Malam itu, Jakarta seperti memegang napas. Elvano Mahendra duduk di dalam mobil yang diparkir diam di belakang ballroom Hotel Grand Dominion. Jari-jarinya mengetuk setir pelan, napasnya berat tapi terkendali. Di dasbor, undangan resmi bertuliskan : Gala Amal Tahunan Mahendra Foundation : Empowering Women Through Innovation. Nama Lavinia terpampang sebagai tuan rumah dan keynote speaker. Ironi, pikir Elvano. Perempuan yang mengajukan cerai padanya. Yang menjatuhkannya dari posisi puncak. Kini memimpin gala mewah demi ‘memberdayakan perempuan’. Ia tersenyum miring. ‘Kau benar-benar naik level, Lavinia. Tapi kau lupa: aku satu-satunya yang tahu siapa kau sebelum semua ini.’ Ia keluar dari mobil. Pakaiannya sederhana. Jas hitam tanpa dasi, rambut sedikit acak, wajah yang terlalu tena

