana menjadi sangat cocok untuk berbuat dosa.
Anne mengipasi wajahnya yang terasa panas, ia segera melepas pendangannya dari Jefry dan berdahem untuk menghilangkan canggung.
"Anne! Anne! Ada tamu! Kamu harus keluar cepat!" Teriakan mama yang kini berlarian dengan senyuman lebar kearah ruang tamu, membuat suasana canggung keduanya mencair.
Lengannya kembali di tarik paksa, dan mau tidak mau ia bangkit untuk berdiri, begitupun dengan Jefry yang mengikuti. Belum sempat mereka melangkah lebih dari 3 kali, kaki Anne berhenti mendadak saat melihat sosok lain masuk kedalam rumahnya.
Demi Tuhan, sebenarnya apa dosa Anne? Hingga kini ia harus merasakan suasana aneh yang mencekam. Di mana ia kembali dipertemukan dengan dua mantannya sekaligus. Bukankah baru seminggu berlalu sejak kejadian itu? Tapi, kini kembali terulang.
"Lihat, siapa yang datang?Jovan!" Mama bertanya dengan semangat, namun dijawab sendiri dengan semangat pula.
Jovan yang tersenyum dengan set mringah, mendekat seraya menyodorkan sebuah buket bunga besar kearahnya. Selama waktu mendekat, Jovan menyempatkan diri melirik kearah Jefry, lalu kembali menatapnya.
Suasana mendadak hening begitu Jovan berdiri tepat di hadapannya. Bahkan tangan Jovan belum turun, seakan sedang menunggu bunga di tangannya untuk diraih. Dan itulah yang Anne lakaukan, meraih buket bunga dari Anne dan menyerahkannya pada mama.
"Mama bawa masuk ya. Oh iya Jovan duduk dulu, mama buatkan sirup melon favorit Jovan ya?"
Jika Jovan mengangguk dengan acungan jempol, berbeda dengan Anne, kini ia melotot kearah mama dengan penasaran. Pertama, bukannya Jovan memanggil mama dengan panggilan tante? Kedua, sejak kapan mama tahu jika Jovan menyukai sirup melon?
"Jadi kalian benar-benar pacaran?" Jefry memecah suasana canggung begitu mama pergi.
Badan Anne menegang dengan mata melotot lebar saat Jovan kini tiba-tiba mendekat dan merangkul pinggangnya. Belum sempat ia menyangkal pertanyaan Jefry atau bahkan memprotes tindakan kurang ajar Jovan, pertanyaan lain muncul.
"Jadi kali ini kamu mencoba meniru aku lagi? Bahkan warnanya pun sama." Jovan menggoyangkan kunci mobil di tangannya.
Anne merebut kunci mobil itu dengan kesal, lalu melirik Jefry yang tersenyum miring, dengan tatapan tajam yang saling adu antara ia dan Jovan.
"Entahlah, kurasa Tuhan memang suka melihat kita bersaing?"
Tunggu, apa maksudnya ini? Mengapa hanya Anne yang tidak paham situasi? Ia makin pusing saat melihat kedua lelaki itu saling bertukar senyuman sinis, jika digambarkan dalam dunia kartun, pasti ada listrik yang membentuk jalur permusuhan diantara kedua mata mereka. Sayangnya ini dunia nyata, di mana hanya ada jalur kasat mata yang memastikan jika keduanya tidaklah sedang bercanda.
Jovan lah yang terlebih dahulu memutus tatapan keduanya, beralih menatap Anne dengan mata melengkung membentuk garis senyuman, seraya menarik pinggang Anne untuk lebih merapat.
"Jadi, sayang, aku datang kemari sesuai keinginan kamu. Mau dilakukan sekarang?"
Mulut Anne mengangga, terkejut pada senyuman tengil dan ucapan ambigu yang baru saja Jovan ucapkan. Namun tidak hanya Anne, kini Jefry meremas kedua tangannya dengan rahang yang mengetat.
"Sayang?" Ulang Jefry.
Jovan tersenyum seraya mengangguk, "ah, sorry Jef. Kami mengumbar kemesraan di depan pengantin baru ya?" Kekeh Jovan. "Tapi, bukannya kamu nggak perlu iri ya? Kan ada istri di rumah?"
Double kill untuk Jefry, begitupun dengan Anne. Dia memilih memejamkan mata, merapalkan lagu-lagu penenang batin dan membayangkan bermacam jenis minuman dingin di otaknya, agar ia tidak perlu mengamuk pada Jovan yang kurang ajar. Namun, semuanya gagal, karena kini tangannya dengan sendirinya menonyor kepala Jovan dan menjauhkan diri.
"Baru makan apa sih lo? Ngelanturnya jauh amat?!" Kesal Anne.
Ia menatap Jovan dan Jefry bergantian, meraih kedua lengan lelaki itu dan menyertnya dengan sekuat tenaga.
"Pergi kalian semua! Jangan bikin aku beli bodrex ya!" Teriaknya sebelum menutup pintu dengan sekuat tenaga.
"Menggemaskan," gumam Jovan dengan senyuman lebarnya.
"Jadi, hubungan kalian cuma imajinasi lo aja, Jo?"
Senyuman Jovan sirna, kini ia kembali menatap Jefry dengan tajam. Sedari SMP hingga kini mereka beranjak dewasa, double J mematikan memang tidak pernah sirna. Jika dulu mereka sering bersaing dalam pelajaran dan ketenaran, kini mereka kembali bersaing karena wanita.
"Nggak usah banyak bacot deh lo! Istri udah dibuat mendesah belum?" Cibirnya dengan tawa puas.
Terlebih, kini wajah Jefry memerah, dengan gurat kekesalan di raut wajahnya. Melihat itu, Jovan menutup mulutnya dengan tatapan mengejek. Lalu melambaikan tangan dan melenggang pergi. Sekali lagi, ia bisa mengalahkan Jefry.
Tunggu.
"Kunci mobil gue!" Gumamnya dengan menutup wajah malu.
Sepertinya sangat tidak keren jika ia berbalik dan harus menggedor pintu rumah Anne untuk meminta kunci. Apalagi harus melewati Jefry terlebih dahulu. Sial. Tapi, naik taxi juga lebih memalukan bukan?
Baru saja ia memantapkan diri setelah memilih tindakan memalukan yang akan ia ambil, pundaknya merasakan hantaman kuat dari pundak Jefry yang melewatinya. Badannya terdorong mundur karena tindakan tiba-tiba itu, dengan tidak beretikanya, Jefry cuek saja dan masuk kedalam mobil mewahnya.
"Tck, tck, tck, kayaknya emang belum dengar desahan istri deh dia." Cibirnya dengan gelengan kepala.
Namun, tepat setelah mobil Jefry pergi, Jovan segera berlari dan mengetuk pintu rumah Anne secara berulang-ulang.
"Anne! Bukain!"
Jovan menempelkan telinganya pada daun pintu, samar-samar ia mendengar teriakan Anne dari dalam sana.
"Kalau Mama bukain pintunya, aku aduin ke Papa kalau Mama beli tas baru!"
"Jovan, maafkan mama ya ..."
Tunggu, kenapa ia jadi mendengarkan urusan rumah tangga?
"Aku pulangnya gimana Anne?" Lirihnya pada ketukan terakhir.
Sinting, ternyata seperti ini?
Definisi gagal keren.