Elvano duduk di ruang kerjanya yang kini sudah bukan miliknya lagi. Ruang itu kosong. Buku-buku sudah dibereskan, sertifikat penghargaan sudah diturunkan. Bahkan asbak kristal yang dulu ia tempatkan di sisi kanan meja pun telah raib, entah siapa yang menyimpannya. Ia menatap jendela. Langit tidak berubah. Hanya dirinya yang tidak lagi berdiri di puncak. Di hadapannya, secarik kertas berisi berita daring. "Lavinia Adine Menggulingkan Suami Sendiri: Mahendra Corporation Dirombak Total." Judulnya tajam, tapi bukan itu yang menusuk hati Elvano. Yang menyakitkan adalah foto Lavinia yang berdiri anggun di podium lantai 30, dengan Seth berdiri satu langkah di belakangnya. Pandangan Lavinia tajam. Tegas. Tak tergores rasa bersalah. Seolah memang begitulah takdirnya. Dan Elvano? Hanya men

