Sembilan

1115 Kata
    Setelah memastikan Balqis tidur, Tita berjalan menuju kamarnya. Matanya sambil menyusuri foto-foto yang tergantung di dinding rumah. Ia merasa sedih karena tidak mengingat setiap moment yang terjadi antara dirinya dengan Balqis serta Angkasa. Bahkan yang ia ingat mengenai Angkasa hanya sikap ketus dan cuek pria itu.     Bagaimana mereka berakhir bisa bersama? Tita benar-benar penasaran.     Tita mengamati Angkasa yang sedang sibuk dengan berkas di depan laptop. Ia baru mengetahui jika bekerja, Angkasa mengenakan kacamata. Terlihat begitu dewasa dan tentu saja tampan. Angkasa dan tampan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.     “Gimana hari ini?” tanya Angkasa begitu Tita duduk di sebelahnya.     Tita terdiam sejenak, mengingat pembicaannya tadi siang bersama Balqis. “Hmm.. Angkasa,”     “Ya sayang?”     “Kamu tau enggak nasib rumahku?”     Angkasa membuka kacamatanya dan menutup laptop. Ia menatap Tita dan menggenggam tangan wanita itu. “Rumah itu disita oleh bank, aku enggak terlalu tau bagaimana kelanjutannya apakah sudah laku di jual atau tidak.”     Tita ingin menanyakan lebih lanjut tetapi ia mengurungkan niatnya. Tadinya ia ingin bertanya apakah mungkin jika rumah itu bisa di beli lagi oleh mereka, namun ia segan. Ia hanyalan seorang ibu rumah tangga yang bahkan tidak memiliki tabungan. Ia juga tidak yakin jika Angkasa memiliki uang dengan jumlah sangat besar untuk membeli rumah itu.     “Kenapa?”     Tita menggeleng dan bersandar di d**a suaminya yang begitu nyaman itu.   Mama Amnesia     Tita menatap rumah besar yang menjulang dengan kokoh di depannya. Rumah ini masih sama dengan yang diingatnya, hanya yang membedakan cat yang sudah kusam dan pagar yang sudah terlihat berkarat.     Ia rindu Bi Ica, Pa Ajat, Mama, Papa, ia rindu mereka semua. Tita mulai menangis, ia menutup mulutnya untuk menahan isakan dan menundukkan kepalanya hingga tidak ada yang tahu jika ia sedang menangis.     Mengusap air matanya, Tita beranjak menjauh dari rumah kenangannya itu. Ia berjalan hingga taman kota dan mulai membuka seblak kesukaannya. Sambil memakan ia mulai memikirkan jalan hidupnya.     Ia ingin bekerja, sekolah dan mewujudkan cita-citanya. Namun bisakah? Usianya sudah tidak muda lagi, dan lagi ia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Ia juga tidak yakin Angkasa mau membantunya, mengingat Tita yang ia kenal adalah seorang ibu rumah tangga.     Tita terlonjak kaget merasakan sesuatu yang dingin di pipinya, ia menoleh dan menemukan Rio yang sedang tertawa. “Bolos lagi?”     “Makan seblak lagi, Tante?”     Tita menghabiskan seblaknya dalam satu suapan dan membereskan tempat makannya ke dalam tas. “Kenapa bolos lagi?”     “Ada rapat guru jadi pulang lebih cepat,”     Tita mendengus. “Bohong kamu,”     “Serius kok Tante.” Rio menyimpan tasnya di depan meja dan melipat tangannya menumpukan kepala sambil menatap Tita. “Kenapa Tante? Kok kayak galau?”     Tita menghela napas. “Ini bukan urusan buat anak ingusan kayak kamu.”     “Dih si Tante gitu amat. Coba cerita siapa tahu aku bisa bantu.”     “Kalau aku butuh uang lima juta kamu bisa ngasih?”     Rio mengangguk. “Bisa kok, sekarang juga kalau Tante mau aku kasih.”     “Dih sok kaya!”     “Lah aku kan emang kaya,”     “Buktinya?”     Rio menunjukkan jam tangannya. “Ini jam tangan merek fossil, kalau di jual harganya dua juta.” Tita melihat jam tangan yang terlihat biasa itu dengan teliti. “Fosil? Kerangka manusia?”     “Dih si Tante enggak gaul,” Rio ingin menarik tangannya namun Tita menahan.     “Serius jam tangan ini dua juta?”     “Serius Tante, ada notanya juga kok.”     Tita mengangguk. “Ini buat aku ya,”     “Eh apaan ini?”     “Katanya kamu kaya,”     “Yaaa yang kayak kan emak bapak, lah saya mah cuma kebagian percikannya doang.” Jawab Rio nyengir.     Tita melepaskan tangan Rio dengan kasar. “Dikira beneran kaya,”     “Emang Tante butuh duit buat apa sih? Si Om kagak punya duit ya?”     Tita memukul kepala Rio. “Sembarangan! Suami aku itu mapan, ganteng, mapan, ganteng!”     “Enggak usah diulang juga kali,”     “Lah emang bener.”     “Tante bucin ah,”     “Apaan bucin?”     “Yaaah begitu aja enggak tau?! Bucin itu b***k cinta,”     “Singkatan apaan tuh, maksain! Lagipula emang ada b***k cinta? Yang namanya cinta itu pake hati bukannya kedudukan. b***k itu definisinya suatu kondisi terjadinya pengontrolan terhadap seseorang kepada orang lain.”     Rio tiba-tiba bertepuk tangan. “Tante pintar!”     Tita mengangguk dan memasang wajah angkuh. “Tentu, aku ini selalu juara kedua di sekolah,”     “Lalu juara pertama?”     “Suami tercinta dong,”     “Oh suaminya teman sekolah.”     “Nanti kapan-kapan aku kenalin, pasti kamu bakal mengakui ketampanannya.”     Rio bergidik. “Kalau aku terpesona, berarti hiiiyy amit-amit deh. Sesama lelaki geli kalau saling memuji.” Rio mengambil botol minumnya di tas dan meminumnya. “Oh iya berarti suami Tante sekolah di sekolah Rio juga ya?”     Tita mengangguk. “Dan dia penyumpang paling banyak penghargaan buat sekolah.”     “Oh ya? Siapa namanya?”     “Angkasa Rifan Aiman Rabbani,”     Rio melotot. “What? Angkasa Rifan Aiman Rabbani. Siswa yang dalam setahun menyumbang 7 piagam kejuaraan kimia tingkat provinsi dan mendapat beasiswa untuk kuliah di university of cambridge langsung dari presiden??”     Tita mengernyitkan alis. “Oh ya?” sejujurnya ingatannya tidak sampai situ, ia bahkan terkejut dengan prestasi suaminya itu.     “Kak Angkasa itu suka disebut-sebut sama kepala sekolah setiap upacara apalagi fotonya masih terpajang di ruang guru, katanya sebagai panutan siswa telat juga salah satu kebanggaan yang sekolah punya.”     “Hmmm.. aku enggak yakin sih Angkasa yang kamu ceritain sama Angkasa suami aku orang yang sama atau enggak,”     “Lho kan kalian satu angkatan?”     “Hmm.. sebenarnya beberapa hari yang lalu aku ngalamin kecelakaan dan amnesia.”     “Wow persis kayak cerita sinetron kesukaan emak.”     Tita hanya diam.     “Gini aja besok kita ketemu di sini lagi, aku fotoin foto Kak Angkasa yang di pajang di ruang guru dan nunjukin ke Tante apakah orang yang sama atau enggak. Gimana?”     Tita mengangguk. Jika memang benar itu adalah Angkasa suaminya, teman sekelasnya maka Tita penasaran mengapa Angkasa tidak mengambil beasiswa itu.   Mama Amnesia         Keesokan harinya, sesuai janji Tita bertemu kembali dengan Rio. Bocah itu dengan semangat menunjukkan foto di Hpnya.     “Ini Angkasa yang selalu di sebut kepala sekolah, Tante.”     Tita tersentak, ia menatap dengan seksama wajah yang sangat ia kenal. Lelaki tampan yang menggunakan seragam sekolah, menatap datar ke arah kamera sambil membawa piagam kejuaraan.     Lelaki berwajah angkuh yang hanya menatapnya sedetik dan mengacuhkannya.     Lelaki yang kini menjadi suaminya, selalu menatapnya dengan lembut dan menggenggam tangannya.     Tita tidak mengerti dengan semua ini, mengapa pria itu tidak mengambil beasiswa? Mengapa Angkasa tidak mewujudkan impian yang sudah ia impikan sejak lama dan memilih menjadi karyawan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN