Bab 49

983 Kata

Elvano Mahendra menatap kosong layar ponsel yang gelap. Sudah lebih dari dua jam sejak ia membuka satu aplikasi pun. Tak ada pesan, tak ada panggilan. Tak ada seseorang pun yang mencarinya hari ini kecuali surat elektronik dari HRD yang mengonfirmasi bahwa ia harus mengembalikan mobil dinas dan jam tangan mewah pemberian perusahaan dalam 3 x 24 jam. Ia duduk di apartemen kecil yang dulu hanya ia gunakan untuk tidur sejenak di tengah malam kerja. Tidak ada kemewahan di sini. Hanya ranjang, meja kerja, dan cermin yang kini menjadi musuh terbesarnya. Setiap ia melihat pantulan dirinya, ia ingin memecahkan sesuatu. Tapi ia tidak melakukannya. Karena ia tahu, Lavinia akan menganggap itu kekalahan yang menyedihkan. Dan ia tak ingin Lavinia berpikir ia kalah. Meski, ia memang kalah. Tapi d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN