Tita kini tengah duduk di taman kota sambil menunggu jam pulang Aqis. Menikmati seblak yang di bekalnya, ia memakannya dengan lahap sambil menatap sekelilingnya dengan takjub.
Kota Bandung kini benar-benar ramai. Angkot begitu banyak, motor pun tak kalah banyak, kebanyak orang-orang memakai kendaraan pribadi dibandingkan berjalan kaki. Padahal seingatnya, orang-orang lebih banyak berjalan atau menggunakan sepeda, sementara yang menggunakan mobil sepertinya hanya bisa dihitung oleh jari.
Udaranya pun tidak sedingin dulu, Tita merindukan Bandung yang teduh, sepi, udara yang segar, banyak pepohonan dan Angkasa.
Ia merindukan Angkasa yang masih SMA, dirinya yang masih remaja dan keluarganya.
Tita menghela napas dan menghabiskan seblaknya dengan sekali suap. Air mata tanpa sengaja menetes di sudut matanya. Meskipun menguatkan hati, ia masih merasa seorang diri. Ia asing dengan kehidupannya yang sekarang.
“Maaf di sini kosong, Mbak?”
Tita menoleh dan melihat seorang pria berseragam sekolah tersenyum padanya.
“Iya,” jawab Tita dan memperhatikan lelaki muda yang kini menyimpan tas di meja lalu mengambil HP. “Bolos ya De?” tanya Tita.
“Engga,” gumam lelaki itu.
“Kelihatan kok bolos. Mumpung masih muda, banyak-banyak belajar, rajin isi absen, kerjain PR yang bener jangan sampai nyesel.”
Lelaki itu menyimpan Hpnya dan menatap Tita kesal. “Mbak lagi ceramah?”
“Ih anak sekarang enggak sopan ya,” gumam Tita sambil meminum air di botolnya.
“Sekolah itu ngebosenin, monoton! Apalagi gurunya kalau murid salah langsung main hukum tanpa tanya alasan, sementara kalau guru yang salah enggak nerima di kritik. Bikin malas sekolah?! Bukannya sekolah tempat belajar tapi tempat mencari masalah.”
“Duh jadi enggak enak denger curhatnya, kenalan dulu deh. Saya Tita.” Ucap Tita mengulurkan tangannya.
“Rio, Mbak. Masih kuliah ya?”
Tita tersenyum berseri. “Saya kelihatan masih mahasiswi ya?”
Rio terkekeh. “Bercanda Mbak, udah ibu-ibu ya?”
Tita mengerucutkan bibir. “Enggak usah jujur juga,”
Setengah jam saling berbincang, Tita mulai mengetahui mengenai Rio. Lelaki itu bersekolah di SMA yang sama dengan dirinya dan kini telah duduk di kelas 2 SMA. Berbicara dengan Rio membuat Tita merasa bertemu teman sebaya. Pria itu mengajarinya cara menggunakan HP, mengenalkan aplikasi antar makanan dan bermain game cacing.
“Mantap Tante, berat si cacing udah sejuta!” ucap Rio memperhatikan cacing besar di HP Tita.
“Permainan gini mah gampang. Yang menantang kayak main game mario bross, dinner dush, sama final fantasy.”
“Tante seleranya kuno ya,” ejek Rio.
Tita menggembungkan pipinya. “Enggak sopan ya kamu,”
“Ya emang kuno, penampilan Tante aneh!”
Tita memukul meja gemas. “Ah mati!!” ia mendelik Rio. “Kamu ganggu banget sih?”
“Sorry Tante,”
“Eh, emangnya penampilan aku aneh ya? Ini tuh gaul tau!”
Rio menatap Tita, memperhatikan wanita itu yang menggunakan bando dengan pita besar di pinggir dan dress polkadot dilapisi kemeja jeans. Keren sih tapi tetap saja mencolok. Seakan-akan wanita itu tengah mengikuti pemotretan endors fashion. Tapi tidak mungkin, ditanya i********: saja si Tante bengong kagak ngerti i********:. Malah dikiranya i********: itu makanan. Buset dah, ini wanita lahir macam dunia mana.
Rio memekik merasakan dahinya di sentil keras. “Sakit Tante!”
Tita menatap galak Rio, tangannya berdecak di atas pinggang. “Liat apa kamu hah? Enggak sopan lihat saya macam makanan bandros!”
Rio tertawa kecil sambil mengusap dahinya yang sedikit perih. “Bandros mah enak atuh Tante,”
“Terserah kamulah.” Lalu ia melirik jam tangannya. “Aku harus pulang jemput anak.”
“Loh Tante udah punya anak?”
“Udah dong! Udah ah kamu pulang juga, bahaya anak sekolah jam segini keluyuran nanti kamu dicari orangtua.”
“Ini masih siang kali Tante,”
“Tetep aja.”
“Eh Tante udah save kan nomor aku?”
“Udah, nanti kalau saya lagi senggang saya chat kamu minta kamu ajari cara pakai apa itu namanya ingram, gram, stam.. apaan sih?”
“i********: Tante,”
“Nah iya itu.. oke deh bye anak kecil!” ucap Tita melambaikan tangan dan berlari menjauh.
“Si Tante lucu banget sih,” gumam Rio menatap punggung Tita yang menjauh.
Mama Amnesia
“Mama kenapa telat?” tanya Balqis begitu Tita masuk ke dalam kelas untuk menjemput Balqis.
Tita menggaruk rambutnya yang tidak gatal, bingung menjelaskan jika ia sempat tersesat dan harus berputar arah untuk menemukan sekolah. “Tadi Mama ada perlu,” ucapnya gugup sambil mengambil tas Balqis dan menatap Kak Amel dengan pandangan menyesal. “Maaf ya Kak, telat jemputnya.”
“Iya Bunda enggak apa-apa, lagipula Aqis soleha kok,”
Tita tersenyum sambil mengelus rambut putrinya yang halus. “Kalau begitu kami pamit dulu ya Kak.”
“Oh iya Bun, tugas untuk hari ini udah Kak Amel share di grup WA temanya cita-cita dan tadi sambil nunggu Bunda, Kak Amel sempet ajak ngobrol Aqis soal materi ini dan hasilnya mungkin Aqis masih kebingungan untuk profesi yang dia suka, barangkali nanti di rumah bisa Bunda contohkan biar Aqis lebih paham.”
“Iya Kak, makasih ya Kak. Assalamualaikum,”
:Waalaikumsalam Bunda, Aqis hati-hati di jalan ya.”
Sesampainya di rumah, Tita membantu Balqis berganti baju dan menyiapkan makan. Beruntung Angkasa sudah menyiapkan makan siang mereka sehingga Tita tidak harus kesulitan membeli atau lebih parah memasak.
Selesai makan, Tita duduk di sofa sambil memperhatikan Balqis yang tengah bermain dengan mainan legonya. Ia teringat dengan tugas yang diberikan oleh kak Amel.
“Aqis,”
“Apa Mama?”
“Tadi di sekolah ngapain aja?”
“Main,”
“Terus?”
“Main,” ulang Balqis.
Tita mengambil napas berusaha bersabar. Ia tidak terbiasa menangani anak kecil, bahkan ia dulunya sering menghindar jika harus berkumpul dengan anak kecil dan lebih memilih diam di kamar. Namun kini ia tidak bisa menghindar, ia sudah menikah dan Balqis adalah putrinya, darah dagingnya.
Tita turun dan duduk bersila di atas karpet bulu tepat berhadapan dengan Balqis. “Maksud Mama, tadi kak Amel ngobrolin soal cita-cita, nah Aqis sendiri kalau udah besar mau jadi apa?”
Aqis menatap Mamanya sebentar dan kembali menyusun legonya. “Mau jadi orang yang punya banyak uang,”
“Jadi pengusaha?”
“Yang punya uang merah banyak di dompet, biar bisa kasih jajan Mama sama Papa.”
Tita mengerutkan alis. “Ya kan cita-cita nantinya menghasilkan uang, jadi Aqis mau jadi apa? Guru kayak kak Amel?”
“Kak Amel enggak punya uang, kalau pergi pake motor.”
“Lah, kok gitu? Kan siapa tau Kak Amel punya mobil di rumahnya.”
“Enggak punya Mama,”
Tita mencoba bersabar. “Terus Aqis mau jadi apa? Jadi dokter aja ya, ngobatin orang sakit,”
“Jadi dokter nanti punya banyak uang enggak?”
“Banyak banget enggak sih tapi cukuplah.”
“Yah enggak mau, Aqis maunya yang punya uang banyak.”
“Kok Aqis ngomongin uang terus sih? Emangnya punya uang banyak buat apa?”
“Mau beli rumah besar yang deket lapangan gasibu buat Mama,”
Tita menatap bingung putrinya. “Rumah besar yang mana?”
“Itu Mama yang rumahnya kayak di film-film, yang gedeee banget!! Ada 3 lantai, terus dari luar kayak istana.”
Tita menegang mendengar penjelasan Balqis.
“Kan Mama suka ajak Aqis liat ke sana, suka diem di depan rumah.” Lanjut Balqis.
Tita memegang kedua pundak mungil Balqis. “Rumah itu sekarang di jual?” tanya Tita meyakini bahwa yang dimaksud Balqis adalah rumahnya.
“Enggak tau Mama, kan kosong rumahnya terus kayak rumah hantu hiiy, tapi Mama keliatan suka makanya Aqis mau ngumpulin uang biar bisa kasih buat Mama.”
Tita menatap Balqis terharu ia memeluk Balqis dan mengecup puncak kepala putrinya. “Ayo kita cari uang yang banyak ya! Di rumah itu di dalamnya ada kolam renang besar, terus ada kolam ikan juga.”
Balqis berbinar mendengar ucapan Tita. “Beneran Ma? Jadi kalau Aqis mau renang tinggal nyebur aja?”
Tita mengangguk.
“Kok Mama bisa tau dalam rumahnya?”
“Cuma nebak,” jawab Tita menyembunyikan fakta bahwa itu adalah rumahnya.