Kafe kecil di sudut Menteng itu tenang seperti gereja tua. Musik klasik mengalun pelan, dan aroma kayu manis menyatu dengan senja yang mulai jatuh di luar jendela. Lavinia datang lebih dulu. Ia duduk di sudut, mengenakan blus putih bersih dan mantel krem tipis. Tidak ada pengawal. Tidak ada Seth. Hanya dirinya dan secangkir teh melati yang mengepul lembut. Di depannya, kursi kosong. Ia tidak menoleh ketika pintu terbuka. Aurelia masuk. Rambutnya dikuncir rendah. Gaun hitam sederhana membalut tubuh dengan perut yang nyaris sembilan bulan. Matanya tampak lelah, tapi tegak. Ia berjalan pelan, lalu berhenti di depan Lavinia. “Makasih sudah mau ketemu,” katanya, lirih. Lavinia mengangguk. Ia menunjuk kursi di depannya. “Silakan duduk.” Hening beberapa detik. Tak ada senyum. Tak ada sa

