PUTIH ABU-ABU (2)

1024 Kata
Ryan, hmm ... aku bahkan tidak bisa mengingat, bagaimana kemudian aku dan Ryan bisa jadian, apalagi hal-hal semacam resminya kapan dan dimana. Yang jelas setelah bersama-sama makan pizza, kami berdamai. Aku tak lagi menghindari interaksi dengannya. Ryan jadi sering duduk sebangku denganku. Doni diminta kembali ke habitatnya. Beberapa kali seminggu kami belajar bersama. Ketika aku mendapat giliran piket sepulang sekolah, Ryan meluangkan waktu dan tenaga membantuku. Ia juga sering membantuku piket di koperasi. Saat aku menghabiskan waktu di pojok perpustakaan, Ryan datang menemani dan ikut membaca. Suatu aktifitas yang katanya ’baru’. Seringnya kami bersama, menghadirkan predikat baru bahwa kami telah menjadi pasangan. Ryan tidak mengelak. Aku tidak mengiyakan. Aku hanya tahu bahwa diri ini mendapat kesempatan merasakan bagaimana jika gadis biasa akrab dengan cowok populer. Sungguh suatu siksaan tersembunyi. Padahal aku tidak mempredikati diri sebagai pacar Ryan. Aku juga tidak pernah meminta Ryan menemaniku sampai sejauh itu. Semua murni inisiatif Ryan. Tidak hanya gadis-gadis penggemar Ryan yang berubah sikap padaku. Cowok-cowok juga banyak yang sirik. Ada saja yang menggangguku. Mulai dari surat kaleng, sampai caci maki terang-terangan di depan umum. Isinya tentu saja betapa tidak tahu dirinya aku berani menjadi pacar Ryan. Aku mau protes bagaimana. Sekali lagi, aku tidak pernah memproklamirkan diri sebagai pacar Ryan. Kupikir mereka semua tahu itu. Syukur tidak ada yang sampai berbuat anarkis. Tetapi jumlah teror itu semakin banyak. Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku menghindari Ryan. Misalnya dengan segera kabur begitu bel istirahat berbunyi, lalu mengunci pintu ruang piket koperasi agar ia tidak bisa masuk. Saat jam perpustakaan, aku segera mengambil buku, lalu ngumpet di bawah meja petugas piket. Kekanakan sekali. Tetapi mau bagaimana lagi. Perpustakaan kami ruang bebas. Jadinya malah menjadi drama babak kedua. Ryan makin gencar mengikutiku kemanapun aku pergi. Dan gempuran teror makin menjadi. Akhirnya, Ryan mengajakku bicara enam mata, disaksikan guru BK. Di sana kuceritakan dan kutunjukkan bukti teror yang kualami. Ryan menghela nafas berat. ”Mengapa kamu memilih menghindariku yang membuatku semakin penasaran? Seharusnya kamu cerita saja. Mohon maaf, Bu. Kalau masalahnya seperti ini, saya pikir saya bisa mengatasinya.” Ibu guru BK mengangguk sambil tersenyum geli. Pulang sekolah, Ryan mengundang mereka semua bertemu. Ia juga menahanku, meski alasan motor mau dipakai kuulang-ulang, tetapi Ryan kukuh. Ryan mengajak mereka berdialog. Dari dialog itu aku tahu bahwa ternyata masalah sebenarnya sangat sepele. Dengan adanya aku, intensitas Ryan berkumpul dengan mereka jadi berkurang. Meski aku tidak meminta waktu Ryan, apalagi membatasi aktifitasnya karena Ryan sendirilah yang memilih mengubah aktifitasnya, namun orang lain mana mau tahu. Mereka hanya memikirkan imbas perubahan Ryan bagi mereka. Sebagai contoh, kalau dulu pulang sekolah Ryan langsung nongkrong di ruang ekstra ini-itu, sekarang ia mengantarku ke parkiran terlebih dahulu. Kalau dulu, waktu istirahat biasanya Ryan bercanda ramai dengan kumpulan gadis populer ini atau gadis modis itu. Sekarang dia lebih memilih membantuku di koperasi. Sore hari yang biasanya dia habiskan untuk ikut main basket atau latihan beladiri, sekarang paling tidak dua kali seminggu dia ke rumah. Meski hanya untuk main halma dengan adikku. Tidak hanya yang sirik, yang jadi SKSD (sok kenal sok dekat) ternyata juga banyak. Beberapa pentolan ekstra bahkan berani mendekatiku untuk memuluskan usaha agar proposal kegiatannya gol. Aku sih, wong tidak terlibat langsung, ya, cuek saja. Dari dulu aku juga tidak ada urusan sama ekstra. Jangan harap karena dekat dengan Ryan, aku berubah care dengan urusan ekstra. Tidak lah yaw. Ryan sangat menghargai pilihan sikapku itu. ”Lebih baik begitu. Hari gini masih belajar nepotisme.” Akibatnya, anak-anak itu kecewa dan ikut-ikutan sirik padaku. Capek deh. Rasanya ke mana-mana jadi banyak yang memusuhi. Padahal hubungan kami sendiri tidak ada masalah. Koreksi, sebenarnya diantara kami tetap tidak ada apa-apa. Kami hanya berteman akrab. Sangat sederhana. Tidak bisa kumengerti mengapa mereka begitu berlebihan bereaksi. Kadang aku jadi ragu. Apakah masih akan sanggup menemani Ryan paling tidak setahun lagi ketika kami lulus SMA. “Masa sih, nggak kuat menemaniku. Kita ini baru SMA lho. Kalau begini saja kamu tidak kuat, bagaimana nanti kalau sudah serius? Kalau sudah menikah?” itu ungkapan futuristik Ryan kalau aku mengeluhkan banyaknya cobaan. “Memang siapa yang mau nikahin kamu.” Ryan mengerutkan dahi. “Jadi tidak mau, ya?” Kupasang senyum. Tanpa dapat kutahan, pipiku memanas. Suatu jawaban yang tidak bisa disembunyikan lagi. Bicara tanpa kata. Apalagi? Ryan menatapku dengan wajah sumringah. “Rasanya tidak sabar menunggu waktu berlalu dan kita berhak disebut dewasa.” Kadang kupikir, saat itu aku gila apa tidak waras, ya. Masa baru 16 tahun sudah berani membicarakan urusan menikah dengan pemuda sebaya yang belum jelas akan ke mana. Tetapi setelah kebersamaan itu, entah kenapa satu sudut hatiku berkata dia adalah ‘seseorang’ yang dikirim untukku. Memang, sebelumnya aku belum pernah jatuh cinta, apalagi punya pacar. ‘Kan kabarnya cinta pertama itu selalu menggebu-gebu, karena pelakunya belum berpengalaman. Masih buta. Tetapi untuk Ryan, rasanya aku mau melalui waktu-waktu sulit, bersikap setia, dan bersabar menanti dia menjemputku untuk bergabung dalam keluarga besarnya. Puihh! Selain itu, aku punya rahasia kecil. Kira-kira saat umurku 11 tahun, aku bermimpi bertemu dengan seseorang. Aku tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana wajahnya. Aku cuma bisa tahu perawakannya yang atletis, rambut cepak, dan suka berpetualang. Setelahnya, mimpi itu sering sekali datang dalam tidurku. Sehingga di hari-hariku kemudian, aku merasa seperti itulah orangnya yang akan melengkapi hidupku kelak. Aku tidak tau pasti dan bahkan tidak berani mempercayai bahwa itu sebuah petunjuk dari Tuhan. Khawatirnya, itu efek dari tingginya imajinasi dan keinginanku. Terlebih, kemudian aku mulai berharap sosok itu juga bisa menerimaku apa adanya. Menyayangiku dengan sepenuh jiwa. Sangat ideal. Meskipun demikian, aku melalui hari dan menanti pertemuanku dengan ‘sosok’ itu. Bersama Ryan, aku merasa lengkap. Karena sosoknya seperti orang yang hadir dalam mimpiku. Lucunya, setelah bersama Ryan, mimpi itu tidak pernah lagi mendatangi tidurku. Konyol? Mungkin. Tapi saat itu aku merasa lengkap bersamanya. Itu saja. Sangat sederhana. Dalam pergeseran idealismeku itu, akupun kadang masih berpikir tentang ketakutanku bahwa ini hanyalah permainan Ryan. Kelak suatu saat permainan akan diakhiri ketika target tercapai atau apalah. Semua akan harus kembali pada kenyataan dan kondisi apapun jadinya kelak. Aku juga sepenuhnya tidak lupa bahwa cinta membawa rasa sakit bagiku. Tetapi saat itu segala kebaikan Ryan tidak hanya membuatku retak, aku merasa hancur berkeping-keping.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN