BERBAGI

1268 Kata
(FLASH BACK) Kegiatan saling berbagi itu terus berlanjut selama kami mengerjakan herbarium. Terutama, berbagi tugas karena waktu penyelesaian hanya satu bulan. Jadwal pertemuan yang seminggu tiga kali, awalnya bisa didatangi dengan sukses oleh semua anggota. Tetapi menjelang hari pengumpulan, tinggal aku dan Ryan yang bisa datang. Aku beruntung karena di hari penting begitu, ayah sedang ada acara. Maka aku bisa dengan bebas membawa motor sampai selesai. “Ya sudah. Kita kerjakan yang bisa kita lakukan saja. Tidak usah [1]ngoyo-ngoyo.” Meski sudah janji tidak ngoyo, kami ternyata berusaha keras menyelesaikan display pakis terbaik. Lagipula kalau tidak diselesaikan saat itu, tidak ada waktu lagi. Mengingat deadline, aku dan Ryan menjadi sangat bersemangat. Kami baru berhenti setelah jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kurang lega sebenarnya. Masih kurang di sana-sini. Maklum, pekerjaan yang semestinya dikerjakan berlima, sekarang cuma berdua. Meskipun kami ingin memberi yang terbaik, tetapi sudah malam. Kami tetap harus pulang. Kurapikan barang-barang kelompok kami dan kumasukkan loker. Ryan mengemasi sampah. Setelah membuangnya, ia menyapa kelompok sebelah. Mengingatkan mereka untuk pulang. Tepat jam 7 teman-teman yang lain langsung kabur. Sungguh tidak bertanggung jawab. Sangat berbeda dengan teman aktifisku ini. Aku tidak biasa pulang malam dari sekolah. Aku jadi panik mendapati teras Lab Biologi tempat kami bekerja sudah gelap. Sst, aku memang tukang ngebut. Tetapi aku juga manusia. Aku punya kelemahan. Kelemahanku adalah aku tidak nyaman berada di tempat gelap. Aku belum pernah keluar malam naik motor sendirian. Tragis ya? Maklumilah. Aku ini anak Babe. Kalau beliau bilang aku tidak boleh keluar malam, ya aku akan di rumah saja. Jika sejak aku kecil beliau mengatakan di tempat gelap banyak memedi[2], mungkin sampai mati kupercaya. Jika beliau menyuruhku jebur ke sumur, aku akan kabur. J Sedikit panik dan tengkuk tebal, kupegang erat tali tasku. Rasanya begitu gelisah menunggu Ryan mengunci pintu laboratorium yang berlapis-lapis itu. Usai mengunci pintu, Ryan berbalik dan memeriksa tasnya. Saat itulah Ryan menatapku. Ketika pandangan kami bertemu, aku sadar sekali dia tahu bahwa temannya ini takut. Tatapan Ryan berubah teduh, dilengkapi dengan senyum lembut. “Takut, ya?” tanyanya. “Enggak. Tapi mungkin kalau sendirian yahh ….“ Spontan mataku menatap sekeliling. Aku waspada akan kemunculan ’sesuatu’. Tetapi mungkin saat benar-benar melihatnya, aku akan kabur. Kalau bisa. Ryan menarik tanganku. Digenggamnya erat. Tangan Ryan hangat. “Kamu bersamaku. Don’t worry. Selama ini, aku tidak pernah mengalami hal-hal aneh meski menginap di sekolah.” Kutarik tanganku. “Percaya. Mungkin hantunya takut sama kamu. Kamu ’kan pemilik sekolah ini.” “Dassar.” Kami tertawa. “Nanti kawal aku pulang, ya,” ucapku. “Kamu takut pulang sendiri?” Ryan menatapku. Pandangannya seolah mengatakan itu hal paling aneh yang pernah didengarnya. Kupalingkan muka. Sekali lagi, aku juga manusia. Aku punya kelemahan. “Tetapi masalahnya, aku naik angkutan. Jadi bagaimana mengawal kamu?” Aku baru ingat kalau Ryan bukan biker. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, kami putuskan Ryan mengantarku. Nantinya dia akan diantar pulang oleh ayah atau kakakku. “Oke. Tapi aku yang nyetir. Aku tidak bisa membayangkan dibonceng sama cewek yang suka ngebut sepertimu,” kata Ryan. Aku senyum kecut. Tukang ngebut. Tapi sama gelap takut. Sungguh, bukan karena aku pengecut. “Mestinya kamu jadi pembalap, Ky. Sayang di sekolah kita tidak ada ekstra balap motor atau mobil. Kalau ada, aku akan berjuang agar kamu bisa ikut. Bakatmu sangat sayang kalau tidak dimaksimalkan,” gumamnya. Aku senyum. Bukan tidak pernah dimaksimalkan. Aku terbiasa kok membonceng ibuku dalam perjalanan kami menuju rumah nenek di Jogja. Dengan gayaku, 8 jam cukup. Bahkan jika tidak ingat ada ibu di boncengan, aku mampu menyelesaikannya dalam 6 jam saja. Saat ini, aku juga sedang berlatih mengemudi kepada omku. Kala libur sekolah, beliau membiarkan aku magang menjadi supir angkot beliau. Sejauh ini tidak ada masalah. Jadi, bagaimana bisa bakatku dikatakan tidak dimaksimalkan? Ryan tidak tahu saja. Sambil melangkah, aku menoleh ke kanan dan kiri. Suasana gelap. Sunyi. Hanya ada suara-suara pelan dari beberapa teman yang telah bergerombol di halaman depan. Lampu-lampu koridor menyala. Tetapi tidak cukup bisa membuat sekolah nampak hidup seperti biasa. Sekolahku ternyata seram juga. Ryan terus mengajakku mengobrol. Apa saja. Mulai hobi sampai ukuran sepatu. Jauh di lubuk hati, aku bertanya-tanya. Inikah yang membuat gadis-gadis itu begitu lengket dengan Ryan. Ia nyambung diajak ngomongin apa saja dan dia bisa menghadirkan topik apa saja. Hal inikah yang begitu menarik pada Ryan, sehingga mereka rela berebut perhatiannya. Apakah Ryan juga dengan gampangnya memegang tangan mereka? Seperti tadi dengan mudahnya dia memegang tanganku. Jika aku tidak segera menarik tangan, apakah dia akan berani berbuat lebih jauh? Apa dia memang separah itu? Dia kan banyak penggemar. Nampaknya mereka juga welcome saja dengan perlakuan cowok. Apakah dengan mudah Ryan jadian? Atau malah jadian dengan beberapa gadis sekaligus tanpa diketahui masyarakat sekolah? Entahlah. Kugelengkan kepala. Pemikiran-pemikiran tidak penting. Memangnya apa urusanku dengan Ryan. Dia bukan siapa-siapaku. Aku bukan siapa-siapanya. Aku tidak terkagum-kagum padanya. Kami pamit pada satpam yang menunggu dengan setia. Konon Pak Satpam yang satu ini sudah dapat order khusus dari guru Biologi. Anak-anak akan lembur mengerjakan tugas di lab Biologi. Makanya beliau menunggu. Beliau baru akan beristirahat di rumah dinas ketika kami menandatangani absensi pulang. Absensi pulang ini menjadi satu dengan absensi datang. Jadi pak satpam tahu siapa saja yang sudah pulang, siapa yang belum. Beliau bahkan menambahkan kolom jam datang dan jam pulang. Tertib sekali. Menyusuri jalan dengan dibonceng Ryan. Capek deh. Meski tidak lambat-lambat amat, tetapi juga tidak lebih dari 40 km perjam. Sungguh aku tidak sabar. Beberapa kesempatan nyelip dan nyalip dia lewatkan begitu saja. Kalau aku, ada celah segitu pasti sudah kuhajar. Ada rentang kosong segitu, aku gas kuat-kuat. Jarak yang biasa kutempuh dalam seperempat jam, menjadi tiga puluh menit karena Ryan. Mendekati rumahku, akhirnya Ryan paham mengapa aku takut. Kami melewati jalan aspal yang membelah sebuah pemakaman. Ruas ini cukup panjang, sepi, dan gelap. Kutundukkan kepala agar tidak melihat apapun di sekitarku. ”Ini yang membuatmu takut pulang malam?” tanya Ryan. ”Sekarang kamu paham. Tidak ada jalan lain ke rumahku.” ”Iya. Aku paham. Tenang. Ini akan jadi rahasia kita. Kalau kamu takut, pegangan saja ke pinggangku. Aku tidak keberatan.” Aku tidak merespon anjuran itu. Ryan paham. Ia mengajak ngobrol tentang pabrik cemilan yang menurutku layak direkomendasikan. Sampai rumah orang tuaku, keadaan sepi dan pintu terkunci. Pada kemana? Setelah bertanya kepada tetangga, aku mendapat kunci rumah. Aku baru ingat kalau malam ini ada pertemuan keluarga di rumah Om Wawan. Orangtuaku dan saudara tentu di sana semua. Mereka dilibatkan dalam persiapan pernikahan putri Om Wawan. Sepertinya aku harus menikmati kesendirian. Rapat semacam itu pasti lama. “Kalau begitu motornya kamu bawa saja. Besok berangkat sekolah kamu jemput aku. Nih, STNK,” kataku. “Kamu yakin?” “Iya. Aku tidak kemana-mana. Paling setelah ini aku langsung tidur.” “Kamu tidak menyusul ke sana saja? Kuantar.” “Beliau-beliau pasti lama ngobrolnya. Apa perlunya aku datang di rapat seperti itu,” kataku. Ryan angkat bahu. “Jangan khawatir. Lagipula, aku nggak enak sama tetangga kalau kamu kelamaan di sini. Udah malam.” Ryan mengangkat bahu sambil tersenyum. Di satu sisi, jelas dia khawatir meninggalkan aku sendirian, sekalipun di rumah orangtuaku sendiri. Tetapi membawaku juga jelas bukan pilihan. Apalagi menemaniku sampai orang tuaku pulang. Itu pelanggaran berat. Kalau tertangkap, bisa menjadi artis dadakan di lingkunganku nanti. Ratingnya akan sangat tinggi. Peminatnya akan sangat banyak. Dan topik ini akan bertahan sangat lama. Artis dadakan dalam berita miring pula. Tidak usahlah. Lebih baik dia pulang. Aku akan aman dan baik-baik saja karena aku pasti akan langsung mengunci pintu kemudian tidur. Tidak ada yang perlu mengkhawatirkanku. Terlebih seorang Ryan. Memangnya siapa dia? [1] Bekerja keras [2] Jawa: makhluk halus, hantu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN