Telepon Ryan membuka luka lama. Bagaimana tidak? Aku kan sudah hampir berhasil memulihkan diri dari segala efek ucapan Ryan dan segala tindak-tanduknya di akhir hubungan kami. Aku move on dengan menerima Nico. Aku berusaha bangkit dari keterpurukan dan membuka hati untuk yang lain. Aku kesampingkan trauma dan ketakutanku. Aku sejenis tidak peduli lagi bahwa keramik ini mungkin masih akan tersenggol dan pecah lebih parah lagi. Aku ambil resiko luka itu.
Di sisi lain, kerinduanku membuncah kembali. Ada rasa memberontak, mengingatkan diriku bahwa dialah sosok dalam mimpiku. Dialah Ryan, yang mengenalkan aku pada cinta. Dialah yang membuatku tahu bahwa diri ini layak dicintai. Dia cinta pertamaku. Bukankah wajar jika cinta pertama tak pernah mati?
Telepon itu memaksaku mengingat kembali semua angan indah dulu. Ini menggiring menuju suatu keinginan yang aku pun tak ingin miliki: berusaha meraih Ryan kembali. Semakin kuat kutekan keinginan itu, semakin dia merajai kepalaku. Membuatku pusing tujuh keliling.
Apalagi, aku break karena perselisihan kami yang rasanya benar-benar menusuk ubun-ubun. Nico dengan begitu kuat menusuk egoku, membuatku merasa tidak punya arti baginya. Sebegitu rendahkah dia menilaiku, sehingga dia merasa boleh mengatakan apa saja tanpa perlu mempertimbangkan perasaanku. Dibandingkan dengan Ryan dulu, tentu ini sangat berbeda.
Arrggh.
Untuk apa mengingat kebaikan Ryan masa SMA, sedangkan Ryan yang sudah punya jabatan itu memilih menjauhiku karena dilirik calon mertua. Kenapa denganku?
Masalah lain yang memberati kepalaku, tentu saja Nico. Memang, saat itu kami sedang break. Sudah hampir sebulan kami tidak bersama. Tetapi, aku ‘kan sudah berjanji akan menemaninya menjalani hidup. Jadi, aku masih terikat janji. Suatu saat aku masih harus memenuhi janjiku itu. Toh, kami hanya sepakat break sesaat. Bukannya bubar. Dengan Ryan menelepon, daftar masalahku bertambah panjang. Aaaarrrrhhhhhgggg!!!
Saat sedang jatuh dalam dua gunung masalah seperti saat itu, aku merasakan bahwa aku sudah sangat lelah untuk memulai lagi dengan lelaki lain bila putus dengan Nico. Membayangkan pendekatan lagi dengan sosok lain, kemudian menemukan lagi perbedaan-perbedaan, bertengkar lagi, memaafkan lagi. Oh tidak. Ini saja sudah sangat melelahkan. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Lagi. Dan lagi. Tidak. Cukup di sini saja. Perjuangkan. Bisa saja di sinilah ujiannya. Jika ini berhasil kulalui, maka titik tajam lain mungkin akan lebih mudah kutaklukkan.
Selain itu, yang terlihat di mata keluarga besar kami berdua, aku dan Nico baik-baik saja. Kami hanya sedang menanti waktu berlalu dan mempersiapkan diri menuju hari H. Kedua keluarga besar percaya kami mampu menjaga diri dengan baik, dari godaan sekitar maupun godaan dari dalam diri kami sendiri. Mereka percaya kami sabar menanti. Kami akan baik-baik saja, tetap suci sebagai manusia sampai waktu halal tiba. Kami tidak perlu mengkhianati kepercayaan sehebat itu.
Sepertinya, aku sudah tidak mungkin mundur lagi. Maju sulit, mundur jauh lebih sulit. Jadi, lebih baik maju terus ‘kan?
Kuhela nafas. Kusandarkan kepala ke dinding kamar. Kututup wajah dengan kedua telapak tangan, lalu kuusap wajahku.
Kupejamkan mata. Terbayang sosok Ryan dengan seragamnya. Senyumnya. Tegapnya. Sorot matanya. Lalu ucapannya tentang perempuan dalam perjodohan itu. Kugelengkan kepala.
Mataku menangkap sosok boneka beruang pemberian Nico. Sementara di kepalaku muncul sosok Nico yang dikejar gadis-gadis kampus. Nico berlari ke arahku. Tanpa mempedulikan para penggemarnya, ia meraihku. Tetapi, ia membersamaiku untuk memuaskan hasrat berkata seenak udelnya. Apakah aku ini hanya sejenis papan sasaran pelampiasan kekesalannya? Sebegitu buruknyakah aku?
Di sisi lain, lambat laun aku menemukan gejala-gejala bahwa sepertinya aku mulai terbiasa ada dia dalam hari-hariku. Sejauh masa break, meski tenang, tetapi rasanya sepi. Ditambah lagi, banyak teman yang mempertanyakan absennya Nico. Aku jadi merasa kehilangan. Dia toh sudah memenuhi semua kriteria cowok idamanku. Lebih tinggi, lebih pintar, penyayang, perhatian sama aku, pengertian, ditambah lagi wajahnya juga enak dilihat. Apalagi coba?
Jadi, misal membuang cowok yang satu ini, bisa berarti aku benar-benar gadis yang tidak bisa bersyukur. Mau mencari apa lagi sih? Hh, konyol. Kalau segala perbedaan kami, aku yakin semua pasangan akan mengalaminya juga. Kalaupun saat pacaran sepertinya semua klop, pasti akan tetap muncul perbedaan-perbedaan kala sudah menikah. Nah kami kan sudah menemukan banyak perbedaan itu sebelum menikah. Lagian, ngapain juga pakai kegiatan pra nikah segala. Kami yang memulainya dengan salah. Aku menyetujui perjalanan ini. Jadi kalau aku menuai akibatnya, ini memang salahku.
Siang itu, usai kuliah dia menungguku di depan kelas. Tidak bisa tidak. Akhirnya kami mengobrol dan kuceritakan tentang telepon Ryan.
“Bila saat ini kamu ingin memilih dia, ya, aku mau bilang apa. Mungkin memang perjodohan kita hanya sekian ini. Terserah kamu, Ky. Kamu tahu apa yang terbaik bagi dirimu. Kamu masih berhak memilih. Kita masih belum mengikat janji halal.”
Wajah Nico terlihat datar.
Kuhela nafas. Bukan ini yang kuharapkan.
”Jadi, bersama Kiky atau tidak, bagi kamu tidak masalah, begitu?”
Nico menatapku. Ia menarik nafas dalam-dalam.
”Kamu ngajak berantem terus. Kenapa sih?” tanyanya.
”Kamu mengatakan kalimat tadi seolah semua terserah Kiky. Segala sesuatu di sini ada di tangan Kiky. Jadi nggak salah dong kalau Kiky menangkapnya sebagai pesan yang demikian.”
Nico menghela nafas.
”Bukan itu maksud Nico. Aku hanya mencoba mengatakan bahwa aku tidak memaksamu. Kalau kamu masih ingin memilih dia, itu hakmu. Aku bahagia pernah diijinkan dekat denganmu.”
Kuhela nafas. Ini mulai menguras energi.
“Mungkin memang seharusnya kita bersegera menikah. Semoga dengan menikah, aku dan hatiku tidak mudah tergoyahkan,” kataku. Dalam hati kusambung: ’setidaknya, dengan menjalani semua perbedaan dalam pernikahan, ini dilihat sebagai sebuah proses mempertahankan ikatan suci’.
“Boleh. Tapi untuk menikah tidak hanya melibatkan kita berdua. Tetapi para tetua itu juga. Aku yakin beliau-beliau tidak akan semudah itu membiarkan kita menikah saat ini. Belum lulus kuliah, belum kerja. Untuk sementara ini jelas tidak ada pilihan lain selain kita harus bersabar. Itupun jika kamu memilih untuk terus menemaniku.”
Aku senyum.
”Kamu maunya bagaimana? Ini seharusnya bukan hanya keputusan Kiky, Nic. Jujur saja, Kiky lelah terus menjadi pihak yang merasa kamu jadikan sasaran setiap kali kamu marah kala tidak enak hati. Jika kamu masih menginginkan ini berlanjut, Kiky harap kamu ingat kalau Kiky juga manusia. Kiky punya hati yang bisa sakit karena ucapan atau sikap kamu.”
Nico menundukkan kepala. Ia manggut-manggut.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Papa. Apakah ini yang Papa maksud?
Ucapan Nico menjadi kenyataan. Kami menikah satu tahun setelah aku lulus. Itu berarti Nico sudah lulus dan berkarir kurang lebih dua tahun. Perjuangan yang cukup panjang untuk menikah. Sehingga kadang aku heran. Bila untuk menikah begitu sulitnya, kenapa banyak orang yang dengan mudahnya bercerai setelah sekian lama menikah? Just hopin’ aku tidak bakal sampai ke titik itu.