Udara malam semakin dingin, tapi Lavinia tak ingin beranjak. Bahu Seth kokoh di bawah kepalanya, terasa nyata. Bukan seperti pundak-pundak masa lalu yang hanya datang saat kamera menyorot atau saat dunia menuntut tampilannya sempurna. Seth tidak menepuk punggungnya. Tidak membelai. Tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Dan justru karena itu, Lavinia merasa benar-benar aman. Karena Seth tahu kadang seseorang hanya butuh ruang diam yang tak diinterupsi. “Waktu kecil aku ingin jadi dokter,” gumam Lavinia pelan. Seth menoleh sedikit, tapi tak menyela. “Tapi ibuku bilang, dokter terlalu melelahkan. Harus berjaga malam. Harus keliling rumah sakit. Harus siap dengan bau darah.” Ia tertawa hambar. “Lalu aku ikut les piano. Kursus public speaking. Latihan tampil di panggung. Semua yang me

