ULAT DAN TONGKAT

1074 Kata
(FLASH BACK) Kuangkat bahu. ”Na, kamu baik-baik saja?” tanyaku. ”Ky, kamu bisa masuk kemari?” tanya Nana. ”Hah?” aku dan Ryan spontan mengeluarkan suara yang sama. ”Ada ulat menempel di handle pintu.” Ryan tertawa. ”Tetapi kamu sudah ganti baju, kan?” tanyaku. ”Sudah selesai.” Kutatap Ryan. ”Berdasarkan sorot matamu, menurutku kamu sudah punya solusi,” tebakku. Ryan tertawa. Ia menatap pintu kamar mandi. ”Kamu diam saja di situ. Jaga jarak dari pintu. Aku akan memberi kamu sebuah tongkat. Kamu bisa membuka pintu dari jarak jauh dengan tongkat itu.” Ryan melangkah ke samping deretan kamar mandi. Ia kembali dengan sebuah tongkat kecil. Ryan mengulurkan tongkat dari bagian atas pintu kamar mandi yang memang ada sedikit celah. Tidak lama kemudian, tongkat ditarik dari dalam. Ryan melangkah ke sampingku. Tidak lama, terdengar Nana menjerit pelan. Lalu terdengar selot kamar mandi terbuka dan detik berikutnya Nana menghambur keluar. ”Nanti, setelah main air, aku ganti baju di ruang yang sama dengan kamu, Ky.” Kami tertawa. ”Kalian duluan saja. Aku singkirkan dulu ulat itu,” kata Ryan. Kami mengangguk lalu melangkah menuju tempat kami istirahat tadi. Nana mengamankan bajunya dalam ranselku. Tas Nana mana muat. Kami melangkah mendekati Yudha dan Doni yang sudah perang air. Doni berhenti dari keasyikannya. Ia mengulurkan tangan untuk membantuku turun ke air. Kuterima uluran tangan Doni, sambil membantu Nana mengikutiku. Kucelupkan kaki ke air. Wihh, sejuknya. Karena aku pakai sandal gunung, aku tidak perlu melepasnya karena aku yakin dasar sungai ini berbatu. Bisa saja ada yang tajam. Nana mengikuti jejakku. Kami bergabung dengan kedua kawan, ikut menyemprotkan air kepada Raja Pohon dengan kedua tangan kami. Tawa ceria mewarnai hutan. Beberapa petani dan penebang kayu tertawa melihat kami. Ryan ikut bergabung. Makin serulah kami saling menyiramkan air. Saat sudah lelah, aku naik ke atas batu. Menggigil, sambil menikmati sinar matahari yang mulai menghangatkan tubuh pada area yang tidak ternaungi pucuk pinus itu. Kurengkuh lutut mengusir dingin. Kudongakkan wajah menatap awan yang bergerak pelan ke arah kiri kami. Hangat mentari menerpa wajahku. Setiap hari kena sinar matahari sih, tetapi entah mengapa ini terasa sangat istimewa. ”Dingin, Ky?” tanya Doni yang tiba-tiba sudah di sebelah kananku. ”Enggak,” jawabku sambil menunjukkan tanganku yang gemetar. Ujung jariku keriput. Doni tertawa. ”Kamu tidak menyesal kan ikut kemari?” tanya Ryan seraya duduk di sebelah kiriku. Nana masih menjerit-jerit karena Yudha berusaha menahannya masuk air lagi. Kami bertiga tertawa melihatnya. ”Ini, seru. Jauh di atas ekspektasiku. Terima kasih,” ucapku. Ryan dan Doni tertawa pelan. ”Kamu belum melihat lutung. Itu bakal lebih seru lagi,” ucap Ryan. ”Ke sana, yuk.” Berkata begitu, tangan Ryan sudah hendak mampir ke tanganku. Segera kuamankan dengan berdiri. ”Mungkin tidak hari ini. Kita harus segera pulang. Mama Nana mengharuskan jam satu dia sudah kembali.” ”Yeah, kita harus segera kembali. Mungkin sebaiknya Nana dibonceng Doni. Kamu aku bonceng. Tidak seru touring dalam grup, tetapi yang satu selalu melesat duluan.” Kami tertawa. Itu situasi saat berangkat tadi. Aku sudah terkantuk-kantuk di Coban Talun ketika mereka tiba sekitar setengah jam kemudian. Doni tidak protes dengan aturan sepihak dari Ryan. Hanya sekilas kudapati matanya menatapku sayu. ”Na, udahan yuk,” panggilku. Nana menatapku sambil tersenyum. Detik berikutnya ia terbenam dalam air karena ulah Yudha. Kami kembali ke camping ground dan segera berganti pakaian. Setelah itu duduk bersama dan semua membuka bekal. Ryan dan Doni, mengeluarkan nasi bungkus. Menu utamanya nasi, sepertinya satu bakul penuh. Lauknya telur mata sapi, kecap, dan saus sambal. Praktis, meskipun bergizi minim dan kurang serat. Yudha memuaskan diri dengan roti coklat keju super besar dan minuman sari buah ukuran 1 liter. Nana -yang katanya sedang diet ketat- hanya mengeluarkan sebutir permen karet bebas gula. Aku? Kukeluarkan kotak makan siangku. Tumpuk empat. Bagian bawah nasi. Di atasnya ada tumis sayuran. Di atasnya lagi ada ayam tanpa tulang dan kentang goreng. Bagian teratas berisi anggur dan beberapa butir truffle. Semua buatan rumah. Itupun masih didampingi sebotol s**u. Tak lupa aku membawa kerupuk dan sebungkus keripik ubi ungu ukuran sekilo. Teman-temanku tertawa. “Apa salahnya?” tanyaku. “Persis sama adikku yang masih TK,” kata Doni. Yang lain langsung ngakak. Aku cuek saja. “Yang penting ‘kan gizinya. Ayo, Na. Sudahlah. Lupakan sejenak dietmu. Kita perlu kenyang untuk bisa pulang,” kataku sambil menyodorkan kotak makanku pada Nana. Aku tidak tega melihat tatapan matanya yang nampak memelas melihat begitu lahapnya Ryan dan Doni makan. Aku tahu dia sebenarnya lapar sekali. Perjalanan kami tadi jauh, ditambah dengan main air dingin. Laparnya pasti. Dengan enggan, Nana menerima salah satu bagian kotakku. Aku sudah mengisinya dengan nasi, sayur, ayam, dan kentang goreng. Setelah tiba di pangkuannya, Nana langsung makan dengan lahap. Teman-teman yang lain ikut menyerbu koleksiku. “Alah, ternyata pada mau,” kataku. Mereka cengengesan. Jadilah kami berbagi. Tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi cerita seru tentang perjalanan kami barusan. Berlima saja bisa begitu ramai. Senangnya. Aku merasa tak lagi berjarak dengan para borju. Mereka ternyata tidak sehoror yang kupikirkan. Banyak sih yang seram, tetapi ternyata masih ada yang baik. Pak Penjaga Pos sampai tersenyum-senyum melihat keramaian kami. Mungkin sebenarnya beliau terganggu. Tetapi bagaimana akan menegur kalau dua dari kami adalah orang yang sangat perhatian dengan beliau? Tiba di parkiran, Nana terlihat jelas tidak bersedia dibonceng oleh Doni. Bagaimanapun, dalam situasi kami, Nana tetaplah salah satu pengagum Ryan yang seharusnya memiliki kesempatan besar bersama sosok yang diharapkan. Betul? ”Udah, Don. Kamu atau aku yang nyetir?” tanyaku. Doni segera duduk di depan. Aku tertawa. Doni meletakkan ransel super besarnya di celah antara setir dengan jok sebagaimana dilakukannya saat tadi berangkat. Kulempar kunci motorku pada Ryan. Ia menghela nafas, lalu duduk tanpa memindahkan ransel dari punggungnya. ”Ya ampun, Ryan. Nana mana dapat tempat duduk. Sini. Tukar ransel,” kataku. Aku hampir jatuh saat memakai ransel Ryan. Berat, Saudara. Mereka tertawa. Akhirnya, Yudha membantu membawakan ransel itu, sementara aku membawa ransel Yudha. Sepertinya rempong banget hanya agar Tuan Putri dapat duduk nyaman di belakang sang Pujaan hati. Sesekali terlihat Nana dengan sengaja berusaha pegangan pada pinggang Ryan. Aihh. Romantisnya. Tinggal aku, Doni, dan Yudha yang sesekali saling bercanda melihat pasangan di depan kami. Kami mengantar Nana sampai di rumah dengan selamat. Mamanya yang sudah menunggu di beranda urung marah demi melihat dengan siapa Nana datang. Rupanya, tidak hanya menjadi idola para remaja. Dia juga merupakan calon menantu idaman. Hmm.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN