Dua staf perawat hewan yang berjaga di dalam ruangan, tidak tahu harus bereaksi apa. Hanya bisa memperhatikan pertarungan mata antara dokter dan pasien gemblongnya, lalu kepanikan pemilik si gemblong. Jika dokter hewannya memiliki selera humor, mungkin di dalam ruangan akan dipenuhi dengan tawa. Namun sayangnya yang menangani adalah dokter Hugo yang terkenal tegas dan tidak banyak bicara.
"Dokter, selamatkan Susana." Pemilik kucing itu menangis dengan panik.
Hugo mendesis lalu menghela napas. "Berjanjilah satu hal jika kamu ingin si gem- maksud saya Susana, diselamatkan."
"Tentu saja, saya akan melakukan apa pun untuk Susana."
Hugo mengangguk lalu menyentil kepala gemuk kucing jenis persia flatnose berwarna putih dan hitam itu,
Susana menggeram marah tapi terlalu malas untuk bergerak.
"Berikan jadwal makan untuk dia, jangan terlalu banyak atau sedikit. Berikan jenis makanan diet, kami menjual makanan diet untuk kucing, tinggal pilih mana yang cocok. Harganya memang mahal, tapi bagus untuk kesehatan si kucing."
Bertahun-tahun menjadi dokter hewan, Hugo bisa menilai pemilik kucing yang royal, berkemampuan terbatas dan hanya asal merawat. Pemilik kucing Susana sepertinya akan mengeluarkan banyak uang untuk kehidupan sejahtera anak gemblongnya.
"Jangan lupa untuk selalu dibawa jalan-jalan atau renang kalau bisa, untuk menurunkan berat badan. Kucing tidak bisa terlalu gemuk, akan berdampak pada kesehatannya." Hugo masih tidak bergerak dan hanya menatap lurus Susana yang masih menantang dirinya.
Pemilik Susana menjadi bingung dan cepat-cepat mencatatnya di handphone begitu menyadari si dokter hewan tidak menuliskan apa pun di kertas. "Pelan-pelan Dok, saya sedang mencatatnya. Saya takut lupa."
Hugo dengan sabar memberikan saran untuk kesejahteraan gemblong, maksudnya Susana.
Pemilik Susana menjadi semakin bingung. "Anu, Dok- Susana, kenapa lemas dan tidak mau bergerak sama sekali ketika saya panggil?"
"Apa lagi? Tentu saja karena dia malas bergerak, lihat tubuh gembrotnya."
Pemilik Susana tidak memperhatikan ada yang aneh dengan Susana. "Tapi, sebelumnya dia berlari dengan lincah, Dok. Sama saudara-saudaranya yang lain."
"Iya, lincah. Begitu menyadari betapa lelahnya olah raga- dia memutuskan menjadi tukang rebah." Hugo memeriksa kondisi perut si Gem- Susana.
Susana menggeram marah namun tidak melawan, malah hanya merebahkan diri di atas meja periksa.
"Lihat, daripada melawan musuh- dia lebih suka rebahan dan menggeram." Hugo menggeleng lalu memasang stetoskop dan memeriksa lebih lanjut,
Tidak dibutuhkan bantuan karena Susana sudah ikhlas menyerahkan diri pada Hugo.
Pemilik Susana hanya menutup wajah dengan kedua tangan karena merasa malu dengan kelakuan Susana. "Maafkan saya, Dok."
"Tidak masalah, justru bagus peduli terhadapnya." Hugo memasukan kembali stetoskop ke dalam kantong jas putihnya. "Tidak ada masalah yang aneh di dalam tubuh. Apakah ingin memeriksa lebih lanjut, seperti tes darah? Supaya bisa yakin."
"Bisakah begitu?" tanya pemilik Susana. "Saya tidak peduli dengan harganya, saya ingin memastikan Susana sehat. Ah, bukan berarti saya tidak percaya dengan ucapan Dokter."
"Tidak apa, memang harus memastikan lebih lanjut. Bisa dilakukan tanpa saya, biar Perawat yang melakukan tindakan tes darah."
"Uhm-"
"Ada apa?"
"Apakah tidak harus disuntik atau diberikan resep?" tanya pemilik Susana.
"Untuk sementara tidak, dia hanya harus menurunkan berat badan. Saya tidak mau menambah suntikan vitamin atau lainnya, dia sudah terlalu sehat di mata saya."
Pemilik Susana menghela napas lega. "Terima kasih, Dok."
Hugo mengangguk singkat lalu memberikan ruang untuk salah satu perawat membawa Susana ke luar ruangan bersama pemiliknya.
Hugo duduk di kursi praktek dan menghela napas. "Selanjutnya siapa?"
"Dokter tidak mau istirahat dulu? Dari tadi periksa pasien tanpa henti," kata perawat hewan pria.
Hugo melihat jam di handphonenya. "Tidak perlu, masih belum jam makan siang."
Perawat hewan mengangguk lalu memanggil pasien selanjutnya.
***
Emma yang baru dari ruang rawat inap, pergi ke bagian kasir dan melihat tempat praktik dokter hewan yang bisa dilihat dengan kaca tembus pandang dari luar. Suaminya yang tampan, bekerja tanpa henti menangani pasien. Dia mengerutkan kening. "Bukankah dokter Hugo terlalu banyak kerja, tanpa istirahat? Saya tadi lihat menangani pasien, dan sekarang masih menangani pasien?"
Kasir yang berjaga di pintu masuk, melihat ruang periksa. "Yah, memang Dokter Hugo pekerja keras."
Emma memberikan dokumen laporan perawatan hewan ke seorang admin yang duduk di samping kasir. "Ini, sudah selesai. Bisa laporkan ke para pemilik hewan."
"Baik." Admin menerima laporan dari Emma. "Apakah kamu khawatir dengan Dokter Hugo?"
Emma mengerutkan kening dengan jijik, begitu mendapat pertanyaan itu.
"Yang biasa saja kali, tahu kalau kalian bermusuhan," sahut admin sambil tertawa geli. "Akhir-akhir ini memang banyak sekali pasien yang datang, yah syukurlah. Eh, tapi harusnya tidak perlu bersyukur ya?"
Staff kasir dan Emma tertawa geli.
Admin mulai cerita ke Emma. "Meskipun Dokter Hugo ditakuti di rumah sakit oleh para staff, tapi banyak pemilik pasien yang ingin ditangani oleh dokter Hugo. Yah, Dokter Hugo tergolong senior sih."
Emma mengangguk paham. "Ya, dia memang Dokter senior dan bisa diandalkan. Tapi, bukankah dia spesialis perawatan kritis hewan? Harusnya dia berada di ruang operasi, menangani pasien."
"Apanya yang mau dibilang kritis? Tidak semua pemilik hewan setuju melanjutkan operasi untuk hewan mereka, kadang ada juga yang peduli tapi terkendala dengan biaya. Satu-satunya cara yang bisa kita bantu adalah mencarikan donatur atau dokter-dokter di sini mencari uang tambahan untuk menutup biaya operasi." Admin mengangkat kedua bahu dengan santai. "Fakta menyedihkan negara Indonesia tercinta kita."
Emma menghela napas panjang dan kembali menatap ruang praktik, setuju dengan pendapat admin. "Ya, memang menyedihkan sekali. Ah, apakah dari tadi perawatnya hanya satu?" tanyanya ke kasir sementara admin sudah mulai sibuk memberikan informasi kepada para pemilik hewan.
"Tadi ada dua, tapi salah satu keluar karena ada pasien yang mau melakukan tes darah. Sisanya memang tinggal satu itu."
Emma ingin masuk ke dalam ruang praktik dan membantu, tapi urung ketika melihat pasien selanjutnya setelah ruang praktik sudah disteril. "Tunggu, bukankah ada ruang khusus untuk penanganan reptil? Kenapa ada ular phyton yang bisa masuk?"
Kasir menaikkan salah satu alis dan menatap heran Emma. "Hm? Akhir-akhir ini ada peningkatan peliharaan reptil, jadi ruang antrian khusus reptil sudah penuh."
Emma merinding ketika melihat Hugo mengangkat ular phyton itu dengan bantuan dua orang pria dewasa, perawat hewan dan pemilik ular.
Kasir melihat ular itu dengan kagum. "Wah, sepertinya ular yang jenisnya mahal. Usianya juga masih muda, itu bisa lebih besar lagi kalau sudah dewasa."
Emma terkejut mendengar penjelasan dari kasir. "Bisa lebih besar lagi? Darimana kamu tahu?"
"Oh, cowok saya kebetulan pedagang ular peliharaan, jadi saya tahu sedikit mengenai ular."