Sudah dua minggu sejak surat itu datang. Dan Elvano Mahendra masih hidup. Bukan sebagai suami. Bukan sebagai CEO. Tapi sebagai pria yang kehilangan semua yang membuatnya tampak berwibawa, kecuali satu, naluri bertahan hidup. Ia bangkit dari reruntuhan bukan dengan pertobatan, melainkan dengan perhitungan. Pagi itu, ia berdiri di depan gedung tua empat lantai di kawasan industri lama Jakarta Utara. Bekas gudang logistik Mahendra Group, yang bertahun-tahun diabaikan karena tidak ‘layak jual’. Tapi di mata Elvano, ini bukan sekadar properti mati. Ini medan perang barunya. “Bangunan ini nggak punya potensi besar, Pak,” ujar agen properti yang menemaninya. “Terlalu tua. Akses masuk jelek. Kalau boleh jujur—” “Diam,” potong Elvano datar. Ia berjalan menyusuri lorong kosong, debu berterba

