Usai memintaku kepada orangtua, siang itu juga Nico mengajakku berkenalan dengan orangtuanya.
Aku terpaku ketika turun dari boncengan Nico. Aku mendongak menatap rumah besar dengan desain modern. Taman luas yang serasi dengan rumahnya. Kolam ikan. Garasi standar 3 mobil. Ini jauh lebih besar dari apa yang kubayangkan tentang latar belakang Nico. Aku mendadak merasa ciut. Bertolak belakang dengan ukuran tubuhku.
Aku gemetar saat Nico membuka pintu rumahnya.
”Mama! Nico pulang,” teriak Nico.
Nico meletakkan tas yang dibawanya begitu saja di kursi tamu. Walau ada rak sepatu di dekat pintu, ia melepas sepatunya begitu saja, tidak jauh dari lokasi tas. Kemudian menyusul jaket kulitnya yang keren.
Kuangkat alis. Rasanya itu rangkaian sikap dan aktifitas yang aneh untuk seorang mahasiswa. Tetapi ....
”Sayang! Syukurlah.” Seorang wanita berambut keperakan datang tergopoh-gopoh. Beliau mengenakan daster rumah berbahan batik. Daster, tetapi motif batik dan lambaian bahan nampak jelas menunjukkan kalau berkelas.
Wanita itu langsung memeluk Nico dan mencium pipi kanan kirinya. Nampaknya sayang dan akrab sekali. Seperti sepasang kekasih yang sudah lima tahun tidak bertemu. Adikku beberapa kali ikut kegiatan luar berhari-hari, tetapi tidak gini amat reaksi ibuku. Ini bukan hal yang dengan mudah bisa diterima mataku. Rasanya geli, tetapi bisa saja kan setiap rumah punya kebiasaan unik. Mungkin di rumah Nico, demikianlah adanya.
”Mama kangen sekali,” ucap mamanya.
Nico tersenyum malu. Telinganya memerah.
”Nico juga kangen. Mama, Nic mau mengenalkan mama dengan Kiky.” Nico menarikku mendekat. Tangannya hinggap dengan mantap di pundakku, seperti menyatakan kepemilikan.
Mama menatap tangan putranya. Sekilas nampak ada sinar sedih, tetapi segera wanita itu tersenyum walau matanya tetap sayu.
”Ky, ini mamaku. Mama, ijinkanlah suatu saat nanti dia menjadi penghuni rumah ini. Sebagai istri Nico,” ucap Nico penuh keyakinan.
Kupasang senyum. Kuulurkan tangan meminta tangan wanita ini untuk kucium.
Butuh jeda cukup lama hingga Mama mengulurkan tangannya.
Aku sudah ketakutan akan segera mengalami penolakan atau sikap sinis.
”Cantik sekali. Sepertinya juga akan bisa memberi kamu banyak anak. Mama senang sekali dengan pilihanmu.” Mama memelukku erat.
Aku yang shock.
Nico tertawa pelan.
Mama ikut tertawa. Puas dengan pelukan, Mama merapikan lokasi sepatu Nico. Ia mengambil tas dan jaketnya, dibawa dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan Mama menarikku ke ruang dalam.
”Papa sudah menunggu kalian.”
Sekilas kuputar kepala menatap Nico.
Dia tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Papa Nico sedang membaca koran. Pria yang rambutnya telah memutih itu menatapku penuh selidik. Aku menatap sepasang mata yang diliputi keriput. Aku bisa langsung merasakan chemistry. Jika kelak menjadi penghuni rumah ini, aku pasti akan lebih bisa dekat dengan Papa daripada dengan Mama.
Aku didudukkan di kursi tunggal di samping Papa. Sementara Mama duduk di sisi lain kursi panjang tempat Papa duduk. Nico menyusul bergabung pada kursi di sebelahku.
Papa meletakkan tangan beliau di atas kepalaku. Lalu mempersilahkan aku memperkenalkan diri.
”Nama saya Kirey Kyara. Saya biasa dipanggil Kiky. Saya putri Pak Abdul Somad dan ibu Tiara Umamah. Saya sulung dari dua bersaudara. Saat ini saya mahasiswa semester tiga jurusan sastra Inggris. Saya suka membuat desain interior dan naik motor.”
”Naik motor?” tanya Papa.
”Dia suka touring. Papa dapat teman. Suatu saat moge papa hibahkan saja padanya. Biar tidak rusak nganggur di garasi,” ucap Nico.
Papa tertawa.
”Kiky suka masak?” tanya Mama.
Dalam pendengaranku itu terdengar seperti sebuah harapan.
”Sampai saat ini, kemampuan memasak saya masih sangat terbatas, Tante.”
Papa menatap istrinya yang dengan jelas menunjukkan raut wajah kecewa.
”Ma, Papa sangat menyukai masakan Mama. Papa berharap, sampai usia Papa berakhir, hanya masakan Mama yang menceriakan hari-hari Papa. Jadi tidak masalah kan kalau menantu kita tidak ikutan pandai memasak. Mama tidak takut tersaingi nantinya kalau dia juga pintar di dapur?” goda Papa.
Mama tersipu.
Aku menatap Nico. Ia juga tersenyum.
”Kiky punya kelebihan di bidang lain, Ma. Bagi Nico, itu bukan masalah.”
Mama menarik nafas.
”Baiklah.”
Dua jam lamanya kami mengobrol. Selama itu hampir 90 persen pembicaraan dilakukan oleh Mama. Papa hanya bertanya sedikit dan lebih banyak menyimak, kadang mengangguk-angguk.
”Sudah sore. Nico, bantu Mama menyiapkan makan malam.”
Nico mengangguk kemudian menggamit lengan Mama menuju dapur.
Papa mengajakku ke kolam ikan di belakang rumah. Yang ini isinya ikan Koi aneka warna dan ukuran. Sepertinya sih, dipiara tidak untuk tujuan komersil apalagi konsumsi. Dengan leluasa ikan-ikan itu berenang ke sana kemari, dalam kolam yang terjaga kebersihan, kualitas air, dan suhunya. Aku pernah membaca di sebuah media bahwa memelihara ikan koi tuh ribet. Jika di rumah ini ikan koi bisa berkembang biak dan hidup sedamai ini, maka pengkondisiannya berhasil.
Papa duduk di kursi kayu di depan kolam.
Aku berdiri tidak jauh dari sana.
”Kamu yakin akan menemani Nico?”
Aku menatap Papa sambil melangkah mendekat. Kukirim sinyal bahwa aku tidak paham.
Papa tersenyum. Tangannya meraih botol tempat makanan ikan. Ia mengeluarkan segenggam. Dibaginya separo kepadaku. Papa mencontohkan bagaimana cara menebarkan makanan itu kepada ikan-ikan piaraannya. Kuikuti contoh Papa.
Kolam berkecipak ketika ikan-ikan itu berebut makanan yang kami berikan. Besar dan kecil, semua lahap.
”Kamu pasti sudah melihat sikap Nico pada Mama dan sebaliknya. Dia sangat dimanjakan sejak kecil. Itu sudah seperti suatu kebiasaan yang tidak bisa lagi diubah. Bagi Papa, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”
”Kenapa harus diubah, Om?” tanyaku.
”Setidaknya, karena Nico sudah dewasa?”
Aku tertawa.
”Kiky lihat Nico menikmatinya.”
”Ya, itulah yang Papa sebut manja. Khawatirnya, itu akan membuatmu merasa risih dan memilih pergi.”
Aku beri Papa senyum.
”Itu terdengar seperti sebuah luka?” tanyaku.
Papa tersenyum.
”Apa Nico pernah bercerita tentang masa lalunya?”
Kugelengkan kepala. Mungkin pernah, hanya saja aku tidak masukkan dalam memori. Jadi aku memilih menghitungnya sebagai tidak pernah saja.
“Suatu saat, minta Nico bercerita sejujurnya. Bagi kami sih, setelah lebih dari tiga tahun Nico tidak terlihat menggandeng seorang perempuan, maka kamu pastilah pilihan terbaiknya.”
Kutundukkan kepala.
“Sejak Idul Fitri yang lalu, Nico banyak bercerita tentangmu. Tadinya Papa pikir ia hanya sedang kagum dengan seorang teman. Tetapi nampaknya ia menginginkan lebih dari itu. Sungguh, kami tidak ada masalah, kok. Apalagi yang memilih Nico. Mamanya tidak akan banyak syarat. Yang berat mungkin justru pada kamu menyikapi Nico.”
Kuanggukkan kepala tanda memahami.
“Jika kamu bisa menerima Nico apa adanya, kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Kami akan senang sekali menjadi mertuamu.”
Kukembangkan senyum.
Mata teduh papa menatapku. Serimbun palem di atas kami. Sejuk. Tanpa kuduga dan rencanakan, di semester ketiga aku sudah dapat calon mertua.