GARIS GANDA

1191 Kata
Suasana sore yang tidak biasa. Aku tengah berjalan pada sejalur makadam panjang yang seolah tanpa ujung. Di kanan kiri ada perdu yang rapat dan pepohonan tinggi. Suasana muram. Sejauh mata memandang, hanya warna kelabu dengan berbagai gradasi yang kudapatkan. Tidak ada angin, hanya terdengar suara hujan di kejauhan, meski tidak ada air hujan yang jatuh. Apalagi salju. Anehnya, kulitku terasa dingin. Kudekapkan tangan pada kedua lengan untuk membantu menahan hangat. Namun entah bagaimana dingin tetap melanda. Kutarik nafas dalam-dalam. Aku mulai merasa tidak nyaman. Langit sepenuhnya kelabu, tetapi jelas bukan mendung, meskipun suara hujan tetap terdengar. Situasi ini aneh karena aku sama sekali tidak bisa melihat sinar matahari. Biasanya kan, kalaupun langit mendung, tetap ada bagian yang lebih cerah, dimana kita tahu matahari ada di baliknya, nun jauh di sana. Kutarik nafas dalam-dalam. Sesak. Aku tahu aku harus segera meninggalkan tempat ini. Kupercepat langkah, namun kakiku terasa sangat berat. Seperti ada satu kuintal besi bergayut di kakiku, menahan langkahku. Semakin kukerahkan tenaga, semakin berat kakiku. Aku bahkan mulai kehilangan kendali atas tubuhku sendiri. Tidak hanya kaki, tanganku pun tidak leluasa kugerakkan. Aku berteriak putus asa, namun tidak ada suara yang bisa kukeluarkan. Ini aneh. Terus kucoba berteriak, tetap tidak ada suara yang keluar. Yang ada tenggorokanku semakin sakit, terasa kering. Menangispun rasanya tidak ada air mata yang keluar. Aku semakin putus asa. Aku berusaha tenang, tetapi itu tidak banyak menolong. Aku mulai panik. Aku bergerak liar berusaha melangkahkan kakiku, jika bisa berlari. Aku berusaha berteriak. Siapa tahu tidak jauh dari situ ada Nico yang bakal membantuku melepaskan diri dari kondisi tubuh yang sedang aneh ini. Tiba-tiba aku terpikir jika ini hanyalah mimpi. Aku berusaha menggelengkan kepala, membuka mata, mencubit diri sendiri agar diri ini bangkit dari mimpi melelahkan. Tidak bisa. Aku tetap berada di jalur muram. “Aaawwww!” teriakku sekeras-kerasnya. Aku membuka mata dengan nafas terengah-engah. Kutatap gelap kamar dan sebaris cahaya lampu jalan yang menembus lubang angin. Di luar rumah terlihat jelas tengah hujan deras. Udara kota Gresik dini hari terkadang juga dingin, seperti saat ini. Ditambah lagi, sosok di sebelahku menggulung dirinya dengan selimut. Pantas saja dalam mimpi pun aku kedinginan. Aku merasa geli, tetapi juga ngeri. Mimpi seperti tadi, sangat menguras tenaga dan sejuknya leher. Kuatur nafas, kuseka keringat di keningku. Kutatap teman tidur yang masih terlelap di sampingku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Syukurlah kali ini terasa lega. Kutenangkan diri, lalu kuturunkan kaki ke lantai yang dingin. Setelah merasa nyawaku terkumpul semua, aku melangkah meninggalkan tempat tidur. Sekilas mataku menangkap sachet oleh-oleh Nico sepulang kerja tadi yang dia letakkan di atas meja. Aku tersenyum sendiri. Kuambil salah satu sachet kemudian melangkah ke kamar mandi. Kunyalakan lampu kamar mandi, karena jujur saja aku tidak akrab dengan alat seperti ini. Sambil menahan rasa ingin buang air kecil, k****a petunjuk penggunaan test pack. Aku terpaksa melangkah ke dapur karena aku perlu sebuah wadah penampung urine pagi. Kebetulan kutemukan sebuah gelas kecil bekas air minum kemasan. Dengan penuh rasa penasaran sekaligus was-was, aku kembali ke kamar mandi. Tiba di sana, kutatap wajahku di cermin. “Jika ada tanda baik, kamu harus tetap tenang. Jika tandanya tidak seperti yang kamu harapkan, kamu juga harus tetap tenang. Tuhan tahu yang terbaik,” ucapku pada diriku sendiri. Kuberikan senyum penyemangat, walau wajah bangun tidur setelah mimpi buruk dalam cermin itu benar-benar tidak enak dilihat. Kutarik nafas dalam-dalam, kemudian kusobek kemasan sachet. Lima menit kemudian .... “Nico!! Nico!!” teriakku dari dalam kamar mandi. Nico yang tadinya masih terlelap, terdengar langsung melompat dari tempat tidur. Ia berlari ke arahku. Karena mendadak, bisa jadi Nico masih pusing. Ia sempat mengaduh, kemudian mendekat sambil nyengir dan melompat-lompat karena ia terus memegangi kelingking kaki kirinya. Tiba di dekat pintu kamar mandi, masih pakai acara jatuh pula. Ketika sampai di depanku, wajahnya terlihat jelas seperti es campur. Ada manisnya memenuhi panggilan istri tersayang. Ada sepatnya untuk bangun begitu dini. Ada asamnya karena abis jatuh. Ada kesakitan karena jari kelingking kaki terantuk sesuatu itu wow banget. Wajahnya yang sangat hancur itu membuatku tak dapat menahan tawa. Terlebih tangannya yang menggosok-gosok pinggul yang tadi dijatuhi. Nico mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Menarik nafas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. Mungkin merasa sangat terganggu dengan aksiku. “Ada apa sih, Ky?” “Lihat!” kataku seraya menunjuk lembaran test pack. Nico menajamkan mata yang masih mengantuk. Butuh waktu cukup lama untuk Nico loading dan menyadari arti garis ganda pada test pack yang kuletakkan di samping kemasan sachet pemberiannya. Sepasang mata itu membelalak. Nico langsung memelukku. “Syukurlah. Akhirnya ...,” ucap Nico. Aku tersenyum sambil menempelkan telingaku ke dadanya. Jantung Nico berdetak sangat kencang dan cepat. Sepertinya, ia bahagia sekali dengan amanah ini. Pelan, kulingkarkan tangan ke pinggangnya. ”Kiky takut, Nic.” ”Takut apa?” ”Takut kalau tidak bisa menjadi ibu yang baik. Kiky takut kalau tidak bisa adil membagi waktu bagi kamu dan anak ini. Takut kalau ....” Nico mengusap rambutku. ”Aku lihat kamu banyak sekali membaca tulisan tentang parenting. Aku yakin kamu telah membekali diri dan akan terus melakukannya. Masih ada kesempatan, Ky. Bayi ini belum akan lahir pagi nanti kan?” Aku tertawa pelan. Iya sih. Aku masih punya waktu belajar, setidaknya hingga delapan bulan lagi. Semoga cukup. ”Pengen dibelikan buku apa sebagai hadiah kehamilan?” ”Sejenis tema bagaimana mendidik anak sejak dalam kandungan?” tanyaku. Nico tertawa pelan. ”Padahal tadi aku berharap kamu minta buku tentang berbagai posisi aman bagi ibu hamil pada berbagai usia.” Kucubit pinggang Nico. Pemilik pinggang tertawa. ”Mau nyari bareng atau Nico saja yang beli?” ”Keluar bareng yuk. Kiky pengen jalan-jalan.” ”Biasanya sih terus mampir gerai camilan.” ”Kali ini tidak. Gerai rujak es krim saja.” Nico tertawa pelan seraya mengusap tulang punggungku. ”Jaga diri dan bayi kita baik-baik, ya, Ky. Nico juga akan berusaha melakukan yang terbaik agar kebutuhan kalian terpenuhi. Doakan Nico.” Kuanggukkan kepala. Kurasakan Nico menunduk mendaratkan ciuman di puncak kepalaku. Hangat. Lama. Kupejamkan mata menikmati siraman rasa damai. Pelan, Nico beringsut melonggarkan pelukan, kemudian membawaku kembali menuju tempat tidur. Kulingkarkan tangan ke lehernya, sambil menatap rahang Nico yang mengeras. ”Kenapa? Apa baru sadar kalau aku tampan?” godanya. Aku tertawa. ”Aku heran. Tubuhku tidak bisa disebut langsing, Nic. Tetapi kamu kuat mengangkatku?” ”Hmmm.” Ia tersenyum. Perlahan, Nico menurunkan aku di atas kasur. Ia rapikan bantal, memastikan posisiku nyaman. Perlahan, wajah tampan itu mendekat untuk mencium keningku. ”Apakah suka menggendongmu itu sebuah masalah?” tanyanya. Kugelengkan kepala. Ia tersenyum. ”Masih malam. Tidur lagi, yuk.” Kuanggukkan kepala. Nico kembali ke kamar mandi, sementara aku menarik selimut. Kutatap gelap, sambil tersenyum. Apakah kamu laki-laki atau perempuan? Apakah kamu makan dengan baik di dalam sana? Apakah kamu merasa nyaman? Tanyaku sambil mengusap perut. Kubayangkan, di dalam sana si kecil bisa mendengar pertanyaan dalam bahasa kalbu dariku. Saat aku tersenyum, dia juga tersenyum. Saat Papanya bicara, dia juga bisa mendengarnya. Semoga kamu tumbuh dengan baik. Laki-laki atau perempuan, jadilah anak yang solih atau solihah. Mari kita bekerja bersama, agar kelak Mama bisa mengasuhmu dengan baik, mengantarmu menjadi anak solih atau solihah yang mandiri. Memikirkanmu seperti ini, Mama sudah rindu, Nak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN