Dirga hanya diam selagi Aurora mengompres tangannya dengan air hangat. Buku-buku jarinya memang terlihat agak memar setelah tadi dia menghantamkan tinjunya pada wajah Reyhan. Tadinya dia berniat untuk membuat lelaki itu babak belur sekalian, sampai gigi-giginya rontok semua, kalau perlu. Tapi Aurora segera menariknya masuk ke dalam, sehingga dia tak memiliki waktu untuk melakukannya. “Kamu ngapain sih pakai acara mukul segala? Kan memar jadinya. Mana enak dipakai bat kerja kalau tangannya kayak gini,” Aurora mengomel dengan wajah tertekuk. Wajahnya yang cemberut seperti itu sebenarnya terlihat menggemaskan di mata Dirga. Rasanya lelaki itu ingin sekali mencubit pipi dan hidung kekasihnya itu, namun Dirga tahu kalau suasana hati Aurora tentu saja sedang kacau. “Tadinya aku masih mau ngasi

