"Kau harus makan." Dengan setelan kerja masih melekat di tubuhnya. Gery menghampiri Lucy. Wanita itu terdiam, bersandar pada kepala ranjang. "Ingat anak dalam kandunganmu, Lucy. Kau harus perhatikan kesehatannya juga," nasehat Gery yang dibalas senyum remeh di wajah Lucy. Hanya menganggap perkataan Gery tadi hanyalah lelucon tidak berguna. "Hah, aku tahu sekarang. Kau begitu peduli pada anak ini. Karena dia anak adikmu, 'kan?" tuduh Lucy, luka dalam hatinya belum benar-benar sembuh. Kini, luka lain menimpanya kembali. Diantara jutaan orang di dunia ini, kenapa ia tidak bertemu dengan orang lain saja, kenapa justru Tuhan mempertemukannya dengan orang yang memiliki hubungan saudara dengan orang yang sangat ia benci. Kenapa? "Aku membebaskan mu. Keluar dari sini jika kau mau. Tapi kau me

