Hari-hari berlalu. Lavinia tetap tinggal. Duduk di meja makan seperti biasa. Meminum kopinya tepat pukul tujuh pagi. Memeriksa kalender sosial. Membalas email. Memakai lipstik warna anggur. Tak ada yang berubah kecuali satu hal. Ia tidak lagi bicara pada Elvano, kecuali saat perlu. Dan bahkan saat bicara, nadanya datar. Sopan. Berjarak. Seolah mereka adalah kolega bisnis, bukan suami-istri yang pernah saling mencium bibir satu sama lain dalam gelapnya formalitas pernikahan. Tidak ada ciuman sebelum kerja. Tidak ada pelukan saat pulang. Lavinia menjaga elegansinya seperti zirah, dan Elvano mulai tersesat di dalamnya. Di sisi lain kota, Aurelia hidup dalam senyap. Apartemen kecil yang dulu hanya berisi pakaian dan buku kini dipenuhi vitamin kehamilan, s**u hamil, dan catatan kontrol do

