“Kamu kok jadi ogah-ogahan begini sih, Ky. Jangan balas dendam sama kami setelah kemaren terpaksa kerja berdua saja, ya! Ayo dong. Semangat lagi!” kata Nana.
Aku angkat bahu. Ryan mengangkat pigura ukuran foto 30R. Kami diharuskan memilih salah satu hasil pencarian kami yang paling unik atau langka kemudian ditempatkan dalam pigura. Nantinya, herbarium berpigura ini akan menjadi hiasan dinding ruang Laboratorium Biologi. Sementara koleksi yang lain akan disimpan di lemari khusus atau disebar di ruang-ruang kelas IPA.
“Kiky masih capek ‘kali, Na. Biar dia istirahat saja. Pekerjaan akan selesai juga nantinya,” ucap Ryan. Tatapannya sejuk mengarah padaku, tetapi bagai palu yang memperparah retaknya aku.
Aku angkat bahu.
Nana menatapku dan Ryan dengan pandangan yang asing. Naluriku mengatakan, Nana sudah mendeteksi ’sesuatu’ telah terjadi diantara aku dan Ryan. Oh no. Oh no. Alarm tanda bahaya meraung-raung.
”Maaf, ya. Kemarin aku tidak bisa datang.” Doni berusaha menetralkan suasana dengan menjabat tanganku, mengajak berdamai. Ia bahkan menyerahkan sebatang cokelat untukku.
Aku senyum. Tetapi sungguh, keadaan ini membuatku makin merasa tidak nyaman. Aku harus tinggalkan tempat ini. Harus. Atau aku malah jadi tidak bisa mengerjakan apa-apa. Aku akan pecah.
“Udahlah. It’s oke. Sekarang, boleh aku pulang duluan? Pusing,” ucapku sambil memainkan cokelat pemberian Doni.
Mereka saling berpandangan, tetapi tidak menahanku.
Aku melangkah ke parkiran. Berjuta hal berkecamuk di kepalaku. Berjuta tanya menggelayut. Otakku terasa berdenyut memaksa dirinya menerima kenyataan. Ini sungguh tidak mudah dicerna. Ini tidak bisa diterima akalku. Aku khawatir ditolak bahkan sebelum aku mengatakan apa-apa seperti dulu, tetapi kan di sini dia yang mengatakannya. Aku ingin menolak, sekaligus baru kusadari aku menyukainya. Aku retak, tetapi rela. Aku takut, tetapi aku penasaran. Tuhan, hanya Kau yang tahu bagaimana berat hal ini bagiku. Salahkah aku?
Lunglai aku mencapai motor. Aku langsung duduk dan memasukkan kontak. Ketika kustarter motor, tiba-tiba ada yang mencabut kunci. Langsung kutatap wajah si pencuri. Ryan.
“Kalau ini semua karena perkataanku tadi, please, jangan diambil hati. Meski aku serius, tapi tidak adil kalau mereka kena imbasnya. Kalau kamu tidak suka padaku, yaa ... kumohon beri aku waktu. Itu saja. Kamu tidak harus mau jadi pacarku kok. Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kukatakan saat ini.”
Aku tidak memindahkan pandangan dari speedometer.
”Aku merasa kamu salah mengerti tentang aku. Tolong beri aku waktu membuktikan bahwa diriku layak untuk kamu. Kalau kamu belum siap, ya, lain waktu saja kita bicarakan lagi. Sebenarnya, aku naksir kamu sejak dulu. Tetapi, sosokmu begitu misterius. Seakan tidak terjangkau. Tapi justru itu yang membuatmu semakin menarik.”
Ryan menarik nafas panjang.
”Aku selama ini tidak cari pacar, karena aku menunggu kamu memberikan sinyal baik. Maaf, baru sekarang aku berani nembak kamu. Sungguh, ternyata kamu bukan gunung es seperti yang kubayangkan. Tetapi tetap saja aku tidak mau memaksamu. Tenang. Sekarang, kita kembali, yuk. Kita kerja kelompok lagi.”
Ryan mengulurkan tangan.
“Sungguh. Bukan urusan itu. Aku perlu pulang. Kepalaku benar-benar pusing.”
Ryan menatapku cukup lama.
“Aku serius,” tegasku.
Ryan angkat bahu. Ia mengambil posisi di depanku. Memaksa mengantarku pulang. Tentunya tetap dengan gaya nyetirnya yang slowly and unsure itu. Capek deh.
Saat hampir meninggalkan parkiran motor, mataku menangkap sosok Doni yang terpaku di samping gedung terdekat. Posisinya itu. Jarak yang cukup untuk bisa mendengarkan pembicaraanku dengan Ryan.
Sepanjang jalan, tidak ada obrolan diantara kami. Pandanganku tentang Ryan memang mulai berubah karena interaksi kami. Aku juga tidak bisa mengatakan Ryan playboy, karena ternyata dia tidak pernah punya pacar. Saat kerja kelompok, berkali-kali Doni dan Yudha menggodanya atas pilihan Ryan menjomblo. Tetapi ... mengapa aku retak?
Tiba di kamarku, aku lunglai. Sekujur tubuhku rasanya lelah sekali. Bateraiku seolah tersedot habis. Aku tidak bisa memahami mengapa tiba-tiba kehilangan daya begini. Kejujurannya bahwa Ryan telah lama naksir aku dan bisa kupastikan kalau tidak salah dengar jika Ryan nembak. Sepertinya ini peristiwa dashyat yang memporak-porandakan segala idealismeku tentang kekasih. Meruntuhkan benteng yang selama ini kubangun agar tidak terlibat dengan urusan seperti ini.
Aku mau fokus sekolah. Aku tidak mau disakiti lagi. Aku tidak mau sakit hati lagi. Aku tidak mau merasakan perasaan tidak nyaman yang entah bagaimana caranya, rasanya pernah kualami. Entahlah. Apakah ini tanda bahwa reinkarnasi itu ada? Ataukah ini petunjuk yang diberikan Tuhan padaku? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak memahami perasaanku. Benar-benar asing. Benar-benar baru. Sementara, aku ingin merasakan indahnya cinta. Apa arti semua ini? Memusingkan.
Kuambil nafas dalam-dalam. Kurangkai kembali peristiwa penembakan Ryan padaku. Lalu bagaimana retaknya aku. Kemudian ... kutengok kembali hidupku.
Keluargaku bukan broken home. Aku bangga bahwa kami hidup apa adanya. Contohnya seperti, motor yang kupakai sekolah itu akan menemani ayah mengojek dari siang hari sampai menjelang pagi. Ketika kubawa ke sekolah, ayahku istirahat di rumah. Ayah dan ibuku juga jarang terlihat berselisih paham. Kalaupun sesekali beradu argumen, ya, tidak pernah sampai ada piring terbang deh. Jadi, secara nyata, aku tidak punya contoh buruk dalam hubungan antara pria dengan wanita.
Tetapi setelah kejadian jaman SMP, jauh dalam pikiranku tumbuh pendapat bahwa cinta pastilah sesuatu yang akan menyakitkanku. Sesuatu yang harus kujauhi. Sesuatu yang tidak boleh kuharapkan. Jika Ryan berkata dia naksir aku sudah lama, tidakkah itu hanya kebohongannya semata. Ataukah Ryan tengah berada dalam suatu permainan? Yang dijadikan target permainan adalah aku, si gadis biasa bertubuh subur yang tidak pernah pacaran? Nanti ketika permainan itu usai, dia akan sudahi begitu saja. Toh, dia masih bisa memilih banyak gadis populer. Sementara aku pecah dengan kehancuranku. Berkeping-keping. Itukah kepuasan Ryan? Ataukah Ryan memang benar-benar menyukaiku? Apakah dia jenis cowok tidak biasa yang justru menyukai gadis bertubuh subur? Apakah alasannya? Apa yang dia inginkan dariku? Mengapa aku? Tidak gadis subur yang lain?
Memikirkan misteri cinta, membuat kepalaku berat. Otakku bekerja berlebihan dan badanku ikut mengalami kenaikan temperatur. Tanpa dapat kucegah, aku hanya bisa berbaring sambil menempelkan saputangan basah ke jidatku sendiri. Mendinginkan kepalaku, meski yakin tidak bisa mendinginkan hati dan pikiranku. Jika ini yang disebut cinta, maka ijinkanlah aku mengatakan bahwa cinta begitu menyiksa.
Dua hari aku tidak masuk sekolah. Motor diserahkan ayah pada Ryan. Ayah menginginkan aku tetap up to date dengan pelajaran sekolah selagi beliau sendiri masih sibuk dengan urusan hajatan.
Dengan senang hati Ryan menyambut tugas itu. Pulang sekolah, Ryan mengantar fotocopian catatan atau tugas dari guru. Esok paginya, dia ambil tugas agar aku tetap bisa mengumpulkan. Anak baik, mungkin. Calon menantu yang baik, entahlah. Toh, aku memilih tidak merespon permintaannya. Jadi dia membantuku atau tidak, bagiku tidak ada pengaruhnya. Tugasku dua hari itu hanyalah menenangkan diri. Kemudian sembuh.
Pagi itu, Ryan menjemputku jam enam lagi. Kali ini aku sudah mandi dan siap berangkat. Kami janjian memberi sentuhan terakhir pada tugas herbarium yang harus dikumpulkan hari ini. Makanya kami datang ke sekolah lebih awal.
“Aku optimis kita mendapat nilai bagus,” kata Ryan.
“Kenapa begitu yakin? Apa kamu sudah melihat hasil kerja kelompok yang lain?”
“Ya. Boleh ‘kan membandingkan. Mereka juga sering melihat kita mengerjakan. Aku yakin tidak ada yang punya ide tampilan seperti yang kamu buat. Ternyata kamu juga berbakat menjadi desainer, ya.”
“Bikin gitu saja pakai desain? Bercanda kamu,” kataku.
Ryan tertawa.
“Sudah baikan, nih? Jangan ngambeg lagi ya!”
“Siapa yang ngambeg, Ryan. Aku benar-benar sakit.”
“Kamu bercanda kan?” ucapnya sambil tertawa.
Kupukul helm yang dipakainya dengan tas.
“Wuah, kupingku pusing!” ucapnya.
Aku tertawa. Diapun tertawa. Saat itu baru aku merasa tidak berbatas dengan Ryan. Pandangan negatifku tentangnya lenyap. Cara nyetir ala siput itu mulai bisa kunikmati.
Pagi itu juga aku tahu bahwa ternyata Ryan bukan cowok pemilih gadis yang diakrabi. Aku paham dia menemani gadis-gadis populer itu untuk kesopanan. Toh, ia juga menemani kelompok-kelompok yang lain. Aku saja yang terlalu negatif menilai Ryan. Ryan merasa dirinya milik semua teman. Mungkin itu alasannya dia memilih tidak punya pacar. Aku menata degup jantung. Entah kenapa, mendapat informasi seperti itu membuat jantungku tidak terkendali.
Sampai sekolah, tawa kami masih tersisa.
“Gosip baru. Gossssip barrrrru!” teriak beberapa teman sekelas yang juga sedang ngebut mengerjakan tugas. Kami senyum-senyum saja.
Aku bernafas lega ketika pigura dan buku tebal itu kami serahkan kepada guru. Beliau langsung memuji kreativitas kami. Kami mendapat nilai A+ untuk tugas itu.
“Nanti pulang sekolah kita rayakan, yuk. Kutraktir makan pizza,” kata Yudha. Kami senang dong. Jaman itu, pizza bagi kami masih barang aneh. Terlebih untuk anak dengan orang tua apa adanya sepertiku.