2: Kesialan (2)—Krim di Hoodie

2438 Kata
Jantung Kyla berdegup kencang. Setiap malam ia memikirkan segala kemungkinan yang ia dapat karena peristiwa tempo hari. Bisa saja pemuda itu langsung memecatnya. Atau bahkan memutuskan hubungan pertemanan mereka karena Kyla menyebabkan kerugian besar bagi Calvin’s Table. Selama ini Calvin sudah banyak membantunya. Lelaki itu telah memberi Kyla kehidupan dan pekerjaan yang layak. Namun, apakah hanya ini balasan yang Kyla berikan kepada Calvin? Gadis itu menghela napas. Tangannya meremas birai tangga yang membawanya menuju lantai dua, ruang kerja Calvin berada. Stephannie memang tidak mengatakan apapun setelah Calvin memanggilnya. Tiada raut cemas dalam gadis itu. Stephannie justru keluar dengan senyum sumringah dan aura bersemangat yang biasa ia tularkan. Benak Kyla terus berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jika Stephannie yang merupakan manajer resto tidak dimarahi, maka tiada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Tapi, sebuah penyangkalan menyurutkan keyakinan gadis itu. Ingatlah bahwa kau yang menampar dan menyiramkan limun ke pelanggan, Kyla. Calvin pasti kecewa padamu. Kyla menyadari kesalahannya sekarang. Empat hari berlalu semenjak peristiwa itu terjadi. Dan sensasi menampar yang meninggalkan bekas kemerahan di pipi pemuda Asia masih melekat di tangannya. Tidak seharusnya ia memperlakukan seorang pelanggan dengan tidak hormat. Sekurang ajar apapun dia dan sebrengsek apapun orang itu, harusnya Kyla mengusirnya secara baik-baik. Toh, tampaknya si pemuda Asia tidak berniat bertindak lebih jauh. “Siapa?” Suara Calvin menyahuti ketukan Kyla yang terdengar ragu. Gadis itu memejamkan mata sejenak, meminimalisir debaran jantungnya yang tak karuan. Sambil memegang dan menekan gagang pintu ke bawah, ia menjawab, “Ini Kyla. Bolehkah aku masuk?” “Kyla? Oh, masuklah, Sweety.” Pintu terbuka bersamaan dengan bunyi derit yang mengiringi kedatangan Kyla. Ia melangkah pelan menginjak ubin ruang kerja Calvin yang bercorak catur. Ruangan itu bernuansa minimalis yang didominasi warna putih dan abu-abu. Barang-barang yang mengisinya serba modern. Terpajang lima poster besar band rock favorit Calvin di sisi kanan ruangan, sementara sisi kirinya dihiasi hasil jepretan sendiri yang disusun secara zig-zag dan catatan penting restoran di papan kayu. Di tengah ruangan, Calvin sibuk menggerakkan jari-jemarinya di atas keyboard. Dahinya berkerut dalam, dan americano coffee yang disajikan sejak belasan menit yang lalu berhenti mengepulkan uap panas. Bibir Kyla bergetar. Apakah Calvin sedang mengecek situs resmi restoran? Kenapa dia memasang ekspresi setegang itu? Dengan tenang Kyla duduk di kursi seberang Calvin, tak berani menginterupsi kegiatan lelaki itu. Hingga telunjuk Calvin mengakhiri acara mengetiknya, barulah Kyla mendongakkan kepala. “Kau sudah selesai?” tanyanya pelan. Calvin menatapnya lurus kemudian menutup laptop mahalnya sembarangan. “Belum. Aku mengerjakan laporan setelah mengedit foto yang kudapat saat berkemah kemarin. Ini adalah tugas kelompok. Jadi, aku mengerjakan beberapa foto,” jelas Calvin sebelum Kyla lanjut bertanya. Gadis itu selalu menaruh penasaran pada setiap tugas kuliahnya. “Omong-omong, untuk apa kau menemuiku? Ada sesuatu yang ingin kaubicarakan?” “Jangan pura-pura tidak tahu, Cal,” lirih Kyla, “kau tidak dengar cerita dari Stephannie dan ulasan mengenai restoran? Atau jangan bilang kau sama sekali tidak mengecek kolom komentar?” “Maksudmu insiden limun itu? Aku membacanya secara berkala dan jelas Stephannie memberitahuku.” Calvin mengedikkan bahu. “Well, aku baru datang berkemah kemarin siang. Itu berita yang cukup mengejutkan, Sweety.” “Bukan itu maksudku, Cal.” Seringai Calvin membuat Kyla bergidik ngeri. Pemuda itu melayangkan tatapan yang mengisyaratkan jadi? Kau mau menjelaskannya? Namun, belum sempat Kyla menjawab, tawa keras Calvin mengudara. Suaranya bergema dalam ruangan luas itu. Kyla melongo mendapati reaksi Calvin yang tak sesuai ekspektasinya. Calvin memegangi perutnya yang nyaris kram. Sangat merepotkan menahan tawa demi menakut-nakuti Kyla. Ia pun menyeka sudut matanya yang berair, sisa-sisa tawanya terdengar seperti cicitan tikus. “Rileks, Sweety, rilekslah. Aku tidak menyalahkanmu atas apa telah yang terjadi. Lagipula siapapun tahu bila wanita itu hanya memutarbalikkan fakta.” Ia menunjukkan komentar-komentar terupdate yang baru saja ia baca. “Menurut beberapa saksi dan rekaman CCTV, wanita itu berusaha menerobos antrean, tapi pemuda malang itu yang kena getahnya. Dia ingin memperingatkan si wanita. Dan—oh, jangan bilang hanya kau di sini yang tidak memeriksa rekaman CCTV?” “Apa?” Rahang Kyla seketika jatuh. Ia merebut ponsel Calvin kemudian menggulir layarnya ke bawah, menampilkan deretan komentar terbaru. Rupanya Calvin’s Table menjadi perbincangan utama di jejaring sosial hingga situsnya ramai akan komentar yang membela pemuda Asia. Tak sedikit pula komentar yang menyudutkan Kyla selaku pramusaji resto. “Ya Tuhan, apa yang kulakukan?” Calvin menautkan alis. “Kenapa? Apa yang kaulakukan?” “Aku tidak memintanya menjelaskan situasinya saat itu.” Kyla mengembalikan ponsel kepada sang pemilik. “A-aku juga lupa melihat rekaman CCTV karena terlalu takut membayangkan reaksimu. Dan memang benar ada yang menyalahkanku di komentar, tetapi, orang-orang yang tidak tahu apa-apa akan menganggap tindakanku adalah hal yang benar. Padahal aku telah mencacinya habis-habisan. Sampai menyiram limun dan menampar—” “Siapapun yang berada di posisimu kurasa akan melakukan hal yang sama, Sweety,” sela Calvin menenangkan Kyla. Ia meraih ponsel dan menyunggingkan senyum ketika membaca komentar yang terus bertambah. “Dengan begini, Calvin’s Table akan semakin terkenal. Aku sangat berterima kasih kepadamu.” “Hah? Itu yang kaupikirkan? Keuntungan?” Terbatuk-batuk Calvin mendengar nada sinis Kyla. Ia menyesap kopinya yang sudah dingin, mencari topik untuk mengalihkan pembicaraan. “Sweety, kau tidak boleh memandang permasalahan secara sepihak—bila well, tidak ingin kejadian yang sama terulang.” Calvin menegakkan punggung, menghapus jejak hitam yang melingkari bibir atasnya. “Ah, aku jadi ingin menghukummu.” “Menghukumku?” Kyla menunjuk dirinya sendiri dengan tampang syok. Baru sedetik lalu Calvin berkata bahwa dia tidak menyalahkannya, tapi sekarang lelaki itu ingin menghukumnya? Apapun hukuman yang Calvin berikan, asal bukan pemecatan, Kyla akan menerimanya. Calvin tertawa renyah memikirkan hukuman yang tepat untuk Kyla. “Aku punya ide yang bagus. Ini lebih baik daripada kau membersihkan toilet wanita selama seminggu.” Ia tersenyum miring. Melihat kepanikan Kyla menjadi hiburan tersendiri bagi Calvin. “Kau bersedia menerima hukumannya ‘kan, Sweety?” “Oh, ayolah, jangan mempermainkanku, Cal!” erang Kyla frustasi. Calvin berucap sebelum Kyla kehilangan kesabaran dan menjambat rambutnya. “Tidak berat, Sweety. Cukup buatkan aku kudapan setiap hari dan antarkan di jam makan siang. Aku akan mengirimkan jadwal kuliahku melalui pesan. Bagaimana? Kau tidak keberatan, bukan?” Sekali lagi Calvin tergelak. “Sebagai tambahan, maukah kau mendengarkan ceritaku? Ini tentang kisah kenakalan Lux yang lain.” --- Keesokan harinya, Kyla benar-benar datang ke kampus Calvin membawa kotak berbungkus tas kertas merah muda. Hari ini ia bangun pagi-pagi sekali dan bergelut di dapur untuk membuat sebuah rainbow cake. Sebenarnya Calvin tidak terlalu suka makanan manis. Namun, lelaki itu selalu berkata ia akan menyukai apapun yang Kyla buat untuknya. Mungkin rainbow cake adalah salah satu makanan manis yang dapat ditoleransi lidah Calvin. Oleh sebab itu, Kyla tidak menambahkan banyak gula maupun krim dan menakarnya sesuai dengan selera pemuda itu. Kyla mengedarkan pandang. Ia berdiri di depan gerbang depan Charoline Institute of Art dengan perasaan takjub. Institusi seni itu merupakan yang terbesar di London. Banyak mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk mengenyam pendidikan di kampus ternama ini. Gedung-gedung fakultas CIOA terlihat megah. Di sekelilingnya, para mahasiswa berlalu-lalang sambil menenteng tas dan memeluk buku-buku tebal. Gadis itu memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia seperti manusia goa yang tersesat di perkotaan. Orang-orang itu mengenakan pakaian yang trendi, rapi, dan berkelas. Sedangkan Kyla; sweater mustard, rok tiga perempat berenda, dan syal abu-abu yang entah kenapa bisa melilit leher jenjangnya, mulai berpikir apakah penampilannya ini akan mempermalukan Calvin. Kesenjangan antara orang-orang berpendidikan dan Kyla yang sekadar tamatan SMA diam-diam menciptakan perasaan rendah dalam benak gadis itu. Ting Tas kecil Kyla bergetar. Gadis itu segera merogoh isi tas dan mengeluarkan ponselnya. Ia meng-klik tombol open lalu membaca pesan yang ia terima dari Calvin. Aku ada di studio foto sekarang. Studionya ada di lantai tiga Gedung C Fakultas Seni Media Rekam. Kau yakin tak perlu kujemput, Sweetie? Jika tidak mau, akan kubagikan lokasinya sekarang. Setelah mengetikkan pesan balasan, Kyla pun melanjutkan langkah. Berjalan melewati monumen pendiri CIOA, gedung pusat, hingga air mancur raksasa, Kyla akhirnya menginjakkan kaki di taman Fakultas Seni Rupa. Fakultas itu terletak di sebelah gedung Fakultas Seni Media Rekam, menurut peta lokasi yang Calvin bagikan. Untuk sampai di sana, Kyla harus melalui taman dan lapangan luas yang digunakan untuk aktivitas olahraga para mahasiswa Fakultas Seni Rupa. Kyla memutuskan berkeliling sebentar melihat-lihat koleksi lukisan yang terpampang di sepanjang koridor Fakultas Seni Rupa. Ia mengagumi bagaimana paduan warna itu melapisi kanvas putih yang awalnya kosong. Lukisan-lukisan beraliran surealisme, abstrakisme, dan kubisme memenuhi pandangan Kyla. Ia melewati satu-persatu lukisan itu dengan tatapan kagum. Seandainya Kyla diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya, ia berharap bisa belajar di kampus ini dan mengambil Jurusan Seni Rupa. Kecintaannya yang tersembunyi terhadap lukisan tumbuh sejak orang tuanya sering mengajak Kyla dan saudari kembarnya ke galeri lukis. Tetapi, kecintaannya itu memudar seiring berjalannya waktu. Karena tragedi yang merenggut orang tua dan Carla tiga tahun lalu, sekarang Kyla ingin fokus mengumpulkan uang dan membeli flat sendiri. Dalam sekejap Kyla melupakan fakta bahwa dulu dia senang mengoleksi foto-foto seniman terkenal dunia dan menghapal setiap karya mere— Bugh Tubuh mungil Kyla terpental setelah tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang dua puluh dua senti lebih tinggi darinya. Kyla mengerjap berkali-kali. Ia menunduk dan memeriksa keadaan kuenya. Untunglah. Meski tas kertasnya sedikit penyok, namun Kyla dapat menjamin jika isi di dalamnya masih utuh. Ketika Kyla ingin melontarkan maaf, orang berhoodie hijau yang menabrak—atau ditabraknya—itu berbalik, menampakkan wajah yang tak asing di mata Kyla. Sepasang manik sekelam malam yang menghantui Kyla dengan perasaan bersalah bersirobok dengan kedua bola sehijau apelnya. Kyla melongo, tanpa sadar melemparkan tas di tangannya lalu membekap mulut kaget. Tas merah muda itu itu terbang bebas di udara, meluncurkan raibow cake yang melompat keluar dari kotak, lalu mendarat telak mengenai hoodie pemuda itu. Kyla semakin tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat si pemuda menarik bagian depan hoodie-nya dan menemukan noda krim hinggap di sana. Kenapa dunia ini sempit sekali? “KAU!” --- Seketika kepala Haru berdengung karena seruan gadis itu. Bisik-bisik dan situasi yang sangat familier membuatnya merasakan de javu. Haru menarik bagian depan hoodie yang ternoda krim putih. Ada sedikit parutan kulit lemon dan warna pelangi yang menempel di sana. Namun, dibanding hoodie hijaunya, ia lebih menyayangkan rainbow cake yang setengah bentuknya sudah hancur. Sayang sekali Haru harus menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Makanan manis jadi terbuang percuma berkat ulah gadis— Mata Haru mendelik di balik poni panjangnya. Mungkin benar kata pepatah, semakin kau menjauhi seseorang, semakin sering pula kau bertemu dengannya. Jangankan mengetahui namanya, Haru sendiri tak mau lagi melihat eksitensi gadis ini dalam hidupnya. Dia telah mempermalukan Haru. Dan lebih dari itu, segala hal yang berkaitan dengan gadis ini merupakan kesialan baginya. Seperti kejadian tempo hari. Setelah mendapatkan tamparan, anjing peiharaan bos gadis ini menenggelamkan peralatan lukisnya yang mahal. Oh, sungguh kenangan yang buruk. Si Gadis Limun—begitulah Hongbin menyebutnya—ketakutan tanpa sebab, seolah Haru adalah arwah penasaran yang bergentayangan di Fakultas Seni Rupa. Haru kembali melirik rainbow cake yang tergeletak mengenaskan di lantai lalu memandangi orang-orang yang memperhatikan mereka. Ia tahu mereka tengah menunggu Haru berbicara. Mahasiswa baru yang paling pelit bersuara di fakultas ini sedang berhadapan dengan seorang gadis pembawa masalah; mungkin itu yang akan tertulis di papan mading besok. Akhirnya, Haru memutar tumit, melenggang menjauhi gadis itu. Dua kali dalam dua puluh tahun ia hidup, Gadis Limun telah berhasil membantu Haru memecahkan rekornya sendiri dalam hal memamerkan diri di depan publik. “Tu–tunggu!” Bukannya langsung pergi menanggung malu, Gadis Limun justru mengikuti Haru hingga mereka hampir sampai di lapangan sepak bola. Haru tak mau memusingkan keberadaan gadis itu. Kebetulan juga lapangan sedang sepi. Jadi, Haru hanya terus berjalan dan berjalan dengan santai, tak mau menolehkan kepala ke belakang. “Hei! Sudah kubilang tunggu! Apa kau tidak dengar?” Tiba-tiba gadis itu mencekal pergelangan tangan Haru. Tidak seperti sebelumnya, Gadis Limun menariknya mendekat secara perlahan. Ada sebersit perasaan bersalah dalam gerakan Gadis Limun yang membuat Haru berbalik, memandangi jemari mungil yang melingkari lengannya. Haru menatap jari-jari lembut itu kemudian berujar malas, “Aku mendengarnya dengan baik, Nona. Tapi, kupikir urusan kita selesai setelah kau mengakhirinya dengan sebuah tamparan.” Gadis Limun tampak tertohok mendengar ucapan Haru. “A—aku tahu.” Ia menunduk dan melepaskan genggamannya. Netra hijaunya berulang kali mencuri pandang pada noda di hoodie Haru. “Well, yeah, Mr. Stranger atau siapapun kau, aku menyesal atas sikapku tempo hari. Jadi, eum—yah, aku minta maaf. Apakah kau mau memaafkanku?” Haru menautkan alis. Semudah itukah meminta maaf? Apakah menyiram limun, menampar, dan mengusir seseorang bukanlah masalah besar baginya? Haru mendesah tertahan. Jika dia menyesal, dia tidak akan bertingkah seperti ini. “Pertama, namaku bukan Mr. Stranger, tetapi Haru. Haru Tanaka.” Haru merasa heran darimana dirinya mendapat energi tambahan untuk membenarkan namanya. Biasanya dia sangat enggan meluruskan sesuatu dan memilih membiarkannya begitu saja. Berbicara dengan Gadis Limun berisik ini sungguh menyiksanya. “Kedua, berhentilah mengejarku. Orang lain akan salah paham dan mengira dirimu penguntit.” Rona merah berangsur-angsur menggerayangi pipi Gadis Limun. Gadis itu tampak ingin mengajukan protes ketika Haru melanjutkan, “Dan terakhir, jangan pernah mengucapkan kata maaf bila kau tidak memiliki niatan tulus. Aku diam bukan berarti aku bodoh, Nona.” “Sekarang, kau mengukur ketulusan seseorang—ketulusanku?” Gadis Limun menatap Haru tak percaya. Ia mengentakkan kaki ke tanah, menempelkan ujung telunjung ke d**a pemuda itu. “Tuan Haru Tanaka, apa kau tidak ingat bagaimana kau mengabaikanku lima menit yang lalu? Aku sudah berusaha meminta maaf padamu dan kau malah menilai ketulusanku. Kau memang pandai bersilat lidah.” “Kau tidak mengerti.” “Apa yang kaumengerti dan tidak kumengerti, Tuan. Bisakah kau menjelaskannya pada diriku yang bodoh ini?” Seandainya kau tahu... Haru memejamkan mata, tangannya terkepal erat. Detik itu, angin musim gugur menerpa helaian hitamnya yang sebagian tertutup tudung hoodie. Hatinya mendadak hampa. Guguran daun maple yang terbawa arus angin seharusnya menjadi pemandangan yang hangat. Tetapi, Haru tidak merasa demikian. Haru tidak mungkin menemukan kehangatan ketika musim dingin yang abadi telah bersemayam dalam hatinya sejak hari itu. Seandainya kau tahu bagaimana sakitnya menyimpan perasaan bersalah begitu lama... Seandainya kau tahu bagaimana cara meminta maaf... Seandainya kau tahu cara menghapus penyesalan ini... Seandainya kau merasakan apa yang kurasakan... Apakah kau masih bisa mengatakan itu? “Kau tidak akan tahu apa arti luka jika kau sendiri tidak merasakannya, Nona,” tutur Haru sambil membuka kelopak matanya. Ia terdiam sesaat mengamati wajah kaku Gadis Limun. Tak mau berlama-lama dalam suasana hening, Haru pun mengambil langkah, meninggalkan si Gadis Limun dengan sejuta tanda tanya besar di kepalanya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN