Kuhela nafas.
Mengingat masa lalu sih, tidak ada habisnya. Tetapi juga bermanfaat sekali, agar kita bisa mengingat hal-hal yang sudah pernah terjadi, efek, dan solusinya. Bukan berarti kita orang yang sulit move on, ya. Tetapi sejarah itu ada untuk diingat kembali dan dipelajari. Konon, tidak ada hal baru di dunia ini. Semua pernah terjadi di masa lalu, hanya dalam format sesuai jaman masing-masing.
Padaku, ambil saja contoh bagaimana dulu jaman SMA aku sibuk sekolah sambil mengabdi di koperasi sekolah. Kalau saat itu aku punya kebiasaan menunda-nunda, bisa kacau banyak hal. Hal serupa terjadi saat kuliah, ketika aku harus belajar, sekaligus mendapat income dari bantu teman mengerjakan tugas desain, gambar, dan translate. Harus selesai tepat waktu itu sudah seperti password harian. Apapun pekerjaannya.
Kebiasaan itu tetap kubawa sampai sekarang. Setelah sekian lama menjalankan usaha penjualan keripik dan komputer ini, aku terbiasa untuk bersegera beribadah pagi, setelah itu langsung online dan memeriksa email. Jika ada pekerjaan, segera kucatat detil kecilnya. Setelah itu komputer kutinggal meski kubiarkan tetap menyala.
Pagi ini sepi pesanan. Jadi aku manfaatkan waktu untuk membuka pertemanan baru dan chat ringan. Pas ada Ryan yang curhat tentang mantannya. Tanpa merasa sungkan, Ryan mendeskripsikan ciri-ciri mantannya itu. Cantik. Rambutnya panjang. Suka mengenakan gaun yang manis. Sekaligus juga tangguh dan keras kepala. Perempuan yang kukuh dengan ucapannya. Sayangnya, dengan gadis sesempurna itu, Ryan ternyata tidak dapat bertahan. Bagi Ryan gadis itu terlalu sempurna. Oh ya, ada satu sifat tambahan yang ternyata sangat penting: untouchable.
Wild centaurus: "Karena tidak tersentuh itu, Ky, makanya aku mundur."
Nicky: "Tidak tersentuh itu yang bagaimana?"
Wild centaurus: "Seseorang yang sudah tidak bisa kugapai lagi. Dunia kami terlalu berbeda. Ayahnya sangat berada. Yang bisa menyentuhnya adalah orang-orang yang sepadan. Mengharapkannya bagai berharap pohon rambutan berbuah durian."
Dalam bayanganku, tidak tersentuh itu seseorang yang tidak bisa disentuh dalam arti sebenarnya. Ini seperti teman-teman yang memegang teguh keyakinan untuk tidak menyentuh lawan jenis sama sekali sebelum sah. Ternyata bukan itu yang Ryan maksud. Jadi instrospeksi diri. Imajinasiku tuh dangkal banget yak. Wkwkwk.
Kasihan juga temanku yang satu ini. Semoga dia tidak sekadar mencari perhatian dan belas kasihan. Lho, jangan salah. Setelah sekian lama chatting dengan sekian banyak orang, aku jadi tahu ada orang-orang yang sok menderita untuk kemudian menjebak lawan chatting-nya. Kadang sekadar mencari teman, kadang malah sampai dijadikan korban seks maya. Menjijikkan. Tapi orang-orang semacam ini benar-benar ada.
Setelah itu, kami berdiskusi tentang usia. Sekian lama berteman, ternyata aku tidak kenal dia. He he he. Usia Ryan lebih tua 3 tahun dariku. Ryan belum berminat menikah. Kami juga bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing. Ryan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia yang penyuka kegiatan lapangan, sekarang harus bekerja di balik meja. Pastinya menderita dan makan batin.
Ia melamar pekerjaan di toko keripikku jika aku membuka lowongan kelak. Dengan senang hati dan sepenuh hati Ryan akan menjadi bagian ekspedisi, agar hasrat kerja lapangannya terpenuhi. Berdiskusi tentang menjalani pekerjaan yang tidak sesuai kata hati, mengundang tanya bagiku.
Nicky: "Mengapa tetap bekerja di situ jika tidak sesuai minatmu?"
Wild centaurus: "Secara minat, bidang ini sangat kusukai. Hanya saja fisikku tidak memungkinkan lagi. Saat ini aku hidup dengan sebelah ginjal paska terluka dalam sebuah perkelahian. Sekarang aku tidak bisa maksimal di lapangan."
Nicky: "Kamu algojo ya?"
Wild centaurus: "Tidak. Aku bodyguard"
Aku terdiam. Bodyguard? Ternyata di Indonesia ada, ya, pekerjaan seperti itu. Spontan aku gerakkan mouse menuju situs pencari. Kulakukan pencarian agen bodyguard di Indonesia. Ternyata banyak, Fernando. Mereka melayani pengawalan mulai artis, politisi, hingga pengusaha, bahkan ibu-ibu sosialita. Tarifnya bermacam-macam, dengan layanan aneka rupa. Ada pula yang menawarkan paket lengkap, mulai dari personil, alat, hingga mobil anti peluru. Keren, Gan.
Jariku sudah hendak mengetik nama Ryan saat aku tiba-tiba sadar diri. Untuk apa, coba? Sudah penasaran banget dengan wajah dia sebenarnya? Ataukah merasa perlu membuktikan sesuatu? Hati-hati, Nyonya. Anda mulai mendekati batas.
Kuhela nafas. Kuputuskan bertanya lebih jauh tentang kronologis perkelahian yang membuatnya kehilangan sebelah ginjal. Aku terpaku menatap baris demi baris ceritanya. Dia yang sedang mengawal tokoh agama. Lalu datang sekelompok orang tidak dikenal yang berusaha menyerang sang Tokoh. Ryan berusaha maksimal melindungi. Ia berhasil, namun sebuah peluru yang ditujukan kepada sang Tokoh, nyasar menancap di pinggang Ryan. Itulah yang melukai sebelah ginjalnya.
Perusahaan tempat kerjanya tahu Ryan sudah tidak bisa maksimal lagi. Tetapi mereka membutuhkan pengalaman Ryan, sehingga ia ditawari tetap tinggal meski terpaksa harus berada di balik meja. Ryan sudah hendak menolak, namun ia sadar tidak bisa memaksakan diri dan kehendaknya.
Belum terpuaskan rasa ingin tahuku, Ryan mengalihkan pembicaraan menuju kabarku. Tentu saja dengan riang gembira kuceritakan tentang kehamilan. Saat-saat seruku. Berbicara tentang seorang bayi yang bahkan aku belum pernah bertemu. Tetapi aku tahu karakternya. Anak yang aktif. Ingin tahu. Suka melakukan hal unik di dalam sana, sehingga perutku gatal luar biasa. Aneh bukan? Tetapi itulah yang kurasakan.
Ryan menyimak, bertanya dan merespon setiap pertanyaanku dengan sangat antusias.
Nicky: "Sepertinya senang sekali aku hamil?"
Wild centaurus: "Ya senanglah. Aku kan tidak mungkin bisa :D"
Nicky: "He he he ada-ada saja."
Wild centaurus: "Seandainya aku yang menjadi ayah bayi itu ...."
Membaca tulisan itu, aku jadi malas melanjutkan. Aku langsung offline. Jadi mikir tentang chatting dengan Ryan. Memang Ryan tidak pernah macam-macam. Tulisannya tidak pernah melecehkan, apalagi menjatuhkan. Asyik-asyik saja. Tetapi seringkali menjurus seperti barusan.
Entahlah. Sebagai ibu hamil, aku merasa harus membatasi chatting dalam urusan yang menyerempet bahaya. Aku khawatir kalau segala yang kulakukan semasa hamil akan terekam pula di kepala bayi mungilku. Jangan-jangan nanti begitu kenal keyboard, dia langsung bisa chatting dengan gadis-gadis.
Hmm, kalau mengingat obrolan tadi, aku jadi yakin kalau dia bukan Ryan yang dulu pacarku. Ryan ‘kan aparat. Masa iya dia rela melepas profesi yang sulit didapat itu. Apalagi usianya sudah 27. Bahkan lebih tua dari Nico. Ini salah. Lagipula, ini internet. Bisa saja nama pria ini sebenarnya bukan Ryan. Bisa saja dia berbohong tentang usia dan dunianya. Mungkin ada jutaan Ryan di dunia ini, sehingga tidak setiap Ryan adalah mantan pacarku. Aku tak perlu melibatkan perasaanku dalam hal ini.
Melogika kesimpulan dan mendapati semua seperti ini, aku merasa lega tingkat dewa.