CONNECTED

1022 Kata
Ternyata, perjalanan mencari kitab suci eh perjalanan pejuang halal ini tidak mudah. Menyelaraskan dua perbedaan itu bukan pekerjaan sepele. Terlebih, kami berangkat bukan karena kami saling jatuh cinta. Apalagi cinta pada pandangan pertama. Setelah saling terbuka baru aku pahami bahwa ternyata kami sama-sama berfilosofi witing tresno jalaran saka kulino alias tumbuhnya cinta karena terbiasa bersama. Jadi kondisi kulino alias terbiasa itu harus dibuat. Ini perlu waktu dan kreatifitas. Terlebih untuk kami yang ternyata hampir bertolak belakang dalam segala hal. Aku suka ngemil, Nico tidak. Nico suka pedas, aku anti. Aku suka garis besar dan menerima hasil apa adanya, Nico sangat memperhatikan detil dan kesempurnaan. Aku suka memakai pakaian warna gelap, Nico suka pakaian warna terang. Aku suka dengan rambut panjangku, Nico ingin melihatku berambut pendek. Aku suka berlama-lama di perpustakaan, Nico mana betah. Aku suka teater, Nico anti. Nico suka jalan-jalan ke mal, aku tidak. Aku suka touring ke berbagai tempat baru, Nico lebih suka menyusuri jalan yang sudah dikenalnya. Minimal, harus ada peta yang jelas valid untuk memandunya. Beda denganku yang tidak keberatan menyerahkan arah pada tangan atau insting. Selain itu, semakin kami membulatkan tekad untuk bersatu dalam sebuah pernikahan, semakin banyak cobaan yang datang. Perbedaan demi perbedaan terus bermunculan. Semua menyulut pada pertengkaran demi pertengkaran. Pernah suatu hari Nico mengajakku makan malam. Setelah saling menggali menu yang sedang diinginkan, kami sepakat makan di sebuah warung makanan Cina. Satu hal yang aku tidak tahu bahwa porsi di warung itu jumbo. Meski tubuhku besar, tetapi porsiku standar. Jadi aku tidak sanggup menghabiskan menu itu. Mungkin karena sedang tidak enak hati sejak berangkat, Nico mulai ngedumel. ”Mestinya kamu pesan separo saja tadi.” ”Kalau keberatan dengan masalah harga, aku bayar sendiri tidak apa-apa kok.” kataku. Maksudku kan agar dia tidak merasa membuang uangnya percuma untuk makanan yang bersisa. Tetapi tangkapan Nico lain. Dia malah marah. ”Masa kamu akan mengajarkan hal seperti ini pada anak kita kelak? Mengambil makanan sebanyak-banyaknya, tetapi kemudian tidak dihabiskan,” ucap Nico ketus. Aku langsung merasa ingin meledak. Tanpa banyak kata, aku meminta kertas pembungkus pada si penjual dan kubungkus sisa makanan di piringku. Segera aku kembali ke penjualnya dan kubayar semua makanan kami. Tindakanku membuat Nico marah besar. Makan bareng yang seharusnya menyenangkan, malam itu berakhir dengan tangisku sampai hampir tengah malam. Tepat tengah malam, telepon berbunyi. Tidak kuangkat. Sekali. Dua kali. Lima kali. Kubiarkan saja. Lagipula kamarku lokasinya paling jauh dari telepon. Kudengar ada teman kos yang angkat. Tidak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarku. ”Jeng, yayangmu nelpon tuh. Tumben kamu tidak dengar,” teriak rekan sebelah kamar yang paling kucintai itu. Aku hanya menjawab singkat. Kubuka pintu kamar. Langkahku pelan pakai diseret-seret segala. Enggan bener. Dengan malas kuterima panggilan itu. Nico. Tetapi tidak segera kubuka suara. ”Maaf, Ky. Aku keterlaluan, ya. Aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Aku paham kok kamu porsi makannya standar, sementara porsi di tempat tadi memang ekstra. Aku hanya ingin tahu pandangan kamu, Ky.” Ada sesal mendalam pada ucapan itu. Kuberi jeda cukup lama. "Sebenarnya, tadi kan bisa jika menurut kamu porsinya terlalu besar, sebagian kamu alihkan padaku sejak awal. Aku tidak ada masalah makan ekstra." Aku terus berdiam diri. "Ky, maukah kamu memaafkan aku? Aku akan terus belajar menerima kamu apa adanya. Aku akan belajar untuk bertukar pikiran dengan cara yang lebih baik, yang tidak menyinggung perasaan kamu." ”Udahlah. Aku bisa memaafkanmu. Tetapi untuk bicara terus malam ini, aku tidak bisa. Aku banyak tugas,” ucapku. Nico menghela nafas. Jelas dia tahu aku bukannya banyak tugas, tetapi aku malas saja terus membahas masalah ini. Ditambah rasa sakit hati dan marah yang belum mereda, bukan saat tepat untuk bicara. ”Baiklah. Kalau kamu sudah lebih bebas, sms aku, ya.” Tanpa merasa perlu menjawab, kututup kontak. Langkahku kuseret menjauhi telepon. Berdoa di dalam hati agar jangan lagi benda itu berdering sebagai penyambung suara Nico. Tidak. Setidaknya jangan malam ini atau beberapa hari ke depan. Aku sedikit banyak masih merasa muak. Kulempar tubuh ke atas tempat tidur. Aku banyak tugas. Salah satunya, segera melepaskan masalah, lalu tidur nyenyak malam ini. Berhari kemudian aku bisa hidup tenang karena Nico sepertinya sengaja memberiku jeda. Kesempatan untuk mendinginkan kepala dan berpikir lebih jernih. Apa sih yang kupikirkan? Yang jelas, liburan dari segala tekanan rasa tidak nyaman akibat aneka rupa perbedaan. Kala aku dan Nico tengah berjarak begitu, tiba-tiba Ryan menelepon. “Kamu masih ingat aku ‘kan, Ky?” “Ya. Terus kenapa!” “Kamu masih marah, Ky?” “Ya iyalah. Kamu tidak pernah minta maaf atas ucapanmu ke ayahku. Beliau benar-benar sakit hati atas ucapanmu itu.” “Yang penting kamu masih meyakiniku.” “Bagaimana aku bisa yakin kalau kamunya juga angin-anginan begini. Lagian untuk apalagi aku menyakinimu. Bukannya kamu sudah melepasku? Selama ini aku sabar menantimu dan terus membelamu. Tetapi sekarang aku sudah kamu lepaskan, jadi aku boleh dong sedikit vokal.” Kutarik nafas panjang. ”Kalau sedang ingat saja kamu menelepon aku. Menelepon begini berapa duit sih. Sampai-sampai kamu malas sekali melakukannya. Mau tugas ke mana kabari dulu kek. Pamit. Kalau sudah kembali ke markas telpon lagi. Ganti nomor rumah atau telepon, kabari aku. Kamu pikir aku ini apa? Sudahlah. Percuma aku marah-marah. Lagipula kamu ‘kan sudah dijodohkan. Apa sih aku ini. Cewek yang tidak punya apa-apa. Hanya menjadi bahan permainan untukmu.” “Tidak begitu ....“ “Apa kamu juga angin-anginan begini sama keluargamu? Sama teman-temanmu? Sama calon istrimu itu? Memberi kabar atau menelepon mereka hanya jika kamu sedang mau atau sedang butuh?” “Ya enggak.” “Jadi, sekarang aku boleh mengambil simpulan ‘kan, aku kamu anggap apa?” “Ky, maksudku ....“ “Sudahlah. Kejar saja apa yang menjadi impianmu. Tidak usah pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja,” ucapku seraya meletakkan gagang telepon. Kuatur nafas yang tersengal-sengal. Emosi. Emosi. Emosi. Begitu emosinya, aku sampai terlonjak ketika tiba-tiba telepon kembali berdering. Kuangkat. ”Hallo!” “Mungkin kamu masih sangat marah, Ky. Yah, lain hari kutelepon lagi. Semoga saat itu kamu sudah jauh lebih baik.” Aku tidak berkata apa-apa. Sungguh, meski marah, aku masih sangat menginginkan dia. Tapi sakitnya hati ini lho.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN