Shaura Azalia Christa, itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup berada saat itu, hingga sampai suatu hari papaku yang bekerja sebagai karyawan sebuah bank meninggal karena dibegal saat pulang kerja. Waktu itu usiaku delapan tahun. Karena mamah sebelumnya tidak bekerja, dan masih memiliki aku yang harus menjadi tanggung jawabnya, mamah akhirnya menikah lagi dengan Om Rio, teman SMA mamah, setahun setelah papa meninggal. Awal menikah dengan mamah, Om Rio bersikap sangat baik dan sayang sekali padaku, aku pun merasa dekat dengan dia. Hingga saat aku naik kelas V SD, dia dipecat dari kantornya karena ada pengurangan pegawai. Itulah awal mula mamah pergi menjadi TKW, untuk membiayai hidup keluarga kami. Mamah tak khawatir meninggalkanku bersama Om Rio, karena memang kami sudah seperti ayah dan anak kandung. Aku pun tak ragu ditinggal oleh mamah, karena aku yakin Om Rio akan menjagaku dengan baik.
Namun, setahun setelah mamah berangkat, petaka mulai menghampiriku. Om Rio memang orang yang setia, selama ditinggal mamah bekerja di luar, aku tak pernah sekalipun melihatnya membawa perempuan lain ke rumah. Padahal aku tau, Om Rio memiliki nafsu yang sangat besar. Aku sering melihatnya bersetubuh dengan mamah, kadang di kamar dengan pintu terbuka, kadang di ruang tamu, bahkan pernah aku melihat mereka bercinta di dapur. Malam itu saat liburan semester mendekati pergantian tahun, hal buruk itu terjadi. Om Rio tiba-tiba masuk ke kamarku. “Ara, ayah boleh tidur di sini?” tanyanya. Dia selalu menyebut dirinya ayah saat berbicara denganku. Aku hanya mengangguk. Tak terbesit sedikitpun pikiran kotor di benakku. Tiba-tiba aku merasa tangan Om Rio meremas dadaku. “aaahh.. ayah ngapain?” tanyaku. “Ara, ayah lagi stress, Ara mau bantuin ayah?” katanya. “bantu apa yah?” tanyaku. Om Rio menurunkan celana piamanya, dan keluarlah senjata yang berdiri tegak di sana. “Tolong kocokin ya Ra, semenjak mamah pergi, joni tidak pernah ada yang menjamah” kata Om Rio. Awalnya aku takut, namun dia meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. “Tapi Ara nggak tau harus ngapain yah” kataku. “Kamu sekarang lepas dulu semua pakaianmu, nanti ayah ajarin.” Aku menurutinya, kini aku sudah telanjang. Terpampang tubuh ramum mulusku dihadapan ayah tiriku. Aku cukup bongsor untuk anak seusiaku, tinggiku 150cm, dengan p******a berukuran 32 A, bagian bawahku pun mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, ditambah kulit kuning langsat dan wajah imut khas wajah oriental turunan dari almarhum papaku yang memang campuran chinesse dan jawa tentu akan membuat setiap laki-laki bernafsu untuk menerkamku. “Ara, sexy sekali kamu sayang.” Kata Om Rio menelan ludahnya. “Sekarang kamu pegang Joni ya sayang” diarahkannya tanganku ke senjatanya lalu digerakan naik turun. Om Rio terlihat menikmati apa yang aku lakukan. Kini tangannya mulai meremas-remas dadaku, dan memainkan puncaknya yang berwarna pink dan masih runcing. “aahhhhh” aku mendesah tak kuat menahan rasa geli saat dadaku dimainkan olehnya. Sekitar lima menit tiba-tiba senjata Om Rio berkedut, lalu keluar cairan berwarna putih kental hingga mengenaik wajah dan rambutku. “ouuuhhhhh Ara, enak sekali.” Kata Om Rio. Dia lalu menyuruhku untuk mencuci muka, setelah itu mengecup keningku lalu kami tidur telanjang hingga pagi.
Berawal dari saat itu, hampir setiap hari Om Rio meminta “jatah” padaku. Sampai suatu malam setelah aku dinyatakan lulus SD dan tinggal mendaftar ke SMP incaranku. Saat kami menonton televisi, aku bertanya, “Ayah, waktu ayah sama mamah telanjang itu, apakah mamah juga lagi ngocokin ayah?” tanyaku polos. “Itu ayah dan mamah sedang saling memuaskan Ara sayang, ayah mengocok mamah, mamah juga mengocok ayah, sampai akhirnya nanti keluar bareng-bareng” jawab Om Rio. “Ooooh, tapi kan mamah tangannya remesin dadanya yah, jadi ngocok ayahnya gimana?” tanyaku lagi. “Pakai ini Ara sayang” jawab Om Rio sambil menggesek selangkanganku. “Ahyahh” kataku sedikit mendesah. Aku merasa seperti tersengat arus listrik saat Om Rio menyentuh guaku dari luar celanaku. Aneh, malu, geli, enak, perasaan itu bercampur menjadi satu. “Berarti joni dimasukin ke ininya mamah yah? Emang bisa? Punya ara aja garisnya sempit begini.” Tanyaku lagi. “Bisa dong sayang, punya kamu itu namanya v****a, nah v****a itu adalah organ paling lentur yang ada di dunia ini, jangankan joni, bayi aja bisa keluar lewat situ” jelas Om Rio. Aku mendengarkan dengan baik penjelasan Om Rio. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba, “Ara, kamu mau coba itu sayang?” tanya Om Rio dengan senyum mesumnya sembari mengusap lembut rambut lurusku yang hampir sepunggung ini. “Coba apa yah?” tanyaku bingung. “Coba ngocok Joni pakai itu?” “Aaaahhhh” aku mendesah lagi saat Om Rio kembali menyentuh guaku. “Ara takut yah, kan punya Ara Cuma garis aja” kataku. “Ya dicoba saja dulu, kalau nggak bisa ya nggak usah dipaksa.” Jawab Om Rio. Tiba-tiba Om Rio mencium bibirku, aku yang kaget sedikit menarik kepalaku, namun dia menahan tengkukku. Aku mencoba mengikuti apa yang akan dilakukan ayah tiriku ini. Tanpa terasa aku mulai menikmati permainan Om Rio, lidah kami kini saling bergulat, aku merasakan nikmat saat Om Rio menghisap bibir bawahku sembari meremas-remas dadaku. Om Rio mengajakku untuk ke kamar. Sesampainya di kamar, langsung dilepasnya semua pakaianku, hingga kini aku telanjang. Kembali dia mencium bibirku dan memainkan puncak dadaku. Aku menggelinjang tak karuan merasakan setiap sentuhan tangannya di dadaku. Kini ciumannya beralih ke pipiku, lalu menjilati dan menggigit daun telingaku yang membuatku mendesah. “Ahhh ayahhh” desahku. Bibir Om Rio turun ke leher jenjangku, lalu ke dadaku, dia menjilat memutari puncakku, dia hisap dan menggigitnya pelan. “aaahhhhh... ayahhhh” hanya itu yang keluar dari mulutku. Kini dia mulai turun ke perutku, dan mencapai guaku. Dijilatnya garis pintu guaku berulang kali hingga aku semakin kelonjotan. Lidahnya berusaha masuk ke dalam guaku. Merasakan rasa yang begitu geli dan nikmat saat lidah Om Rio menyentuh sesuatu di guaku. “Ayahhhh... aa..... aaraaaa... hmmmppp... mau pipis yahhh” kataku. “keluarkan saja sayang, jangan di tahan” jawab Om Rio. Aku merasakan sesuatu mengucur dari dalam guaku, hingga membuat seluruh tubuhku merasa kaku, lalu terkulai lemas. “Sayang, ayah coba masukin joni ya?” tanya Om Rio. Aku hanya mengangguk pelan, karena tubuhku seperti kehilangan tenaga. Om Rio menggesek-gesekan senjatanya di guaku. “ouuughhhhh..” “aaahhhhh” desahan kami. Hingga terasa senjata Om Rio akan menembus guaku. Om Rio terlihat kesulitan, hingga akhirnya dia mendorong dengan keras, hingga senjatanya masuk seutuhnya di guaku. “AYAAAHHHHHH SAKITTT YAHHHHHH” teriakku merasakan rasa sakit yang paling sakit yang pernah aku alami. Perih, panas, pokoknya lebih sakit daripada luka baru yang diberi betadine. “Tahan sayang, nanti juga hilang sakitnya” kata Om Rio sembari mengusap air mataku. Setelah beberapa saat Om Rio mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, aku merasakan rasa sakitku perlahan menghilang berganti menjadi kenikmatan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. “Ayahhh... Araaa..... Mau pipis lagi yahhhh” kataku. “Sabar sayang ayah juga mau keluar” kata Om Rio. Tak berselang lama aku sudah tidak tahan lagi hingga akhirnya aku pipis untuk yang kedua kali, Om Rio semakin mempercepat gerakannya. Lalu menarik senjatanya dari guaku dan menumpahkan cairan putih itu di perutku hingga ke dadaku. “Aaahhhh Araa sayanggg” lalu ambruk di sampingku, sekali lagi dia mencium keningku “terima kasih sayang, ini yang paling enak yang pernah ayah alami.” Katanya setelah itu. Aku melihat darah di senjata Om Rio dan di sprei-ku, “darah apa itu? Apakah milikku terluka?” kataku dalam hati. Belum sempat aku memeriksa aku tiba-tiba pingsan.
Pagi hari aku terbangun, sementara Om Rio masih tidur di kamarku. Aku mencoba berjalan dan mengambil pakaianku berniat untuk ke kamar mandi. Aku merasa begitu nyeri di selangkanganku. Aku berjalan dengan tertatih dan pergi mandi membersihkan tubuhku. Saat pipis aku masih merasakan perih di guaku. Selesai mandi aku menyiapkan roti, kopi, dan s**u untuk sarapan aku dan ayah. Tiba-tiba bel rumah berbunyi, dengan tertatih-tatih aku berusah membuka pintu. Sosok yang berdiri di depan pintu membuatku menangis dan langsung memeluknya. Mamah. Setelah hampir dua tahun akhirnya mamah bisa pulang juga. “Ara sayang, mamah kangen banget sama kamu nak, kamu apakabar anak mamah yang paling cantik” kata mamah sambil mencium dahi dan kedua pipiku. “baik mah, mamah apa kabar? Ara juga kangen banget sama mamah” jawabku sembari mengusap air mataku. Kami berjalan masuk, melihat cara jalanku yang aneh, mamah bertanya “Ara kamu kenapa sayang?”. “Nggak papa mah, cuma agak sakit aja anuku” jawabku. “Ayah dimana sayang?” tanya mamah lagi. “aaaa.... anu mah, ayah masih tidur, kayanya kecapekan” jawabku. Tatapan mamah langsung berubah, dia langsung bergegas ke kamar, namun tidak menemukan Om Rio. Lalu pergi ke kamarku, tiba-tiba terdengar seperti sesuatu dilempar. “b******n, BANGUN KAU b*****t” teriak mamah. Lalu menjambak rambut Om Rio lalu menyeretnya keluar dari kamar. Aku hanya bisa duduk dan menangis melihat pertengkaran mamah dan Om Rio. “DASAR LAKI-LAKI OTAK s**********n, BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUH PUTRIKU” mamah terlihat sangat marah dan berulang kali menampar Om Rio. “Ratna, dengarkan dulu penjelasanku” kata Om Rio. “PENJELASAN APA YANG HARUS AKU DENGARKAN DARI SEORANG PENJAHAT KELAMIN SEPERTIMU” bentak mamah. “aku laki-laki normal yang butuh menyalurkan hasratku, sementara kamu berada di sana, setidaknya aku tidak menduakanmu Ratna” kata Om Rio. “b*****t, LEBIH BAIK KAU BERSELINGKUH, ATAU BERMAIN DENGAN p*****r, ATAU PEREMPUAN MURAHAN DI LUAR SANA, DARI PADA DENGAN ANAKKU. RIOOOOO... APA YANG ADA DI OTAKMU b******n, KAU BILANG AKAN MENGANGGAP ARA SEBAGAI ANAKMU SENDIRI, APA INI YANG DILAKUKAN SEORANG AYAH PADA ANAKNYA?? SEKARANG AKU MAU KITA BERCERAI. DAN AKU AKAN MELAPORKANMU KE POLISI” kata mamah. Tiba-tiba Om Rio bangkit langsung mencekik mamah “RATNA, KAU TIDAK MENGHARGAI KESETIAANKU, BERANI KAU MEMINTA CERAI DARI KU, KAU DAN ARA TAK AKAN PERNAH BISA MENGHIRUP UDARA SEGAR LAGI”. Lalu Om Rio menarik paksa baju dan celana mamah, lalu menyetubuhi mamah di hadapanku. “RIO, AHHHH,,, SAKIT ANJING, b******n KAU RIOOOO” teriak mamah. Aku yang tak tega melihat mamah, berlari keluar rumah tanpa memperdulikan rasa sakit di selangkanganku, meminta bantuan tetangga untuk menolong mamah. Tak lama beberapa orang datang ke rumah, menyeret Om Rio ke kantor polisi dengan tuduhan KDRT. Mamah masih terus menangis, aku memeluk mamah, mencoba menenangkannya. Beberapa hari mamah bolak-balik mengurus perceraiannya dengan Om Rio.
Sudah hampir tiga bulan mamah di rumah, dan hampir setiap hari mamah menangis meratapi keadaan ini. Aku pun merasa kehilangan Om Rio yang menurutku sangat menyangiku, namun aku juga tidak tega melihat mamah menangis setiap hari. Hingga setelah turun surat resmi perceraian mamah dan Om Rio, mamah meminta Tante Dian datang ke rumah. Mamah menceritakan semua yang terjadi, dan Tante Dian pun bertanya kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku menceritakan semua dengan runtut, mulai dari malam saat pertama Om Rio minta aku mengocok senjatanya hingga sampai saat kejadian malam itu. Akhirnya Tante Dian memberi saran untuk membawaku ke rumahnya, dan meminta mamah kembali berangkat menjadi TKW agar tidak semakin stress. Akhirnya mamah pun setuju, dengan mempertimbangkan keadaanku nanti jika Om Rio keluar dari penjara.