Pintu kaca berlapis baja dibuka dari dalam. Lavinia melangkah masuk dengan setelan abu arang khasnya, rambut ditarik rapi ke belakang. Wajahnya tak menyiratkan apa pun, tidak marah, tidak cemas hanya ketegasan yang dipoles dengan keanggunan. Di ujung ruangan, Elvano berdiri dengan tubuh tegap namun sorot mata tegang. Para direksi sudah duduk. Beberapa dari mereka melirik dengan gelisah, sebagian menunduk, menunggu apa yang akan terjadi. Seth berdiri di belakang Lavinia, tak bersuara. Tapi tangannya memegang koper hitam tipis berisi kertas-kertas yang bisa mengguncang struktur Mahendra Group sampai fondasinya. “Selamat pagi,” ujar Lavinia datar, membuka presentasinya. “Saya takkan membuang waktu kalian.” Ia menatap Elvano sebentar sebelum kembali ke para petinggi. “Saya mengajukan mosi

