Terdengar message tone HPku. Kubuka. Ada apa lagi?
Aldo : Ol dong, Nick. Penting.
Sst, setelah sekian waktu sering tidak bisa istirahat ketika online, cara agar benar-benar bisa istirahat ya offline. Orang yang sudah mengenalku, cukup tahu untuk bersegera menelepon atau kirim pesan normal jika ada hal penting. Aldo salah satu dalam daftar orang yang kubicarakan barusan.
Aku melangkah menuju meja komputer. Kunyalakan. Seperti biasa Aldo langsung muncul dengan ha ha hi hi-nya yang tidak penting. Sungguh bertolak belakang denganku yang ingin segera bergelung kembali di bawah selimut. Ini masih pagi sekali, Saudara-saudara. Terpaksa kudesak Aldo segera menyampaikan maksudnya. Aldo meminta maaf kemudian bercerita bahwa kirimanku sudah sampai dengan kondisi baik dan lengkap. Ia bahkan mengirimkan video unboxing.
Setelah itu, Aldo bercerita bahwa ia mengalami kemacetan ide pengemasan yang unik.
Nicky: "Lho, kupikir km sudah ada gambaran soal itu."
Aldo_mann: "Itu dia. Tadinya sudah ada ide. Tapi ternyata utk realisasi susah karena sudah mepet waktu. Cari ide baru kok ternyata aku buntu dikejar deadline bgini."
Nicky: "Wah, payah kau. Ide awalmu apa sih?"
Aldo_mann: "Pake keranjang dari eceng gondok. Tapi ternyata produsennya sedang tidak punya stok sebanyak itu. Kalaupun mau sejumlah itu, dia menyanggupi tetapi ya musti pesan paling tidak sebulan sebelumnya."
Nicky: "Kalau keranjang rotan?"
Aldo_mann: "Mungkin ada di pasar besar. Tapi kalau mo nyari udah mepet bgt, Nick. Sudah capek otak dan badanku. Kasih ide yang lain aja deh. Yang bisa segera diselesaikan dan mudah."
Nicky: "Paling gampang ya beli aja kain jala atau kain kaca. Itu, semacam kasa nyamuk tapi lobangnya gede-gede, tidak kaku, dan warnanya macam-macam. Biasanya di toko kain atau bahan DIY ada. Biar netral, cari yang warnanya gold atau silver. Potong segi empat, gunakan untuk pembungkus keripik, terus ikat pake pita. Bisa juga dimodel kek membungkus karangan bunga. Biar beda, pakai pita itu lho, yang dari pelepah pisang atau daun jagung. Yang beginian pasti banyak. Kalau mau lebih manis, kasih aja tempelan bunga atau buah kering. Tambahkan kartu kecil bergambar foto manis Bos-mu plus tulisan terima kasih."
Aldo_mann: "Wah, boleh juga tuh. Makasih bgt. Kau mmg my best friend deh."
Nicky: "Ah, rayuanmu nggak laku. Gombalnya nanggung."
Aldo_mann: "He he he. Jadi nggak heran kan kalau aku masih sendiri. Coba km blm kawin, kugebet kamu. Kamu sepertinya bukan jenis perempuan yang butuh gombalan maksimal. Klop kita mah."
Nicky: "Eh, sempat2ny. Sana, brgkat."
Aldo_mann: "Ya, Nyah! C u."
Masih, seperti beberapa hari yang lalu, tiap aku online, Ryan juga online. Yang ini juga tidak kalah ha ha hi hi dengan Aldo. Pertanyaan-pertanyaannya iseng sekali. Mulai dari makanan favorit, warna favorit, sampai gaya rambut favorit. Bagiku, pertanyaan semacam itu tidak penting dilayani. Jadi hampir kutinggalkan saja orang ini dengan segala ocehannya. Lebih baik kugunakan waktu untuk aktifitas yang lain. Ryan sedang sangat menganggur, sepertinya. Tetapi ... bisa jadi orang ini suatu saat akan menjadi target pasarku. Maka aku berusaha sesopan mungkin.
Aku terus berusaha menghindari melayani pertanyaan tidak penting. Sampai dia menanyakan hal prinsip pada diriku.
Wild centaurus: "Jd km udah nikah ya?"
Nicky: "Yupp."
Wild centaurus: "Hilang deh, harapanku."
Nicky: "Harapan apa?"
Wild centaurus: "Harapan hidup dgnmu. Ceraikan saja suamimu. menikahlah denganku."
Nicky: "Well. Apaan nih?"
Wild centaurus: "Habis capek lho, Nick. Cari cewek tuh susah. Nah, sekalinya ada yg cocok bgini kok ya udah mnikah ya."
Nicky: "He he he. Aku turut berduka cita."
Kantukku hilang. Apa maksud Ryan? Juga Aldo.
Semudah itukah meminta orang lain memutuskan komitmen, untuk menjalin hubungan baru? Sedangkan membangun hubungan ini tidak bisa instan. Belum lagi kalau mengingat besarnya biaya yang kami perlukan untuk membuat status berubah menjadi halal. Kalau aku sih, bakal mikir berkali-kali kalau mau memilih memutuskan komitmen, kecuali jika kami memang dipisahkan oleh kematian, ya.
Aku juga jadi instrospeksi diri. Dalam waktu berdekatan diajak bicara dengan tone yang sama dari dua pria itu, pasti ada yang salah denganku. Apakah aku terlalu ramah dengan mereka? Apakah aku terlalu hanyut, sehingga mereka merasa nyaman curhat denganku, kemudian menafsirkan kenyamanan itu sebagai sebuah kode hijau? Apakah yang kulakukan ini salah?
”Eh, disuruh tidur lagi, malah pindah ke sini.”
Kutatap Nico yang melangkah mendekatiku. Wajahnya terlihat segar dan basah. Aku berikan dia senyum.
”Ada yang dapat kondisi darurat di Jakarta sana. Pasti dia susah tidur, sehingga harus memaksa orang lain menjawab permasalahannya meski tengah malam.”
Nico berpindah ke belakangku, menyimak chat pada layarku.
Bagiku, tidak ada yang perlu dirahasiakan dari Nico. Jadi kubiarkan dia membaca.
”Apakah aku salah?” tanyaku.
”Salah apa?”
”Mungkin obrolanku terlalu akrab?”
”Menurutku ini wajar. Toh, Aldo pelangganmu. Yang satunya, sepertinya punya prospek, ya. Sudah pernah order?”
”Pernah, dalam skala kecil, untuk teman sekantornya saja.”
Kutatap wajah Nico. Yang ditatap mengangkat alis.
”Kamu tidak marah aku disuruh menceraikan kamu?”
”Aku cemburu, tentu saja. Siapa sih laki-laki yang tetap merasa tenang kalau perempuannya jelas-jelas ditaksir dan diminta orang. Tetapi aku yakin kamu perempuan yang setia dan memegang erat komitmen kita. Jadi selagi kamu tetap berinteraksi dalam batas baik seperti ini, kamu akan baik-baik saja. Aku akan tetap mempertahankan kamu. Tetapi kalau dua pria ini semakin parah saja, kapan-kapan biar aku telepon mereka. Kayak nggak ada perempuan lain saja.”
Aku tertawa.
”Satu lagi, sepertinya perlu kuingatkan bahwa kita buka usaha ini agar kamu bisa bekerja dari rumah. Bekerja dari rumah itu sebaiknya juga diartikan sebagai bekerja seperti mereka yang kerja normal, beda di tempat dan kostum saja. Orang lain bekerja dari jam 8 sampai jam 4, kamu bekerjalah seperti itu. Apalagi kita sudah tahu kamu hamil, Ky. Tolong jaga baik-baik bayi kita. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja. Banyaklah beristirahat. Kita sudah sangat lama menunggu bayi ini. Kalau kamu tetap memaksakan diri dan ternyata kandungan kamu tidak kuat, apa kamu bakal secepat itu bisa mengikhlaskan kehilangan anak? Apa kamu yakin akan bisa dengan cepat mendapatkan penggantinya?”
Kutundukkan kepala.
”Maafkan aku, Nic.”
”Maafkan aku juga. Mungkin fasilitas yang bisa kuberikan belum cukup untuk membuat kamu memiliki eksistensi tanpa perlu merasa bosan sehingga perlu mengasah kemampuan dengan berbisnis. Aku mengijinkan, Ky. Tetapi tolong lakukan ini sesuai batas kemampuan kamu. Jangan memforsir energi apalagi memaksakan diri. Aku tidak yakin akan tetap bisa berhati teguh bila melihat kamu sakit. Aku tidak seperti kamu yang terbiasa mengurus banyak hal dengan sangat baik. Aku tidak sekuat kamu.”
Aduh, rasanya terharu sekali. Kuhapus air mata dari pipiku, lalu kuanggukkan kepala.
Nico menghela nafas.
Kututup layar lalu kumatikan komputer. Kugandeng lengan Nico kembali ke kamar. Dia tidak boleh kecewa. Apalagi hanya karena sosok-sosok dari dunia maya.