Hugo menatap pria yang ada di hadapannya saat ini. Sedangkan Emma di sampingnya hanya cengegesan.
“J-jadi begitu cerita singkatnya,” ucap Emma pada pria itu dengan senyum lebar dan percaya diri.
“Kamu akan menikah dengannya?” Danny bertanya, beberapa waktu lalu dia membantu Emma mengetahui hubungan gelap mantan tunangannya dengan Mia.
Hasil penyelidikan Danny pun membuat Emma memutuskan kabur dari pernikahan.
“Dan kalian memintaku untuk—“
“Aku akan membayarmu, aku harap kamu mampu merahasiakannya,” tegas Hugo.
Danny tidak bisa berkata-kata.
Hanya beberapa jam setelah pembicaraan mereka. Danny kembali dengan seorang polisi satwa yang memakai seragam acak-acakan, seolah baru bangun tidur..
“Hai, Evan.” Hugo menyapa pria yang baru saja datang dengan Danny.
Keterkejutan di wajah pria yang baru disapa Hugo itu. “What the hell? Hugo? Kamu kabur dari penikahan dan sekarang malah menyuruh seseorang menculikku?”
“Sorry, Van. Aku butuh bantuanmu untuk menjadi saksi pernikahanku,” ucap Hugo kemudian menarik paksa Evan untuk masuk.
“Jadi, kau beneran kawin lari dengan wanita lain?” tanya Evan dengan terkejut.
“A-“ Perkataan Hugo belum berlanjut harus terpotong dengan suara keras.
Tidak lama, terdengar suara diketuk keras dan teriakan di luar pintu.
"HUGO! BUKA PINTUNYA SEKARANG!"
"HUGO! KALAU KAMU MAU MATI JANGAN SEKARANG!"
"MATINYA NANTI SAJA SETELAH MENIKMATI SUNSET YANG TENANG!"
"BUKA PINTUNYA SEKARANG ATAU KAMI DOBRAK!"
Hugo mengenali dua suara yang berteriak sumbang bergantian di luar pintu, hanya saja kenapa kedua temannya malah meneriakkan hal konyol?
“K-kamu menyuruh mereka datang? K-kenapa hanya aku yang diculik?” Pertanyaan aneh dari Evan membuat Emma sedikit tertawa. Lelucon kecil, menurutnya.
Hugo menghela napas lalu membuka pintu serta menyambut kedua temannya yang panik dan memiliki raut wajah pucat. "Oh, hallo."
Ditya dan Bima saling bertukar tatapan lalu memeluk Hugo bersama.
"Kalau bunuh diri, jangan sekarang. Apa kau tidak sayang dengan nyawa?" Ditya memeluk erat Hugo yang lebih tinggi darinya.
"Benar, masih ada hewan yang butuh pertolongan di luar sana, jangan mati dulu. Seblak juga masih dijual." Bima menambahkan dengan kalimat ngawurnya, karena Hugo tidak suka dengan seblak.
Hugo memutar bola mata lalu melihat satu teman lagi yang hanya berdiri diam, menatap dirinya. "Oh, hai Donny."
Donny menghela napas lalu menarik kedua temannya untuk masuk ke dalam apartemen. Hugo menutup pintu apartemen setelah memastikan di kondisi luar aman.
"Kau baik-baik saja? B-berarti email yang dikirim ke kami palsu?” tanya Ditya dengan khawatir.
Bima yang tubuhnya gemuk serta Ditya yang sedikit kekar dengan mudah diseret oleh Donny.
“Setidaknya kalian lebih beruntung dariku, tidak diculik datang ke sini.” Suara Evan mengalihkan padangan dua orang yang baru saja datang itu.
“Evan? K-kamu juga ada di sini?” tanya Ditya dengan bingung.
“Belum lama, setelah diculik oleh detektif ini,” tunjuk Evan pada Danny.
“Apa yang terjadi? Kamu kawin lari dari wanita lain? Ayahmu bahkan mencarimu ke apartementku.”
“Ini, Emma. Wanita yang kawin lari denganku seperti yang kalian tahu.”
“Damm. Ternyata benar kau kawin lari.” Umpat Bima.
Emma tidak bisa berkata-kata, statusnya kini adalah kawin lari. Dia hanya bisa menampilkan senyum terbaiknya supaya tidak berat sebelah dengan perkenalan yang dilakukan Hugo.
“Ceritanya panjang. Aku akan jelaskan. Tidak sepenuhnya gossip itu benar,” tegas Hugo.
“Ya. Tapi, nggak bisa mematahkan fakta kau lari dengan dia sambil bergandengan tangan masuk ke dalam taksi. Kalau bukan kawin lari, apa? Membawa kabur calon pengantin orang?”
Empat teman Hugo, Evan, Bima, Ditya serta Donny sesaat tertawa kemudian menatap Emma dari atas sampai ke bawah, sayangnya terhalang meja jika ingin melihat dari bawah secara langsung, tidak mungkin dirinya berjongkok, bukan?
Emma masih tersenyum setelah menyadari dapat tatapan menilai dari Evan.
Evan mengangguk paham.
"Hai, hallo. Kau wanita yang unik. Kawin lari dengan pria macam dia." Telunjuk Ditya menunjuk ke arah Hugo.
“Kau membawa apa yang kuminta?” Hugo bertanya pada Donny.
"Ya. Aku membawa formulir pernikahan seperti yang kamu minta di email." Donny menyodorkan amplop cokelat besar ke Hugo. "Bima mendapatkannya dari keluarga. Sebenarnya, kami tadi bingung kenapa kamu meminta ini, ternyata kamu kawin lari, itu benar!"
“Kalian sudah lama punya hubungan?” tanya Evan menyelidik.
“Tidak!”
“Terus kenapa kamu—“
“Dia menarikku pas kabur dari kejaran orang-orang suruhan orang tuanya!” Emma pun mengeluarkan suara.
“J-jadi benar kamu membawa kabur pengantin orang lain?” Kali ini Bima bersuara.
“Tidak. Dia juga kabur!” Hugo sedikit membantah tuduhan temannya.
Semua shock, dua orang yang kabur dari pernikahan malah ingin menikah?
“Apa yang sebenarnya terjadi? K-kenapa kamu kabur dari pernikahanmu?” Evan menyelidiki. “Paman, benar-benar marah saat tahu kamu kabur.”
Hugo diam sesaat. “Aku melihatnya keluar dari kamar Ahan pagi hari sambil celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang melihatnya.” Hugo menjawab dengan santai.
Emma menatap kasihan Hugo.
Mulut empat teman Hugo menganga. Tidak mengatup karena terkejut dengan fakta yang baru saja didengar olehnya.
“What the f**k!” Tanpa sadar Evan mengeluarkan umpatannya.
“Dia serius melakukannya?” Bima seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Hugo jika kekasihnya tidur dengan kakak Hugo, Ahan.
Hugo memperlihatkan raut wajah yang enggan untuk kembali menjelaskan.
“Why?” tanya Donny.
"Gila! Bukankah kalian berdua saling mencintai?" tanya Ditya yang tidak paham. "Jadi, itu sebabnya kamu hendak balas dendam dengan menikah sekarang?"
"Ya." Angguk Hugo. “Tidak perlu dibahas lagi masalah itu. Ada yang lebih penting dari hal itu,” tegasnya dengan santai, lalu menoleh ke Danny. “Apa kamu sudah print out apa yang aku minta di email?"
Danny bergegas mengeluarkan dua amplop cokelat besar dari tas ranselnya yang diletakkan di samping kaki.
"Ya, aku bawa. Kamu bilang ini penting, tentu aku membawanya." Setelah itu memberikan satu ke Emma dan lainnya ke Hugo.
Hugo menjelaskan ke Emma dan mengeluarkan dokumen dari amplop cokelat. "Dokumen yang diberikan detektif adalah surat perjanjian yang aku persiapkan semalaman, kau bisa membaca atau menambahkan manual di sana."
Emma melakukan hal yang sama seperti Hugo lalu mulai membacanya dengan seksama.
"Beritahu aku jika kamu ingin mengganti beberapa hal," ucap Hugo.
Emma mengangguk lalu mulai mencoret surat perjanjian yang dibuat oleh Hugo.
Keempat teman Hugo hanya duduk diam, memperhatikan apa yang dilakukan teman mereka dan tidak mengganggu sampai selesai. Tidak lama, mereka berdua mulai menandatangani formulir pernikahan dan menyerahkannya ke Donny.
“Seluruh asetku atas nama Emma. Aku tidak mau mereka akan mengakuisi asetku jika tahu vet adalah milikku. Ahan, pasti akan memintanya sedangkan seluruh karyawanku hidup dari sana.”
"Yang benar saja, rumah sakit hewan itu hasil kerja keras kau selalu bertahun-tahun."
"Keluargamu sangat menyeramkan. Mereka berusaha mencari tahu ke pemerintah yang menangani tanah dan bangunan. Tapi, tenang saja aku sudah memberikan tip untuk mereka agar tidak membocorkan data pemerintah."
“Tapi kenapa kamu mau menikah dengan temanku yang tidak punya perasaan ini?” Ditya bertanya pada Emma.
“Hartanya!” jawaban Emma singkat membuat teman-temannya melihat ke arah Hugo. Mereka menganggap jika Hugo benar-benar bodoh, kabur dari wanita yang mengincar harta malah menikah dengan wanita yang mengincar harta juga.