3: Monalisa

2234 Kata
“Sweety, apa yang terjadi padamu... dan kuenya?” Saat membuka pintu studio, Calvin sudah menemukan Kyla berdiri mematung, terdiam seribu bahasa. Gadis itu tampak muram. Wajahnya tertekuk dan punggungnya membungkuk lesu. Dan yang lebih mengagetkan, tas kertas merah muda yang Kyla bawa penyok. Calvin bertanya-tanya bagaimana jadinya bentuk kue di dalam sana bila bagian luarnya saja sudah seperti itu. Ia pun menarik lengan Kyla mendekat. Mengecek kepala, tangan, dan kakinya secara berurutan. Ia takut gadis itu tertabrak sesuatu—atau seseoang selama perjalanan ke mari. “Tidak ada hal buruk yang terjadi, bukan? Kau merasa sakit di suatu tempat?” tanya Calvin cemas. Kyla menggeleng, bibirnya mengerucut sebal. “Aku tidak apa-apa. Tapi, aku tidak bisa menyelamatkan kuenya. Maafkan aku.” Calvin memandang gadis itu dengan sebelah alis terangkat. Suaranya terdengar ketus. “Tunggu, kau marah? Apa kau marah karena aku menghukummu?” “Bukan begitu.” Kyla menghela napas panjang. Ia bergerak menuju tong sampah, dengan berat hati membuang kuenya di sana. “Menurut jadwal kuliahmu, kelasmu ada di lantai dasar besok. Jadi, aku akan pulang dan membuatkanmu cake yang lain.” “Hei, apa aku mempermasalahkan kuenya? Sweety, ceritakan masalahnya! Jangan membuatku gelisah!” Ini kali pertamanya Calvin terlihat memohon kepada seorang gadis—ditambah raut memelasnya itu. Di koridor lantai tiga yang dipenuhi mahasiswa dan dosen yang baru keluar kelas, tontonan tersebut menjadi hal yang langka. Di sisi lain, Kyla merasa tidak nyaman lantaran dirinya terus-menerus menjadi pusat perhatian. Kyla memang bukan gadis pemalu, tetapi ia juga tidak suka ketika mata orang-orang selalu tertuju padanya. Siulan jahil mengudara. Calvin memelototi Erick dan komplotannya yang berjalan melewati mereka. “Akan kuantar kau pulang,” katanya kemudian. Kyla sontak mendongak. “Tidak boleh. Kau bilang hari ini adalah hari terakhir pengumpulan proyekmu. Jangan tinggalkan teman-temanmu hanya untuk mengantarku pulang, Cal.” Sebelah tangan Calvin bergerak membuka pintu lebih lebar, memperlihatkan ketiga teman laki-laki dan dua teman perempuannya yang melambai ke arah Kyla. Mereka tersenyum lebar seolah telah mengetahui kedatangan Kyla ke studio. Gadis itu panik bukan main. Ia menatap Calvin dengan tatapan menuntut yang disambut gelak tawa si pemuda. “Jangan khawatir, bagianku sudah selesai dan anak-anak itu merengek agar membawakan mereka paket burger dari resto. Kenapa tidak sekalian saja mengantarmu?” Kyla memandang teman-teman perempuan Calvin yang menyunggingkan senyum. Ia membalas senyuman itu malu-malu. “Benarkah?” “Ya,” tandas Calvin, “Beri aku waktu satu menit untuk mengambil ponsel dan kunci mobil. Atau kau mau masuk dan berkenalan dengan mereka, Sweety?” --- Melalui kaca spion tengah, Calvin melirik Kyla yang menerawang pemandangan luar. Mobil kuningnya melaju sedang membelah jalanan Kota London. Semenjak mereka memasuki mobil sepuluh menit yang lalu, tiada satupun dari keduanya yang angkat bicara. Kyla terlalu larut dalam renungannya, sementara Calvin tak henti-hentinya memikirkan kalimat yang tepat untuk mengawali percakapan. Pemuda itu memukul kemudi sambil menggeliat seperti cacing kepanasan. “Ayolah!” teriaknya tak sabaran. Ia mengerem mobil ketika lampu merah menghadang jalan. Kyla yang terperanjat lekas menoleh, kebingungan. “Apa? Ada apa? Kenapa kau berteriak?” “Ah, Sweety.” Calvin merengut lucu, menempelkan pipinya ke kemudi. “Apa kau tidak mengasihani Calvinmu ini, hmm? Pengalaman mengajarkan, wanita yang diam bukanlah hal yang bagus.” Gadis itu tersenyum geli mendengarnya. Melihat Calvin merengek seperti bayi menjadi penghiburan terbaiknya. Kyla pun memutuskan menceritakan siapa yang dia temui hari ini. “Aku bertemu dengannya, Calvin,” gumam Kyla yang memelankan suara sampai-sampai Calvin harus menajamkan telinga. Pemuda itu mengerutkan kening. “Oh ya? Bertemu siapa?” “Korban insiden limun,” jawab Kyla ringkas. Entah mengapa ia merasa malu tiap kali ingatannya berputar pada kejadian itu. “Kami bertemu di gedung Fakultas Seni Rupa. Tidak, dibanding bertemu, bertabrakan adalah kata yang tepat. Dan itulah mengapa kuemu hancur. Aku tak sengaja m*****i hoodienya dengan krim.” Calvin hendak merespon ucapan Kyla begitu lampu berubah hijau. Bunyi klakson yang bersahutan di belakang sana mendorong Calvin supaya cepat-cepat menjalankan mobil. Setelah dua menit, barulah Carvin berucap, “Apa kau yakin dia orang yang sama dengan korban insiden limun? Maksudku, Kyla, London adalah kota yang besar! Bisa saja kau bertemu dengan seseorang yang mirip pemuda Asia itu. “Kau pikir aku berdelusi, Cal?” Kyla menahan diri untuk tidak menjitak kepala Calvin. “Kami bahkan sempat beradu mulut. Selain itu, dia menyebut dirinya sebagai Haru Tanaka.” “Haru Tanaka? Kedengarannya seperti nama orang Jepang—” Kalimat Calvin menggantung di udara. Lelaki itu tidak tahu kenapa tiba-tiba ia membayangkan wajah lelaki korban kenakalan Lux. Awalnya, Calvin ingin mengabaikan dugaan bahwa keduanya adalah orang yang sama, namun akhirnya ia berpikir lagi. Di pipi kanan korban kenalakan Lux juga terdapat bekas tamparan yang mungkin disebabkan oleh Kyla. Seandainya dugaannya ini benar, maka sial sekali nasib orang itu. Dalam waktu kurang dari satu minggu, dia telah menjadi korban dari dua peristiwa yang berbeda. Calvin ingin memberitahu Kyla tentang spekulasinya tadi. Sebelum itu, mari dengarkan kisah Kyla dan rainbow cakenya yang hancur. Kyla menyandarkan punggung ke kursi mobil yang empuk, mendesah panjang saat melanjutkan ceritanya. “Dia mengatakan sesuatu yang kejam ketika aku mencoba meminta maaf. Bagaimana bisa dia menilai ketulusan seseorang setelah membuat orang itu berlari mengejarnya? Kau sendiri tahu betapa menyesalnya diriku atas insiden itu. Aku sungguh kesal dengan sikapnya.” “Ya, kau sangat menyesal,” kata Calvin lalu memutar kemudi, “tapi, Sweety, apa yang kaukatakan padanya? Mungkin secara tidak sadar kau menyinggungnya.” “Aku menyebutnya Mr. Stranger,” gumam Kyla sambil memiringkan kepala. Cavin menelan ludah. “Lalu, yah aku meminta maaf seperti biasa.” Ia hampir menabrak sebuah truk pengangkut barang. “Tapi, Calvin, sepertinya kau benar. Aku—a-aku sudah mengacaukannya.” Dan kali ini Kyla yang menelan ludah. Mulut gadis itu terbuka menyadari kesalahannya yang lain. Ia menggeleng keras, berusaha mengingat-ngingat permintaan maafnya. Adegan-adegan itu diulang-ulang dengan begitu cepat hingga membuat Kyla tak sanggup mencernanya lebih lama. Ia menutupi wajah lalu menjerit tertahan. Oh astaga, ia terlalu terbawa emosi lantaran sikap dingin pemuda itu. Kini Kyla berutang lebih banyak kata maaf kepada Tanaka Haru. Calvin yang berkeringat dingin di sebelah Kyla berdeham. Syukurlah dia tidak perlu memberitahu Kyla tentang kesalahannya. Akan sangat canggung bagi mereka jika Calvin sampai melakukannya. “Eum, tenanglah, Sweety,” hibur Calvin. Berkat Kyla, ia nyaris membagi fokus sepenuhnya pada ucapan gadis itu. “Kau pasti mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf. Saat itu, kau tidak boleh mengacaukannya lagi. Dan ada hal yang harus kuberitahukan padamu, Sweety. Ini menyangkut—” “Apa dia pikir aku tidak pernah terluka? Semua orang pasti pernah terluka.” Kyla menggumamkan kalimat yang tidak Calvin mengerti. Pemuda itu mendesah ringan karena perkataannya terpotong. Ia tersenyum maklum, lantas menoleh ke arah Kyla yang kembali menerawang kosong ke luar jendela mobil. Melihat perubahan emosi gadis itu, seketika senyuman Calvin layu. Bibirnya terkatup rapat dan rasa sesak di d**a menderanya. Ia pun memilih memutar lagu radio untuk mengisi kekosongan di antara mereka dan membiarkan Kyla menjelajahi lamunan tentang keluarganya. --- Haru berjalan gontai menyusuri kegelapan malam. Enam jam berlalu sejak ia bertemu dengan Gadis Limun itu. Bukannya langsung kembali ke asrama, Haru justru mengurung diri di ruang lukis jurusan sambil membuang-buang waktu memikirkan konsep Monalisa yang akan ia usung. Hoodie hijaunya yang kotor ia sampirkan ke pundak. Angin malam di London cukup dingin, persis seperti kata tetangganya yang dulu pernah menempuh pendidikan di Kota Kabut ini, “Udara London di malam hari dapat membuat tubuhmu menggigil meski sedang musim panas”. Haru bahkan sempat terserang flu ketika kali pertama menginjakkan kaki di kota ini empat bulan lalu. Masih segar dalam ingatan Haru betapa panik dan khawatirnya Hongbin begitu melihatnya datang dengan wajah pucat. Saat itu hanya Hongbin-lah yang menyambut kedatangan Haru di kamar sepetak mereka. Steve sedang berbelanja kebutuhan pesta penyambutan teman sekamar. Mereka telah merencanakan welcoming party selama berhari-hari untuk hari itu. Sayangnya, rencana mereka gagal total lantaran Haru harus terbaring di ranjang selama tiga hari, ditambah jetlag yang dideritanya. Haru benar-benar menyesali keputusannya yang mengenakan pakaian berbahan tipis waktu itu. Ia tidak mengira London akan sedingin ini karena Osaka, kampung halamannya, adalah kota yang hangat. Tak terasa setengah jam Haru mengitari tempat yang sama, akhirnya ia memutuskan memasuki sebuah penatu bertuliskan Refresh Laundry. Penatu itu merupakan tempat cuci semi-umum dan saat ini Haru terlalu malas untuk mengantre demi mencuci sehelai hoodie bernoda. Jadi, ia pun menghampiri Steve yang sibuk mengganti gulungan nota baru di mesin kasir, meletakkan hoodie hijaunya di etalase, lalu menekan bel bewarna perak di dekatnya. Ia menunjuk hoodie dengan dagu ketika Steve mengangkat wajahnya. “Ada noda di bagian depannya, akan kuambil besok,” kata Haru yang dihadiahi tatapan terkejut Steve. Pemuda itu nyaris melompat dan menjatuhkan gulungan nota yang belum sempurna ia pasang. Mengembuskan napas panjang, Steve membenarkan posisi gulungan nota tadi dengan tampang enggan. “Selamat datang di Refresh Laundry. Dapatkan kesegaran tahan lama dan nikmatilah pelayanan kami. Apakah Anda memiliki kartu diskon, Tuan Tanaka?” Ia menuturkan kalimat tersebut dengan setengah hati. Sementara itu, terdengar gelak tawa yang mengejek dari balik punggung Steve. Pastilah orang itu putra bungsu yang Steve bangga-banggakan. Rekan kerja Steve langsung bisa mengenali si putra bungsu meskipun ini kunjungan pertamanya. Seperti yang selalu Steve katakan kepada mereka, “Jika ada lelaki Asia bermulut pedas datang ke mari untuk laundry, layani dia dengan baik. Anak itu adalah putra bungsuku.” Namun, tiada yang menyangka bila Steve sendirilah yang akan melayani anak adopsinya. Steve meraih hoodie hijau Haru, mengerutkan kening menemukan noda warna-warni di sana. “Kau bukan tipikal yang ceroboh menyia-nyiakan makanan favoritmu, Boy,” gumam lelaki itu, lantas menyerahkannya pada Paula, rekannya yang bertugas mencatat identitas pelanggan. “Lagipula, kenapa kau tidak mencucinya di asrama? Jauh lebih hemat ketimbang menggunakan jasa laundry.” “Rupanya kau tidak menyukaiku sebagai pelanggan,” cibir Haru. Ia hendak berbalik pergi jika Steve tidak mencegahnya. “Kau marah, Haru.” Lelaki itu mengukir senyum. “Sungguh menakutkan. Manusia pendiam tidak boleh semarah ini. Apa dan siapa yang menyulut api di kepalamu?” Haru mengempaskan tangan Steve kasar. “Aku ingin pulang.” "Kutebak seseorang menyenggolmu yang sedang membawa rainbow cake? Oh! Apa dia menumpahkan kue yang dia bawa? Apa orang itu memberimu uang ganti rugi?" "Masih ada pelanggan lain yang harus kau layani. Berhenti mengomeliku." "Baiklah, Boy. Kalau begitu, jawab satu pertanyaan Mummy. Aku berjanji akan membiarkanmu pergi setelah ini," kata Steve akhirnya. Ia melangkah keluar dari meja kasir, mengantar Haru hingga di depan pintu masuk. "Nah, jawab pertanyaanku, Haru. Kau tahu ‘kan aku tidak memiliki batas kesabaran sebesar dirimu." "Kau cerewet sekali," komentar Haru sebelum melempar pandang pada kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Pejalan kaki berseliweran di sekitar mereka dan lampu-lampu tiang bersinar redup. Sebelah alis Steve terangkat. Mungkin orang-orang di dalam tadi berpikir ada drama di antara ayah—Mummy—dan anak itu. Jika tentang Haru, Steve bisa mengkhawatirkan segala hal dan membesarkan masalah sekecil apapun. Haru tidak bisa terbuka pada siapapun bila tidak dipaksa. “So?” "Gadis Limun. Gadis yang kalian juluki sebagai Gadis Limun menabrak dan m*****i hoodieku dengan rainbow cakenya." Steve tidak bisa menunjukkan ekspresi yang lebih syok dari ini. Haru meliriknya sekilas kemudian menambahkan, "Aku tidak berpikir dia salah satu mahasiswi Seni Rupa. Namun, siang tadi dia tiba-tiba muncul. Singkatnya, dia mengikutiku dan meminta maaf." "Aku ragu ceritanya berakhir sampai di situ." Haru menangkap adanya tanda-tanda Steve berniat menyerangnya dengan serangkaian pertanyaan lagi. Ia mendorong bahu lelaki dua puluh satu tahun itu menjauh, tidak ingin menunda waktu istirahat di hari yang melelahkan ini. Belum lagi tugas Monalisanya yang belum terjamah. Banyak sekali orang-orang berisik yang mengusik ketenangan Haru satu minggu ini. Haru juga tidak mengerti kenapa Profesor Caymen memberikan tugas itu tanpa menjelaskan detailnya. Dua minggu bukanlah waktu yang cukup untuk mencari inspirasi, menggambar sketsa, menentukan kombinasi warna, maupun melukis gambar utuhnya. Agaknya menjadi mahasiswa baru di institut ternama selayak CIOA dan bertemu dengan dosen semacam Profesor Caymen merupakan tantangan yang besar. Di semester pertama, Haru telah disuguhi tugas lukis seberat ini. Ketika Haru menyadari kaki-kaki kurusnya berjalan tanpa arah, ia berhenti untuk sekadar memeriksa di mana dirinya berada. Tanpa sadar ia memasuki kawasan perumahan yang tidak ia kenal—tapi, oh! Bukankah perumahan ini terletak tiga blok dari asrama? Haru tidak perlu berbalik dan tinggal mengikuti tulisan dan petunjuk arah di tembok gang. Setidaknya itulah niatan Haru sebelum dirinya mendongak, dan sepasang bola mata segelap malamnya menangkap sesosok Monalisa yang selama ini ia cari. Seorang gadis tampak bertelek siku di tembok pembatas balkon kamarnya, menerawang sesuatu yang tidak dapat Haru lihat. Semilir angin menerbangkan helaian sebahunya yang diterangi oleh temaram sinar rembulan. Haru tak mampu mendeskripsikan campuran warna indah yang mengelilingi gadis itu. Rambutnya yang melambai-lambai tertiup angin menghantarkan kombinasi warna silver dan cokelat samar yang menipu mata. Bintang-bintang yang bertaburan di angkasa malam berkerlap-kerlip cantik sebagai latar belakangnya. Haru tidak tahu kenapa tangannya tiba-tiba bergerak mengambil ponsel dari saku jeans dam mengarahkan lensa benda itu kepada sang gadis. Setelah dirasa menemukan angle yang tepat, serta kualitas gambar yang tidak terpecah walau diperbesar, Haru pun menekan tombol merah di tengah layar. Ia baru mempertanyakan tindakannya begitu sang gadis menoleh—karena merasa diawasi, dan Haru mendapati dirinya memacu kaki secepat yang ia bisa. Senyum puas bertengger di bibir lelaki itu. Entah apa yang merasuki Haru, dia hanya merasa bahwa malam ini dirinya telah menemukan sosok Monalisanya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN