Enam Puluh Dua

764 Kata

Satu Minggu setelah pernikahan, Tian memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya tinggal di rumah peninggalan sang kakek. Rumah cukup besar, sayang kalau tidak ditinggali. Seminggu pernikahan, tidak banyak yang mereka lakukan. Selain bergelung di bawah selimut bertiga dan bermain di sekitar area rumah. Tidak honeymoon. Tidak ada pula pekerjaan. "Sayang, Mama baru tahu loh. Ternyata Papamu itu pemalas. Menyesal Mama menikah dengan Papamu." Merasa disindir, Tian mencebik. Ia memiringkan tubuhnya, menatap istri dan anaknya. "Bukan pemalas, sayang. Aku lagi menikmati waktu berdua bersama kalian." Lucy menggerakkan tangan anakknya sembari berujar, "Kay juga butuh makan,Pa. Butuh uang buat beli s**u. Kay mau mainan." Tian ikut memegang tangan anaknya, terdekat dari sisi ia berbaring. "Kay m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN