Ahan masih tidak terima dengan keputusan semena-mena Hugo dan Emma. "Rumah ini milik keluarga Bharion, tidak boleh ada orang lain yang mengurusnya." "Lalu, Kakak yang mau mengurus rumah?" tany Hugo. "Bukankah Kakak ingin fokus mengurus perusahaan? Kenapa harus mengurus hal remeh di rumah?" Ahan mengepalkan kedua tangannya di masing-masing sisi, menatap marah Hugo yang sudah memprovokasinya. "Kamu- belum berubah sama sekali." "Bukankah Kakak yang belum berubah? Masih kekanakan," sahut Hugo dengan nada malas. Lilian berteriak histeris. "Tidak! Kamu tidak boleh keluar dari rumah! Hugo, larang Kakak kamu keluar dari rumah, dia calon pewaris keluarga kita, hanya dia yang bisa Ibu harapkan." Hugo tidak peduli. Mulut Emma menganga. Lilian terlihat mati-matian ingin mengusir anak bungsunya,

