Sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan pagar. Dari dalamnya, Lavinia melangkah turun. Tak ada publikasi. Tak ada wartawan. Bahkan Seth pun tidak ikut masuk ke dalam bangunan tua yang direnovasi menjadi rumah bersalin itu. Ia hanya menunggu di mobil, membaca koran yang tak ia pahami sepenuhnya karena pikirannya tetap mengikuti langkah majikannya, seperti biasa. Lavinia berjalan sendiri melewati lorong sepi. Suara langkah sepatunya teredam oleh lantai vinyl yang licin. Aroma antiseptik bercampur dengan jejak s**u bayi yang samar. Ia tak membawa bunga. Tak membawa boneka. Bahkan tak membawa satu kata pun. Karena hari itu, ia tidak datang sebagai tamu. Ia hanya datang sebagai seorang perempuan yang ingin memastikan sesuatu dengan matanya sendiri. Di ujung lorong, ia berhenti. Di balik

