Besoknya, jam 6 pagi Ryan sudah mengetuk pintu rumahku. Ia nampak segar bugar dan sudah sangat tidak sabar kembali ke sekolah. Aku sampai heran. Kemarin pulang telat lho. Sekarang sudah semangat begini. Sementara aku belum mandi.
“Pagi sekali. Kita masuk jam 7. Perjalanan ke sana paling cuma 15 menit.”
“Sorry, Ky. Kebiasaaan sih.”
Aku tertawa. Dasar juru kunci sekolah. Ia tetap menggunakan standar waktu angkot. Padahal ia kan bawa motor.
“Sebentar, ya. Aku mandi dulu. Sudah sarapan?” tanyaku sambil menyerahkan piring kecil berisi pisang goreng dan segelas teh hangat. Ryan tersenyum. Ayah keluar menemani Ryan menungguku. Biasa tuh, ayahku. Bawaannya khawatir kalau anak perempuannya didatangi cowok. Padahal aku sudah ceritakan detil keadaan kemarin malam. Juga alasan mengapa kami memilih motor dibawa Ryan. Menurutku, seharusnya pagi ini ayah tidak perlu over reacted ketika Ryan menjemputku. Ternyata, tetap ada beberapa hal belum bisa kupahami tentang orangtua.
Kembali kami berboncengan. Kali ini aku yang nyetir. Beberapa kali Ryan sampai perlu menyebut-nyebut nama Tuhan ketika aku nyelip dan nyalip. Bahkan ia terdengar hampir menjerit ketika aku harus rem mendadak karena lampu lalu lintas tiba-tiba merah. Yang paling membuatku tertawa, nafasnya ngos-ngosan ketika ia turun dari motor. Wajahnya memerah. Beberapa titik keringat muncul di dahinya.
”Kamu baik-baik saja?” tanyaku.
Ia memasang senyum.
”Aku masih hidup. Terima kasih, ya Allah,” jawabnya, ”edan. Pantesan Nana menolak kamu bonceng. Nyetir itu yang hati-hati. Gaya nyetirmu mungkin tidak akan diterima oleh semua orang. Bisa-bisa malah membayakan orang lain,” ucapnya.
Aku angkat bahu.
”Semua sudah terprogram. Kakiku sudah tahu kapan harus injak rem. Kamu pikir aku tidak perhitungan dengan kendaraan lain di sekitarku? Tentu itu jadi pertimbangan setiap kali mengambil aksi. Lagipula, kemarin ada yang mau merekomendasikan aku ikut ekskul balapan lho.”
Ryan manggut-manggut. Mungkin ia tidak akan pernah paham. Tetapi aku tahu apa yang kulakukan.
Pagi yang baru bagiku. Rasanya masih terlalu pagi tiba di sekolah. Semua asing sekali. Sepi seperti kemarin malam. Hanya minus gelapnya.
“Tiap hari kamu sampai dalam keadaan masih sepi begini, Yan?” tanyaku.
“Lebih sering begitu. Aku berangkat pagi karena angkutan kota kita tidak menentu. Kadang sepi, kadang ramai. Jadi harus mengalokasikan waktu tambahan. Kalau pas kurang penumpang, aku sampai di sini masih sepi. Kalau lagi ramai, aku sampai mendekati bel masuk. Tapi asyik, lho, datang pagi-pagi. Udara masih segar. Suasana sunyi. Bisa belajar dengan tenang.”
Aku manggut-manggut. Memang dia benar. Benar-benar benar.
Aku memandangi pohon Flamboyan di luar kelas. Daun hijaunya nampak hampir tak bersisa. Berganti warna jingga tanda tengah lebat berbunga. Sinar mentari nampak malu-malu menembus sela-sela rimbun bunganya. Bias sinar itu nampak begitu memesona. Indah. Bagaikan cahaya Tuhan tengah membangunkanku dari ketidak pedulianku selama ini atas keindahan ciptaan-Nya. Rasanya aneh karena baru sekali ini aku menikmati keindahan ini.
Biasanya serba keburu-buru sih. Mana sempat tengok kiri kanan. Ternyata aku telah melewatkan begitu banyak keindahan dunia. Tuhan, maafkan aku yang suka terburu-buru sehingga tidak menyadari keindahan ciptaan-Mu ini.
“Ky, terima kasih. Beberapa waktu ini sangat menyenangkan bersama kamu.” Nada suara Ryan terdengar asing di telingaku. Mana pernah dia bicara dengan nada seserius itu padaku. Dalam konteks kebersamaan pula.
Aku hanya menatapnya. Jangan sampai aku tergoda rayuan maut si cowok populer ini.
Ryan duduk di kursi seberangku. Nampak tidak sabar melihat reaksiku. Ia menarik tanganku seperti kemarin malam. Kali ini kedua tanganku digenggamnya.
“Aku sangat menikmati waktuku bersamamu. Maukah kamu bila kebersamaan itu berlanjut? Jadilah pengisi hatiku,” ucapnya.
Aku bagai disambar petir. Dalam waktu yang bersamaan, aku bagai disiram segalon air es. Panas dingin. Tetapi justru membuat keramik asli Malang ini retak.
Cowok populer ini menembakku. Si Idaman Gadis Semua Angkatan ini mengajakku jadian. Alamak. Apa kata dunia? Dan apa kata hatiku? Bukannya aku selama ini meyakini bahwa Ryan seorang play boy? Play boy adalah salah satu sifat yang menurut teoriku tidak bisa disembuhkan. Jadi ... apakah ini satu paket dengan rayuan mautnya? Apa sih yang dia kejar dengan mengatakan hal ini padaku. Tidakkah lebih mudah mengatakan itu kepada gadis-gadis populer yang selalu mengejarnya itu. Tentu salah satu atau bahkan beberapa dari mereka akan menyambut gembira ajakan Ryan. Aku mulai berpikir salah dengar.
Ryan terus menatapku dengan penuh pengharapan, sekaligus tidak sabar. Saat kutarik tanganku, Ryan berusaha mempertahankannya. Sepertinya ini bukti nyata bahwa aku tidak salah dengar.
“Well, thanks. Itu kuanggap pujian,” kataku.
Ryan bengong.
Kesempatan untuk menarik tanganku.
Aku melangkah menuju bangkuku. Apa maksud cowok satu itu? Apa dikiranya aku sama seperti cewek-cewek lain yang naksir dia. Hmm, nggak deh. Dari dulu aku curiga dia play boy. Sampai hari ini aku belum mendapatkan bukti otentik apapun yang menyatakan dia bukan play boy. Nggak asyik.
”Hari ini aku duduk di sini, ya,” kata Doni seraya meletakkan sebuah kotak berisi getuk yang masih hangat.
”Memang kenapa tempat dudukmu?” tanyaku. Biasanya aku duduk sendirian.
”Kita baru bisa berteman. Apa salahnya?” tanya Doni.
”Sebahagiamu lah.”
Doni tertawa sambil menawarkan getuknya. Kuambil satu potong. Ia beredar menawarkan kepada seisi kelas. Sepasang mata kudapati menatapku tajam.
Sepanjang pelajaran, aku berusaha bersikap biasa saja. Walau jauh di lubuk hati aku merasa retak karena perubahan sikap yang tiba-tiba diantara kedua temanku ini.
Sebagai gadis yang dikaruniai tubuh besar, aku kenyang dengan panggilan ”Ndut” dan segala ejekan. Semua kuterima dengan biasa saja. Aku memang gendut. Mereka tidak salah sebut.
Saat kelas 2 SMP, aku dicomblangi oleh teman-teman dengan seorang cowok, teman lain kelas. Mereka berkata, cowok itu baik. Semangat sekali mereka menyuruhku mendekati cowok itu. Mereka mengatakan cowok itu sebenarnya naksir aku. Aku yang masih belum mengerti apa-apa, percaya saja dengan perkataan mereka.
Pada suatu istirahat, mereka mempertemukan kami di halaman belakang sekolah. Cowok itu nampak asing dengan kedatanganku. Sejenak kami mengobrol berbasa-basi. Sebelumnya, memang aku sering bertemu dengannya. Tetapi sungguh aku tidak menyimpan perasaan apa-apa. Diapun nampaknya sama sekali tidak mengenalku dan berniat baik padaku. Bahkan, kemudian dengan nada dingin dia berkata:
”Cowok manapun tidak akan senang dengan gadis bertubuh tambur. Kamu pikir dirimu itu menarik? Mimpi!” Ia menyerahkan selembar kertas merah muda padaku. Selanjutnya, ia langsung melangkah pergi.
Aku menunduk membaca isi kertas itu. Sama sekali bukan tulisanku. Isinya langsung membuatku menitikkan air mata. Rupanya teman-teman mengerjaiku. Mereka menulis surat pada cowok itu dengan isi bahwa aku naksir dia. Aku mengajaknya bertemu di halaman belakang.
Aku langsung pulang dan menangis sampai jauh malam. Bodohnya aku percaya begitu saja. Begitu GR-nya aku. Ingin aku marah dan bertekad akan menghajar mereka satu per satu esok hari. Bayangan saat memarahi teman-teman dan mereka menunduk ketakutan membuatku merasa lebih baik. Akhirnya aku bisa tidur.
Paginya, aku bangun dan menemukan semangat baru. Aku tidak perlu marah dan dendam pada teman-temanku. Aku akan menghadapi ini dengan dewasa.
Aku datang ke sekolah dan bersikap seperti biasa. Aku tetap ramah dan tersenyum pada mereka. Lucunya, melihatku tetap ramah, mereka malah terlihat merasa bersalah. Mereka salah tingkah setiap kali bertemu denganku. Aku tidak ambil pusing. Aku kalah kemarin. Tetapi aku menang hari ini. Itu sudah cukup.
Pada cowok yang telah berkata begitu menyakitkan, aku tetap menyapa dan memberinya senyum. Tidak boleh ada dendam. Aku bahkan bertekad akan menjadi manusia yang lebih baik. Meski tubuhku mungkin tidak akan bisa kubuat seperti para model, tetapi aku bisa membuat diriku menjadi sosok yang menarik.
Aku bisa berkata aku berhasil melakukan perubahan penampilan. Kupotong rambutku. Kujaga baik-baik kebersihan dan kerapianku. Sebisa mungkin aku tidak mengecewakan secara akademik. Aku banyak membaca. Aku ramah pada semua orang. Aku ringan tangan membantu orang lain, asal dalam koridor yang baik.
Meskipun demikian, secara alami aku mengambil jarak dengan kaum adam. Aku membuat batasan yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Walau aku punya banyak teman akrab laki-laki, tetapi aku tetap jaga agar tidak memasuki ranah cinta. Persahabatan adalah yang terbaik. Aman bagi diriku maupun hatiku. Dalam kasusku dengan Ryan saat ini, aku mungkin trauma.
Tidak dapat kumengerti. Retak akibat perkataan dan perlakuan Ryan membuatku tidak bersemangat lagi mengerjakan tugas kelompok. Syukurnya, hanya tinggal finishing touch. Jadi, sikapku yang ogah-ogahan seharusnya tidak terlalu menghambat.
Benarkah?