Suasana ruang makan keluarga Hugo cukup tegang setelah kekacauan yang dibuat olehnya.
"Apakah kamu sudah mendapat kabar tentang Hugo?" tanyanya ke Ahan.
Ahan yang sedang makan dan duduk di sebelah kanan meja panjang dengan sang ibu duduk di kepala meja, yang melambangkan kepala keluarga, menggerakan garpu dan sendok dengan malas.
"Dia sudah dewasa, dia bisa melakukan apa pun yang disukainya."
"Ahan." Tegur Lilian.
"Ibu, aku punya banyak pekerjaan yang sangat penting dari pada harus mencari anak yang lebih suka bermain-main dengan hewan." Ahan menjawab dengan tegas. "Dia sudah dewasa dan bisa pulang dengan kakinya sendiri, dia bukan anak kecil lagi, Bu."
"Tapi, dia sudah mempermalukan nama Bharion. Keluarga kita." Lilian masih bersikeras. "Aku ingin menghukum anak menyusahkan itu."
"Karena dia menyusahkan bagi Ibu, sebaiknya tidak perlu dicari." Ahan semakin kesal mendengar nama Hugo. "Biarkan dia melakukan apa yang disukainya."
Bharion merupakan salah satu keluarga terkenal di Indonesia dan juga pemilik grup besar. Bisnisnya di bidang pariwisata, produk makanan terkenal, kebutuhan rumah tangga dan lainnya sangat terkenal di Indonesia, bahkan salah satu produknya sudah mendunia.
Lilian Bharion merupakan kepala keluarga dan salah satu wanita yang ditakuti di kalangan pebisnis, memiliki tiga anak laki-laki yang cerdas, impian para Ibu di dunia. Sayangnya, hanya satu yang bisa menjadi pewaris Lilian, yaitu anak pertama, Ahan.
"Ahan, Hugo berguna untuk kamu. Dia bisa membantu bisnis kau jika sibuk, kau tidak bisa menangani semuanya sendirian."
Ahan menatap Lilian dengan dingin. "Apakah sekarang Ibu tidak percaya pada anak sendiri?"
"Bukan seperti itu, maksud Ibu."
"Lalu, yang bagaimana maksud Ibu?" Tekan Ahan. "Aku sudah berusaha keras untuk bisa menjadi pewaris, dia tidak boleh muncul di perusahaan kita, Ibu. Apakah Ibu tidak mendengar ucapan dewan direksi yang membandingkan aku dengan anak yang suka bermain itu?"
"Ahan-" Lilian menatap sedih putra kesayangannya. "Jangan diambil hati perkataan mereka, Ibu percaya kamu mampu dan bisa melebihi semuanya."
"Karena itu, tolong! Jangan buat anak bermasalah itu mengganggu pekerjaanku!" teriak Ahan. "Aku memang suka bermain dengan banyak wanita, tapi aku bisa membagi waktu antara bekerja dan bermain. Lagi pula, pria mana sih yang bisa tahan tanpa bermain dengan wanita? Tidak ada!"
Ivan menyahut dengan kalimat kecil. "Ada tuh. Buktinya Hugo dan Ayah! Mereka tidak suka bermain dengan wanita."
Ahan melempar gelas ke arah Ivan.
Ivan menyingkir dan gelas itu meluncur ke belakang kursinya, menimbulkan suara berisik.
"APAKAH KAMU TIDAK BISA MENGHARGAI KAKAK KANDUNG?!" Teriak Ahan yang tidak bisa menjaga amarahnya lalu menatap Lilian sambil menunjuk adik bungsunya. "Ibu bisa lihat kan, anak itu bahkan sudah berani membantah perkataan aku!"
Lilian menatap tajam Ivan dan menegurnya dengan nada dingin. "Ivan, apa kau tidak bisa menimbulkan pertengkaran di meja makan?”
Ivan memutar bola mata dan meminta maaf. "Maafkan aku, Ibu, Kakak."
Ahan meredakan amarahnya dan mengalihkan perhatian ke Lilian. "Kita semua tidak tahu alasan Hugo kabur dari pernikahannya dan mempermalukan keluarga kita, Bharion. Jadi, jangan mencari anak itu ke dalam rumah kita, biarkan dia berjalan dengan kakinya sendiri. Ketika sudah bosan, dia pasti muncul sendiri dan meminta maaf, saat itu—Ibu baru bisa menghukumnya."
“Tidak perlu menunggu bosan. Aku sudah datang,” seru Hugo membuat semua terkejut dengan kehadirannya.
“Hugo, kamu—" Lilian, beranjak dari tempat duduknya. “Syukurlah kamu sudah pulang, kita bisa membicarakan kembali mengenai—“
“Maaf. Aku datang bukan untuk membahas pernikahan, aku datang untuk memperkenalkan istriku pada kalian semua.”
Bak disambar petir Lilian mendengar perkataan putra keduanya itu. “I-istri? A-apa maksudmu, Hugo?”
Hugo berbalik badan dan berjalan ke luar untuk menjemput Emma yang saat ini tengah gugup karena untuk pertama kali ia akan bertemu keluarga Hugo.
“Perkenalkan, dia Emma. Istriku. Kami telah resmi menikah kemarin.”
“Hugo! Kau tidak lagi bercanda ‘kan? Kau kabur dari pernikahan hanya karena kawin lari dengan wanita ini?” Ahan mengitimidasi Hugo membuat pria yang tengah dibentak itu melihat ke arahnya.
“Ya. Seperti yang kamu bilang barusan, Kak. Aku kabur dengannya karena tidak ingin menikah dengan Audrey. Aku tidak berniat menikah dengan gadis yang keluar dari kamarmu,” tegas Hugo. Tangannya saat ini tengah digenggam oleh Emma, seakan wanita yang bersamanya tengah memberikan dukungan untuknya.
Ahan terkejut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Hugo. Tidak hanya Ahan tetapi Lilian juga, apa yang baru saja dikatakan Hugo benar-benar diluar nalarnya.
“Jangan memfitnahku, Hugo!” teriak Ahan yang seperti biasa, tidak mau mengakui kesalahannya.
“I-iya, benar, sayang. Jangan memfitnah kakakmu,” seru Lilian yang tidak percaya dengana pa yang dikatakan putra keduanya.
Hugo tertawa kecil. “Fitnah? Aku tidak memfitnah siapapun di sini!” tegas Hugo. “Apa yang aku katakan itu benar.”
“Jangan memfitnahku Hugo!”
“Berhentilah berbohong dan katakan saja jika kau tidur dengan Audrey. Mataku tidak buta Kak! Jelas-jelas aku melihatnya keluar dari kamarmu. Kamu masih ingin menyangkal telah meniduri kekasih adikmu?” Hugo mengeluarkan amarah yang telah dia pendam. Sejak melihat Audrey keluar dari kamar Ahan, dia telah menahannya. Bahkan telah mempersiapkan pelarian saat pernikahan.
“Biar Kak Ahan saja yang menikah dengan Audrey,” ucap Hugo.
Lilian tidak tahu apa yang tengah terjadi di hadapannya saat ini. Hugo kembali dengan mengumumkan telah menikah setelah kabur dari pernikahan kemudian memberikan kabar mengejutkan jika alasannya kabur karena Ahan tidur dengan Audrey.
“Kamu—“ Ahan mengepal tangannya dengan erat, menatap tajam Hugo penuh dengan kebencian. Sangat jelas permusuhan di antara mereka telah tersulut secara terang-terangan.
Setelah itu, Ahan pun pergi dari sana. Meninggalkan semua yang berada di ruang makan.
“Aku datang bukan untuk meminta restu kalian, aku hanya ingin memperkenalkan Emma pada kalian saja,” tegas Hugo. “Dan juga, aku tidak akan kembali ke perusahaan. Aku akan menjadi dokter hewan!”
“Apa kamu gila, Hugo? Kamu pikir, kamu punya masa depan jika menjadi dokter hewan?”
Entah kenapa Emma merasa lucu ketika mendengar ibu dan anak sedang berdebat mengenai dokter hewan, biasanya kalau di film atau sinetron sih, mereka memperdebatkan pekerjaan lain yang lebih bonafit.
“Aku tidak gila. Aku ingin mandiri. Tidak bergantung pada kekayaan yang dimiliki keluarga kita.”
“Tapi perusahaan membutuhkan dirimu!” Lilian menjadi bingung dan ingin menangis ketika mendengar keputusan putra keduanya. "Tetap di perusahaan dan bantu kakak kamu."
“Bukannya ada Ahan? Aku rasa dia bisa mengatur perusahaan. Lagi pula dia adalah penerus perusahaan!” ucap Hugo. Dia tidak ingin siapapun mengatur pendiriannya.
Sejak tadi Emma hanya diam di samping Hugo.
Lilian memijat kepala yang tengah sakit. Dia benar-benar tidak tahu harus membujuk Hugo seperti apa agar kembali ke perusahaan. Tidak masalah jika Hugo tidak menikah dengan Audrey tetapi keluar dari perusahaan? Dia masih tidak bisa terima hal itu.