bc

The Art of Your Love

book_age16+
300
IKUTI
2.1K
BACA
love-triangle
goodgirl
student
drama
bxg
serious
small town
first love
lonely
waitress
like
intro-logo
Uraian

Kyla Dawson membenci musim semi melebihi apapun di dunia ini. Ia telah kehilangan kedua orang tua dan saudari kembarnya di musim itu. Kyla pikir, kehadiran Calvin telah menggantikan semua hal yang terampas dalam hidupnya. Namun, musim semi lain datang, memporak-porandakan hati Kyla seperti badai. Bagaimana bisa ia membagi hati kepada dua lelaki yang berbeda?

Haru Tanaka hanya laki-laki pemurung yang menerima beasiswa di salah satu institusi seni di London. Berawal dari sebuah kesalahpahaman, hubungannya dengan Kyla Dawson berkembang menuju ke arah yang tak terduga. Berkat Kyla, sesaat Haru dapat melupakan tujuan kedatangannya ke London; mencari seseorang demi menebus rasa bersalahnya.

Hingga kebenaran masa lalu di antara mereka terungkap, akankah Haru sanggup menghadapi kebencian gadis yang ia cintai?

“Namamu terdengar bagus, musim semi juga musim yang indah. Sayangnya, musim itu telah merenggut segalanya dariku.”

“Ternyata pencarianku berhenti sampai di sini.”

Musim semi membawa semuanya pergi, dan musim semi jugalah yang membawanya kembali.

chap-preview
Pratinjau gratis
1: Kesialan (1)—Insiden Limun dan Lux
Calvin’s Table. Restoran itu tidak pernah sepi pelanggan. Setiap hari, terutama pada jam makan siang, Calvin’s Table selalu diserbu puluhan mahasiswa dan pekerja kantoran. Tak heran karena letaknya yang strategis menjadi faktor utama mengapa restoran itu ramai dikunjungi. Caroline Institute of Arts atau yang lebih dikenal dengan CIOA terletak persis di belakang Calvin’s Table. Selain itu, gedung-gedung tinggi perkantoran mengitarinya bagaikan semut yang mengerubungi gula. Para pramusaji yang berlalu-lalang sibuk mengantar dan membereskan pesanan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Terkadang pramusaji-pramusaji itu merasa kewalahan melayani ledakan pelanggan yang terus berdatangan. Entah karena letaknya yang strategis saja atau menu-menu yang tersedia sangat pas di kantong mahasiswa. Yang jelas, tiada yang mau melewatkan jam makan siang tanpa singgah di Calvin’s Table. Kyla Dawson, gadis berambut cokelat sebahu itu menyeka keringat setelah mengelap permukaan meja. Senyuman kecil bertengger di bibirnya tatkala melihat ramainya konter pemesanan. Hingga ia menyadari sesuatu, dan tepukan Stephannie—manajer resto—membuatnya terkesiap. Kyla menoleh dan mendapati wajah Stephannie pucat pasi. “Ada apa, Sis? Semuanya baik-baik saja?” tanya Kyla, merujuk pada antrean konter pemesanan yang semakin membentuk kerumunan tak beraturan. Stephannie menggeleng. Ia menggigiti kuku-kuku panjangnya yang terpoles cantik oleh hiasan kelinci. “Tidak ada yang baik-baik saja. Oh sial, aku selalu kikuk dalam situasi seperti ini.” Pandangan Kyla kembali tertuju ke arah kerumunan. Tampak Carl, Mitchel, dan Franda memasuki kerumunan untuk menetralisir keramaian. Sayangnya, tiada satupun yang mengindahkan. “Biar aku yang mengurusnya. Kau tenang saja.” Detik berikutnya, Kyla memberanikan diri mengambil langkah mendekati kerumunan. Susah-payah ia melewati lautan manusia yang berdesak-desakan menyaksikan apa yang terjadi di tengah-tengah mereka. Begitu ia mencapai titik paling tengah, seorang wanita bersurai pirang terlihat menunjuk-nunjuk seorang pemuda Asia yang berdiri di hadapannya. Wajah wanita itu merah padam. Rambut pirangnya yang tergerai cantik menjadi acak-acakkan dan Kyla bertanya-tanya mengapa pemuda itu justru memasang muka sedatar tembok walau makian wanita pirang amat menyakiti telinga. “Hah, ada apa dengan pelayanan restoran ini? Panggil manajernya!” teriak wanita itu, “kenapa mereka membiarkan pria m***m ini memasuki restoran? Apa kalian sudah hilang akal?” Kening Kyla berkerut kesal mendengarnya. “Maaf, Nyonya. Kami akan mengganti rugi apabila Anda tidak puas dengan pelayanan kami.” “Apa kau manajernya?” hardik wanita itu, mendelik marah. Lagi-lagi telunjuknya mengacung pada si pemuda Asia. “Kau tidak lihat anak ingusan di depanku, Nona? Dia sengaja menyerobot antrean dan berusaha menyentuhku. Dasar—” “Apa yang kulakukan?” potong si pemuda Asia. Kyla pun menoleh, matanya membelalak, terkesima akan pesona Asia yang melekat dalam diri pemuda itu. Mata sipit yang tajam, alis lurus yang tidak terlalu tebal, hidung mancung, bibir tipis, rahang dan dagu lancip, serta rambut hitam ikal yang menjuntai hampir menutupi mata. Sesaat Kyla membayangkan betapa menyenangkannya memiliki seorang kenalan dari Asia. Sejak lama ia mengagumi budaya Asia Timur dan mempelajarinya di internet. Apa pemuda itu berasal dari Cina? Jepang? Atau Korea? Kyla tidak segan bertanya seandainya pemuda itu tak berkata, “Bukan aku yang menerobos antrean, melainkan Nyonya ini.” Wanita pirang mendengus. “Setelah hal kurang ajar yang kaulakukan, sekarang kau berdalih?” “Hal kurang ajar apa yang telah kulakukan? Coba katakan.” Bisik-bisik makin tak terkendali. Wanita pirang menggeram seakan dirinya adalah mesin tua yang mengeluarkan asap ketika dinyalakan. Kyla tak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun berkat sikap kurang ajar pemuda ini, ia mulai menerka-nerka permasalahan di antara mereka. Seorang wanita tidak akan mengamuk di tempat umum apabila seorang pria tidak mengganggunya. Dengan kata lain, pastilah pemuda Asia yang lebih dulu mengganggu wanita pirang sampai restoran menjadi heboh. Pejalan kaki di luar mulai menempelkan mata pada kaca resto. Kyla harus segera mengakhiri pertikaian ini sebelum semuanya bertambah runyam. “Nyonya, bisakah Anda menjelaskan apa yang terjadi?” tanya Kyla hati-hati. Wanita itu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, mendesah keras. “Laki-laki ini sungguh memalukan! Bagaimana bisa dia menyentuh p-pantatku di saat aku lengah? Hah, aku tidak merasa penampilanku terlalu mengundang, tetapi dia sudah melakukan hal tak senonoh padaku!” “Apa?” Semua orang sontak membelalakkan mata, tak terkecuali si pemuda. Para pramusaji saling bertatapan mencerna pernyataan wanita pirang. Calvin’s Table terkenal akan pelayanannya yang ramah dan sistem keamanannya yang tinggi. CCTV ada di setiap sudut resto dan dengan beraninya lelaki ini justru bertindak di luar batas. Kyla menggeretakkan gigi. Bisa-bisa rusak repurtasi restoran karena pemuda itu. Alih-alih meminta maaf atau membela diri, senyuman miring perlahan menghiasi bibir pemuda Asia. Tatapan matanya menunjukkan sorot merendahkan. “Kusarankan lebih baik Anda debut akting di layar lebar daripada menciptakan drama di sini, Nyonya.” “Tuan, tolong jaga bicara Anda!” tegur Kyla. Manik kelam pemuda itu beralih menatapnya. “Nona, dengar, aku tidak perlu banyak bicara jika aku tidak bersalah. Matamu bahkan sudah menghakimiku.” “Bocah sialan!” “Kau lebih percaya padanya, Nona?” Mendadak Kyla menyesali kekaguman tak berdasarnya pada pemuda itu. Visualnya boleh diumpamakan seperti manusia yang keluar dari komik. Namun, tabiatnya tak sebagus rupanya. Mana ada laki-laki yang memperlakukan wanita seperti ini? Lama menunggu jawaban Kyla, pemuda Asia akhirnya berbalik untuk meninggalkan restoran. Kyla mendongak, dengan cekatan menahannya pergi. Ia menarik paksa lengan si pemuda lalu meraih segelas limun di baki Franda. Cairan lengket berbau asam mengaliri wajah pemuda Asia ketika Kyla mengucurkan limun dari atas kepalanya. Sebagai sentuhan akhir, Kyla melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kanan pemuda malang itu. “Jangan pernah kembali dan menginjakkan kaki di restoran ini lagi!” Kyla bernapas kasar sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu keluar resto. “Tentunya kakimu akan mendengarkan perintah otakmu, bukan? Atau haruskah aku memanggil polisi supaya mereka memberimu pelajaran yang berharga, Tuan m***m?” --- Suara tawa menggelegar, memantul-mantul di seluruh penjuru kamar asrama yang sempit. Kamar berukuran 4x5 meter itu dihuni oleh tiga laki-laki muda berbeda karakter. Shim Hongbin, pemuda berkacamata berkulit seputih s**u. Badannya agak berisi, tetapi terlihat ideal untuk laki-laki seusianya. Kemudian di samping Hongbin, duduk pemuda berambut pirang terang dengan bintik-bintik cokelat di garis horizntal wajahnya. Pemuda itu adalah Steve Foster, makhluk paling waras dan bijak di antara kedua roommate-nya. Dia selalu bertingkah seperti ibu yang merawat dua anak terlantar; membawakan makan malam, mencuci baju, hingga membangunkan anak-anak badung itu di saat alarm tak lagi berguna. Lalu yang terakhir, si bungsu yang bersila di atas kasur dengan tampang semasam lemon. Tanaka Haru, pemuda Jepang berlidah tajam yang enggan melibatkan diri dalam hubungan yang merepotkan. Orang-orang salah menilai Haru sebagai seorang anti sosial. Padahal Haru hanyalah lelaki pemurung yang tidak pandai mengekspresikan perasaannya; seorang introver akut. Pekerjaannya sehari-hari lebih banyak dihabiskan dengan menyendiri di luar asrama atau tidur seharian penuh. Hongbin menyebutnya sebagai manusia tanpa kehidupan. Steve menepuk-nepuk pundak Hongbin yang tidak bisa berhenti tertawa. Sebuah keajaiban melihat Haru pulang dalam keadaan basah dan lengket, serta bekas kemerahan yang bersarang di pipi kanannya. Setelah menanyakan kronologi kejadiannya, baik Steve maupun Hongbin tidak bisa menahan tawa mereka. Haru yang bahkan malas berinteraksi dengan sesama lelaki menjadi bulan-bulanan dua perempuan di resto? Mereka tak mungkin melupakan hari bersejarah ini. “Kau payah sekali, Haru-ya,” ucap Hongbin. Suaranya serak akibat terlalu lama tertawa. “Oh, bolehkah aku memasukkan pengalamanmu ini ke dalam ceritaku? Kurasa ini dapat menarik lebih banyak pembaca. Mari kita sebut dia sebagai Gadis Limun.” “Jangan macam-macam,” sahut Steve yang meredakan tenggorokannya dengan segelas air. Haru memandangi kedua kawannya tanpa ekspresi. Ia mengelus pipinya yang nyeri bercampur panas. Kendati Haru telah mengompresnya dengn kompresan dingin, sensasi menyebalkan itu tidak kunjung hilang. Apa dia harus bertahan bersama bekas tamparan ini selama beberapa hari ke depan? Pemuda itu mendecih. “Kalian berisik.” "Tidak, tidak—ekhem, maafkan kami,” kata Hongbin, buru-buru mengganti topik, “omong-omong, ikutilah saranku, Haru-ya. Bagaimana kalau kudaftarkan namamu pada aplikasi kencan buta yang sedang marak di kalangan mahasiswi? Mungkin kau akan mendapatkan pengalaman berharga. Gadis-gadis di kampus kita memiliki kecantikan di atas rata-rata. Asal kau tahu.” “Apa maksudmu, Hongbin?” Steve merangkul pundak putra sulungnya erat, terkesan mencekik. “Haru kita tidak tertarik pada hal-hal berbau asmara. Apa kau tahu Virginia Josh? Gadis malang itu bahkan ditolak sebelum menyatakan cinta.” “Virginia Josh?” Kelopak mata Hongbin melebar. Nama gadis itu tidak bisa sembarang disebutkan. Dia adalah primadona kampus, kebanggaan Jurusan Seni Rupa. Apa hubungannya Virginia Josh dengan pembicaraan random mereka? Membaca raut Steve, agaknya Hongbin sudah mendapatkan jawabannya. “Dia menyukaimu? Benar begitu, Kawan?” tuntut Hongbin tak terima. Haru memutar mata jengah. “Aku tidak peduli.” “Kau harus peduli, Bodoh!” Hongbin memukul-mukul bantal di pangkuannya. “Persetan dengan sikapnya yang membuatmu risih, seharusnya kau mengenalkan aku, temanmu yang setia ini pada Virginia. Betapa susahnya mendapatkan inspirasi karakter gadis selayak Virginia. Tapi, kau—b*****h ini menghancurkan harapanku.” “Karakter cerita erotismu sama sekali tidak ada kaitannya denganku. Jika kau ingin mendekati gadis itu, maka dekatilah dia. Jangan libatkan aku ke dalam urusan konyolmu.” “Mummy, adik Haru tidak mengerti. Dia keras kepala sekali. Tolong, yakinkan dia.” “Aku menyerah memberi Haru saran percintaan, Putraku,” balas Steve sembari melayarkan senyum lebar. Ia merebahkan diri di kasurnya yang menghampar di lantai, menselonjorkan kaki ke atas, menendang-nendang paha Haru. “Aku memikirkan makan malam apa yang akan kita santap nanti. Nah, Haru, apa yang kauinginkan?” “Terserah.” Bangkit, Haru menaiki tangga ke kasur teratas kemudian melempar bantal Hongbin yang lama tak dicuci ke wajah Steve. Bantal itu sudah tidak dicuci selama tiga bulan sampai-sampai baunya mirip telur busuk dan warna sarung bantalnya menguning. Bagaimana bisa Steve melewatkan bantal itu saat bersih-bersih kamar? “Hei, jangan bersikap kurang ajar pada Mummy! Kenapa kau sensitif seperti anak baru puber sih?” seru Hongbin dari bawah, namun, Haru tak memedulikannya. Pemuda itu memilih menyumbat telinga dengan earphone dan menutup tubuhnya dengan selimut. Energinya sudah terbuang sia-sia hari ini. --- Tiga hari berlalu dan bekas tamparan gadis itu masih menjadi pemerah alami di pipinya. Haru memandangi pantulan dirinya di permukaan danau belakang kampus, tempat favoritnya menyendiri. Sore ini tidak banyak orang yang berkeliaran di sekitar danau. Memanfaatkan kesempatan itu, Haru pun pergi untuk mencari inspirasi. Tugas Profesor Caymen cukup memberatkannya kali ini. Pria tua nyentrik yang menggilai kisah di balik lukisan Monalisa itu menyuruh seluruh mahasiswa semester pertama menemukan Monalisa versi mereka sendiri. Monalisa apanya? Apakah Monalisa yang dimaksud adalah lukisan asli Leonardo Da Vinchi di Museum Louvre? Apa secara tidak langsung Profesor Caymen menyuruh anak-anak didiknya terbang ke Prancis dan memotret lukisan asli? Lalu untuk apa pria itu berulang kali menekankan kata versi sendiri bila memang itu yang diinginkannya? Agaknya dua tahun terlambat memasuki jenjang perguruan tinggi membuat Haru lupa cara berpikir keras. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Haru. Sementara kanvasnya masih kosong, palet dan kuasnya masih bersih, dan cat-cat di dalam tas belum ia keluarkan. Haru mengasihani otaknya yang belakangan ini tersiksa memikirkan satu tugas. Hal terburuknya, Haru harus mencari seorang model wanita untuk dijadikan inspirasi lukis. Benar-benar menyulitkan. Guk Haru menoleh. Tiba-tiba seekor anjing berjenis golden retriever berlari cepat menerjang lapangan berumput ke arah Haru. Tak jauh di belakangnya, sang pemilik tampak kelelahan mengejar anjing tersebut sambil berkali-kali menyuarakan namanya. Haru hanya memiliki kesempatan selama lima detik untuk menyelamatkan diri beserta alat-alat lukisnya. Sayangnya, waktu lima detik itu tidak berpihak pada Haru. Anjing itu lebih dulu menabrak tubuhnya, menginjak-injak palet dan kuas Haru, dan melempar tas, kanvas, serta buku sketsa ke tengah danau. Adegan itu berlangsung layaknya adegan slow-motion yang sering digunakan untuk mendramatisir film-film di televisi. Haru nyaris terluka. Tubuhnya berguling menghindari kegilaan anjing itu, sedangkan si pemilik berhasil menangkap tali kekang yang sempat ia lepaskan. Laki-laki berambut kemerahan itu menghampiri Haru. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. “Kau baik-baik saja, Kawan?” tanya pemuda itu, mengulurkan tangan untuk membantu Haru berdiri. Haru mengabaikan uluran tangan si pemilik anjing, memilih memeriksa alat lukisnya yang—mungkin saja—selamat. Bagus. Paletnya terbelah menjadi dua dan ketiga kuasnya patah. Sebenarnya apa yang merasuki anjing itu? Tenaganya besar sekali. “Maafkan aku. Ini bukan salah Lux. Aku sibuk menelpon seseorang dan tidak sadar dia sudah menghilang dari sisiku. Aku yang ceroboh.” “Tidak masalah,” balas Haru. Singkat, padat, dan lugas. Ia memunguti barang-barangnya yang rusak lalu mendekapnya erat. Sekilas ia menerawang danau yang menenggelamkan alat-alat lukisnya dan menyayangkan buku sketsanya. Buku itu berisi kumpulan sketsa selama dirinya di London, bagaikan album foto yang menyimpan kenangan. Namun, sudahlah. Semuanya sudah terlanjur dan berterima kasihlah kepada anjing nakal ini. Haru harus membeli perlengkapan lukis baru—lagi dan lagi. “Ah, biarkan aku mengganti rugi,” kata lelaki itu seraya merogoh dompet. Haru mundur selangkah, menggeleng tegas. “Sudah kubilang itu tidak masalah.” “Tapi, itu masalah buatku.” Lelaki itu menyodorkan beberapa lembar uang. “Tolong, terimalah.” “Aku tidak akan mengulangi perkataanku,” tukas Haru. Ia hendak menggerakkan sepasang kakinya, tetapi lelaki tadi meletakkan sebuah kartu nama di telapak tangannya. Haru membaca kartu nama itu sekilas, tertulis nama Calvin Smith dan nama restoran yang tiga hari lalu membawanya ke dalam mimpi buruk. Kenapa kesialan tak bosan menimpa Haru? Apa Dewi Fortuna benar-benar membencinya? Haru mengembuskan napas berat. Tampaknya lelaki bernama Calvin ini belum mengetahui kejadian yang mengancam reputasi restorannya tempo hari. “Simpanlah kartu itu. Kau bisa datang ke restoranku kapan saja dan meminta ganti rugi. Atau kau mau makanan gratis?” tawar Calvin yang tampak andal mempromosikan restorannya. Haru menolak. “Aku bisa makan di restoran lain.” “Apa? Kau ingin aku memendam rasa bersalah ini seumur hidup? Kejamnya.” “Aku pergi.” “Oh—hei! Tunggu, kenapa pipimu? Apa kau baru saja dicampakkan?” tanya Calvin penasaran. Lux di sampingnya menjulurkan lidah, menggoggong seakan mengejek Haru. Haru memejamkan mata kemudian menghela napas dalam-dalam. Ia mulai merasa lelah meladeni manusia-manusia berisik yang belakangan ini memperburuk suasana hatinya. Ia pun segera mengayunkan kaki menjauhi Calvin dan anjingnya yang sama-sama menggonggong menahan kepergian Haru. Dewi Fortuna pasti memiliki kebiasaan baru untuk mengutuk seseorang yang tidak disukainya. To be continued

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook