Sama seperti ketegangan di keluarga Hugo, di keluarga Emma pun penuh ketegangan setelah Emma kabur dari pernikahan dan Mia yang menggantikan Emma.
Mia harus menghadapi suasana tegang kedua orang tuanya di ruang makan. Mereka tidak mengucapkan apa pun ke Mia, begitu pulang ke rumah.
"Ayah-" Mia memanggil ayahnya dengan nada sedih, biasanya jika memakai nada suara ini, hati sang ayah akan luluh.
"Makan yang tenang, Mia. Ayah lelah hari ini."
Mia melirik ibunya. "Ibu."
Ibu tersenyum sedih ke Mia lalu kembali fokus makan.
Mia menjadi kesal lalu meletakkan sendok dan garpu ke atas meja. "Jangan diamkan aku seperti ini, aku jelas tidak tahu apa pun. Kenapa semuanya terkesan menyalahkan aku?"
"Tidak ada yang menyalahkan kamu, Mia." Ibu menenangkan Mia dengan senyum terbaik. "Ayah dan Ibu masih sayang sama kamu."
Kedua mata Mia menyipit. "Ibu pasti bohong, aku hanya anak haram di keluarga ini- kakak yang harus lebih diutamakan karena anak sah kalian."
Ayah semakin kesal dan membanting sendok di atas meja. "APAKAH AKU SUDAH TIDAK DIANGGAP DI SINI?!"
Mia dan ibunya terkejut, lalu menoleh ke kepala keluarga secara bersamaan.
"Mia, tolong. Ayah sama Ibu sedang lelah, jadi jangan bicara dulu. Kami masih ingin istirahat." Ayah menarik napas dalam untuk menekan emosi, sambil memijat keningnya dengan letih.
Ibu berdiri lalu menepuk pelan punggung suaminya. "Emma tidak akan pergi jauh, dia pasti kembali. Dia tidak bisa hidup tanpa kita."
Mia semakin kesal dengan ucapan ibunya dan berteriak di dalam hati. Tidak bisakah kalian biarkan dia pergi saja, daripada mengganggu kehidupan kita?
Mia tidak mungkin menyuarakan kekesalannya di depan orang tua dan membantu ibu tiri untuk menghibur ayahnya. "Meskipun Kakak sempat menjebak, aku yakin Kakak tidak memiliki niat jahat."
Kedua mata ayah menyipit ke Mia. "Kamu bicara apa? Tidak ada niat jahat? Dia jelas-jelas mempermalukan Ayah di depan umum dengan kabur, kenapa kamu masih membela dia."
Mia sedikit terkejut melihat reaksi sang ayah, lalu tersenyum lebar sambil menggenggam erat tangannya. "Ayah, Kakak pasti punya alasan sendiri untuk hal ini. Aku yakin sekali, nanti Kakak akan kembali dan ingin bertemu dengan Ayah untuk meminta maaf, lagi pula Kakak sangat mencintai tunangannya."
"Berhentilah membela kakak kamu, dan makan sana." Ayah menarik tangannya lalu menatap wanita yang sedang berdiri di sampingnya. "Kamu juga makanlah, akhir-akhir ini kamu makan sedikit karena terlalu sibuk membantu anak tidak tahu diri itu."
Ibu duduk kembali di kursinya, berhadapan dengan Mia lalu tersenyum canggung. "Jika anak kita kembali, tolong jangan dimarahi- biar bagaimana pun dia pasti membutuhkan kita, orang tuanya."
"Kamu terlalu memanjakan Emma, sehingga dia bertindak sembarangan seperti ini."
Ibu Emma membantah ucapan suaminya. "Tapi, selama ini Emma tumbuh sendiri, aku percaya kepada dia. Kita selalu memanjakan Mia karena dia tidak tumbuh bersama orang tua selama ini."
"Kamu masih belum berubah, di usia sekarang masih saja suka membantah," kata ayah Emma dengan nada tinggi. "Mia itu sejak kecil hidupnya tidak seberuntung Emma, harusnya dia bisa memahami sedikit adiknya. Bukan malah dipermainkan seperti itu, wajahku juga malu luar biasa di pesta."
Ibu Emma tidak membantah dan kembali fokus makan dengan perasaan pahit sementara Mia makan dengan tenang.
Ayah menepuk punggung tangan Mia. "Kamu jangan seperti kakak kamu, di masa depan."
Kedua mata Mia bersinar, ayahnya sudah memaafkan dia dan melimpahkan kesalahan ke Emma seperti biasa. "Terima kasih, Ayah selalu mengerti perasaanku."
Ayah mengangguk puas lalu kembali makan.
Sedangkan Emma tengah menghadapi Hugo yang benar-benar menepati janji, pria kejam itu berhasil menyeret Emma untuk menjadi perawat hewan.
Para staf yang berkumpul dan diperkenalkan Hugo, menjadi penasaran namun tidak berani mengutarakannya.
Emma mewanti-wanti Hugo untuk tidak membahas status pernikahan mereka, dia tidak mau dianggap menjilat ludah sendiri karena sempat bersumpah tidak akan memiliki suami macam Hugo. Yah, mau bagaimana lagi, waktu itu Emma masih jatuh cinta dan percaya pada Azam.
Dokter hewan perempuan yang masih penasaran, bertanya pada Emma saat mereka berdua sedang mengurus pasien rawat inap. Dokter hewan memegang dan memeriksa kucing yang masih lemas dan diinfus sementara Emma membersihkan kandang kucing berukuran enam puluh centimeter sampai bersih dan steril.
"Jadi, kenapa kamu bisa muncul bersama dengan Dokter Hugo?"
"Kebetulan bertemu di persimpangan jalan, dia memberikan tumpangan gratis," jawab Emma dengan sembarangan.
"Benarkah?"
"Apakah aku terlihat berbohong, Dokter?"
"Masalahnya kami ingin memberikan warning untuk kamu."
"Warning?"
"Dokter Hugo itu cowok red flag," kata dokter hewan tersebut, setelah memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. "Jangan coba-coba jatuh cinta."
"Bukankah Dokter Hugo tidak pernah dekat dengan wanita lain?" tanya Emma yang masih tidak paham. "Bukankah cowok red flag itu untuk cowok yang suka mempermainkan hati perempuan?"
"Yah, Dokter Hugo memang tidak terlihat seperti itu. Tapi, kamu lihat sendiri kan, dia sering membuat menangis para staff, aku saja dulu sempat dibuat menangis, tapi bertahan demi gaji dan juga pekerjaan sih. Di luar sana pekerjaan dokter hewan masih belum sejahtera."
Emma mengangguk paham.
"Dokter Hugo akan mencari kesalahan kecil dan marah kepada kita, atau kadang kali diam sambil menatap dingin. Yang lebih sering sih, yang kedua. Jauh lebih menyeramkan, kamu harus hati-hati, jangan terpikat dengan wajah tampannya."
Emma menaikkan salah satu alisnya. Jika dipikirkan kembali, memang tidak ada staff rumah sakit yang jatuh cinta dengan fisik Hugo, kebanyakan lebih ilfeel karena melihat kelakuannya. "Yah, memang dia bekerja sesuai dengan mood, saat magang saja dia menjadi tidak sabar."
Setelah memastikan kandang dan alas bersih, dokter hewan memasukkan kucing ke dalam kandang. "Lebih baik cari yang lain, oh ya- bukankah kamu punya tunangan yang sering dibanggakan itu? Katanya mau menikah setelah lulus kuliah, kenapa kamu malah kerja? Bukannya tidak diizinkan kerja?"
Emma tersenyum masam. "Setelah dipikirkan kembali, tunangan aku juga red flag. Aku terpaksa kabur dari tempat pernikahan."
"Hah? Masa? Astaga, yang sabar ya-"
Emma terpaksa cerita jujur, daripada menutupinya. Hugo jika marah akan menjadi manusia ember, jadi dia sudah antisipasi sejak awal, supaya tidak ada yang menatap kasihan dirinya. "Ya, dia cowok red flag dan menghilang dua minggu sebelum akad, bagaimana bisa aku bertahan?"
"Padahal kamu sayang banget sama dia ya," kata dokter itu sambil mengambil seekor anjing yang baru saja melahirkan dan memeriksa kondisi ibu serta kelima anaknya.
"Kenapa anjing poodle ini masuk rawat inap?" tanya Emma dengan penasaran.
"Induknya melahirkan semua anak dengan sungsang dan terlilit pusar, akhirnya kami operasi."
"Ah, maaf. Saya tidak melihat bekas operasinya." Emma menjulurkan lidah karena tidak terlalu teliti.
"Tidak masalah, bisa bantu aku pindahkan anak-anaknya? Kandang harus dibersihkan."
Emma membantu dokter hewan memindahkan anak-anak anjing poodle itu ke dalam box, lalu membersihkan kandang dengan cepat, mengganti perlak dan memberikan makanan serta minuman baru.
Dokter hewan memperhatikan Emma yang cekatan. "Ah, akhirnya kamu bisa kembali ke rumah sakit lagi ya."
"Ya?"
"Meskipun kamu pelupa dan sering dimarahi Hugo, tapi kamu cekatan dalam bekerja. Rasanya sayang sekali jika kehilangan rekan kerja yang handal."
Emma tertawa canggung, tidak tahu harus bagaimana bereaksi karena tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran. Akhir-akhir ini dia menjadi sensitif karena ulah ambigu Hugo. Menyebalkan sekali rasanya.
Setelah memastikan kondisi induk dan anak-anaknya tidak bermasalah, dokter hewan segera mengembalikan ke dalam kandang. "Kamu tahu, rasanya kami sulit sekali mendapat tim yang solid dan cekatan seperti kamu. Yah, memang ada kekurangan sih, tapi kami jadi kehilangan kamu, Emma. Tadinya kami berharap kamu menjadi pegawai tetap, tapi ternyata kamu ingin menikah dan menjadi istri."
Emma tersenyum kecil.
"Tapi, mungkin Tuhan mendengarkan doa tulus kami- jadinya kamu bisa kembali bekerja bersama kami."
Emma bertanya di dalam hati. Apakah ini yang namanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?
"Oh, ya. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta penyambutan kamu menjadi pegawai tetap di sini? Nanti malam kita bisa bersenang-senang." Dokter hewan menjadi antusias dengan idenya.
Emma menolak dengan sopan. "Ah, maaf. Hari ini aku ingin istirahat- kemarin melewati hari yang melelahkan."
Dokter hewan menurunkan kedua bahunya dengan kecewa. "Oh, begitu."
"Ah, kapan-kapan saya akan membuat banyak makanan untuk para staff di sini."
Kedua mata dokter hewan berbinar. "Benarkah?"
"Ya, sebagai rasa bersyukur karena aku bisa bekerja di sini."
"Oh, aku sangat menyukai itu. Aku mau."
Emma menggosok hidungnya dan tertawa di dalam hati. Yah, yang akan memasak nanti atasan tercinta kita.
Di saat Emma sedang sibuk bekerja di ruang rawat inap bersama seorang dokter hewan, Hugo menatap dingin seekor kucing yang menantang dirinya.
Pemilik kucing itu menjelaskan penyakit yang dialami si kucing dengan panik. "Dia dari kemarin lemas dan tidak mau bergerak sama sekali, dok. Saya menjadi khawatir, bergerak saja tidak mau, saat saya menggoyangkan toples snack, dia tetap tidur-tiduran. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Susana."
Hugo menaikkan salah satu alis begitu mendengar nama kucing gembrot itu, yah memang cocok namanya Susana. Eyeliner yang melingkar di sepanjang mata, mirip dengan mata panda jika mau disebut lucu, tapi menyeramkan jika mengingat hal yang menyeramkan.
"Apakah seharian dia masih mau makan dan minum?"
Pemilik itu memiringkan kepalanya. "Yah, tempat makan dan minumnya selalu kosong sih."
"Kamu selalu mengisi tempat makan dan minum jika kosong? Tidak dijadwal?"
"Tidak, dia selalu kelaparan dan saya tidak tega meninggalkan sendirian dalam kondisi lapar. Orang tua dan adik saya juga melakukan hal sama. Dia kalau kelaparan seperti reog dok, jadinya kami selalu isi."
Hugo melipat kedua tangan di depan d**a dan menatap Susana yang masih duduk tegak, menatap galak dirinya. "Hm, memang penyakit yang menyusahkan."
"Ya?" Pemilik Susana menjadi panik. "Apakah Susana menderita penyakit parah dok?"
Hugo mengangguk. "Parah, sangat parah sampai kantong pemiliknya jebol."
Pemilik Susana menatap sedih kucing kesayangannya. "Dok, tolong selamatkan Susana bagaimana pun caranya. Dia kucing pertama saya dan sudah saya anggap sebagai anak, saya masih belum siap kehilangan Susana."
Hugo menggelengkan kepala dengan miris. "Ck, ck, ck. Apakah kamu dengar itu Susana? Kamu benar-benar kucing nakal."
Seolah memahami perkataan Hugo, dia mengeong panjang dan mengibaskan ekor.